Pekerjaan Rumah Tangga Paling Kusukai

[Pernikahan] Kalian masih ingat tidak, apa yang aku katakan pada suamiku ketika dia mengajakku untuk menikah dahulu? Untuk menyegarkan ingatan, kalian bisa membacanya di tulisanku sebelumnya, yaitu "5 hal tentang ade anita" . Sejak awal, aku katakan pada suamiku bahwa aku tidak bisa memasak, tidak suka bebenah rumah, suka menonton televisi. Jadi, aku ngapain saja setelah jadi ibu rumah tangga?

Kalian tahu tidak. 
Di malam midadareni (ini istilah dalam bahasa Jawa, dan karena aku orang Sumatra, waktu awal nikah aku menyebutnya dengan malam midodoremi. Hehehe, suami yang memperbaiki kesalahan pengucapanku ini), aku sempat ragu tuh.

Eh. Sebenarnya, beberapa hari sebelum hari akad nikah tiba, aku sempat ragu. Pilihanku ini benar apa tidak ya? Bagaimana jika semua sikap penerimaan suamiku setelah aku berterus terang itu hanya basa-basi orang yang sedang jatuh cinta saja? (Ehem... bolehlah GR dikit) Tapi beneran deh aku sedikit khawatir. 

Karena, kata orang, cinta itu kan buta. Dan kami menikah karena sama-sama merasa saling jatuh cinta satu sama lain. Lalu, bagaimaan jika bersamaan dengan waktu yang terus bertambah, paralel dengan keunggulan fisik yang makin berkurang seiring bertambahnya usia, perlahan cinta yang kami miliki mulai bisa melihat, tidak lagi buta? 

Aku sedikit merasa tertekan karena kekhawatiran itu. 
Aku tahu kelemahanku banyak sekali. Tidak bisa itu, tidak bisa anu, tidak bisa ini; belum lagi kelemahan dan kekurangan lain. 
Ya.
Bagaimana jika cinta yang kami miliki perlahan tapi pasti bisa melihat dan penglihatan itu benar-benar penglihatan yang terang benderang hingga bisa melihat "isi jeroan" yang aku makan di dalam perutku?
Ah. 
Bagaimana jika dia tidak tahan menghadapiku?
Bagaimana jika dia kesal dan bertemu dengan orang yang lebih baik daripada aku? Lalu meninggalkanku?

Nah. Itulah pikiran yang membuatku merasa ragu di malam midadareni-ku. Mmebuatku susah tidur padahal besok hari pernikahanku akan berlangsung seharian. Saat itulah ayahku, masuk ke dalam kamarku malam-malam.

Ayahku, adalah lelaki yang paling aku sayangi. Sejak aku kecil, dia yang paling tahu betapa aku sering sulit tidur karena harus belajar lebih giat dibanding anak lain sebagai efek dari kesulitanku menyimpan ingatan jangka pendek. 

Kalian bisa membaca tulisan tentang ayah kesayanganku ini di sini: Pada Kecupan Terakhir 


Di malam Midadareni itu, ketika semua orang sudah tidur, dan yang tersisa hanyalah beberapa saudara yang memutar musik dangdut di luar rumah dalam rangka mengusir kantuk padahal mereka harus menjaga kursi, panggung, dan perlengkapan pesta yang sudah digelar semalaman. 

"Kenapa anak ayah belum tidur?" Ayah datang padaku sambil membawa teh manis hangat. Ayah selalu membawa minuman ini untukku jika dia sedang ingin menemaniku.

"Iya. Ade takut. Kalau nanti suami ade kenapa-napa, ade mesti ngapain ya? Ade nggak kebayang nikah itu sebenarnya ngapain. Tapi ade pingin nikah sama dia."

Ayah tersenyum. Lalu menepuk pundakku. "Ya sudah. Nggak usah mikir macam-macam. Ayah sayang kamu karena diri kamu yang nggak pernah berubah sejak dulu. Jadi, anggap saja dia sayang kamu karena diri kamu. Jadi, jadilah diri sendiri."

Itu nasehat ayahku.
Dan aku pun menikah dengan lelaki pilihan hatiku.
Dan alhamdulillah aku dan suamiku sudah menikah 25 tahun.
Aku....
Aku tetap menjadi diriku sendiri.

"De... kamu masak apa hari ini?" tanya suamiku suatu hari. Dan kujawab, aku belum sempat masak hari ini. Tapi, aku bersedia membuatkan dia sesuatu dengan cepat. Telor gorengkah, goreng ikan bilis, atau bikin mie instan.

"De. Itu rumah berantakan banget ya?" keluh suamiku suatu hari sepulang kerja.
"Iya mas. Hari ini nggak sempat beresin. Besok ya kalau ingat aku bereskan insya Allah."

Untuk pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membenahi rumah, bebersihan rumah, aku sepertinya memang bukan jagoannya. Aku bahkan tidak bisa mencuci pakaian sampai sekarang. Jadi, jika mesin cuci baju rusak, terpaksa suamiku yang ikut membantu mencuci pakaian kotor itu. Menyeterika pakaian, bisa berjam-jam aku selesaikannya. Jadi terpaksa aku delegasikan pada setrika kiloan.
Bahkan. Aku tidak bisa mengelola keuangan rumah tangga. Aku menolak diberi  tanggung jawab pegang uang dan mengatur laju pengeluaran. 
"Nggak mau ah mas. Kamu saja yang pegang uang. Aku suka khilaf."

Jadi, pekerjaaan rumah tangga yang paling kusukai apa ya?
Sepertinya, pekerjaan rumah tangga yang paling aku sukai adalah, ketika aku ditugaskan oleh suamiku untuk menjadi alarm hidup baginya.

Aku sudah menulis tentang hal ini disini: Alarm Mati Di Waktu Weekend

"Mau kemana?" tangan suamiku menahan tanganku ketika aku mulai bergerak untuk bangkit dari tempat tidur. Membuat tubuhku tertahan tidak bisa berdiri karenanya. Wajah suamiku masih tampak mengantuk, kedua matanya masih tampak terpejam.

"Mau masak dan beres-beres rumah. Hari ini kita bakalan kedatangan tamu. Ingat? Rumah masih berantakan."

"Ah. Biar saja. Kan masih lama datangnya. Temani aku tidur dulu sebentar. Nanti bangunkan aku 1 jam lagi." 

"Tapi kalau aku ikut berbaring, aku bakalan ngantuk. Nanti aku ketiduran juga."

"Ya sudah. Terserah kamu mau ngapain aja boleh. Asal jangan kemana-mana. Temani dulu di sini, dan bangunkan aku 1 jam lagi."

"Baiklah." Lalu aku mulai meraih notebook dan menyalakannya. Maksudku, agar aku tidak ikut jatuh tertidur maka lebih baik aku mengetik atau main game. Tapi, tangan suami terlihat meraba-raba tempat tidur.

"Kemana ya tangan istriku? Kok tidak bisa dipegang? Katanya mau menemani." BLEP. Notebook pun ditutup dan disingkirkan. Jadi, terserah mau ngapain aja boleh itu maksudnya, kalau dia membolehkan. Hahaha. Dan inilah aku. Menjadi alarm hidup. Inilah pekerjaan rumah tangga yang paling aku kuasai dan aku nikmati. Pekerjaan rumah tangga paling kusukai.





#ceritakemarin : Terkadang, sentuhan itu lebih berarti drpd seribu kata yg diucapkan. Pun lebih bisa mengukir rasa sayang. Hatiku tersentuh ketika jemari tangan suamiku menggenggam erat tanganku ketika berdesakan di eskalator menuju atau dari lantai 3 masjidil Haram. Tanpa sepatah kata, aku tahu bagaimana kedudukanku di hatinya, hanya krn sentuhan itu. Genggaman erat itu menandakan bhw dia tak ingin kehilangan aku dan sungguh aku tersentuh karenanya. Ketika tanganku terlepas karena basah keringat ketika Thawaf, cepat tangannya mencari tanganku yg terlepas itu. Lalu menggenggamnya bahkan lebih erat lagi. Membuatku yakin, bhw aku akan dijaganya dgn baik. Pernah suatu hari di Jeddah. Di dekat hotel Ramada, berderet toko gadget dan elektronik. Kebanyakan isinya adl penjual & pembeli laki2. Kami berdua datang melihat-lihat. Aku mengambil posisi berdiri di pojokan. Sementara suamiku masuk ke tengah toko. Tak lama, suamiku datang dengan wajah tegang. | "Aku mencarimu. Kenapa memisahkan diri?" | "Aku tidak berani masuk ke dalam. Banyak laki2 mas. Aku tak mau berdesakan dengan mereka." | "Tetap saja. Kamu harus tetap ada di dekat aku. Bagaimana jika kita terpisah?" | Kami bersitegang apa yg sebaiknya dilakukan versi masing2. Tak ada yg mau mengalah dgn pendapat masing2. Lalu kami pulang dgn suasana yg masih diliputi ketegangan. Tapi, sentuhan tangannya ketika mencoba mencari ujung jemariku utk digenggam mencairkan suasana. Tanpa kata, genggaman tangannya yg semula hanya di ujung jemari, mulai meraih seluruh telapak tanganku. Hangat & lembut mengusir ketegangan kami. Tanpa kata, aku tahu bhw tak guna bertahan dgn kekerasan hati. Lain waktu, suasana hening sering memeluk kami berdua dlm bis yg membawa kami pergi ke banyak tempat. Tanpa diduga, tangan suamiku meraih tanganku yg terjatuh di ujung kursi. Ujung jemarinya menggenggam erat ke 5 jari tanganku sambil menepuk punggung tanganku dgn lembut. Itu adalah percakapan dlm diam paling hangat yg panjang yg memenuhi benak kami sepanjang jalan. Sentuhan. Hanya sentuhan, yg bisa mewakili ribuan kata. Sentuhan. Adalah bahasa cinta yg selalu hadir di 2 kota suci, Madinah & Mekah. #ceritaperjalananhaji2018 #ocehanadeanita
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on






#30haribercerita #harikedua Hari ini, kami melalui ulang tahun pernikahan ke 24 dengan berjalan menelusuri jembatan penyeberangan yang membentang di atas Jl. MT Haryono Jakarta. Dia tersenyum melihatku terengah-engah menaiki jembatan penyeberangan. . "24 tahun, kita sudah banyak mengalami peningkatan ya." Ujarnya sambil melirik aku yang termegleh-megleh ketika akhirnya sampai di ujung tangga mendaki. Aku tahu, dia meledekku. Hehe. Tapi aku tidak tersinggung atau marah. Perlahan jemarinya menggenggam jemariku. Lalu kami menelusuri jembatan. Kami sebenarnya punya banyak perbedaan. Jika di game SIMS 4, Suamiku ini adalah seorang yang educated minded, neat, genius, dan family oriented. Sedangkan aku digambarkan sebagai sosok yang super parent, cheerfull, creative, family oriented (*sayangnya di game SIMS 4 ini cuma membolehkan 3 sifat saja. Hahaha jadi aku tidak perlu memasukkan lazy dan clumsy). Jadi irisan perbedaan kami bertemu di irisan sifat family oriented. Selebihnya, meski banyak berbeda tapi dibawa bahagia terus insya Allah. Dia suka pekerjaan serius, aku suka main game. Dia pecandu bola yang rela bangun malam untuk nonton bola dan aku selalu tertidur 5 menit setelah pertandingan bola dimulai karena blass nggak ngerti sama sekali dan tidak tertarik. Dia suka kerapihan, dan aku perempuan yang bisa melihat sesuatu berantakan dan membiarkannya begitu saja hingga.... "Ini sebenarnya masih diperluin nggak sih? Kok teronggok di atas lantai terus ya sejak beberapa hari yang lalu?" ....ya, ya, ya. Dia tidak pernah bisa bicara to the point saking santunnya sedangkan aku sering bicara tanpa dipikir terlebih dahulu alias spontan nggak pake mikir. Dulu, waktu kami tinggal di Sydney, seorang teman berkata kami adalah pasangan yang bertolak belakang tapi justru klop satu sama lain. Bisa jadi sih. Aku melihat dia sebagai bagian dari diriku yang tidak bisa aku wujudkan sendiri karena aku tidak mau kehilangan diriku sendiri jika harus berubah jadi orang lain. Sepertinya, dia pun berpikir hal yang sama. . Jadi... mari beranjak tua bersama dan semoga tetap bahagia dunia akherat. Aamiin. @30haribercerita #30haribercerita #30HBC1802 #09012018
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.