5 Hal Tentang Ade Anita

[Pernikahan] Kalian tahu, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatunya di dunia ini, di agama Islam, dikatakan  bahwa sudah tertulis di Lauh Mahfuz bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Dimana kita akan dilahirkan, jenis kelamin kita, warna rambut kita, bentuk tubuh kita, warna kulit kita, warna bola mata kita, bentuk mata kita, sifat-sifat dasar kita, kapan kita akan menikah, hingga terakhir kapan kita akan meninggal dunia. Tentu saja sebagai manusia, hal-hal ini tidak kita ketahui. Ini termasuk dalam rahasia Ilahi.

Tapi, kita sebagai manusia bukan berarti tidak punya pilihan apapun dalam menjalani hidup di dunia ini. Tentu saja kita masih memilih pilihan. Termasuk dalam hal ini adalah, pilihan untuk memilih calon pasangan kita dalam membina ruma tangga.



Bolehkah Memilih Jodoh sesuai keinginan kita?


Rasulullah SAW menggaris bawahi bahwa hendaknya, ada 4 kriteria yang harus diperhatikan ketika kita memilih pasangan hidup. Pilihlah karena kecantikannya atau kepandaiannya, atau karena hartanya,  atau karena keturunannya,  atau karena agamanya. Tapi pilihan terbaik adalah jika memilih karena agamanya.

Waktu mau menikah dulu, aku tahu bahwa aku berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi suamiku. Tapi, di samping itu, aku juga tahu bahwa calon suamiku pun punya hak yang sama. Dia juga berhak untuk memilihku atau tidak memilihku.

Itu sebabnya, aku punya 5 hal yang tidak aku bagi pada siapapun ketika datang urusan memilih dan dipilih ini, kecuali aku bagi pada calon suamiku ketika itu.

Informasi yang aku bagi ini, lebih karena aku ingin mendapatkan yang terbaik dan kelak bisa menerbitkan rasa cinta dalam hatiku pada calon pasanganku; dan demikian juga hal sebaliknya. Agar calon pasanganku juga tahu bahwa dia telah mendapatkan yang terbaik karena telah memilihku dan kelak rasa cintanya padaku bisa terus terbit di dalam hatinya.

5 Hal Tentang Ade Anita

1. Aku jujur mengatakan bahwa aku seorang yang penyakitan.

Aku tidak tahu dengan orang lain, tapi sejak awal, pada semua pria yang mendekatiku aku akan juju rmengatakan pada mereka bahwa aku seorang yang penyakitan.

Penyakitan disini dalam arti, aku punya penyakit kambuhan dimana jika dia sudah kambuh maka bisa merepotkan banyak orang; dan mungkin termasuk dirinya jika dia kelak menjadi suamiku.

Kejujuran ini tidak selalu berjalan mulus sih. Kadang berakhir dengan pahit yang menohok.

Aku pernah ya, di"lepas" oleh seorang pria yang mengaku jujur padaku, "De, kayaknya aku nggak siap deh kalau harus punya istri yang penyakitan. Aku pingin punya istri yang senantiasa sehat, juga ibu buat anak-anakku yang senantiasa sehat dan kuat."

GLEK. Pedih ya saudara-saudara. Tapi aku amat menghargai kejujuran dia sih. Ya daripada sudah nikah terus dia menyesal lalu pernikahan kami malah tidka sehat karenanya, kan malah nggak enak ya.


2. Aku jujur mengatakan bahwa aku tidak bisa memasak, tidak suka bebenah rumah, dan tidak punya keterampilan rumah tangga.


Nah, yang ini aku lakukan agar calon pasanganku siap saja sih. Karena memang jujur aku tidak bisa memasak. Bahkan, merasa passionku bukan memasak. Aku juga tidak suka bebenah rumah. Kalau berantakin rumah mungkin sudah dalam tahap mahir, tapi giliran membenahinya agar kembali rapi dan bersih, nah. Ini.

"Mas, aku mau terus terang nih. Aku tuh nggak bisa masak loh, terus nggak suka juga bebenah rumah, jorok, malas mandi juga, sukanya nonton tv aja kali sambil malas-malasan di  depan tv. Tuh. Kamu masih mau ngajak aku nikah ama kamu?" Ujarku suatu hari ketika diajak nikah oleh seseorang.

"Iya, insya Allah. Aku suka sama kamu, hal-hal lain kan bisa berubah seiring waktu." Kelepek.. kelepek...kelepek. Ahh... ini nih yang bikin aku kesengsem abis sama suamiku . Sejak awal dia sudah sedemikian soalnya. 😍😍😍 Oppa saranghae (jika saja dulu ada Toa Masjid, rasanya pingin teriak kalimat ini deh)

3. Diam-diam sebenarnya aku melakukan test seleksi fisik awal pada setiap calon suamiku


Coba.
Coba.
Siapa disini yang doyan nonton film India? Hati-hati loh, nanti anak kalian yang diajak nonton bareng film India, tumbuh dewasa dengan pemikiran seperti aku. Hahaha.

Jadi nih, ketika kecil, aku beberapa kali nonton film India di televisi. Nah, kebanyakan aktor-aktor di film India itu, memiliki satu ciri yang khas. Yaitu, memiliki bulu di dadanya. Hahaha. Nah. Aku entah mengapa, gara-gara sering nonton film India, jadi bercita-cita, bahwa kelak nanti jika punya suami, aku ingin suamiku adalah orang yang memiliki bulu di dadanya. Hahahaha

Jadilah, setiap kali ada kandidat pria yang sepertinya naksir aku dan prospek dia untuk jadi suami lumayan bagus; aku akan melakukan test fisik atasnya. Dia punya bulu nggak di dadanya? Jika tidak punya, langsung dicoret. Gugur tereliminasi.

Alhamdulillahnya nih, keluargaku adalah keluarga yang suka ber wisata ke daerah yang ada airnya. Seperti pantai, atau kalau pun ke gunung, selalu memilih yang ada kolam renangnya. Jadi, kesempatanku untuk melakukan test seleksi fisik awal secara diam-diam lancar jaya dilakukan. Si kandidat tidak tahu bahwa dia sedang diamati.

4. Aku punya daftar 150 keinginan receh  bin sepele yang aku perlakukan sebagai sebuah rahasia yang amat berharga dan tak ternilai harganya


Jadi, aku tuh seorang penghayal banget.
hahaha.
Makanya aku nulis seperti ini di about me ku.



Nah, sebelum nikah tapi ceritanya sudah resmi dikhitbah alias dilamar. Tinggal nunggu acara akad nya saja. Aku sedang menulis diary ketika calon suamiku datang berkunjung ke rumah.

Nanggung banget kan ya. Jadi aku nerusin nulis diaryku sampai titik. Selagi ada mood nya. Aku biasanya kalau lagi nulis diary tuh asli lengkap sampai ke percakapannya aku tulis, sampai ke adegan gerakannya aku gambar kalau perlu. Jadi antara nulis novel berbentuk setengah komik dan nulis diary tuh sebelas dua belas jadinya. Sekali nulis diary bisa berlembar-lembar.  Serius. Kalau isinya sesuatu yang lucu, aku sambil nulis sambil senyum-senyum sendiri. Karena sambil mengingat-ingat gerakan dan mencoba untuk menggambarkannya di buku diaryku.

Asyik banget sampai-sampai, siapapun yang ada di dekatku tidak aku hiraukan. Mau dia Presiden kek, Ketua MPR kek, Wakil Presiden kek, Wakil Ketua MPR kek, Anggota DPR kek, semua aku cuekin.
Eh.
Bentar.
Kenapa kesannya aku nulis diary di gedung MPR ya jadinya? Hmm.. Ah. Sudah cuekin saja. Lanjut.

Nah. Pokoknya apapun posisi jabatannya aku cuekin, termasuk jika itu calon suami sendiri.

"Eh. Bentar ya mas. Nangggung nih. Tunggu dulu. Sebentar, sedikit lagi selesai." Lalu aku meneruskan menulis diaryku dengan penuh kekhusyukan. Sambil senyum-senyum sendiri. Dan ternyata, konsep sebentar yang aku sebutkan itu berlangsung lama. Jadi, akhirnya si calon suamiku ini lama-lama penasaran juga kali ya melihat adegan aku nulis dan asyik sendiri dengan buku diaryku. Jadi, dia pun mendekat.

Semakin dekat jarak yang terlipat, aku semakin mempercepat gerakan menulisku.
Semakin dekat, semakin berusaha untuk mengakhiri tulisanku. Rasanya berdebar-debar saking takutnya tulisanku dibaca oleh calon suamiku ini.
Deg. Deg.
BRET. BRET. Kecepatan maksimal menulis semakin meningkat hingga akhirnya, calon suami tepat ada di sebelahku. Berusaha memiringkan kepala mengintip tulisanku dan SET. Diary langsung aku tutup. Lalu aku sembunyikan di belakang punggungku.

Calon suamiku menatapku curiga.

"Nulis apa? Kok rahasia banget." Aku senyum sendiri mendengar pertanyaannya, dan mengangguk memastikan. "Iya. Emang rahasia banget. Nggak boleh ada yang tahu."

"Nulis apa?"
"Rahasia."
"Rahasia apa?" calon suamiku makin penasaran. Dan aku semakin berkelit menyembunyikan rahasiaku.
"Rahasia."
"De. Kita sebentar lagi mau nikah. Jangan sampai ada rahasia yang tidak aku ketahui."
Calon suamiku mulai tampak serius.
"Ya... nggak bisa mas. Tetap saja bakalan ada rahasia yang tidak akan kamu ketahui. Isi diary ini misalnya. Ih. Bisa bahaya banget kalau sampai kamu tahu."
"Rahasia apa?" Ternyata, calon suamiku malah semakin penasaran. Wajahnya serius luar biasa.

"Tenang mas. Bukan cuma sama kamu aja aku nyimpen rahasia ini. Tapi juga pada semua orang."
"Apa? Aku nggak mau kalo ada sesuatu yang aneh-aneh yang muncul di belakang setelah kita nikah loh."

WA.... pusyingg.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma punya sesuatu aja. Udah. Nggak usah dibicarain lagi."
Lalu, tiba-tiba saja hubungan kami jadi super tegang. Calon suamiku penasaran. Dan rasa penasaran ini membuat dia mulai sedikit ber-su'udzon. Sementara aku mulai dilema, mau membagi rahasiaku padanya apa nggak ya?

"Kenapa sih kamu rahasia-rahasiaan sampai segitunya!" Calon suami mulai kesal.

"Ya nggak papah sih. Cuma pingin nyimpen rahasia aja buat diri sendiri. Masa nggak boleh? Emangnya pernikahan itu harus selalu tidak punya rahasia apapun antara suami istri?" Aku mulai protes dengan rasa gerah. Salah tingkah. Dan merasa tidak nyaman. Lalu mulai mengevaluasi perjalanan rencana pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi. Hmm, sebenarnya-calon-suami-gue-ini-tepat-nggak-sih-buat-gue? Sebenarnya, gue-salah-pilih-nggak-sih-dengan-dia? Duh, jangan-jangan-gue-sebenarnya-nggak-cocok-ama-doi?

Akhirnya, dia pulang ke rumahnya dengan rasa kesal dan aku mengakhiri pertemuan hari itu dengan rasa gundah gulana.

Kami mengalami perang dingin selama beberapa hari. Calon suami tidak mau menyapa dan hanya diam saja jika bertemu. Sementara aku terus bertanya-tanya dalam hati. Cocok-nggak-cocok-nggak-cocok-nggak-cocok-nggak-cocok.

Lalu sepekan full tidak bertemu atau bertegur sapa.
Saat itulah aku mulai merenung dan melakukan shalat istikharah meminta keteguhan hati.
Setelah itu, aku membaca diaryku. Buku yang menjadi pangkal percekcokan pertama kami. Aku baca seluruh isinya sambil menangis. Sedih. Sepertinya, aku harus membagi rahasia yang aku tulis ini pada calon suamiku.

Iya. Sepertinya, aku harus membiarkan calon suamiku membaca isi buku diaryku itu.

Akhirnya, aku dan dia melakukan janji temu. Setelah bertemu, aku sodorkan buku diaryku padanya.

"Mas. Ini. Ini buku diaryku. Namanya diary bunga. Isinya rahasia, jadi aku memanggil dia rahasia bunga. Maafin atas kekeras kepalaan aku ya. Nih. Biar kita sama-sama ikhlas, kamu boleh baca."

Lalu aku serahkan buku diaryku pada calon suamiku. Wajahnya yang tegang, mulai membuka lembaran buku diary itu perlahan-lahan. Dan perlahan-lahan pula, wajah tegangnya mulai mengendur. Makin kendur. hingga akhirnya tersenyum. Lalu mulai terkekeh kecil. Sebelum dia ngakak, aku langsung ingatkan.

"Janji nggak boleh ngetawain! Aku malu."

Dia langsung memasukkan kedua bibirnya ke dalam mulut. Menahan tawa. Terlihat banget berusaha menahan tawa. Karena isi buku diary yang membuat kami hampir saja putus cinta dan batal menikah adalah : 150 daftar keinginanku yang  receh banget.
hahahahaha

Salah satunya nih, (aku masih nyimpen nih buku diary ini sampai sekarang), 

no. 67 : ade pingin beli pakaian dalam warna hitam yang pinggirannya cuma berupa tali tipis kayak batang korek api kayak yang ade lihat di matahari blok m.

Lalu aku mencoba membuat gambar penampakannya dengan gambar oret-oretan yang amit-amit jelek banget kalau aku lihat sekarang. Kok bisa ya jaman dulu aku nyaman dengan gambar sejelek itu?

HAHAHAHAHAHA.

5. Aku tidak suka membaca, tapi hobi nonton televisi

Waktu awal masa PDKT dengan calon suami nih ceritanya. Setiap kali dia datang ke rumah, aku pasti sedang asyik di depan televisi. Jaman dulu channel televisi belum sebanyak sekarang. Cuma ada TVRI dan RCTI saja. Tapi herannya, aku tetap betah di depan televisi. Dulu favoritku adalah menonton film kartun anak-anak dan acara Mana Suka Siaran Niaga, yaitu acara dimana seluruh waktunya isinya adalah iklan melulu. FULL 2 jam iklan terus. Jaman dulu sinetron belum ada kayaknya. Adanya drama televisi dan itu malam hari diputarnya.

Acara jaman dulu yang juga aku sukai dan rasanya wajib nonton adalah Dunia Dalam Berita setiap jam 21.00. Lanjut dengan film silat Mandarin yang sering diputar di RCTI atau drama televisi. Atau film seri seperti Mc Giver, Hawai Five O, The six milllion dollar man, bionic woman, dan sebagainya.

"Hai, De. Abis ngapain?" Sapa caln suami padaku jika baru tiba di rumah dalam rangka kunjungan PDKT.
"Oh, abis nonton tv mas."

Suatu hari yang lain, dia datang lagi.
"Besok UTS udah siap, De?"

"Belum mas. Aku nggak sempat belajar. Sibuk banget dah beberapa hari ini." Aku malah curhat sambil menyender di sofa dengan bahasa tubuh kelelahan.

"Oh. Sibuk ngapain kok sampai nggak sempat belajar?"

"Ya sibuk. Nih, pagi aku nonton tivi. Abis itu mandi, abis itu sarapan. Abis itu nonton tivi lagi. Abis itu makan siang. Terus tidur siang. Bangun-bangun harus mandi sore lagi, abis itu nonton tivi lagi, abis itu makan, abis itu nonton tivi lagi sampai akhirnya tidur deh. Selingannya cuma shalat saja. Tuh. Kapan aku ada waktu buat belajar coba? Cepat banget waktu berlalu."

Calon suamiku cuma bengong sebengong-bengongnya.

Eh tapi ya. Mungkin karena dia tahu aku suka banget nonton tivi, jadi setelah menikah, jika dia pulang kantor dan rumah berantakan dan aku lupa masak dan lupa mandi dan aku memberinya alasan, "Yaa.. .maaf mas. Aku keasyikan nonton drama korea jadi lupa."  Dia bisa maklum alhamdulillah.

Tuh kan.
Jadi penting deh menurutku kita jujur sejak awal pernikahan.
Dan itulah 5 hal tentang ade anita yang ketika menjelang pernikahan aku bagi rahasia ini dengan suamiku.



A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on

36 komentar

  1. Mbak Ade, ini serius Mbak? Suaminya pengertiaaaaannnn pake bangeteeet deh Mbak.. sayang banget yaaa ama istrinya tercinta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya iya serius. Emang begitu kejadiannya. Makanya aku dan suami suka ketawa aja kalo lagi mengenang

      Hapus
  2. hahaha....aku mau ketawa pas kalian perang dingin gara2 diary. akhirnya harus ngalah juga ya demi menjaga kelangsungan pernikahan. salut banget sama perjalanan kisahnya.

    BalasHapus
  3. aku juga jujur banget mbak, terutama yang nomor dua itu aku banget hahahha. Untunglah sampai sekarang suami juga ngerti...

    BalasHapus
  4. Cerita di atas mostly aku udh pernah denger, eh, baca dr sesi chat kita ya mba, tp soal daftar keinginan receh di buku diary, ini hal baruuuuuy

    BalasHapus
  5. Bener bgt, jujur sama calon suami itu pentiiing. Kalo udh tau semua kebiasaan kan jd lbh minim konflik.

    BalasHapus
  6. Mbak mbak, itu suami kayak gitu dapetinnya dimana? Aku mauk satu haha

    BalasHapus
  7. Daftar keinginan recehnya bikin saya terpingkal-pingkal. Trus, jadi gak beli bajunya? :D

    BalasHapus
  8. Mbak Ade mengingatkanku sama diriku sendiri yang suka nulis sesuatu di jurnal dulu. Karena udah putus, aku buang aja itu buku biru demi kewarasan hidupku. Padahal udah banyak yang aku tulis waktu itu, huhuhu.

    BalasHapus
  9. mbaaaa..penasaran dengan daftar 150 keinginan receeehmu hehehe. Pasti seru huahaha. kebayang! btw, lingerie seksi dengan tali korek api udah punya beluuum hehe

    BalasHapus
  10. Mbaaa...boleh numpang ngakak??? Haha... Kamu lucu banget sih mba..pak suami jadi ga bisa marah malah tambah gemes dan sayang ya...hehe. Dan aku penasaran dgn ke-150 keinginan recehmu itu!

    BalasHapus
  11. Tentang Ade yang nomor 3 sukses bikin aku tertawa, HAHAHA.
    Penggemar bulu juga ya.

    Baidewei aku punya juga lho lingerie seperti itu, HAHAHA.
    Warna ungu, pulak ^^

    Pas aku pakai di depan suami dan akting ala fashion show, doi geleng-geleng kepala, HAHAHA

    ... dan yang terjadi selanjutnya, terjadilah, HAHAHA

    BalasHapus
  12. Tapi, aku kok emosi yang baca soal yang penyakitan itu. Kok ada sih cowok nolak cewek gara2 penyakitan hahhaa... Kalau dibalik gimana coba? Mas maaf ya aku gbs nerima kamu jadi suamiku soalnya kamu penyakitan, aku gmw punya suami dan ayah buat anakku yg penyakitan HAHAHA

    BalasHapus
  13. Mba Ade tuh unik banget ya, hihihi suka lucu kalau baca tulisannya, suaminya pengertian banget ya, cocok, deh

    BalasHapus
  14. Jujur dari awal sebelum nikah emang penting banget ya setidaknya si calon bisa tahu kita gimana. Btw itu 150 keinginanmu banyak juga ya hehe.

    BalasHapus
  15. Aku pun pernah bilang kepada seseorang kalau aku penyakitan dan perlahan dia menjauh dariku. Tapi sampai saat ini belum menemukan seseorang yang siap menerima segala kekuranganku. Jadi sedih deh aku. Huhuhu.

    BalasHapus
  16. hahaaah soal bulu-bulu itu agak mirip aku. Dari sma aku suka banget sama cowok brewokan, sampai cari calon suami pun yang dilirik yang ada brewoknya. untung sekarang keturutan punya suami brewokan :)))

    BalasHapus
  17. HAHAHAHA ngakak abiz baca ini, hadeew mba langsung hilang nyut2an skit kepalaku wkwkwkw, iii mba lucu banget sih hahha. Aku juga suka nulis diary mba dn gk mw ad org lain yg mmncax, nah pnh didapat sama doi (skrg mantan) eh trxta d baca smua tlisnku yg parahnya aq tlis prsaan ku ke dy yg sebenarnya, hadeew.. Mba msh ngakak sy soal harapan recehnya itu wkwkwkwkkw

    BalasHapus
  18. Mbak Ade, itu gimana sih caranya dapat suami yang enggak banyak menuntut? Hehheheehe. Pengin juga hehehe

    BalasHapus
  19. Saya suka film india sejak kecil, Mba. Sempat kepikiran pengen punya suami yang punya bulu dada, tapi itu bukan syarat utama, hehehehe ��

    Sejak awal pedekate sama suami, saya juga katakan padanya kalo saya gak bisa masak, alhamdulilah dia mau menerima ��

    BalasHapus
  20. Mbak Adeee....aku selalu suka kalo mbak Ade cerita tentang suami dan keluarga mbak Ade. bisa senyum2 sendiri, hihi

    BalasHapus
  21. Mba Ade kayaknya makin jago masak deh. Hehhe. Aku ingat yang tulisan mba soal masak kreasi menu makanan udah keliaatan enak banget

    BalasHapus
  22. Mbak Ade masih suka nulis diary juga gak skr? seru banget baca tentang mbak Ade, dari bulu dada sampai keinginan receh :-D

    BalasHapus
  23. Aku salut sama kejujurannya, Mbak! Sehat2 selalu yaa mbakk...

    BalasHapus
  24. Mba Adeeee...lucu amat! Btw soal celana dalam warna item udah terpenuhi kah? Wakaka...aku serasa baca novel Mbaa :D

    BalasHapus
  25. sedikit banyak aku udah lumnayan tahu ttg mbak ade karena gabung di grup link BP sih, alhamdulullah positif meskipun ngomongnya ga bisa masak tapi skrg udah puinter kan?

    BalasHapus
  26. Kalo ak nggak bilang sama suami kalo ak ndak bisa bebenah rumah, tp lama-lama dia tau dan bantu aku bebenah deh..

    BalasHapus
  27. Mba Ade Childish juga ya, masih ada jiwa kekanakan di dalam dirinya wkwk tapi poin no 2 itu sama denganku deh hahaha

    BalasHapus
  28. Yang aku tahu Mba Ade baik orangnya dan paham agama. Jadi saya sedikitnya bisa tertameng dengan berteman sama Mba Ade.

    BalasHapus
  29. Aku ga punya televisi mb Ade ntar kalo main ke rumahku kita streaming drakor aja ya via lepie hahahahaha

    BalasHapus
  30. Aku ngakak lagi baca artikel ini. Ingat dirimu cerita tentang bulu dada, hahahaa

    Aku juga dulu jujur di awal, kalo aku tuh orangnya malas dan lebih suka gegoleran. Trus soal keuangan juga terbuka dari awal. Karena orang tuaku nggak punya pensiun, jadi aku selalu menyisihkan duit untuk mereka. Alhamdulillah suami setuju untuk memberikan duit bulanan pada orang tuaku.

    BalasHapus
  31. Hihihi aku ko nggak nyangka lho mba faktanya kocak begini he he. Bener2 menghiburku pagi hari ini. Makasi yaa

    BalasHapus
  32. aku kok malah geli ya baca tulisanmu mba. Kalo hobi males-malesan mah semua juga, tapi ya ga gitu banget juga sebenernya kan. haha

    BalasHapus
  33. Suaminya super pengertian ya mba sama istrinya. heheheh. Bersyukur banget mba punya suami seperti itu ya.

    BalasHapus
  34. Pasti pedih banget ya Mbak waktu calon ninggalin kita karena alasan penyakitan. Soalnya aku juga penyakitan yg jadi alasan aku sampai sekarang belum ada niat nikah.

    BalasHapus
  35. Senin kemarin aku jg bilang ke "pacar" klo aku g bisa masak, g suka bersih rumah semoga dia ilfill ama aq ��

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.