5 Hal yang Ingin Aku Lakukan di 2019

[Keluarga] Ada yang menarik beberapa waktu lalu. Yaitu ketika sebuah undangan untuk meliput sebuah acara blogger datang padaku. Seperti biasa, aku mengirimkannya pada suamiku untuk memberitahu sekaligus meminta izinnya agar aku bisa berangkat ke acara itu. Suamiku langsung membalasnya, "silahkan". Wah. Alhamdulillah. Tapi, tidak berapa lama kemudian, dia mengirimkan sebuah pertanyaan padaku: "De. Acara ini kontribusinya untuk dirimu apa? Jika lewat acara ini dirimu bisa bertemu dengan teman-temanmu jadi kamu bisa ngobrol dan lain-lain, atau lewat acara ini ada informasi penting yang bisa nambah pengetahuan kamu, silahkan pergi. Karena aku lihat kompensasi ganti transportnya kecil sekali. Uang transport sekecil itu, habis untuk ongkos kamu pulang pergi saja. Jadi, kalau 2 pilihan manfaat itu tidak kamu peroleh, aku saja yang memberimu uang segitu." Aku lalu berpikir. Membaca lagi undangannya, lalu berpikir lagi. Benar-benar merenung dan mempertimbangkan. Dan sepertinya, 2 manfaat itu tidak aku dapatkan sih memang. Jadilah aku akhirnya melakukan penawaran pada suamiku, "Kamu mau nggak, kasih aku 2 kali lipat?" Suamiku membalasnya. "Oke. Aku kasih kamu 2 kali lipat." Akhirnya, aku pun tidak jadi berangkat meliput acara blogger itu.

Hehehe.
ya, sesungguhnya kehidupan suami istri itu kadang ada negosiasinya memang (kalo di keluargaku ya; entah keluarga lain)

Oke. Jangan menilai hubunganku dengan suami adalah hubungan yang aneh ya. Tapi, memang pada dasarnya suami sepertinya lebih suka jika aku menekuni pekerjaanku sebagai seorang penulis ketimbang peliput acara. 

"Karena jejak yang kamu tinggalkan  di bidang literasi lebih awet dan berjangka waktu lama ketimbang jejak membuat liputan."

Hmm. Benar juga sih.
Karena sibuk sebagai blogger, 1 resolusiku di tahun 2018 ini tidak terlaksana loh. Yaitu menghasilkan buku. 

Terlalu lama dan terlalu sering menulis artikel bebas di blog, aku kehilangan kemampuan berimajinasi untuk menulis cerita fiksi. Draft novelku berantakan tak terselesaikan. Ketika berhadapan dengan draft novel tersebut, yang aku lakukan hanyalah bengong di depan notebook. Semua kemampuan menyusun kalimat untuk bahasa fiksi tidak hadir. Dan ketika sedang bengong itu, tiba-tiba datang undangan di email untuk membuat tulisan tentang sebuah produk. Anehnya, aku bisa menulis dalam waktu 1 jam saja untuk itu. Jari-jariku lincah menyusun artikel non fiksi. Dan rezeki datang alhamdulillah.

Bukannya tidak mensyukuri. Meski rezeki sebagai blogger lebih banyak ketimbang ketika aku menjadi penulis fiksi, tapi aku rindu menulis fiksi.

Menulis fiksi itu.... nikmat.
Kita bisa berimajinasi dan imajinasi itu tidak ada seorang pun yang membatasinya, kecuali nurani kita sendiri.
Aku bisa menulis semua khayalanku dalam sebuah cerita fiksi. Bahkan untuk sebuah khayalan yang paling gila atau paling absurd sekalipun. Aku bisa menjadi apa saja, bahkan profesi yang tidak mungkin akan aku kuasai meski aku amat menyukai profesi tersebut, yaitu menjadi seorang pembalap mobil. 

Jadi, dalam rangka memberi dukungan penuh agar aku bisa kembali menjadi penulis cerita fiksi, suamiku rela ber-negosiasi dengan aku agar aku bisa kembali fokus menulis novel. Dan ini sepertinya memang termasuk hal yang ingin aku lakukan di tahun depan insya Allah.

5 Hal yang ingin aku lakukan di 2019

1. Menghasilkan buku Memoar Perjalanan Haji 2018


Aku ingin menulis buku tentang kisah perjalanan haji 2018-ku. Keinginan ini muncul setelah beberapa teman mendorong dan menyemangatiku untuk membukukannya setelah mereka membaca sebagian tulisanku di instagram, yang aku beri hashtag #ceritaperjalananhaji2018 #ocehanadeanita .

Ini salah satunya: 





#ceritakemarinku : MAUT (bagian 1) Suatu hari sebelum shalat Isya dididirikan di Masjid Nabawi. Seorang perempuan Arab tiba2 berdiri di hadapanku dgn wajah amat pucat & nafas tersengal. Aku, dan 2 orang wanita Turki di sebelahku, menengadah ke arahnya dgn bingung. Kulihat ujung dagu wanita itu gemetar. Perlahan, air matanya mengalir. "Are you alright?" Tanya wanita Turki di sebelahku. Wanita Arab itu memandang kami dgn bingung. Tangannya memegang dada kirinya. Nafasnya kian tersengal. Seketika kami semua cemas, krn yg dia rasa nyeri adl wilayah jantung. "Please, sit sister." Ujarku lalu meraihnya agar duduk di atas rak sepatu. Wajahnya kian pucat, nafas kian tersengal & mulai berbunyi tanda susah-payah dia berusaha meraup udara, lengan & kaki gemetar. Aku cemas & tegang. Tak ingin melihat peristiwa sakaratul maut terjadi di depan mata. Sungguh. Itu adl peristiwa paling mencekam yg akan terekam dalam ingatan dgn cara yg sedih. Gemetar, aku mulai memijat betisnya. Bingung harus berbuat apa. Wanita Turki di sebelahku berdiri & bergegas mengambil segelas air zamzam. Membacakan Al Fathihah pd air zamzam, lalu mulai menyuapi wanita itu perlahan. Ketika wanita itu berusaha minum, wanita Turki itu meniup ubun2 wanita itu dgn bacaan Al Fathihah berkali-kali. Aku terbawa suasana. Ikut membaca Al Fathihah & dlm hati berdoa memohon pertolongan Allah bagi wanita yg sakit ini. "Allah, sembuhkan dia. Bantu dia. Tolong dia." Jamaah lain di sekitar kami mulai kompak membaca al Fathihah. Membuatku ingin menangis. "Sukari." Kata wanita Turki yg meniup ubun2, lalu mulai menyuapi kurma Sukari. Dlm bhs arab kurang lebih aku tahu, dia menjelaskan bhw Sukari adl kurma Nabi & kita hrs yakin bhw itu bisa menyembuhkan. Suara nafas wanita itu makin 1-1. Kami makin cemas, apalagi dia mulai berlinangan air mata, menelepon suaminya & mulai meminta maaf. Wajahnya sudah amat pasrah. Doa semakin kuat dipanjatkan oleh semua yg melihat. Ketika seorang askar wanita lewat, kami segera memanggilnya & menyerahkan wanita itu pd askar tsb. ---maaf, bersambung, ke share photo berikutnya ya, biar muat ceritanya. #ceritaperjalananhaji2018 #ocehanadeanita #adeanita
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on


Iya sih, harus diakui. Keterbatasan jumlah karakter yang bisa ditulis di kolom status instagram itu membuatku harus memangkas-mangkas cerita sebenarnya. Padahal, aku ingin menulis banyak. Ada terlalu banyak cerita yang ingin aku bagikan karena aku merasa mendapat banyak sekali hikmah kehidupan selama melaksanakan perjalanan haji 2018 itu.

Setidaknya, aku bisa mewariskan cerita hikmah kehidupan yang aku dapatkan itu pada anak-cucuku insya Allah.

2. Mengeluarkan novel


Yap. Aku rindu sangat menulis cerita fiksi. Menulis novel. Aku ingin menulis novel lagi.  Aku sudah memberitahu suamiku tentang keinginanku ini. Aku tahu, suamiku ini bisa diandalkan untuk menjagaku agar bisa tetap fokus dengan caranya sendiri. Salah satunya ya seperti bisa kalian baca di skrinsut percakapan antara aku dan suamiku di atas.

3. Aku ingin belajar mengaji agar bisa lebih baik lagi


Kalian tahu tidak, salah satu doaku ketika berputar mengitari Ka'bah adalah, agar bisa mendapat kemudahan untuk bisa mempelajari Al Quran lebih baik dan mendapat kemudahan untuk mengamalkan Al Quran dalam kehidupanku sehari-hari.

Teman-temanku tidak banyak karena sehari-hari, aku adalah ibu rumah tangga yang tidak suka keluar rumah untuk bergerombol dengan ibu-ibu yang sedang bergerombol mengobrol. Aku juga ibu rumah tangga yang tidak suka pergi dengan teman-temanku hang out kesana kemari. Kegiatanku keluar rumah yang rutin setiap bulannya hanya dilakukan 2 kali, yaitu ketika arisan RT dan arisan ibu-ibu alumni walimurid sekolah anakku.

Sudah. Itu saja. Selebihnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan teman-teman via internet dimana kami bertemu di group-group whats app.

Ketika berangkat haji, aku meremove diriku sendiri dari berbagai group whas app. Tapi sepulang dari haji, satu persatu aku dimasukkan kembali ke group-group itu. Kali ini, yang memasukkanku adalah teman-teman yang benar-benar ingin aku ada di dekat mereka dan aku juga ingin ada di dekat mereka. Salah satunya, akhirnya mengajakku untuk belajar tajwid Al Quran.

Wah. Masya Allah. Senang sekali.

Jadilah aku belajar mengaji Tajwid lagi sekarang. Tidak mengapa mengulang dari awal lagi, tapi aku senang. Sepertinya, inilah jawaban dari doaku ketika di depan Ka'bah. Dimudahkan untuk mempelajari Al Quran.

Tentu saja, jawaban sebuah doa tidak akan ada artinya tanpa sebuah sifat istiqamah.
Diberi itu jauh lebih mudah terlaksana. Yang susah itu dipertahankan. Istiqamah hingga bisa terus fokus ke tujuan utama dan cita-cita tertinggi, puncak dari inti doa itu sendiri.

Semoga aku tidak lekas berpuas diri.

4. Pingin beli e-book yang ini nih (buku agama)

Yap. Dalam rangka menunjang keinginan di nomor 3, aku ingin memperdalam ilmu agamaku dengan belajar lagi tentang islam lewat buku-buku agama.

Dan kalian tahu tidak, benda yang selalu aku bawa kemana-mana itu adalah handphone. Dompet bisa ditinggal (hahaha, buat apa dibawa jika isinya tidak ada), tapi handphone harus tetap dibawa kemana-mana. Nah, aku ingin mengisi handphoneku dengan beberapa e-book. Hanya saja, karena harganya mahal, jadi aku ingin mencicil membelinya hingga lengkap koleksi bacaan e-book di handphoneku kelak. Selanjutnya mendisiplinkan diri sendiri untuk belajar dan mempelajarinya.


Nah, dalam rangka melatih otak agar tidak pikun, aku ingin belajar membaca novel berbahasa inggris ceritanya. Tapi, biar mudah, dimulai dengan membaca cerita berbahasa inggris dulu deh. Dan gaya tutur bahasa inggris yang paling mudah dimengerti itu adalah buku cerita untuk anak-anak.

Inilah daftar buku cerita berbahasa inggris yang ingin aku beli dengan cara menabungnya sedikit demi sedikit agar bisa terdapat di handphone dan semua gadget yang aku miliki (karena menggunakan akun google yang sama, maka e-book yang kita beli di google play book bisa kita baca di semua perangkat gadget yang menggunakan akun google yang sama).

Ini nih buku cerita yang aku incar:



5. Pingin belajar gambar lagi


Ya. Aku ingin kembali menekuni pelajaran menggambar agar bsia membisa ilistrasi utnuk c├álon bukuku sendiri. 

Dah.
Itulah 5 hal yang ingin aku lakukan di 2019 insya Allah. 

1 komentar