Rabu, 16 Mei 2018

Lebih Asyik Dengan Ibu atau Ayah?

[Parenting] Jika ditanya lebih asyik dengan ibu atau ayah ditujukan padaku, maka jawabanku sudah jelas sih, AYAH. hehehe. Aku kan anak ayah. Meski ada beberapa catatan tersendiri sih buat ayahku. Dan aku sendiri berusaha keras untuk berlaku adil menyayangi kedua orang tuaku. Tapi tetap sih, aku punya kecenderungan untuk lebih sayang pada ayahku.

baca tulisanku tentang aku dan ayah ini deh: Aku dan Ayah 
Atau tulisanku ketika sedang merindukan almarhum ayahku yang ini nih: Rindu Ayah
Sepertinya memang ada banyak sekali ya tulisanku di blog ini tentang ayahku.


Tapi, asal tahu saja sih. Ayahku dulu bukan ayah yang sempurna sebenarnya. Meski begitu, semua ketidak sempurnaannya itu yang justru sering bikin aku merindukan beliau.

Catatan parenting a la ade anita: meski tulisan ini membeberkan ketidak sempurnaan orang tuaku dibanding orang tua anak lain, tapi sama sekali tidak membuat aku menimbun kebencian pada kedua orang tuaku. Justru aku malah merindukan mereka karena aku sadar, bahwa lebih dari segalanya, ternyata kedua orang tuaku adalah manusia biasa yang  terus berusaha mencintai dan membesarkan anak-anaknya dengan usaha maksimal yang mereka bisa, meski mereka punya kekurangan. 

Catatan Tentang Ketidak Sempurnaan Ayahku:


1. Ayahku, hobi banget memelihara kumis. 

Hehehe, keluarga besar ayah sepertinya merupakan keluarga besar yang dikaruniai ketidak-mampuan menumbuhkan bulu lebat di daerah sekitar rahang wajah mereka. Jadi, aslinya para pria di keluarga besar dari pihak ayahku itu klimis-klimis sekali. Itu sebabnya ketika berhasil menumbuhkan kumis, ayah senangnya bukan main.

Kumis itu dipeliharanya dengan rajin merawatnya, mencukur dengan hati-hati sekali. Dan.... jika sedang berbicara sering sambil mengelus-elus kumisnya.
Hahaha... ayahku selalu merasa bahwa dirinya mirip dengan Charles Bronson. Seorang artis legendaris yang sukses memerankan figur pria macho di jaman ayahku masih muda dahulu.

ini dia Charles Bronson, artis ngetop di jamannya, yang sukses memerankan pria koboy yang macho abis
Sempat ada iklan after shave yang diperankannya dan sukses melekatkan image bahwa pria macho adalah pria yang rajin membersihkan bulu2 kasar agar tidak terlalu berantakan di wajah mereka : Mandom




Ibuku termasuk orang yang paling cepat terlihat cemberut jika ayah sudah memperlihatkan gaya bahwa dia memang mirip Charles Bronson; yaitu mengelus-elus rahang dan kumisnya, sambil mengangkat kepala dan tersenyum lebar.

Hehehe. Jika ayah sedang mengaku-aku bahwa dirinya mirip Charles Bronson, maka ibuku akan serta merta mematahkan pengakuan ayahku itu dengan mengatakan bahwa ayah mirip: "Oi... Samsu.... Samsu." Hahahaha.... ini artis tahun 70-an sih. Pelawak. Wajahnya mirip Charles Bronson versi culun dan KW 12. Nggak mirip banget sama ayahku, itu sebabnya ayah langsung cemberut jika digoda ibu dengan panggilan "Samsu.".

Hehehe.... cara bercanda kedua orang tuaku memang demikian. Saling ledek-ledekan jika sedang mesra. Ledek-ledekannya sih ledek-ledekan sayang. Bukan ledek-ledekan model bully yang kejam.

Catatan Parenting a la ade anita: di hadapan anak-anaknya, tidak mengapa sih menurutku saling bergurau antar suami istri. Karena dengan begitu anak akan belajar bahwa hubungan suami istri itu adalah hubungan yang akrab dan tak berjarak. Dengan begitu, mereka mendapat gambaran bahwa pernikahan itu bukan sesuatu yang akan merampas kebebasan mereka sepenuhnya ketika tiba saatnya mereka akan menikah kelak. Karena anak bukan hanya belajar tentang bagaimana cara menumbuhkan kemampuan dirinya sendiri saja, tapi juga harus belajar bagaimana mengelola sebuah keluarga yang dimulai dari interaksi ayah dan ibunya. 

2. Ayahku tidak pernah marah pada anak-anaknya


Tidak pernah marah pada anak-anaknya ini, kekurangan atau kelebihan? Buatku ini kekurangan sih. Karena, dahulu kami anak-anaknya jadi menebak-nebak apakah ini akan membuat ayah marah atau tidak, jika ingin melakukan sesuatu yang anti mainstream.

Seperti berjalan berputar ketika pulang sekolah agar bisa berjalan di jalanan yang terendam banjir setinggi paha anak SD (atau lutut orang dewasa). Tentu saja ini berbahaya sekali. Karena jika arus banjir deras, bisa rawan terbawa arus banjir. Dahulu, jembatan ke arah SMP 154 belum dibangun padahal ada sebuah kali yang cukup lebar dan dalam disana. Cuma ada dua batang bekas pohon kelapa yang dipakai untuk jembatan melintasi kali tersebut. Jika turun hujan, kali ini meluap hingga ke kompleks polisi yang ada di bawahnya. Nah. Orang lain, lebih suka berjalan berputar melewati Blog O agart tidak melewati banjir. Tapi aku, malah memilih untuk melewati daerah banjir ini. Rok SD-ku digulung hingga sebatas pinggang, tas diselempang, lalu berjalan menerjang banjir. Bahagia sekali rasanya kala itu, apalagi ada banyak tatapan kagum orang lain yang melihat keberanianku menerjang banjir. Pernah sekali waktu, arus airnya cukup deras hingga tas yang aku selempangkan di pundak tersangkut ranting pohon yang ikut hanyut, putuslah tasku. Hilang. Pulang sekolah, aku dimarahi oleh ibuku.

Tapi ketika hal ini dilaporkan pada ayahku oleh ibu, ayah tidak marah. Tapi raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang amat pekat. Dipeluknya aku ketika itu dengan erat, lalu dielus kepalanya sambil menasehati... "Jangan diulangi lagi ya Nak. Nanti kamu bisa terbawa hanyut, lalu hilang karena tenggelam. Ketemu-ketemu sudah membusuk sambil bengkak seluruh tubuhnya di bawah jembatan."
Deskripsi ayah ini cukup mengerikan buatku, sehingga aku memutuskan uttuk tidak lagi jalan kaki melewati jalan raya yang banjir di kompleks polisi di rumahku.

Aku juga pernah bereksperimen naik ke atas genteng rumahku. Rumahku rumah bertingkat, dan aku mencoba untuk naik ke atas genteng rumah. Awalnya, ada tukang yang akan memperbaiki genteng rumah di atap lantai 2. Si tukang naik dulu ke atap lantai rumah bawah, lalu dengan tangga dia manjat ke atap lantai 2. Jadi, tinggi sekali atapnya; lebih tinggi dari ujung teratas pohon rambutan yang tumbuh besar-besar di halaman rumahku. Begitu tinggi hingga aku bisa melihat pemandangan mobil lalu lalang di jalan MT Haryono dan di bawah Patung Pancoran, Jakarta Selatan.

Tukang yang melihatku menyusul mereka, segera menghardikku agar segera turun ke bawah. Aku pun turun. Sorenya, tukang mengadu ke ayahku. Ayah tidak marah. Tapi hanya mencubit perutku dengan cubitan besar yang tidak sakit. Dengan jempol dan telunjuk, ujung perutku yang dikepit oleh kedua jarinya ini diputar. Aku meringis geli. Lalu ayah menatapku dengan wajah muram.

"De, kamu perempuan. Jangan lagi ya naik-naik ke atas genteng. Dan jangan pernah menyusul ke arah para tukang berkumpul." Aku mengangguk. Lalu ayah berjongkok, dan kembali berkata, "Janji jangan lagi ngelakuin itu?" Akhirnya, aku pun berkata, "Iya, ade janji." Sejak itu aku tidak pernah lagi naik-naik ke atas genteng dan mendatangi tukang yang sedang bekerja.

hmm. Bahkan, setelah aku menikah; ketika ayah masih hidup dan aku sedang memperbaiki rumahku, ayah rela setiap hari datang untuk mengawasi pekerjaan tukang di rumahku. Jadi, aku tidak perlu mendatangi tempat para tukang sedang bekerja.

Catatan parenting a la ade anita: ayahku tidak pernah marah; tapi sebaliknya, ibuku sering sekali marah. Meski demikian, ternyata nasehat/peringatan/teguran yang aku rasa lebih aku dengarkan, turuti, dan resapkan di hatiku justru semua nasehat/peringatan/teguran dari ayah ketimbang dari ibuku. Ini membuatku berpikir, sebenarnya, bukan nada tinggi dan suara keras yang didengar oleh seorang anak ketika datang teguran atas kesalahan mereka. Tapi, justru perkataaan yang lembut dan sabar, tapi to the point pada kesalahan dan jabaran konsekuensi yang mungkin terjadi atas kesalahan yang dilakukan oleh anak. Itu sebabnya, pada anak-anaku, aku jarang sekali mengumbar rasa marah, berteriak, mengomel berkepanjangan, atau mengeluarkan rentetan panjang kalimat negatif pertanda kemarahan. Karena aku ingat diriku yang dulu; yang justru tidak pernah mendengar semua hal ini. Aku lebih memilih untuk menegur dan mengingatkan anak-anakku dengan cara yang lebih sabar, bersahabat dan bukan dengan teriakan dan omelan berkepanjangan, apalagi makian dan kata-kata kasar. 

3. Ayahku sering dalam kondisi tidak punya uang karena seluruh gajinya diberikan pada ibuku


Entah bagaimana kesepakatan yang dibuat oleh orang tuaku dulu ketika mereka menikah dulu. Yang pasti, setiap bulan, ayah akan menyerahkan seluruh amplop gajinya pada ibuku. Pemandangan ibu menerima amplop gaji, menghitung uangnya, menyamakannya dengan list perincian jumlah gaji yang tertera di amplop, adalah pemandangan yang amat biasa bagi kami ketika kecil dulu.

Nanti, setelah proses menghitung selesai, barulah ibu akan membagi sejumlah uang buat transport ayah selama satu bulan ke depan. Nah, karena kondisi ini ayah jadi sering berada dalam kondisi tidak punya uang. Uang yang dia miliki amat pas-pasan untuk transport beli bensin dan pegangan beli makanan di kantor. Tapi biasanya, ayah sering bawa bekal dari rumah.

Karena itu, ayah pun giat mencari tambahan dengan cara mengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UHAMKA). Itu sebabnya ayahku jadi figur yang pelit sekali.

Jadi, jika aku atau adik-adik, ingin minta uang pada ayah ke suatu tempat, ayah akan memberikan uang seperti cara ibu memberinya uang.
"Mau kemana, De?"
"Ke kampus, Yah."
"Oke. Ke kampus itu berarti... dari sini naik mikrolet 500 perak, lalu lanjut kereta api 150, pulangnya sama... jadi semuanya 1300 perak. Berapa lama kamu di kampus?"
"Dari jam 10 sampai jam 12 sih."
"Oh, berarti 2 jam, paling cuma beli teh botol 2 kali, ya sudah, 1300 ditambah teh botol 2, nih... ayah kasih 1500 ya."

Nah. Begitulah cara ayahku memberi kami uang saku. Hehehe.
Tapi, itu malah membuat kami jadi super duper hemat dan tidak gampang jajan sembarangan.

Catatan parenting a la ade anita: Kadang, terlalu loyal pada anak malah membuat anak jadi belajar untuk tidak menghargai uang yang dia terima. Karena anak belajar bahwa orang tuanya punya uang tak terbatas dan wajar jika mereka bisa meminta kapan saja dan berapapun. Biasakan untuk memerinci jumlah pengeluaran dan pemasukan pada anak agar anak belajar tentang peruntukan uang masuk dan uang keluar yang dia gunakan. 

Dah.
Segitu dulu deh catatan kekurangan ayahku.
Kalau ibuku sih, hmm... beliau perempuan hebat. Karena ketika kami sedang kekurangan uang, ibu bisa menambal kekurangan dengan keahlian memasak yang dia miliki. Ibu juga aktif di organisasi dan juga pemurah dan amat supel. Lain kali mungkin aku akan bercerita tentang ibuku di blogku ini.

Kembali ke pertanyaan sesuai judul, Jadi, menurut kalian:

Lebih Asyik Dengan Ibu atau Ayah?

Masih bingung? Aku sih sudah menjawabnya ya. Tapi jika kalian masih belum bisa memutuskan lebih asyik dengan ibu atau ayah, mungkin deretan-deretan foto-foto di bawah ini bisa membantu kalian. Aku asli ketawa ngakak melihat deretan foto-foto ini.








Ini adalah deretan foto-foto yang muncul di facebookku ketika aku mensharenya pertama kali tahun 2012 silam.

Hahahaha.

3 komentar:

  1. Masing-masing punya keasyikan tersendiri yaa untuk ayah ataupun ibu ya mbaa. Aku kayaknya alhamdulillah sama2 asyikk

    BalasHapus
  2. aku selalu asyik dg ibuku, kalau liburan selalu dg ibuku. bapak itu sosok yang sibuk dg buku tebalnya dan ilmu yang tinggi gak nyampe deh buat anak2nya, jd aku lebih asyik dg ibuku, bahkan hr liburpun kita berlibur dg ibuku saja

    BalasHapus
  3. Terharuuu. Kelebihan semua itu yang Mbak Ade paparkan tentang ayah Mbak Ade. Terharu sangat saya membacanya. Buat saya lebih asyik dengan ayah saya juga. ANak2 saya pun lebih suka dengan ayah saya :D

    BTW, ya ampun foto2 itu bikin ngakak hahaha.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...