Pneumonia, Pencegahan dan Pengobatannya

 [Parenting] Pneumonia, selama ini aku tahu penyakit ini tapi tidak pernah terbayang bahwa keluargaku bisa didekati oleh penyakit ini. Hal ini karena anak-anak kami, semuanya memiliki riwayat imunisasi yang lengkap. Aku dan suami termasuk orang tua yang tidak anti imunisasi. Aku dan suami saling bekerja sama untuk saling mendukung dan mengingatkan ketika jadwal imunisasi akan tiba. Mulai dari mempersiapkan biayanya, kondisi kesehatan anak jelang imunisasi, serta persiapan lainnya. Itu sebabnya, rasanya kaget luar biasa ketika suatu hari dokter memberikan vonis bahwa putriku terkena Pneumonia. Dan ini ceritaku tentang hal itu. 


Cerita Tentang Pneumonia


Suatu hari ketika aku akan turun ke dapur untuk memasak dalam rangka memenuhi kebutuhan makanan bagi keluarga; putriku memanggilku dengan suara lirih.

"Bu. Kayaknya aku sakit deh."

Ketika dia mengucapkan itu, wajahnya terlihat pucat dan matanya sayu. Aku mendekatinya dan memegang dahinya dengan tanganku. Terasa panas. Segera aku ambil thermometer dan mengukur suhu tubuhnya, ternyata suhu tubuhnya mencapai 40 derajat celcius. Subhanallah.

"Minum panadol, nak."

Setelah itu aku langsung memberitahu suamiku bahwa anaknya demam. Wajah suami langsung ikut khawatir.

"Bawa ke dokter deh. Demamnya tinggi banget." Suami memberi saran. Tapi, aku menolak halus.

Entahlah. Aku merasa bahwa jika anak demam baru satu atau dua hari di bawa ke dokter, maka dokter memberi obat penurun demam dengan coba-coba saja. Dalam arti, dokter masih mengira-ngira sakit apa anak kita. Karena, dari pengalaman selama ini, para dokter tidak yakin untuk mengirim anak ke laboratorium jika demam anak masih satu atau dua hari. Lebih dari itu, karena masih kira-kira, anak kadang diberi anti biotik oleh dokter. Nah, ini yang aku tidak ingin dilakukan pada anakku.

Masih berdasarkan pengalaman juga, jika anak demam sebelum 3 hari, maka yang aku lakukan adalah memberinya obat penurun demam yang mengandung paracetamol, memberinya minum air putih yang sering agar lancar buang air kecil, serta memintanya untuk istirahat di atas tempat tidur. Semua kegiatannya dihentikan dulu untuk sementara sambil memberinya asupan nutrisi yang cukup. 

Khawatir? Pastinya. Karena jika anak sakit, semua orang tua rasanya pastilah khawatir. Tapi, aku dan suami memang ingin merawat sendiri anak yang demam di rumah di hari pertama dan keduanya. Tunggu 3 hari.

Mengapa kita harus menunggu 3 hari untuk mengetahui sebuah penyakit? Karena, setelah 3 hari, jika penyakit yang diderita diakibatkan oleh bakteri maka bakteri akan tetap ada dalam masa 3 hari itu; bahkan mungkin bertambah banyak sehingga mudah dilihat. Sedangkan jika penyakit yang diderita diakibatkan oleh virus maka virus semakin banyak dan jelas terlihat sehingga mudah dipastikan. Kepastian ini yang memberi keyakinan pada tenaga medis untuk memberikan tindakan pengobatan. 

Selama 3 hari di rumah, aku dan suami bergantian mengawasi dan merawat putri kami. Memeriksa dan mencatat gejala dan keluhannya; mengontrol pemberian obat paracetamol; menyiapkan makanan bergizi dan membujuknya agar mau menghabiskan makanannya (dan ini tidak mudah); serta mengompresnya agar tidak terlalu cepat naik suhu tubuhnya. Termasuk juga, memintanya untuk ganti pakaian yang basah oleh keringat. Terlebih dia mulai merasa gatal-gatal di sela demamnya. 

Di hari ke 4, akhirnya aku membawa putriku ke rumah sakit. Dan seperti sudah diduga, dokter langsung merujuk putriku untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Semula, dokter menyangka putriku terkena DBD mengingat suhu badannya yang demam tinggi di atas 38 derajat celcius. Bahkan, putriku pernah demam tinggi hingga 41 derajat celcius. Alhamdulillah tidak sampai step alias kejang. Alhamdulillah.

Sambil menunggu hasil laboratorium keluar, putriku merebahkan kepalanya di pundakku di rumah sakit itu. Aku mengajaknya untuk makan di kantin rumah sakit. Ketika sedang menghabiskan makanan di kantin rumah sakit itulah, kulihat dokter sengaja meluangkan waktu untuk mendatangi kami. 

"Bu, hasilnya sudah keluar. Langsung ke ruang praktek saya ya bu jika sudah selesai makannya."

Wah. Deg-degan banget. Kenapa? Gimana hasilnya?

Aku langsung telepon suami dan menceritakan kejadian ini. Suami yang menerima telepon di kantor ikut merasa khawatir dan penasaran. Akhirnya, aku dan putriku bertemu dengan dokter. Wajah dokter terlihat khawatir.

"Bu, ini sebenarnya membingungkan. Karena, dari hasil test laboratorium, tidak ada tanda-tanda terkena DBD atau Typhus. Tapi, terlihat ada infeksi bakteri dan virus dalam darahnya. Bagaimana jika untuk observasi lebih lanjut, ananda diopname saja di rumah sakit?"

Sebenarnya, kami bingung dengan permintaan dokter ini. Hal ini karena kebetulan saat itu putriku sedang bersiap untuk mengikuti test tengah semester di sekolahnya. Putriku sendiri menolak untuk diopname. Selama ini, putriku memang tergolong anak yang selalu sehat dibanding saudara-saudaranya yang lain yang punya riwayat asma. Putriku ini tidak punya asma. Dokter kembali memeriksa denyut nadi dan mendengar suara nafasnya.

"Sepertinya, mau tidak mau harus diopname deh. Karena nadinya cepat dan suara nafasnya pendek-pendek. Sesak ya?" Putriku mengangguk dengan kepala lemah. Aku tahu, dia merasa amat lemah tapi masih mencoba bertahan dikuat-kuatin agar tidak diopname. Jadi, yang berikutnya terjadi adalah, aku membujuk putriku agar mau diopname di rumah sakit agar bisa diobservasi lebih lanjut. Setelah proses bujuk yang cukup alot, akhirya putriku bersedia diopname di rumah sakit.

Kami mengurus kamar dan segala sesuatu yang terkait. Pulang ke rumah untuk mengambil pakaian dan berkas serta barang yang dibutuhkan. Setelah itu kembali ke rumah sakit dan masuk ke dalam kamar rawat inap. Memberitahu suami dan orang-orang rumah tentang kabar terkini tentang putriku pada mereka. 

Malamnya, dokter penyakit dalam merujuk dokter ahli paru untuk menangani putriku mengingat nafasnya yang pendek dan nadinya yang cepat. Dokter paru meminta agar putriku menjalani rontgen paru serta test dahak. Malam itu juga putriku difoto rontgen. Lalu istirahat di rumah sakit dengan pengawasan suster.

Besoknya. dokter spesialis penyakit dalam dan dokter paru datang bersama ke dalam kamar putriku dan memberi tahu hasil foto rontgennya. 

foto: dokumen pribadi

"Bu, sepertinya hasil rontgen tidak bagus ya. Ada banyak kabut di paru-paru putri ibu dan kabutnya cukup pekat." Lalu, dokter mengeluarkan handphonenya dan mencari kondisi paru-paru yang sehat. Foto paru-paru sehat di handphone dokter, disandingkan dengan foto rontgen putriku. Hasilnya memang terlihat amat berbeda.

"Jadi, jika ibu lihat. paru-paru yang sehat itu seharusnya bersih. Dengan begitu laju oksigen lancar untuk memenuhi seluruh rongga di dalam paru-paru ini. Tapi, pada paru-paru putri ibu, terlihat seperti ada kabut pekat berwarna putih yang menutupi sebagian paru-parunya. Semula sebelah paru-paru, lalu setelah menutupi hingga 5 ruas tulang dada, dia mulai menyebar ke sebelahnya. Itu yang membuat putri ibu kesulitan bernafas, dan karena kondisi kurang oksigen akhirnya dia pun demam tinggi. Banyak sekali organ dalam tubuh putri ibu yang bisa terganggu karena kondisi paru-parunya yang seperti ini."

Aku termangu menatap hasilnya. Tapi segera mengabadikan gambar karena aku harus bercerita memberi laporan pada suamiku yang sedang bekerja di kantornya. Beberapa keterangan dokter bahkan aku rekam.

"Kabut pekat berwarna putih itu apa dok?" Tanyaku.

"Oh, pada umumnya ini adalah cairan ya. Bentuknya seperti lendir tapi ini sebenarnya air." Dokter menjelaskan dengan sabar.

"Kok bisa masuk ke dalam paru-paru putri saya dok?" Aku kembali bertanya.

"Nah. Itu yang tidak bisa kami jawab kenapanya. Ini namanya Pneumonia ya bu. Yaitu, radang paru-paru yang disebabkan karena masuknya bakteri dan virus, serta beberapa jamur, yang menyebabkan saluran alveoli di dalam paru-paru tersumbat. Akibatnya, oksigen yang harusnya keluar masuk dengan lancar di rongga paru-paru terhambat lalu menumpuk. Umumnya, penumpukannya berupa cairan tadi. Jadi, paru-paru tuh bentuknya mirip seperti busa latex yang bolong-bolong. Ibu tahu kan bentuk busa latex yang bolong-bolong? Seperti karakter Sponge Bob kartun tuh. Nah, bayangkan jika setiap bolong-bolong di busa latex tersumbat lemak atau minyak atau air.... Dia akan terasa berat. Itu sebabnya putri ibu merasa letih dan susah bernafas. Berat buat bernafas. Kurang lebih seperti itu mungkin penjelasan sederhananya." Aku mengangguk mengerti keterangan dokter paru. Penjelasannya sangat gamblang buat aku yang awam.

"Terus dok, cara mengeluarkan cairan itu gimana?' Aku bertanya khawatir. Aku ingat ayahku rahimahulllah yang sudah meninggal di tahun 2009. Beberapa tahun sebelum meninggal dunia, ayahku sempat terkena pneumonia dan itu mengharuskan beliau untuk dioperasi guna mengeluarkan cairan di dalam paru-parunya.

"Kita coba menggunakan pemberian anti biotik dan obat ya bu."

"Eh, tidak perlu operasi dok? Dulu soalnya ayah saya pernah terkena pneumonia dan dia harus operasi buat mengeluarkan cairan di paru-parunya." Dokter tersenyum mendengar kekhawatiranku.

"Tidak perlu insya Allah bu. Jaman sekarang sudah ada pembaharuan dalam pengobatan. Cukup dengan pemberian anti biotik dan obat secara rutin dan disiplin, insya Allah cairan itu akan keluar sendiri dari dalam tubuhnya. Mungkin lewat feses atau dahaknya. Kita coba saja. Bagaimana? Karena kami hanya membantu, dan porsi terbesar yang melakukannya adalah ananda dan orang tuanya. Karena ini berkaitan dengan disiplin menggunakan obat. Obat yang diberikan tuh harus teratur jam pemberiannya. Jadi misalnya diberikan pukul 08.00 pagi. Nah, besoknya, dan besoknya dan seterusnya terus gunakan setiap pukup 08.00 pagi lagi. Ya toleransi beberapa menit tak mengapa tapi disiplin jangan sampai terlupa atau terlambat beberapa jam. Bagaimana? Bisa kita bekerja sama?"

Aku mengangguk. Aku ingin putriku sembuh. Kasihan melihat kondisinya seperti sekarang. Akhirnya, kami pun mulai menjalani proses pengobatan. Selama 5 hari di rawat di rumah sakit, anti biotik dimasukkan lewat cairan infus. Sementara obat telan juga diberikan.

Setelah 5 hari, akhirnya putriku diperbolehkan pulang kembali ke rumah. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Wajahnya tidak lagi terlihat pucat. Sudah terlihat ada cercah semu pink di pipi putihnya. Dan bola matanya pun mulai membinar, tidak lagi layu. Alhamdulillah, senang sekali rasanya. 

Meski sudah diperbolehkan pulang, tapi putriku ini belum dinyatakan sembuh oleh dokternya. Dia hanya diperbolehkan pulang ke rumah saja. Untuk selanjutnya, putriku harus menerapkan gaya hidup baru.



Apakah PNEUMONIA Itu?

Itulah cerita pengalamanku dengan Pneumonia. Mungkin, aku bisa menjelaskan sedikit tentang apa yang dimaksud dengan Pneumonia.


Pneumonia adalah rada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh Bakteri dan Virus. Bakteri dan virus inilah yang menyebabkan peradangan sehingga alveoli berisi cairan. Akibatnya, paru-paru tidak dapat berfungsi dengan baik. 


Cairan yang mengisi alveoli ini lalu terkirim ke dalam paru-paru dan mengisi rongga di dalam paru-paru, lalu mengendap di sana. 

Pneumonia tidak hanya menyerang orang dewasa saja tapi juga menyerang anak-anak. Anak yang mengidap pneumonia akan mengalami gejala demam, sesak nafas, batuk-batuk, badan lemah. Pada beberapa kondisi mereka juga muntah, sakit tenggorokan dan tidak nafsu makan. Kondisi ini bisa memburuk, karena nafsu makan anak berkurang membuat anak-anak jadi kekurangan nutrisi. Padahal nutrisi dibutuhkan untuk membangun imunitas tubuh mereka. Kurangnya nutrisi, membuat Pneumonia mengalami komplikasi dengan penyakit lain dalam tubuh anak. Karena inilah maka Pneumonia pada anak-anak bisa membawa mereka pada kematian. 

Mengerikan kan ancaman dari bahaya Pneumonia ini. Itu sebabnya kita semua harus waspada akan bahaya Pneumonia ini. 

Penyebab Pneumonia

Seperti sudah dijelaskan di atas, ada banyak mikroorganisme yang menyebabkan seseorang terkena Pneumonia. Di antara banyak mikroorganisme ini, bakteri dan virus adalah yang paling banyak terlihat. 

Aku ngobrol dengan dokter paru-paru yang menangani putriku. Aku bertanya penyebabnya apa sehingga mikroorganisme itu bisa masuk ke dalam tubuh anakku. Dokter memberi penjelasan. Menurutnya, ada banyak sekali faktor sehingga mikroorganisme bisa masuk ke dalam tubuh anak lewat saluran alveolinya. Seperti kondisi:

- Bayi yang tidak mendapat air susu ibu (ASI)

- Anak yang kurang gizi

- Anak-anak dengan HIV

- Anak ayng terkena infeksi campak

- Tidak mendapatkan imunisasi

- Bayi lahir prematur

- Juga beberapa faktor lingkungan yang bisa meningkatkan resiko seorang anak bisa terkena Pneumonia, seperti punya orang tua yang merokok atau tinggal di daerah padat penduduk. Atau sering berhubungan dengan lingkungan sosial yang kualitas kesehatan dan kebersihannya kurang dan orang-orangnya abai terhadap kesehatan.

Bisakan Pneumonia Disembuhkan?

Jawabannnya bisa. Alhamdulillah putriku sekarang sudah sehat. Dan disiplin pengobatan yang kami jalani, membuat paru-parunya sekarang terlihat bersih. Hmm, ini catatan saja. Jadi, pada beberapa kasus, sering dimintai keterangan surat keterangan sehat yang dibuktikan dengan foto rontgen paru-paru. Jika pengobatan tidak tuntas, maka bercak kabut sisa Pneumonia tetap akan terlihat di foto rontgen paru-paru kita, meski kondisi kita terlihat sehat. Beberapa institusi memutuskan untuk menolak calon  orang yang akan bergabung dengan institusi mereka jika paru-parunya tidak terlihat sehat atau bersih. Itu sebabnya, pengobatan Pneumonia harus dilakukan dengan tuntas. Di samping itu, pengobatan yang tidak tuntas malah membuat bakteri dan virus menjadi mengubah suai diri mereka di dalam tubuh kita dan membuat kondisi yang semakin susah untuk diobati ketika suatu hari gejala Pneumonia muncul kembali. 

Dokter bilang, bukan muncul lagi sih. Tapi, bakteri dan virus hanya berhasil dijinakkan untuk tidur sebentar saja jika pengobatan tidak tuntas. Ketika bertemu sebuah faktor pencetus, mereka akan bangun dan menyerang organ paru-paru kita lagi, dan celakanya, kali ini mereka sudah tahu jenis obat yang dulu pernah dipakai. Jadi si virus dan bakteri malah melakukan perlawanan dan obatnya jadi nggak mempan. Itu sebabnya, jika berobat harus tuntas, jadi bukan hanya menidurkan virus dan bakteri tapi juga membuat mereka mati. 

Bagaimana caranya agar bisa sembuh? Ya cuma satu syaratnya.  Syaratnya, harus segera dibawa ke dokter untuk diobati jika melihat gejala-gejala yang menunjukkan anak mungkin terkena Pneumonia. Jangan ditunda-tunda atau dianggap remeh.

gejala yang patut dicurigai sebagai gejala Pneumonia

Jadi, segera bawa ke dokter. Nanti biarlah dokter yang memutuskan apakah anak kita terkena Pneumonia atau tidak. Semoga sih tidak ya.



Bisakah Pnuemonia Dicegah?

Insya Allah bisa. 

Kita sudah tahu penyebabnya, maka insya Allah kita jadi tahu bagaimana cara mencegahnya. Dan untuk itu dibutuhkan kerjasama antara ayah dan ibu sebagai pemimpin dan wakil pemimpin dalam sebuah keluarga.



Ayah, dalam hal ini berperan sebagai :



Sedangkan ibu, berperan sebagai:


Terlihat sepele memang tapi pembagian peran dan kerjasama dalam memenuhi pelaksanaan peran ayah dan ibu dalam sebuah keluarga, justru bisa membawa keluarga tersebut menjadi keluarga yang sehat insya Allah.

Sedangkan anak, punya tugas peranannya tersendiri. Yaitu :


Loh? Kok sama seperti apa yang harus dilakukan oleh anak yang baru sembuh dari Pneumonia? Ya karena memang kurang lebih sama peranan anak yang sehat dan punya kewajiban untuk menjaga kesehatannya dengan anak yang sudah sembuh dan mencegah agar sakitnya tidak kambuh lagi.

Jika diurai lebih lanjut, mungkin bisa dijelaskan secara gamblang.

  • Mengapa harus terkena matahari? Karena tubuh kita tidak bisa menghasilkan vitamin D sendiri. Harus dibantu dengan pemberian vitamin D lewat makanan atau minuman, serta paparan sinar matahari pagi. Vitamin D ini akan memperkuat tulang, pertumbuhan sel baru yang rusak, mempercepat pertumbuhan sel baru yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Mengapa harus minum susu? Karena susu banyak mengandung kalsium yang berguna untuk penguatan tulang, gigi dan organ tubuh lainnya pada anak. Putriku diwajibkan untuk setidaknya minum susu putih beberapa gelas setiap bulannya jika memang tidak suka susu putih. Dipaksakan saja kata dokter, nanti juga terbiasa. Cari saja susu yang terasa cocok dengan selera lidahnya.
  • Mengapa harus rajin berolah raga? Karena dengan berolah raga maka seluruh organ dalam tubuh kita, plus tulang dan sendi bergerak dan ini bisa memacu kerja seluruh organ agar bekerja secara optimal. Dan anak-anak perlu berkeringat karena dengan berkeringat maka kotoran dalam tubuh mereka bisa keluar bersama keringat mereka.
  • Mengapa harus rajin minum air putih? Karena anak-anak sering lupa minum air putih. Padahal air putih itu dibutuhkan untuk membersihkan pembuluh darah, membantu kerja jantung dan ginjal serta agar tubuh tidak mengalami kondisi dehidrasi.
  • Mengapa harus makan makanan bergizi? Sudah tahu lah ya jawabanya yang ini. 
  • Mengapa harus memperhatikan kebersihan tubuh? Jawab sendiri ah, masa iya nggak tahu jawabannya.
  • Mengapa harus pakai masker? Nah. ini. Karena anak yang pernah terkena pneumonia sedikit lebih rentan ketimbang anak sehat lain. Jadi untuk mencegah agar tidak kambuh lagi, ada baiknya memakai masker jika harus datang ke tempat-tempat yang diduga banyak berkeliaran partikel berbahaya bagi kesehatan. Seperti datang ke kerumunan yang padat, datang ke wilayah yang padat penduduk dan banyak polusi udaranya, dan sebagainya. Putriku hingga sekarang jadi terbiasa mengenakan masker ketika pergi dan pulang sekolah karena polusi di jalan raya yang tidak dapat diprediksi.
  • Dan harus rajin cuci tangan pakai sabun selama 20 detik ya. Ini sih buat membunuh kuman yang tanpa sengaja menempel di telapak tangan kita. Sebelum tangan ini menyentuh wajah atau bahkan masuk ke dalam mulut. Biasanya anak-anak sering nih melakukan ini. 
Demikian tulisanku. Tentang Pneumonia, Pencegahan dan Pengobatannya. Semoga bermanfaat. 


34 komentar

  1. Jujur awalnya aku kurang mengerti Pneumonia sekarang jadi nambah ilmu mengenai hal ini. Thanks mbak.

    BalasHapus
  2. Bukan hanya orang dewasa aja yang bisa terkena pneumonia tapi anak kecil juga ya, mbak. Sedih banget kalau ada balita yang meinggal karena penyakit ini. Apa lagi karena kesalahan keluarga dekat yang tidak bisa ditegur karena merokok, huhuhu

    BalasHapus
  3. DUh, ngeriii banget ya pneumonia ini.
    apalagi banyak masyarakat yg awam banget seputar serba/i pneumonia.
    semogaaaa dgn artikel seperti yg mba Ade posting ini, bisa membuka wawasan banyak orang
    jadinya kita bisa melawan pneumonia!

    BalasHapus
  4. Semoga lekas sehat ya mba. Pneumonia dari jaman dahulu memang penyakit yang sangat ditakuti. Tp berkat kemajuan jaman insha Allah berbagai penyakit sudah dapat diatasi ya

    BalasHapus
  5. Dokter anak yang selalu menangani anak-anak saya juga selalu bilang kalau demam tunggu 3x36 jam baru ke dokter. Kecuali kalau panasnya sudah di atas 39 gak perlu menunggu sampai 3 hari. Khawatirnya nanti terjadi kejang.

    Pneunomia salah satu penyakit yang paling ditakuti juga. Apalagi kalau sampai anak-anak yang kena

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, di luar negri malah ada vaksin khusus untuk pneunomia untuk anak, karena disana termasuk di takuti juga, di Indonesia malah banyak bapak2 yang merokok di depan anaknya hahaaa *miris

      Hapus
  6. Terima kasih, lengkap sekali penjelasannya, beruntung kita hidup di zaman pengobatan modern. Semoga putrinya sehat sehat selalu ya mbak..

    BalasHapus
  7. Kalau anak-anak dibawah lima tahun yang mengalami pneumonia terkadang orangtua suka telat mengetahuinya juga sebab ga dirasa sama mereka. Kalau yg agak besar bisa menjelaskan apa yg dirasakannya. Untung pengobatan sekarang sudah semakin maju, jd ga perlu panik berlebihan.
    Semoga anak-anak di sekitar kita terhindar dari penyakit ini.

    BalasHapus
  8. Anak Mak Ade yang imunisasi lengkap aja bisa kena Pneumonia, apalagi yang...., Ah sudah lah. Sebagai orangtua, kita wajib ikut menjaga kesehatan mereka biar jauh-jauh dari penyakit

    BalasHapus
  9. Yaampun ampe baca dua kali karena bener bener pengalaman berharga. Harus jaga diri dan jaga kesehatan yah kak kitanya, yang penting kalau sampai sakit penanganannya tepat.

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah ananda sudah sembuh ya mbak Ade, terbayang pada masa pandemi begini, ke dokter aja susah yaa. jadi memang harus disiplin olahraga dan makan makanan bergizi. makasih ceritanya mbak, penting banget ini untuk setiap keluarga paham bahaya pneumonia pada anak dan keluarga

    BalasHapus
  11. Putrinya sekarang udah jauh lebih baik kan ya Mbak Ade? Semoga sehat selalu ya.
    banyak PR ya yang harus dikerjakan bagi anak yang pernah mengalami Pneumonia ini, tapi harus dijalani dengan ikhlas ya biar tetap terus sehat dan gak kambuh lagi sakitnya ya. :)
    makasih udah berbagi ya Mbak :)

    BalasHapus
  12. Beberapa waktu lalu kukecewa karena tidak bisa ikut webinar ini, tapi alhamdulillah mba Ade membagikan materi webinarnya. Jadi ikut tahu dan waspada tentang pneumonia dan beragam penyebabnya ini.. Terima kasih mba..

    BalasHapus
  13. Wah jadi nambah insight tentang penyakit pnemonia ini... jadi tau kalau ternyata tidak mendapat ASI itu bisa menyebabkan penyakit ini. Jadi semakin yakin dengan betapa pentingnya ASI itu nih...

    BalasHapus
  14. Wah, peran penting ibu mulai dari memberikan ASI sampai imunisasi bisa mencegah anak terkena pneumonia yaaah. Termasuk salah satu penyakit yang harus diwaspadai nih, semoga sehat2 terus kita semuanya yaaah.

    BalasHapus
  15. Duh ngeri ya ternyata Pneumonia ini. Saya baru tau bahwa penyakit ini bisa menyebabkan kematian pada anak. Untuk mencegah hal-hal yang tak terduga, bayi sebaiknya dikasih ASI supaya daya tahan tubuhnya kuat

    BalasHapus
  16. Bocilku pernah kena pneumonia dan agak bandel pula, lama sembuhnya. Sejak ini, suami berhenti merokok, Alhamdulillah. Makasih mbak Ade atas share pengalamannya.

    BalasHapus
  17. Pas kemarin dokter juga bilang emak tidurnya nggak boleh dengan posisi rata kaya manusia normal. Karena akan menutupi paruparu cairannya. Semua ciri yang disebutkan di atas, dialami emak mertuaku. Jadi nggak hanya menyerang orang dewasa atau memang sudah terbawa dari kecil ya

    BalasHapus
  18. serem banget ya mba, dan ini banyak terjadi di Indonesia. aku pernah bertemu dengan pasien pneumonia masih bayi, baru 2 bulan usianya, kasian banget melihat nafasnya kesulitan.

    BalasHapus
  19. Sepintas kita banyak membaca tentang pneumonia ya mbaaa tapi memang tidak begitu paham penyakit ini. Padahal jika tidak diawasi dan diobati sejak awal bahaya bangeet

    BalasHapus
  20. Pengobatan pneumonia memang harus tuntas biar si bakterinya minggat dari tubuh yaa mba plus mencegah lebih baik daripada menyembuhkan

    BalasHapus
  21. Anak teman saya ada yang meninggal karena pneumonia Mba. Masih bayi. Ikut sedih deh

    BalasHapus
  22. Sepintas gejala pneumonia ini mirip gejala covid19 ya, bagaimana ya kira2 membedakannya

    BalasHapus
  23. Yes ortu dan lingkungan memegang andil supaya anak2 bisa bebas dr pneumonia ya mbak Ade.
    Apalagi di masa sekarang nih, virus covid juga bisa menjadi penyebab pneumonia, makanya kudu dijaga bener2 prokesnya juga, di samping mengikuti tips/ anjuran yang udah mbak sampaikan di atas TFS

    BalasHapus
  24. Kisah ananda bisa menjadi pelajaran banget untuk Ibu-ibu di luar sana yaa, kak..
    Agar tetap tenang ketika anak sakit, apalagi saat ini ada layanan kesehatan online.
    Pneumonia ini sangat menakutkan...dokter bisa saja salah diagnosis dan jadinya salah pengobatan.

    BalasHapus
  25. Macam-macam ternyata ya faktor pencetus pneumonia. Semoga saja ananda terus sehat ya mba dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh sudah benar-benar mati.

    BalasHapus
  26. waa ternyata banyak juga faktornya yaaa, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan keselamatan yaa hihihi

    BalasHapus
  27. Ngomongin pneumonia selalu saja bikin sedih. Banyak anak-anak yang kena. Kesadaran masyarakat tentang penyakit ini masih sangat kurang. Bisa dilihat dari banyaknya perokok di sekitar anak-anak. Semoga ya, dengan semakin banyaknya sosialisasi, termasuk dari blog teman-teman, kesadaran tentang pneumonia semakin meningkat. Dan kasusnya semakin menurun.

    BalasHapus