Catatan Parenting bagi Remaja A la Ade Anita

[Catatan Akhir tahun] Ada satu kejadian yang harus aku tulis sebagai bagian dari catatan akhir tahunku. Yaitu tentang mengingatkan tanpa rasa bosan bahwa fitrah kita semua adalah berbuat baik.

Sejahat apapun orangnya, seliar apapun jalan yang dipilih, sekejam apapun masalah yang menimpa, pokoknya sekelam apapun sekeliling, kita semua tidak pernah bisa melepaskan diri dari keinginan untuk bisa berbuat baik. Karena, inilah fitrah dasar yang ada di dalam hati kita sebagai seorang manusia di muka bumi. Dan inilah catatan akhir tahunku berikutny, bahwa Fitrah Kita adalah Berbuat baik.

"jangan lakukan itu, itu jahat, tahu," Credit foto: pinterest


Cerita ini bermula karena tahun 2019 ini, putriku yang bungsu, sedang berada dalam masa pergolakan fase remaja yang sedang mencari jati diri.

Sepertinya, putriku masih bingung dengan dirinya sendiri. Bisa jadi, dalam dirinya yang sedang berada di fase remaja ini, muncul banyak sekali pertanyaan yang begitu banyak hingga dia bingung bagaimana menjawabnya.
  • Figur siapa yang sebaiknya dia jadikan contoh? 
  • Apa yang nyaman buat dirinya? 
  • Sebenarnya, "Aku ini seperti apa sih orangnya?"
  • Siapa orang lain yang nyaman untuk aku jadikan teman?
  • Sebenarnya, "Mauku apa sih?"
  • Mana yang lebih cocok untukku, "Jadi gadis yang ceria dan playfull atau gadis yang pendiam dan tenang?"
  • Lebih baik jadi anak yang penurut atau pemberontak?
  • Lebih baik membantu atau berdiam diri?
  • Lebih baik senyum atau jutek?
  • Lebih baik jadi pendengar yang baik atau pembicara yang baik?
  • dan mungkin masih banyak pertanyaan yang hadir di dalam dirinya. Tidak bisa diurai satu per satu.
Pada usia remaja seperti ini, pengaruh terbesar yang tanpa sadar ikut membentuk kepribadian dan karakter anak remaja berasal dari Peer Group atau kelompok bermainnya. Yaitu teman-teman sepermainannya sehari-hari.  Orang tua dalam hal ini mulai dianggap sebagai "orang dewasa yang tidak bisa dijadikan rujukan karena usia mereka sudah jauh lebih tua dari dirinya". Huff. Sound Sok tahu ya? tapi demikianlah remaja.

Catatan parenting a la ade anita: "Menjadi teman sehati itu bukan kejadian yang bisa terjadi dalam satu malam. Tapi harus diupayakan dalam kurun waktu yang banyak. Jika kalian ingin menjadi teman anak remaja kalian kelak, mulailah menjadi teman sehatinya sejak anak masih usia dini."
Rujukan lain yang sering tanpa sadar dijadikan "kiblat" untuk diikuti adalah figur yang menjad idola mereka.

Kemunculan idola ini terbentuk lagi-lagi karena pengaruh peer group alias teman sepermainan. Bentuk pengaruah idola ini bisa berupa cara berpakaian, cara tersenyum, cara dandan, koleksi barang, koleksi lagu, bahkan koleksi video dan list website atau grup media sosial yang merasa wajib untuk dikunjungi.

Catatan parenting a la ade anita: "Membuat anak menyayangi kita itu mudah. Tapi membuat rasa sayang itu terus bertahan dan akhirnya membentuk sikap positif pada anak dalam wujud rasa hormat dan tidak ingin menyakiti orang tuanya dalam berbagai bentuk; itu yang harus diupayakan terus menerus. Karena sayang saja tidak cukup. Harus ada rasa tanggung jawab dan  rasa saling memiliki dan melengkapi di dalamnya. Inilah yang membuat rasa sayang tetap bertahan walau apapun ujian yang akan dihadapi, insya Allah."

Selain peer group, dari dalam diri remaja sendiri ada satu yang juga sering membuat remaja kesulitan untuk mengelola dirinya. Yaitu kondisi hormonal yang tidak stabil, membuat mood remaja ikut tidak stabil. Bolak balik berubah-ubah.

Terkadang, remaja merasa dirinya sedih. Dia tidak mengerti mengapa sedih. Dan pengalaman hidupnya yang baru sedikit membuat kesimpulan sendiri yang seringnya kesimpulan ini salah. Seperti:
  • Menyimpulkan bahwa orang lain tidak ada yang memperhatikan dirinya. Remaja memang anak-anak yang bertubuh besar. Mereka masih punya jiwa anak-anak yang ingin agar semua orang memperhatikan dirinya dan tidak teralih perhatiannya pada hal lain atau orang lain.
  • Menyimpulkan bahwa orang lain tidak bisa mengerti dirinya. Remaja, dalam hal ini tahu bahwa dirinya bukan lagi anak-anak. Tapi, dia juga sadar bahwa dia belum siap menjadi orang dewasa. Hal ini membuat dirinya bingung, bagaimana harus bersikap. Dan maunya remaja, orang dewasalah, yang usianya lebih tua dari dirinya, yang punya pengalaman hidup lebih banyak dari dirinya, yang datang dan mengerti dirinya. Ketika harapannya ini tidak terpenuhi, remaja langsung menyimpulkan sendiri, bahwa orang lain tidak ada yang bisa mengerti dirinya.
  • Rasa frustasi dari 2 poin di atas, membuat seorang remaja jadi ingin marah. Dan ini juga sebagian karena pengaruh hormon yang belum stabil dalam dirinya juga sih. Dia ingin diperlakukan tidak seperti anak kecil, tapi juga menolak jika disamakan dengan orang dewasa yang menurutnya "tua". Bingung bagaimana harus bersikap. Akhirnya frustasi dan marah. Marah pada diri sendiri yang belum bisa menentukan kepastian maunya apa, juga marah pada lingkungan yang dianggapnya tidak mau mengerti dirinya. Semua kombinasi ini membentuk perilaku kadang murung seharian, kadang cair dan ceria. Kadang inginnya marah-marah saja, ketus sepanjang hari, menyendiri. Tapi kadang memutuskan untuk membaur dengan orang lain, dan berusaha ramah dan tebar senyum.
 Lalu, bagaimana jadinya menghadapi remaja? Ya, santai saja sih. Hadapi saja seperti hari-hari yang biasa. Tapi, cobalah untuk diperbanyak waktu untuk bisa duduk santai dan berbicara tentang apa saja secara santai dengannya. Biar bagaimanapun, remaja butuh teman berbicara yang membuatnya nyaman dan tahu apa yang harus dipilih dalam kondisi serba membingungkan yang dia hadapi saat ini.

Tahun ini, putri bungsuku yang duduk di bangku kelas 9, insya Allah tahun depan akan memasuki suasana baru, yaitu kelas 10. Sekolah baru, teman baru, lingkungan baru, tatanan sosial baru, pergaulan baru, wawasan baru.

Tahun 2019 ini, ada satu catatan yang penting aku catat di sini. Yaitu tentang rasa kagetku ketika dia suatu hari membeli sebuah tas baru dengan gambar yang membuat kami sekeluarga kaget dan mengelus dada.


Anak remajaku berkata bahwa dia membeli tas ini dari temannya.Temannya dibuatkan oleh kakaknya.

Kami pikir, anak remaja yang satu ini belum mengerti arti dari gambar yang ditunjukkan oleh si gadis ikat dua di gambar tasnya tersebut.

Perlahan, kami menjelaskan pada dia arti dari gambar orang yang menunjukkan jari tengah pada orang lain. Itu sebuah perilaku yang amat kasar. Setelah diberi tahu, akhirnya, gambar itu ditutup dengan plester oleh anakku.

Sisanya tinggal memberi pengerti padanya tentang arti tulisan yang melengkapi gambar. Baik tulisan di atas yang seperti menunjukkan kalimat langsung, atau tulisan di kaus yang dikenakan oleh gadis ikat dua itu. Keduanya sebenarnya sama, menunjukkan sikap "anti sosial".

Bisa jadi, bagi remaja kedua tulisan ini dianggap mewakili dirinya karena pada masa ini remaja memang tidak menyukai keramaian. Menghadapi satu dua orang yang dia sulit menyesuaikan diri dan orang lain pun tidak bisa memenuhi harapannya, apalah lagi menghadapi banyak orang. Kedua tulisan di tas ini jadi terasa "kok gue banget ya?". Remaja mana berpikir bahwa ini adalah tulisan yang berpotensi membawa sikap "anti sosial".

Dalam hal ini, yang aku dan suami lakukan adalah, terus menerus mengingatkan anakku bahwa dia aslinya adalah anak yang baik dan manis. Bisa jadi, saat ini sesuatu yang terlihat cool itu adalah sikap jutek, cuek, dan seakan tidak peduli. Tapi, semua itu hanya trend sesaat, dan tidak bisa melunturkan semua kebaikan yang sudah ada di dalam dirinya, dan merupakan fitrah dasar dia sebagai seorang manusia di muka bumi.

Catatan parenting a la ade anita: "Kalimat nasehat bisa jadi merupakan rangkaian kalimat yang terdengar membosankan karena kalimat yang isinya sama ini, tidak pernah berubah isi kontennya. Mungkin rangkaian fisik kata per katanya berubah, tapi isi yang akan disampaikan akan selalu sama. Mengapa harus diulang-ulang terus penyampainya seumur hidup kita? Karena manusia adalah tempatnya sering lupa dan khilaf. Mengulang nasehat bukan berarti kuno dan membuat kita sebagai orang tua terlihat out of date alias ketinggalan jaman. Justru, mengulang nasehat itu adalah menyegarkan ingatan dan menjaga agar kita semua tidak tersesat pikir dan tersesat sikap hingga  ke lain tempat, hingga kita lupa siapa diri kita sebenarnya."
Nak, kamu tuh aslinya ramah loh. Ingat nggak dulu jika kita sedang ..... bla bla bla...
Nak, kamu tuh aslinya sayang banget loh ama ayah. Ingat nggak dulu jika ayah sedang ... bla bla bla...
Nak, kamu tuh aslinya sayang banget loh ama ibu. Ingat nggak dulu jika ibu sedang... bla bla bla.
Nak, kamu tuh aslinya murah senyum loh. Ibu ingat banget jika sedang... bla bla bla.
Nak. kamu tuh aslinya suka bantuin orang. Ingat nggak dulu .... bla bla bla.

Demikian sharing memory sering sekali aku dan suami lakukan dalam menghadapi anak remaja kami.
Dalam hal ini, aku sedikit terbantu dengan kehadiran facebook. Aku sering sekali menulis status positif tentang anak-anakku atau keluargaku di facebook. Atau sharing foto kami di facebook juga dalam rangka sharing hal-hal positif. Rupanya, semua itu bisa jadi jejak rekam yang membantu anak-anak untuk menemnukan diri mereka sendiri yang asli, yaitu orang yang ramah, murah senyum, baik hati, gemar membantu sesama, dan sayang pada kedua orang tuanya.





"Dan ini adalah catatan parenting a la ade anita yang terakhir dariku di tahun 2019 ini: bahwa semua manusia itu fitrah dasarnya adalah baik dan gemar melakukan kebaikan. Siapapun orangnya, apapun pekerjaan dan status atau kedudukannya. Dan demikian juga dengan anak-anak kita. "

Jadi, meski anak-anak bergaul dengan banyak orang, bertemu dengan banyak hal (termasuk hal yang tidak berkenan), tugas kita sebagai orang tua adalah mengingatkan dia akan fitrah dasarnya tersebut. Tidak boleh lupa dan tidak boleh.

1 komentar

  1. Pengalamannya sangat berharga sekali ya kak untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini

    BalasHapus