Era Pembayaran QR A La Millenial

[Lifestyle] Bukan pemuda namanya jika tidak punya banyak ide segar untuk mengatasi aneka macam masalah yang mereka hadapi. Dan bukan pemuda namanya jika keberadaannya tidak menginspirasi orang banyak, bahkan keberadaan pemuda bisa menggerakkan satu negara untuk melakukan perubahan. Penemuan, kemerdekaan, pergerakan, kemajuan, perubahan arah pembangunan, dan masih banyak lagi peristiwa yang terjadi  dan semua bermula karena adanya pemuda dalam wilayah tersebut.

pemuda masa kini


Yap. Keberadaan PEMUDA, adalah variable yang tidak bisa dihilangkan dalam sebuah negara jika ingin terjadinya sebuah perubahan dalam masyarakat.

Pemuda, kemana langkahmu menujuApa yang membuat engkau raguTujuan sejati menunggumu sudahTetaplah pada pendirian semulaDimana artinya berjuangTanpa sesuatu pengorbananKemana arti rasa satu itu...

Ada yang tahu lagu HIVI berjudul "Pemuda" di atas? Dulu, aslinya ini adalah lagu Chaseiro. Dengerin deh, enak loh lagunya.

Pada tiap-tiap zaman, memang selalu ada pemuda yang tahu bahwa dia harus  melakukan sesuatu jika ingin hidupnya dan juga hidup orang-orang yang dia cintai, bisa lebih baik. Ciri khas pemuda itu satu: tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Semua pemuda tahu bahwa apa yang terasa baik saat ini, bisa ditingkatkan jadi lebih baik lagi. Karena pemikiran inilah maka dinamika dalam masyarakat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Contohnya nggak usah jauh-jauh deh. Ambil contoh kegiatan jual beli di pasar.
Semua orang, pastilah melakukan transaksi jual beli di pasar kan? Pasar dalam hal ini bukan cuma didefiniskan sebagai pasar becek saja. Tapi pasar tempat orang melakukan transaksi jual beli.

Jaman dulu banget, transaksi jual beli itu tidak dilakukan dengan uang. Tapi bermula dari saling barter barang yang dibutuhkan.


transaksi jual beli dengan cara barter barang

Kakekku, yang sudah meninggal dunia di usia nyaris 100 tahun beberapa tahun silam, bercerita padaku bahwa dia masih mengalami jual beli dengan cara barter. Kakekku tinggal di pedalaman Sungai Musi, Sumatra Selatan dulu. Jika ingin pakaian, maka kakek menukarnya dengan hasil kebun yang dia miliki di pasar. Pada masanya. pemuda seperti kakekku, tentu saa punya banyak keinginan. Tukar menukar barang ini dia rasakan kian lama tidak memuaskan karena harus mencari kecocokan keinginan dengan orang yang mau diajak tukaran. Padahal, barang yang dikehendaki tidak selalu merupakan barang yang dimiliki karena kebutuhan. Tapi ada juga yang tidak butuh tapi ingin saja memilikinya. Seperti, kotak sirih dari tembaga misalnya. Kakek tahu nenek punya kotak sirih dari kayu, tapi dia pingin membelikan nenek kotak sirih dari tembaga.  Nah. Hal-hal seperti ini yang dirasakan ada kendalanya dalam kegiatan transaksi dengan cara barter.

Akhirnya, pada masanya. kakekku yang merupakan seorang pemuda ingin ada perubahan. Dan keinginan ini direspon oleh pemerintah yang berkuasa saat itu, hingga mulai muncullah transaksi dengan cara jual beli dengan nilai uang.

transaksi jual beli mulai menggunakan uang
Pada masanya, Kakekku yang merupakan pemuda, adalah pemuda yang ulet dan gemar berdagang. Sepertinya, memang sudah bakatnya kakek untuk jadi pedagang. Dengan keahliannya berdagang, kakek cukup berhasil hingga akhirnya bisa menjadi pedagang besar. Pedagang besar, artinya uang yang berhasil dia kumpulkan lumayan banyak. Kendalanya adalah, dimana cara aman untuk menyimpan uang tersebut?


dimana sebaiknya uang disimpan agar aman? 
Kakek, menurunkan ilmu berdagangnya pada anak-anaknya. Mereka adalah pemuda pada masanya. Termasuk ayahku, juga pernah menjadi pemuda pada masanya dulu.

Ayahku bercerita bahwa pada masanya, banyak orang yang menyimpan uang dengan cara yang ekstrim dan sembrono. Kalian tahu pohon bambu tidak? Batang bambu kan beruas-ruas ya. Nah, ayahku bercerita bahwa dia pernah menyimpan uang di dalam batang bambu yang diberi sayatan menyerupai celah untuk bisa memasukkan uang ke dalamnya. Setiap selesai melakukan transaksi, ayah segera pergi mencari pohon bambu yang sudah dibolongi seperti celengan, lalu menyimpan uangnya di dalam ruas batang bambu.

"Nanti, jika diketuk dengan parang (= golok di Sumatra Selatan namanya parang) bunyinya kebebek, tidak bergema, berarti sudah penuh. Kita tinggal potong pohonnya. Buang ruas atas dan ruas bawahnya, ambil ruas tempat celengan kita saja. Lumayan itu."

Di samping itu, ayahku bercerita bahwa orang lain, ada yang menyimpan uangnya di dalam bantal. Jadi, disatukan dengan kapuk dan dijadikan alas tidur berupa bantal. Atau ada juga yang menyimpannya dalam peti, lalu peti itu dikuburkan di kebun belakang.

Pada masa itu, banyak pemuda yang merasa tidak puas dengan cara-cara menyimpan uang seperti ini. Tidak aman, sembrono dan rawan hancur uangnya. Jika uang sudah hancur, otomatis tidak bisa dipakai lagi untuk melakukan transaksi jual beli.
Pemerintah yang berkuasa di masa ayahku menjadi pemuda, akhirnya melakukan perubahan dengan memperkenalkan pada masyarakat untuk menabung di Bank.

Dan kebiasaan menabung di bank ini berlanjut hingga ke zaman aku ketika menjadi pemuda eh pemudi maksudnya. Hehehe. Ayah membiasakan anak-anaknya agar rajin menabung dan untuk alasan keamanan menabungnya harus di bank.

menabung di bank
Masalahnya, menabung di bank itu tidak selamanya aman juga sih.
Eh. Maksudku, uang yang disimpan di bank itu memang aman. Tapi, tidak aman ketika kita akan mengambilnya dan membawanya ke rumah.

Pada masa aku menjadi seorang pemuda (baca= pemudi), harga barang sudah semakin bertambah nilai nominalnya. Jadi, tidak bisa lagi hanya membawa beberapa uang receh lalu bisa membeli banyak hal seperti jaman aku masih kecil dulu. Ketika jaman aku menjadi seorang pemuda, sering aku harus datang ke bank dan mengambil sejumlah uang dengan jumlah yang lumayan banyak. Deg degannya jangan ditanya. Kadang, harus pintar bersandiwara juga sih. Jadi pernah nih ayah memerintahkanku untuk mengambil dari bank uang hasil membeli rumah. Sejak SMA, ayah memang mempercayakan urusan keuangan padaku karena dianggap paling cakap menyimpan dan menulis pembukuan keuangan. Sejak dari rumah aku sengaja mengisi tas ransel dengan balon yang sudah ditiup. Sehingga orang yang aku lewati dalam perjalanan ke bank, tahu bahwa aku membawa tas ransel yang sudah gembung dari rumah.

Anak kuliah, bawa tas ransel gembung, ya sudah pastilah orang berpersepsi isinya baju kotor dari kost-kostan. Apa lagi?

Setibanya di bank, ayah sudah menungguku. Maka, balon dikempeskan, lalu uang dimasukkan ke dalam tas ransel. Lalu, aku berpisah dengan ayah di depan bank. Ayah kembali ke kantor naik mobil; aku pulang ke rumah naik angkot. Alhamdulillah aman. Cuma ya itu, jangan pernah ditanya gimana debar jantungku selama ada di dalam angkot itu. Berisik banget. Dan inilah sisi buruknya menabung di bank dalam jumlah banyak. Karena transaksi di teler itu, aman hanya sebatas pintu keluar masuk bank saja. Lewat dari pintu keluar bank?

Keresahan pemuda, yang menempati porsi terbanyak sebagai kelompok usia produktif dalam masyarakat kita, akan keamanan transaksi jual beli lewat ambil uang di teller bank ini, sepertinya menggerakkan dunia untuk melakukan perubahan dalam bertransaksi. Hingga akhirnya keluarlah era mesin ATM atau anjungan tunai mandiri atau Automatic Teller Machine. Dalam hal ini, pemerintah berusaha membantu masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan agar lebih cepat dan efisien. 


transaksi perbankan lewat ATM
Jadi bisa dibilang, kartu tipis dan mesin ATM ini membantu banget untuk kemudahan bertransaksi agar lebih cepat, aman dan efisien. Kita bisa mengirim uang ke seseorang yang jauh dalam hitungan menit saja. Tidak perlu berhari-hari lagi seperti halnya transaksi sebelum mesin ATM muncul. Dan tidak perlu nenteng-nenteng uang dalam jumlah banyak yang tidak aman.

Dan itulah kecanggihan yang terjadi di jaman aku masih menjadi pemuda di masa lalu. Kekurangan pembayaran lewat mesin ATM itu satu sih, tiap-tiap bank punya mesin ATM sendiri-sendiri. Sehingga jika akan mengirim yang berbeda bank, dikenakan biaya administrasi. Dalam perkembangannya, karena Pemuda di jamanku tidak mau ribet dengan urusan pemotongan biaya administrasi, tidak heran jika banyak orang yang akhirnya memiliki lebih dari satu kartu ATM di dompetnya. Ada kartu ATM dari Bank XXXXX, ada kartu ATM dari Bank YYYYY, dan seterusnya. Belum lagi kartu diskon dari toko tertentu. Jadilah dompet tempat kartu tuh gemuk-gemuk banget. Bisa jadi, karena alasan efisiensi, keamanan dan kecepatan, maka Pemerintah pun mulai menerapkan aturan 1 ATM bisa digunakan secara bersama-sama, lintas bank. Kebijakan ini amat sangat membantu pembayaran di masa itu.

Sekarang, aku sudah bukan pemuda lagi (pemuda dalam pengertian kelompok usia produktif dalam masyarakat kita). Anakku yang sudah menjadi seorang pemuda sekarang.

Putra sulungku, lahir tahun 1994. Sehinga di masa putra sulungku menjadi pemuda saat ini, maka pemuda-pemuda sepantaran anakku disebut dengan julukan kelompok Generasi Millenial. Di era generasi Millenial ini, alat pembayaran mengalami perkembangan lagi. Seiring dengan perkembangan di bidang internet dan komputerisasi.

infografis tentang generasi millenial. Credit foto: https://akurat.co

Era Pembayaran QR A la Millenial


Kalian mau tahu tidak bagaimana gaya anakku dalam bertransaksi di era Millenial ini? Sampai sekarang, aku yang menjadi orang tuanya sering tersenyum-senyum sendiri jika menyaksikan gaya anakku bertransaksi jual beli sehari-hari. Khususnya ketika dia harus melakukan pembayaran.

Contohnya ya.

  •  Ketika naik angkot, anakku minta tolong dibayari. Awalnya, aku sempat berkomentar. "Bayar sendirilah, angkotkan murah." Tapi lalu dia menunjukkan kondisi dompetnya yang tipis banget dan terlihat begitu mengenaskan. Hanya ada beberapa lembar kertas dan itu bukan uang. Tapi kuitansi dan struk pembayaran yang sudah dibayar. "Aku nggak bawa. Aku pikir kita mau pesan taksi online saja. Kalau taksi online, aku bisa bayar pakai gopay atau ovo." (😅)
  • "Bu... ada uang 35.000 nggak?" kata putraku tiba-tiba. Aku balas bertanya buat apa? "Buat bayar makanan. Aku berhentiin tukang yang lewat, jadi harus bayar cash. Nggak bisa autodebet atau transfer mobile banking." (😁 beli nasi goreng duk duk kok pingin transfer mobile banking?)
  • Taksi yang kami kendarai berhenti. Suami merogoh dompet dan bertanya padaku, "De, ada uang pecahan nggak? Uangku belum pecah nih." Putraku langsung menjawab, "Nggak usah, Yah. Sudah aku bayar di muka pakai kartu kredit tadi taksinya." (asyik, alhamdulillah 😊)
  • Ketika beberapa bulan lalu Jabodetabek dan sebagian daerah di Pulau Jawa mengalami pemadaman listrik, maka putraku dan istrinya, juga putriku yang kuliah, termasuk yang mengalami kebingungan loh. Karena, mereka adalah orang-orang yang cashless (= hanya membawa uang cash sesedikit mungkin di dompet). Nah, dalam kejadian pemadaman listrik tersebut, otomatis transaksi keuangan yang menggunakan listrik dan internet ikut terganggu. Banyak gerai yang hanya menerima pembayaran cash saja. Disitulah anak-anakku mengalami kesulitan. Mereka baru merasakan bahwa percuma punya uang banyak di dompet digital karena tidak bisa digunakan jika tidak ada listrik dan internet. (😏)
  • "Hei, kalian tuh ya. Traveling terus. Memangnya nggak pada nabung ya?" tanyaku suatu hari. Dijawab oleh mereka, "Nabung dong. Kami investasi di beberapa tempat, sisanya ya menikmati hidup dengan cara traveling. Work hard play hard lah bu." Santuy sekali menjawabnya. (😌)
Jadi, ya begitulah. 
Dibilang ada duit, tapi duitnya tidak ada fisiknya alias cashless.
Jadi, jika kaya dan miskin dinilai dari isi dompet fisik, maka putraku masuk miskin. Tapi jika kaya dan miskin dinilai dari isi dompet digital, dia tidak boleh disebut miskin.
Nah, dibilang tidak ada duit, ya nggak juga. Duitnya ada, tapi ya itu tadi, sebagian besar tersimpan di dompet digitalnya.

Buatku, yang merupakan generasi X, aku mengalami sedikit ketergopohan dalam beberapa hal akibat dari perkembangan internet dan teknologi komputer yang serba cepat ini. Sudah nyaman dengan alat bayar yang stabil seperti cash dan kartu tipis ATM, lalu tiba-tiba disodori dengan dompet digital. Mana banyak banget lagi dompet digital yang ditawarkan saat ini. Bank Anu mengeluarkan aplikasi dompet digital XXXXX, Bank Itu mengeluarkan aplikasi dompet digital YYYYY, Bank Ini mengeluarkan aplikasi dompet digital WWWWW, dan masih ditambah dengan aneka macam Merchant (= toko online) yang mengeluarkan aplikasi dompet digital tersendiri juga. Aku pusing bagaimana menyimpan uangnya sih, jujur. Berapa harus menaruh uang di aplikasi dompet digital A, B, C, D, dan seterusnya. Hehehe.

ini aplikasi dompet digital yang ada handphoneku dulu sebelum disortir

Herannya nih, kalau aku bingung, anak-anakku yang merupakan generasi millenial malah tenang-tenang saja dengan berbagai macam aplikasi dompet digital yang banyak ini.

"Memangnya kamu nggak ribet dengan password dan PIN? Ibu kendalanya itu sih." kataku suatu hari pada anak-anakku. Mereka hanya tertawa. Mereka bilang, mereka punya aplikasi diary rahasia yang disimpan di cloud dimana di dalam aplikasi itu tertulis semua password dan pin. Padahal ya, kalau buatku, buka akun baru di aplikasi baru berarti harus bikin password baru dan itu tuh... ugh. Nggak sanggup. Urusan password dan PIN itu sesuatu banget deh buatku, tapi bukan kendala buat generasi millenial saat ini.

Karena banyaknya dompet digital yang ditawarkan dari mana-mana, akhirnya, isi dompet digital yang aku miliki tidak pernah bisa banyak sih. Sedikit di A, sedikit di B, sedikit di C, dan seterusnya. Akhirnya, aku diajarkan oleh anak-anakku untuk mulai menseleksi dompet digital yang sebaiknya dipertahankan dan dompet digital yang sebaiknya tidak usah diisi lalu aplikasinya diremove dari handphone.



Seleksi pun dimulai. Dimulai dengan pertanyaan untuk menyaring mana dompet digital yang paling jarang dipakai (ini pertanyaan yang diajukan anakku ketika mengajakku untuk mensortir) :
- Ibu lebih suka belanja di merchant yang mana? (Merchant adalah seseorang atau sekelompok orang atau group yang menjual jasa atau barang).
- Ibu lebih suka barang import atau produk dalam negeri?
- Ibu lebih suka barang original atau replika?
- Ibu lebih suka produk dari Asia atau produk dari non Asia (Amerika misalnya) ?

Semua pertanyaan di atas ternyata memudahkan aku untuk mengikuti kemauan zaman menyesuaikan diri dengan keberadaan FINTEK (= Finansial Teknologi).

Akhirnya, aku mudah menghapus beberapa dompet digital dari handphoneku. Jadi, kerja handphone juga nggak berat. Dan keuntungan meminimalisir jumlah dompet digital ini adalah, kita jadi bisa fokus mengisi dompet digitalnya. Hehehe, buat apa banyak-banyak jika tidak ada isinya kan?

Bisa jadi, karena persaingan antar dompet digital semakin marak, semakin beragam, dan semakin terlihat tidak sehat; karena saling memberikan diskon yang saking besarnya diskon malah jadi kasihan tangan pertama bagian produksi barangnya akhirnya.

Aku pernah berbicara dengan beberapa pedagang dan penyedia jasa online. Mereka bercerita bahwa ada pembagian hasil yang disepakati antara mereka dan lembaga penghimpun mereka (merchant utama). Seperti misalnya 40% netto pendapatan untuk merchant utama, dan 60% bruto dari pendapatan untuk mereka. Bruto disini jadi seluruh pendapatan termasuk pengeluaran untuk bensin, makan siang, parkir, dan sebagainya. Nah, jika sedang ada event diskon besar-besaran, para penjual ini sedikit kepayahan ternyata memenuhi harga yang ditetapkan. Tapi, daripada terpental keluar dari merchant utama ya sudah, mereka terpaksa ikuti.

Karena alasan-alasan di atas, akhirnya Bank Indonesia sebagai Bank Sentral di Indonesia yang mengatur laju lalu lintas keuangan di Indonesia, mengeluarkan  kebijakan keuangan berupa QRIS.


credit foto: twitter @bank_Indonesia

Apa Itu QRIS?

QRIS singkatan dari  Quick Response (Code) Indonesia Standard. Atau merupakan QR Code Pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk digunakan dalam memfasilitasi pembayaran di Indonesia. 

QR CODE itu sendiri adalah barcode dua dimensi yang dapat menyimpan data. QR Code awalnya dikembangkan oleh Denso Corporation, Jepang. Penggunaan QR Code sudah dimulai di tahun 1994 untuk berbagai macam keperluan seperti membaca label makanan terbuat dari apa saja, atau membaca kartu jaminan sosial, dan sebagainya. Sekarang, dalam perkembangannya, QR Code diadopsi oleh FINTEK.

Jaman Millenial sekarang ini telah membawa Indonesia ke jaman revolusi industri 4.0. Sekarang, semua-muanya sudah dilakukan lewat jejaring internet. Termasuk untuk transaksi keuangan. Inila era digitalisasi. Coba deh, pemuda Millenial jaman sekarang, jika disuruh pilih bawa 1 saja barang berharga, mereka pasti tanpa ragu akan membawa handphone mereka. Tidak perlu yang lain. Generasi sebelumnya mungkin masih galau mau bawa dompet atau handphone. Tapi generasi millenial tidak pernah ragu; handphone adalah benda paling penting bagi mereka. Karena, di dalamnya ada dompet digital, ada ruang percakapan, ada identitas, buku, kitab suci, game, dan sebagainya. Lengkap.



Bahkan, putraku dan istrinya (sama-sama kelahiran 1994), adalah pelaku backpacker aktif plus suka belanja online. Modalnya ya itu tadi, handphone dengan dompet digital di dalamnya. Dompet mereka pernah ketinggalan di rumah, dan tidak ada niatan untuk balik ke rumah untuk mengambilnya. Cuma kirim pesan di whatsapp : "Tolong simpanin dompet aku ya. Ketinggalan. 😀" tidak lupa ngirim icon nyengir.

Aku mengajukan pertanyaan iseng pada anak-anakku yang merupakan generasi millenial tentang era pembayaran QRIS. 

ici chatku dengan anakku yang merupakan pemuda millenial

Dalam press releasenya di website Bank Indonesia dikatakan bahwa:

Bank Indonesia meluncurkan standar Quick Response (QR) Code untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS), bertepatan dengan HUT ke–74 Kemerdekaan RI, pada hari ini (17/8) di Jakarta. Implementasi QRIS secara nasional efektif berlaku mulai 1 Januari 2020, guna memberikan masa transisi persiapan bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). Peluncuran QRIS merupakan salah satu implementasi Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025, yang telah dicanangkan pada Mei 2019 lalu. Dalam peluncuran tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa QRIS yang mengusung semangat UNGGUL (UNiversal, GampanGUntung dan Langsung), bertujuan untuk mendorong efisiensi transaksi, mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, untuk Indonesia Maju. Semangat ini sejalan dengan tema HUT ke–74 Kemerdekaan RI yaitu SDM Unggul Indonesia Maju.QRIS UNGGUL mengandung makna, yaitu Pertama, UNiversal, penggunaan QRIS bersifat inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat dan dapat digunakan untuk transaksi pembayaran di domestik dan luar negeri. Kedua, GampanG, masyarakat dapat bertransaksi dengan mudah dan aman dalam satu genggaman ponsel. Ketiga, Untung, transaksi dengan QRIS menguntungkan pembeli dan penjual karena transaksi berlangsung efisien melalui satu kode QR yang dapat digunakan untuk semua aplikasi pembayaran pada ponsel. Keempat, Langsung, transaksi dengan QRIS langsung terjadi, karena prosesnya cepat dan seketika sehingga mendukung kelancaran sistem pembayaran.
QRIS (credit foto: twitter @bank_indonesia)

Kenapa QRIS itu penting?

QRIS disusun oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dengan menggunakan standar internasional EMV Co.1 ( lembaga yang menyusun standar internasional). QR Code untuk sistem pembayaran untuk mendukung interkoneksi instrumen sistem pembayaran yang lebih luas dan mengakomodasi kebutuhan spesifik negara sehingga memudahkan interoperabilitas antar penyelenggara, antar instrumen, termasuk antar negara.

jajaran pejabat Bank Indonesia dalam peluncuran QRIS


Untuk tahap awal, QRIS fokus pada penerapan QR Code Payment model Merchant Presented Mode (MPM) dimana penjual (merchant) yang akan menampilkan QR Code pembayaran untuk dipindai oleh pembeli (customer) ketika melakukan transaksi pembayaran. Sebelum siap diluncurkan, spesifikasi teknis standar QR Code dan interkoneksinya telah melewati uji coba (piloting) pada tahap pertama pada bulan September hingga November 2018 dan tahap kedua pada bulan April hingga Mei 2019.

Nantinya, mulai 1 Januari 2020 maka penggunaan QRIS ini harus sudah dijalankan oleh seluruh transaksi keuangan yang menggunakan sistem pembayaran berbasis QR di Indonesia.

Mungkin, prosesnya seperti ditunjukkan oleh infografis di bawah ini: (aku kutip dari internet)

tuh, gampang banget kan sistem pembayaran dengan menggunakan QRIS ini
Harapannya sih, dengan penyeragaman 1 standard yaitu QRIS ini, maka persaingan dunia usaha bisa lebih sehat, juga bisa menyatukan semua komponen anak bangsa. Siapa lagi jika bukan para pemuda yang menempati komposisi terbesar dalam kelompok usia produktif di Indonesia. Jadi, tidak ada lagi persaingan yang tidak sehat. Lagipula, jika semua anak bangsa bersatu, otomatis Indonesia bisa lebih cepat maju insya Allah. 
Pemuda bersatu, Indonesia bersatu. Pemuda maju, Indonesia maju.

Seperti lirik lagu Pemuda yang aku kutip di atas. Isi lirik lagu itu lengkapnya adalah sebagai berikut:

Pemuda, kemana langkahmu menuju
Apa yang membuat engkau ragu
Tujuan sejati menunggumu sudah
Tetaplah pada pendirian semula
Dimana artinya berjuang
Tanpa sesuatu pengorbanan
Kemana arti rasa satu itu
Bersatulah semua seperti dahulu
Lihatlah kemuka
Keinginan luhur kan terjangkau semua
Bersatulah semua seperti dahulu
Lihatlah kemuka
Keinginan luhur kan terjangkau semua
Pemuda, mengapa wajahmu tersirat
Dengan pena yang bertinta belang
Cerminan tindakan akan perpecahan
Bersihkanlah
(Pemuda, lagunya Chaseiro, dinyanyikan ulang oleh HIVI)

#QRStandarPembayaranDigitalAlaMillenial

20 komentar

  1. Sekarang memang banyak pembayaran pakai QR, lebih praktis sih. Apalagi banyak promo2 diskon jika melakukan pembayaran pakai QR dari berbagai dompet digital. Yup, semoga dengan penyeragaman 1 standard yaitu QRIS ini, persaingan dunia usaha bisa lebih sehat ya mbak.

    BalasHapus
  2. QRIS memang memudahkan buangeett ya Mak.
    Ga perlu repot bayar pakai uang tunai, pokoke hidup terasa makin gampiiil dan mudah banget.
    Bravo, Bank Indonesia!

    BalasHapus
  3. Suamiku juga udah pake QRIS, beli apa2 nanya dulu bisa pakai gopay/ovo ga, hhaa.
    Tp deg2an sih klo ternyata harus bayar tunai 😂

    BalasHapus
  4. Saya juga gak mau punya banyak dompet digital. Khawatir lupa udah isi di mana aja 🤭

    BalasHapus
  5. Hihiii aku termasuk yg gagap dengan cara pembayaran masakini. Jadi sekarang malah kebalik, aku sering tanya ke anak2. Bahkan untuk top up dompet digital mereka pun aku minta dikasih tau caranya wkwkwkw. Ya mereka harus sabar nerangin, kalau enggak sabar, ya nggak dapat top up dariku.

    BalasHapus
  6. Satu QR untuk semua transaksi ya mbak. Bikin maju unutk masalah pembayaran digital Apalagi QRIS program pemerintah yang mesti di dukung banget. Aku fokus ke Alexpress mbk pembayarannya menggunakan alipay apa gimana yah heheh

    BalasHapus
  7. QR code bikin uang di dalam handphone untuk transaksi belanja jadi lebih mudah.

    Story telling bagus mba Kaya baca novel tentang QR code

    BalasHapus
  8. Generasi muda jaman dulu dan sekarang beda ya mbak. Bersyukur kita berada di jaman milenial seperti saat ini. Jaman peralihan yang membuat kita ikut belajar tentang perubahan. Emang berkat dompet digital belanja pun jadi praktis. Tak perlu bawa uang segebok untuk belanja. Cukup bawa henpon yang sudah diunduh aplikasi dompet digital maka belanja apapun bisa terpenuhi tanpa ribet.

    BalasHapus
  9. Aku juga lebih seneng bayar cashless soale emang jarang banget bawa banyak duit cash dan QR code ini lebih enak sih , simple tinggal keluarin HP kita aja hehe.

    BalasHapus
  10. Mbak, saya suka dengan gambar-gambar kartun yang Mbak buat untuk ilustrasinya. Ini menggunakan aplikasi atau bagaimana? Ajarin dong.

    BalasHapus
  11. Milenial memang identik dengan kekinian ya.. dulu transaksi pembayaran masih menggunakan uang tunai,tapi saat ini untuk pembayaran tidak membutuhkan uang tunai, tingga scan QR kode transaksi berhasil dilakukan.. cash less banget

    BalasHapus
  12. Aku juga suka pakai mba soalnya enak dan praktis plus banyak hadiah or diskon hehehe.

    BalasHapus
  13. Hihihi...beda banget ya kebiasaan menyimpan uang pemuda zaman dulu dengan generasi milenial. Milenial cenderung ingin yang serba praktis. Dengan metode QR cocok sekali dengan gaya hidup mereka.

    BalasHapus
  14. Itu dia mba, kadang QR code itu masing2 merchant beda loh. Enak banget kalau penerapan QRIS ini segera diberlakukan. Jadi pembeli kan enggak pusing. Mau bayarnya pake dompet online apapun QR code nya ya cuma 1.

    BalasHapus
  15. Ga sabar dengan diberlakukannya QRIS ini di seluruh Indonesia. Pasti lebih praktis ya mbak Ade

    BalasHapus
  16. generasi jaman now mah gampang banget. Semua serba digital, enmgak repot lagi hehe. Semoga ke depanya bisa mendukung perekonomian nasional ya mba.. Akupun juga gitu, lebih suka transaksi cashless.

    BalasHapus
  17. Keren sekali ya pembayaran di era milenial ini. Daru zamannya masih barter eh sekarang sudah ada transaksi tanpa uang tunai dengan QR code. Pastinya lebih praktis nih karena kemana-mana cukup bawa hp saja. Lupa dompet pun gak bikin kelabakan asal ada saldo di dompet digital, hehe

    BalasHapus
  18. Aku amazing loo...sama metode QR ini.
    Kesannya simple, tapi dibalik si QR ini menyimpan banyak informasi dan data.
    Jadi membantu banget untuk era serba digital begini.

    Kak Ade,
    Bagus banget ilustrasinya. Kalau gambar di mana, kak?

    BalasHapus
  19. Aku baru tau kalau yg pertama kali mengusung metode pembayaran QR jg adalah Jepang yah. Mmg menurut ku saat ini pembayaran QR lbh memudahkan transaksi, btw aq salfok ih sama ilustrasinya, keren mba

    BalasHapus
  20. Tulisan"nya sangat menginspirasi sekali.

    BalasHapus