Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

[Wordless Wednesday], [ParentingJakarta, maju kotanya, bahagia warganya. Siang terik hari ahad lalu, aku, suami dan anak bungsu kami jalan menyusuri trotoar di pinggir jalan Sudirman, Jakarta, mulai dari Sarinah hingga ke Bunderan H.I. Sebelum memutuskan jalan, kami berpapasan dengan seorang wanita, yang mengenakan gaun model baby doll dengan bahan yang mudah terbang. Angin bertiup sepoi2 dan gaunnya terangkat ke atas seperti Gaun Marlyn Monroe ketika berdiri di bawah ventilasi buangan AC lalu keluar udara dari ventilasi itu. Bedanya, Marlyn Monroe tubuhnya seksi, sedangkan wanita itu agak gemuk dan pahanya besar, banyak selulitnya. Bedanya lagi, Marlyn Monroe dengan gaya panik yang menggemaskan berusaha menahan agar roknya tidak terbang, si wanita yg kami liat itu, tidak melakukan apa2. Asyik dengan ice cream di tangannya. Cuek saja roknya tertiup angin. Suamiku segera berpaling, enggan melihatnya. Tapi keluh keluar dari mulutnya. "Duh, kenapa sih nggak bercermin dulu jika ingin pilih pakaian?"


.
Putriku memberi komentar. "Ya sudahlah, yah. Terserah dia. Kalau ayah nggak suka, ayah jangan lihat. Kan gampang?"
.
Komentar ini akhirnya berakhir jadi diskusi panjang sepanjang jalan trotoar yang kami lewati menuju Grand Indonesia.
.
"Manusia itu nak, punya norma. Ada yg namanya norma agama. Tapi ini spesifik untuk pemeluk agama. Jika memang seseorang menolak utk menjalankan norma agama, maka ada lagi norma popular. Norma popular ini ada estetikanya. Sesuatu yg tidak pantas dan pantas ini yang bikin nggak bisa seseorang mengatakan "terserah aku, kalo kamu nggak suka nggak usah liat." Karena dia hidup di tengah masyarakat. Pasti ketemu orang. Jadi dia punya hak tapi orang lain juga punya hak. Hak utk bahagia, hak utk tidak mau dirusak mood nya. Tidak Melihat sesuatu yang ngeselin tuh termasuk hak kita. Karena kalau kita kesal kita jadi nggak bisa berkarya atau kehilangan ide segar sepanjang hari. Jadi hak kita untuk melihat keindahan, kepantasan. Konsekuensinya, kita nggak bisa semena mena mengenakan sesuatu. Termasuk aturan berpakaian.
.
Putriku awalnya menghindari diskusi dengan menjauh dari ayahnya. Tapi ayahnya tetap mengajaknya bicara. Putriku berkata mengerti, sekedar agar ayahnya berhenti memberi nasehat. Sambil pura2 meninju ayahnya. Tapi ayahnya tetap membawakan tema tentang norma popular dan adab berpakaian ini. Remaja memang begitu. Kadang merasa sudah mengerti, padahal belum. Jika kita menyerah, nanti dia akan meneruskan gaya sok pahamnya, tanpa pernah tahu dimana letak salah pemahamannya. Jadi orang tua jaman sekarang memang susah susah gampang. Tapi, tidak boleh menyerah. Seperti putriku ini. Meski sempat merajuk, akhirnya datang mendekati ayahnya lagi. Gelendot manja di lengan ayahnya lagi. Lalu mendengar nasehat ayahnya lagi. Sambil memberi tanggapan positif atas diskusi mereka yang sempat memanas karena awalnya putriku menolak dinasehati karena merasa sudah tahu.
.
Remaja memang suka begitu. Mungkin, fisik mereka nyaris menyerupai orang dewasa, tapi di dalam diri mereka, masih butuh bimbingan orang tuanya. Agar mereka tidak sendirian memetik pelajaran tentang norma kehidupan. Bahagia itu memang sederhana. Tapi, tetap harus diusahakan. Salah satunya lewat penerapan norma dalam masyarakat.

Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

Diskusi di Atas Trotoar Jakarta
Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

Diskusi di Atas Trotoar Jakarta

1 komentar

  1. punya anak remaja kayaknya lebih menantang dibanding saat anak masih balita yaa mbak? atau yang lebih tepat, setiap usia anak memberi tantangan berbeda untuk orangntuanya.

    BalasHapus

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.