Yang Dekat Semakin Dekat


[Pernikahan] 5 Tahun lalu, aku dan suami memang berencana untuk berangkat naik haji begitu kami memiliki rezeki yang cukup untuk berhaji. Sebelum uangnya terpakai untuk sesuatu yang cuma sebentar mengendap di dalam perut, atau habis untuk sesuatu yang bertahan sebentar saja di atas badan karena godaan trend fashion yang terus berubah setiap tahunnya, kami pun datang mendaftar untuk naik haji. Tapi, ternyata untuk wilayah DKI Jakarta saat itu, daftar tunggu untuk ONH reguler mencapai 12 tahun. Glek. 12 tahun itu kan bukan waktu yang sebentar ya. Anything can happen in 12 years. Apalagi akunya sakit-sakitan juga. Eh. Emang sih, banyak yang langsung pada bersuara, "hush. Nggak boleh ngomong gitu. Nanti malaikat lewat diaamiinkan loh." Tapi ya, tetap saja sih. Apapun bisa terjadi dalam masa tunggu 12 tahun itu.

Bayangkan. Jika kita baru melahirkan nih, maka anak bayi itu sudah duduk di bangku SMP.
Jika mencicil rumah, maka cicilan rumah 10 tahun sudah selesai.
Ukuran baju masih tetap ukuran yang sama nggak tuh dalam kurun waktu 12 tahun.

Pendek kata, aku dan suami mikir ulang. Lalu mulai melirik kemungkinan untuk berpindah jadi ONH Plus saja. Setelah tanya sana tanya sini, ternyata, ONH plus itu juga ada waiting listnya. Tapi waiting listnya tidak lama, hanya 3 s.d 5 tahun saja.
Baiklah. Akhirnya, bismillah, aku dan suami pun pindah mendaftar di ONH plus di tahun 2013.


Senang? Banget. Alhamdulillah. Karena selama menunggu tahun keberangkatan itu, aku asli menjaga fisikku banget. Karena pingin banget berangkat dalam kondisi yang sehat dan kuat. Beberapa kali jatuh sakit yang cukup lumayan hingga harus dirawat di rumah sakit, maka kalimat penyemangat untuk diriku sendiri  adalah, "Ayo Ade, berusaha untuk sembuh, biar bisa naik haji tahun 2018 nanti.".

Akhirnya, tahun 2018 tiba dan senangnya luar biasa. Alhamdulillah.
Saat itulah sebuah nasehat tiba-tiba disodorkan padaku di tengah kegembiraan dan keriwehan melengkapi semua perlengkapan persiapan keberangkatanku.

"Hal pertama yang harus kamu lakukan. Minta maaflah pada pasanganmu, dan jangan ada rahasia apapun di antara kalian."

Teng
Tong

Entah mengapa nasehat ini malah bikin aku berdilema cukup panjang. Narik nafas panjang. Ugh. Berat. Kenapa sih pakai dikasih tahu nasehat seperti ini? Aku sempat memberontak di dalam hati. Karena sampai saat ini, aku tuh berpegang pada keyakinan, bahwa jika kita tidak tahu maka tidak berdosa jika tidak melakukannya. hehehe. Nah... masalahnya, kok ya malah ada yang sukarela memberitahu. Kan jadi runyam urusannya setelah aku jadi tahu. Jadi ada kewajiban untuk menjalankannya kan? Itu yang berat.

Pernikahanku alhamdulillah sudah berjalan selama 24 tahun lebih. Awal tahun nanti, aku dan suami akan merayakan ulang tahun pernikahan perak insya Allah, yang ke 25 tahun. Pernikahan ini manis sekali rasanya. Aku sih merasa pernikahanku dengan suami insya Allah  sudah mendapatkan dan memenuhi syarat untuk dikatakan sakinah, mawaddah dan warahmah. Tapi meski demikian, tetap saja ada beberapa rahasia yang tidak ingin aku bagi dengan suamiku karena banyak pertimbangan.

Nah. Nasehat yang terdengar sederhana itu berubah jadi terasa berat buatku karena rahasia yang aku miliki ini. Gimana cara menyampaikannya pada suami? Bagaimana jika reaksi suami mind blowing? Tak terduga dan malah bikin berantakan segalanya? Bagaimana jika hasil "buka-bukaan" yang aku lakukan malah bikin rencana berangkat haji batal?

Nih. Asal tahu saja ya. Sebenarnya, tahun keberangkatan aku dan suami itu harusnya adalah tahun depan sih, mengingat nomor daftar tungguku baru bisa muncul jika ada 4000 jamaah yang mengundurkan diri di tahun 2018 ini. Aku pernah bertanya pada travel hajiku, biasanya alasan apa jamaah mengundurkan diri selain sakit dan meninggal? Jawaban mereka adalah, karena bercerai. #Celeguk. Duh. Bikin parno banget. Tapi tetap saja, sebelum berangkat "tidak boleh ada rahasia di antara kita" itu tetap berlaku bagi pasangan suami istri yang akan berangkat haji.

"Pergi haji itu, perjalanan jihad. Kita tidak tahu ujian apa yang akan datang pada kita selama disana. Bagaimana jika akhir ujian tersebut, ternyata usia kita cukup sampai disana saja? Masa kamu meninggal dengan membawa sebuah rahasia?"

Ah. Aku benci nasehat ini. Asli. Kenapa di antara banyak nasehat harus diberitahu nasehat ini coba padaku? Kan bisa ngasi nasehat, "hati-hati di jalan."... "kalau jatuh, bangun sendiri." ... "Sebelum kita makan. cuci tanganmu dulu. Jagalah kebersihan, agar sehat badanmu. Banyak-banyak makan jangan ada sisa, mari makan bersama." (eh, yang terakhir ini sih lagu yang sering diajarkan di TK ya?).

Setelah beberapa malam hanya mampu berkata, "Mas... aku mo ngomong ... ngg ... nggak jadi deh."
Berani.
Nggak berani.
Berani.
Nggak berani.

Tapi akhirnya berani juga.
Akhirnya, dengan memberanikan diri, aku pun mulai bercerita terus terang pada suamiku tentang rahasia-rahasia yang aku simpan dengan rapi selama ini. Semuanya.
Fiuh.
Serasa berhasil melewati jembatan goyang yang tali penopangnya sudah putus satu. Tapi setidaknya, aku tidak lagi memegang bola panas di tangan. Tanganku sudah terasa lega dan adem. Juga hatiku. Aku merasa hatiku lapang dan ringan. Tinggal satu hal mendebarkan satu lagi yang harus dihadapi. Reaksi suami. Tanggapan.
Deg
Deg
Deg

Lalu aku menunggu reaksinya.
Siap deh dengan segala kemungkinan terburuk sambil diam-diam berdoa, jangan sampai terjadi kemungkinan terburuk. Aku nggak mau menerima kemungkinan terburuk meski sebenarnya harus siap.

Alhamdulillah, ternyata suami tidak berkurang hormat dan sayangnya padaku setelah mendengar semua rahasia-rahasia yang aku bagi dengannya. Wah. Alhamdulillah banget. Alhamdulillah... alhamdulillah.

Dan karena sudah tidak ada rahasia di antara kami, maka selama menjalankan ibadah haji, hubunganku dengan suami malah jadi terasa manis sekali. Aku senang. Bahagianya bulat, utuh, ukuran super duper jumbo. Bahagia banget. Alhamdulillahiladzi tattimusholihat.

wajah bahagia ketika mendapat pengarahan bagaimana berhaji di tanah suci nanti, setelah dipastikan berangkat tahun ini

Dan moment terbaikku tahun ini, rasanya adalah moment ketika menjalankan ibadah haji ke tanah suci, Mekah dan Madinah. Sebelum momen ini datang, kerinduan untuk bertemu begitu mendebarkan. Gugup dan bahagia jadi satu. Ini adalah kedatanganku yang pertama ke tanah suci, jadi, tidak dapat bayangan seperti apa kotanya, suasananya, cuacanya, dan sebagainya. Memang sih dapat beberapa cerita dari beberapa teman yang pernah berangkat ke tanah suci tapi kebanyakan dapatnya cerita yang dibalut kisah datangnya hidayah gitu. Atau cerita tentang keajaiban yang kebanyakan seram-seram. Bikin rada takut. Meski demikian, tetap saja bikin penasaran. Dan rasa penasaran itu malah menerbitkan rindu untuk segera bisa bertemu.

Lalu, terjadilah.
Lalu, mengalami secara langsung.
Lalu, menangis terharu karena .... ah. Sulit dikatakan dengan kata-kata.

pesan yang kukirim ke whatsapp keluarga intiku

Ketika pertama kali melihat Ka'bah, dadaku sesak oleh rasa rindu yang rasanya telah memenuhi seluruh pembuluh darah, mengisi sempurna seluruh paru-paru dan jantungku. Kakiku gemetar setiap inci dia melangkah mendekati Ka'bah. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga di tungkai kakiku. Membuatnya terasa berat untuk melangkah. Gemetar. Dan akhirnya lemas sendiri lalu hanya mampu menangis saking terharu.

Ya Allah. ternyata sedemikian besarnya rasa terharu yang pekat tersebut. 
Ternyata, sedemikian berat rasa rindu yang selama ini terpendam dan dipepat agar padat.
Tak tertahankan. Luruh tubuh tak kuasa menahannya.

Selama di tanah suci Mekah dan Madinah, aku menutup akun media sosialku. Hanya tersisa aplikasi whatsapp saja yang aku pertahankan karena biar bagaimanapun juga, aku ingin tetap terhubung kabar dengan anak-anakku. Pada merekalah aku sering mengirimkan swafotoku bersama suami. Juga cerita-cerita kami selama menjalankan ibadah haji.

Sedih, terharu, kaget, gembira, senang, ngantuk, segar, kesal, kecewa, marah, mencoba bersabar, semua moment ini diabadikan dengan foto. Tidak heran jika file foto selama aku berhaji jumlahnya ribuan. Lihat apa saja langsung, cekrek, difoto dengan smartphone.

foto ini, diambil sesaat setelah kami kehilangan tas ransel yang berisi semua uang yang kami miliki untuk pegangan selama berada di tanah suci rencananya. Awalnya shock berat, tapi lalu suami mengajak ikhlas. Dan ikhlas hadir dengan mulus alhamdulillah setelah kami mengakhiri niat mengikhlaskannya dengan membaca basmallah. Dan bahkan membuat aku dan suami jadi merasa saling membutuhkan satu sama lain karena sadar tidak punya apa-apa selain  rasa saling sayang dan ingin saling menjaga satu sama lain. 


swafoto lagi, setelah mengetahui kenyataan bahwa ternyata orang-orang Afrika yang selama ini diberitahu orang adalah orang yang kasar dan seradak-seruduk mentang-mentang berbadan besar, ternyata orang-orang yang ramah dan tidak segan membantu sesama. Foto itu, bisa menepis kabar hoax. Hehehe. 

Dalam hal ini. keberadaan sebuah smartphone yang mumpuni aku rasakan amat perlu. Kita tuh selama disana bawaannya pingin foto-foto saja. Apa saja pingin diabadikan dalam foto. Karena bagiku, foto itu bukan hanya menampilkan fisik kita saja. Tapi juga menyimpan kejadian, mengabadikan kenangan. Terlebih jika kejadian itu belum tentu terulang lagi di waktu dekat. Terlebih jika kejadian itu adalah sesuatu yang memang kehadirannya kita nanti-nantikan. Dan karena seringnya kebutuhan untuk mengabadikan kejadian dan kenangan itu, maka bukan cuma sembarang smartphone saja yang dibutuhkan. Tapi juga smartphone dengan memory yang besar, dan kemampuan performa yang mumpuni. Enak digenggam, dan tidak cepat panas. Tidak licin bodynya (maklum, ibadah haji itu ibadah fisik banget, jadi telapak tangan berkeringat itu sepertinya sering sekali terjadi). Dan tentu saja didukung oleh mesin yang canggih agar bisa mendukung performa smartphone itu sendiri.

Alhamdulillah aku dibekali dengan sebuah handphone yang memenuhi keinginanku dan kebutuhanku. Yaitu Samsung Galaxy Note 8.




ini spek dari samsung galaxy note 8

Kelebihan Samsung Galaxy Note 8


1. Kameranya luar biasa. 


Nah, di bawah ini adalah contoh dari foto yang aku ambil menggunakan kamera handphoneku, Samsung Galaxy Note 8. Foto yang diambil dalam suasana amat sangat crowded alias penuh sesak. Handphone Samsung Galaxy Note 8 ini ringan banget, tidak licin di tangan dan bisa mengambil gambar dengan cepat. Kameranya asli smart banget, jadi kita tinggal klin tompol power yang ada di sebelah kanan, lalu ada tautan cepat kamera (ini posisi kamera masih tidur dan terkunci padahal), lalu cekrek! Bisa langsung mengabadikan gambar apa saja. Video juga bisa. Hasilnya tetap luar biasa.

kalian tahu tidak, manusia yang mendatangi masjidil haram itu banyak sekali. Padat dan sesak dari ujung ke ujung. Momen kehidupan ini tidak akan ditemui oleh para jamaah umroh yang berangkat bukan di bulan Haji. 



Mengapa mengabadikan momen kehidupan itu menjadi penting buatku? Karena, tidak semua orang bisa melihat dan mengalami langsung. Karena berbagai kejadian yang muncul itu sering merupakan kejadian yang tidak dapat diduga  sebelumnya dan yang namanya moment itu tidak bisa diulang kedua kalinya. Spontan. BLEB. Muncul begitu saja menggoreskan kenangan. Itu sebabnya, keberadaan momen kehidupan yang terekam dalam foto atau video menjadi begitu penting.





Bahkan, ketajaman kamera Samsung Galaxy Note 8 ini nih, bisa dilakukan dalam kondisi malam hari yang minim cahaya. Dia tetap tajam alhamdulillah. Mana lagi baterenya tahan lama lagi. Nih, aku tuh wukuf selama 2 hari nggak ketemu colokan loh. Tapi handphoneku tetap bertahan untuk mengabadikan kenangan. Handphone lain biasanya suka menjerit dan menyerah tidak bisa lagi mengabadikan gambar jika batere kurang dari 10 %. Nah, 10% sisa batere Samsung Galaxy Note 8 itu, berarti masih bisa dipakai hingga 5 jam dengan posisi bukan dipakai untuk berbicara. Jadi. lumayan masih bisa dipakai buat baca Al Quran.

aku dan kakakku. Setelah menjalankan wukuf di Arafah, lalu lanjut bermalam di Muzdalifah, akhirnya kami tiba kembali di Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf wada sekaligus merayakan hari raya Idul Adha. Sementara jamaah dari Afrika dan Arab berhias secantik mungkin, aku, kakak dan jamaah serombonganku harus puas hanya membasuh wajah dengan wudhu saja; tidak bisa mandi karena memang belum bertemu kamar mandi selama 2 hari. Tapi bahagianya mengalahkan belek, melunturkan daki, dan melupakan lelah. Bahagianya banget-banget alhamdulillah. 

Aku termasuk orang yang tidak begitu suka mengedit foto atau menggunakan beauty camera secara berlebihan. Karena, kenyataannya. memang kita tidak mungkin akan bisa terlihat sempurna sepanjang waktu. Kadang, ada wajah lusuhnya karena memang saat itu sedang lelah. Kadang, ada wajah yang suntuk, karena sebagai manusia biasa pastilah menemui sesuatu yang tidak berkenan di hati. Jadi, wajar banget kan jika terekam sedang tidak sempurna? Justru, semua kenangan itu akan menimbulkan kehangatan dalam ingatan ketika mengenangnya di waktu yang akan datang.

Seperti foto-foto swafoto di bawah ini, yang memperlihatkan kondisi asliku pada saat itu.

moment ketika thawaf pertama kali dalam rangka umroh untuk haji tamattu. Thawaf di lantai 2, jadi mengelilingi Ka'bah sejauh 7 Kilometer belum dengan lari Sai Safa- Marwa yang ditotal jadi 11 kilometer. Keringatan, lelah, dekil, tapi bahagianya luar biasa Alhamdulillah. Coba lihat keringat kami bercucuran tuh. (*catatan: foto dengan menggunakan kamera lain, milik pribadi dan digunakan untuk mendukung cerita)


Nah. Di Samsung Galaxy Note 8 ini, sebenarnya ada pilihan beauty camera. Yang aku suka, karena beauty camera yang terpasang di Samsung Galaxy Note 8 ini bisa diatur. Jika kita tidak mau memakainya (seperti yang aku terapkan) maka pasang di level 0. Tapi, jika kita ingin menggunakannya maka bisa dipasang di level 2 atau 3, hingga 5 yang tertinggi. Aku pernah mencobanya, dan tahi lalat alias andeng-andeng di daguku yang memang samar dan kecil, langsung menghilang dengan sukses di level 5 ini. Itu sebabnya aku kurang suka menaikkan level beauty camera karena kekhasan wajahku jadi hilang. hehehe. 



hohoho... #iwokeuplikethis hehehe, aslinya, aku baru selesai mandi pagi dan sedang bersiap-siap untuk thawaf. (*catatan: foto dengan menggunakan kamera lain, milik pribadi dan digunakan untuk mendukung cerita)

Desainnya yang Keren

Sudah tidak diragukan lagi kali ya, model-model handphone Samsung memang selalu cantik. Nah, Samsung Galaxy Note 8 ini pun sama cantiknya.


Stylusnya Sukaaaaa

Iya, stylusnya itu bikin aku bisa menunjuk sesuatu yang kecil mungil di layar sentuh handphoneku. Terus, jika stylusnya diambil nih, akan muncul pilihan smart kita mau ngapain dengan stylus itu. Mau sekedar nulis tangan, gambar, menulis pesan hidup, bahkan kita bisa melakukan crop foto dan video yang muncul live di layar handphone kita untuk kita share atau simpan di handphone kita. Dan stylus ini enak banget dipegang tangan. Nggak kekecilan, nggak licin, dan kita juga nggak perlu ngambang gitu tangannya ketika sedang mencoret di atas layar handphone kita. Jadi, nempel aja biasa kayak lagi nulis di atas kertas biasa.

ini salah satu hasil coretanku yang merupakan kenangan ketika berhaji di tahun 2018 ini, kenangan ketika sedang berjalan berdua dengan suamiku. Bekerjasama meraih cinta Ilahi


Nah. Itulah ceritaku tentang momen yang di tahun 2018 ini merupakan momen yang paling berkesan buatku. Banget. Pokoknya, moment yang paling membahagiakan banget. Aku dan suami alhamdulillah seperti menjadi pengantin baru lagi sepulang dari sana. Rasa sayang tumbuh makin dalam di antara kami, dan nambah poin malah, karena jadi saling mengingatkan bahwa kami harus saling tolong-menolong  sebagai sepasang suami istri, sebagai sepasang ayah dan ibu, agar kelak bisa masuk ke dalam surga Allah  bersama-sama, sekeluarga. Aamiin.



#ceritakemarin : Terkadang, sentuhan itu lebih berarti drpd seribu kata yg diucapkan. Pun lebih bisa mengukir rasa sayang. Hatiku tersentuh ketika jemari tangan suamiku menggenggam erat tanganku ketika berdesakan di eskalator menuju atau dari lantai 3 masjidil Haram. Tanpa sepatah kata, aku tahu bagaimana kedudukanku di hatinya, hanya krn sentuhan itu. Genggaman erat itu menandakan bhw dia tak ingin kehilangan aku dan sungguh aku tersentuh karenanya. Ketika tanganku terlepas karena basah keringat ketika Thawaf, cepat tangannya mencari tanganku yg terlepas itu. Lalu menggenggamnya bahkan lebih erat lagi. Membuatku yakin, bhw aku akan dijaganya dgn baik. Pernah suatu hari di Jeddah. Di dekat hotel Ramada, berderet toko gadget dan elektronik. Kebanyakan isinya adl penjual & pembeli laki2. Kami berdua datang melihat-lihat. Aku mengambil posisi berdiri di pojokan. Sementara suamiku masuk ke tengah toko. Tak lama, suamiku datang dengan wajah tegang. | "Aku mencarimu. Kenapa memisahkan diri?" | "Aku tidak berani masuk ke dalam. Banyak laki2 mas. Aku tak mau berdesakan dengan mereka." | "Tetap saja. Kamu harus tetap ada di dekat aku. Bagaimana jika kita terpisah?" | Kami bersitegang apa yg sebaiknya dilakukan versi masing2. Tak ada yg mau mengalah dgn pendapat masing2. Lalu kami pulang dgn suasana yg masih diliputi ketegangan. Tapi, sentuhan tangannya ketika mencoba mencari ujung jemariku utk digenggam mencairkan suasana. Tanpa kata, genggaman tangannya yg semula hanya di ujung jemari, mulai meraih seluruh telapak tanganku. Hangat & lembut mengusir ketegangan kami. Tanpa kata, aku tahu bhw tak guna bertahan dgn kekerasan hati. Lain waktu, suasana hening sering memeluk kami berdua dlm bis yg membawa kami pergi ke banyak tempat. Tanpa diduga, tangan suamiku meraih tanganku yg terjatuh di ujung kursi. Ujung jemarinya menggenggam erat ke 5 jari tanganku sambil menepuk punggung tanganku dgn lembut. Itu adalah percakapan dlm diam paling hangat yg panjang yg memenuhi benak kami sepanjang jalan. Sentuhan. Hanya sentuhan, yg bisa mewakili ribuan kata. Sentuhan. Adalah bahasa cinta yg selalu hadir di 2 kota suci, Madinah & Mekah. #ceritaperjalananhaji2018 #ocehanadeanita
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on


Kalau kamu sendiri, momen apa yang paling membuatku berkesan di tahun 2018 ini?
------------------------------





28 komentar

  1. Masya Allah...barakallah fikum. Semoga mabrur ya, mbak. Btw, di tahun 2018 yg membuat saya berkesan tak ada yg khusus banget, sih. Tapi ada satu yaitu bisa merasa makin baik dan tenang menjalani peran semuanya. Doakan ya mbak. Oya, semoga menang, ya. Huawai nova 3i nya emang bikin mupeng 😂😁

    BalasHapus
  2. Ceritanya sangat menginspirasi mba Ade, sunggu perjalanan spiritual yang penuh kesan, alhamdulillah ya suami bisa menerima segala rahasia, sehingga perjalanan haji lebih khusyuk dan tenang

    BalasHapus
  3. Masya Allah... Terharu banget bacanya mbak. Nikmatnya beribadah di tanah suci bersama pasangan hidup.
    Semoga Allah kembali mengundangku ke sana dengan suami. Aamiiin

    BalasHapus
  4. Allhamdulillah kalau sudah gak ada rahasia lagi ya mbak, rasanya pasti plong dan pergi haji pun lancar

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah Mbakde, salah satu hal yang membuat tenang, ringan dan bahagia, bisa jadi tidak ada beban rahasia ya. Saya belajar untuk tidak memendam rahasia deh, hehehe. Moment paling membahagiakanku di tahun 2018? Nemenin Fira sekolah PAUD, hahaha receh ya? ya akhirnya satu per satu anak anak sekolah dan saya Alhamdulillah dapat mendampingi. Sehat selalu untuk kita semua ya Mbakde

    BalasHapus
  6. Momen paling berkesanku tahun ini apa ya mba Ade. ah gk tau deh. Suasana hatiku msh terpengaruh ceritamu. Merinding baca cerita soal hajii, ikut bahagiaaaa

    BalasHapus
  7. MasyaALLAH saya selalu terharu membaca cerita tentang pengalaman orang ke Baitullah. semoga tercapai ya mba dapetin hp idamannya.. itu juga hp idaman saya lho hehe

    BalasHapus
  8. Kamera depannya bikin bahagia banget ya mbak, bisa selfie dengan paripurna. Semoga bisa dapetin HP impiannya ini yaa mba :)

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, bahagia syekali aku baca ceritanya. Menabung buat ONH Plus emang harus dipersiapkan sejak sekarang ya mba, aku jadi terinspirasi dan ingin segera memulai

    BalasHapus
  10. Ikut bahagia melihat foto-foto Mba Ade dan suami di tanah suci. Melihat foto-fotonya, diam-diam terlantun doa di dalam hati, semoga kelak saya dan suami juga bisa menginjakkan kaki ke sana, amiiin

    BalasHapus
  11. Masya Allah, ikut terharu dan bahagia, Mak Ade.

    Sempat ngikik di bagian ini:
    Ukuran baju masih tetap ukuran yang sama nggak tuh dalam kurun waktu 12 tahun. :D hahaha

    Oya, bagus juga ya akhirnya menjalankan nasihat orang itu. Jadinya benar2 plong dan bahagianya luar biasa.

    BalasHapus
  12. alhamdulillaaaah ya mba Adeee...aku mau jadi tamu-Nya jugaaaa. Doakan yaaa. Dan udah mau 25 tahun ya mbaaa. Selamat ya!

    BalasHapus
  13. wah bahagianyaaa. Semoga sukses dengan huaweynya yah mba

    BalasHapus
  14. Mbak Ade, aku bacanya ikutan terharu jugak,
    Momen berkesan di tahun 2018 ini, apa yah, ada 2 tapi salahsatunya momen berkesan sederhana jga bisa pakai baju sarimbitan sama emak heee
    Langgeng sampai Jannah-Nya ya Mbak Ade
    Ikutan bahagia lihat keharmonisan mbak ade dan suami
    inspiratif anet heee

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah mba bisa memotong jadwal tunggu dengan ONH Plus ya mba. Bahagianya tak terkira. Oh ya memang juga dibilangin sebelumnya harus minta maap ke oramgtua dan pasangan. Btw, senang skali jika punya hp baru. Ehehhehe

    BalasHapus
  16. Aku gak kepikiran orang gagal berangkat haji karena cerai. Memang ya kudu niatnya benar2 bersih. Ibadah pun gak ninggalin moment berharga

    BalasHapus
  17. Jadi terharu mba', Semoga berkah ya.. Huawei nya bikin baper, spesifikasinya itu lho, apa lagi 4 camera AI nya :)

    BalasHapus
  18. Ya Allah, Mbak Ade.... Ransel yang hilang itu ternyata isinya uang? Iya sih emang ya, shock banget pastinya. Tapi alhamdulillah Mbak Ade berhasil untuk mengikhlaskannya. InsyaAllah hajnya mabrur. :)

    BalasHapus
  19. Begitu udah selesai cerita dan kekhawatiran kekhawatiran itu tidak yerbukti, rasanya lega banget ya mbak...

    BalasHapus
  20. couple favo aku mba Ade n suami ini lihat fotonya romantis bangets pastilah ini moment terindah apalagi di Mekah y mba

    BalasHapus
  21. Waduh, ceritanya bikin terharu. Ada lika-likunya juga ternyata ya. Banyak ikhlas, banyak syukur, banyak doa. Insya Allah haji yang mabrur. :)

    BalasHapus
  22. Masyaa Allah mba ceritanyaa jadi pengen haji jugaaa.. semoga kita bisa semua jodoh yah kesana.. Aminnn

    BalasHapus
  23. Barakallahu fiikum, mba..
    Senang baca kisahnya.

    BalasHapus
  24. Wah baru tau. Jadi kalo mau naik haji tuh gak boleh ada rahasia di antara pasangan suami istri ya

    BalasHapus
  25. Aku pengen banget naik haji ya Allah semoga dimudahkan

    BalasHapus
  26. Aku langsung teringat pengalamanku sendiri, pas di bagian ini:

    "...Ketika pertama kali melihat Ka'bah, dadaku sesak oleh rasa rindu yang rasanya telah memenuhi seluruh pembuluh darah, mengisi sempurna seluruh paru-paru dan jantungku. Kakiku gemetar setiap inci saat melangkah mendekati Ka'bah. Rasa rindu itu sudah memenuhi seluruh rongga di tungkai kakiku. Membuatnya terasa berat untuk melangkah. Gemetar. Dan akhirnya lemas sendiri lalu hanya mampu menangis saking terharu."

    Begitu juga pengalamanku, mba, waktu umroh lalu

    Agustus bulan lalu, perkawinanku memasuki tahun ke 25, mba.
    Kurleb sama kita ya.

    Semoga aku juga bisa menunaikan haji berdua babang suami, kelak.
    Insya Allah, Insya Allah.

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah mbak Ade, seneng banget bacanya, barakallah sudah menunaikan ibadah haji dengan suami tercinta. Saya masih menunggu dua tahun lagi, insyaAllah, doakan sehat selalu ya. Seperti kata mbak Ade, anything can happen saat menunggu kita gak tau apa yg terjadi nanti.

    BalasHapus
  28. Mba Ade sama suami wajahnya mirip ya. Alhamdulillah ibadahnya lancar, pulang juga dalam keadaan sehat.

    Aku lihat ini jadi kayak nostalgia. Bener sih kalo mau berangkat haji mesti gak ada ganjalan di antara suami-istri. Maksudnya agar selama di tanah suci, hubungan suami istri makin erat dan mesra.

    BalasHapus