badge

Kamis, 04 Februari 2016

Banyak Bertanya Memalukan?

[Lifestyle] Kapan kalian memiliki buku tabungan dimana disana ada uang kalian sendiri? Benar-benar uang kalian sendiri dalam arti tidak tercampur dengan uang orang lain?

Jika aku, sejak  aku duduk di bangku SMP kelas 1 SMP adalah SMP N 43, Jakarta Selatan. Letaknya di Mampang Prapatan. Tidak jauh dari perempatan Mampang-Buncit-Kuningan-Blok M. Pas di pinggir jalan raya. Nah, tidak jauh dari lokasi sekolahku ini, ada sebuah kantor pos besar, yaitu Kantor Pos Mampang. Disinilah aku pertama kali membuka tabungan atas namaku sendiri. Yaitu menabung di Tabanas yang ada di Kantor Pos Mampang.

Pengalaman Menabungku Dari Tahun ke Tahun


1. Ketika SMP Menabung di Kantor Pos Indonesia

Dulu, yaitu tahun 80-an (aku masuk SMP tahun 1983, jamannya Genesis mengeluarkan album yang salah satu lagunya aku suka: Home By The Sea), bank-bank yang ada di Indonesia belum banyak. Juga belum online. Jadi semuanya serba tercatat manual. Jadi, jika kalian menabung di Mampang, maka segala transaksi keuangan hanya bisa dilakukan di Mampang saja. Nanti baru ada kliring untuk pengiriman uangnya. Dan jumlah kantor Bank sendiri juga belum banyak. Itu sebabnya pemerintah mengerahkan kantor Pos Indonesia sebagai alat perpanjangan tangan dari Bank agar bisa dijangkau oleh masyarakat luas.

Itu sebabnya aku membuka tabungan yang dekat dengan sekolahku. Pergi sekolah, sengaja aku datang lebih pagi dari jam masuk sekolah (kelas 1 SMP dulu masuk siang) agar bisa mampir ke Kantor Pos untuk menabung dulu.

Darimana uangnya? Nah.  Itu dia. Sejak SMP aku memang sudah bisa punya uang dari keringat sendiri. Yaitu dengan menjadi pagar ayu bayaran, atau penari bayaran. Hahahahaha.... Disamping itu, aku juga hobbi jualan bross buatan tanganku sendiri atau menjual keahlianku yang lain yang bisa diduitin. Lalu, sumber pemasukanku yang lain adalah, dari menyisihkan uang jajan.

Dulu, orang tuaku memberlakukan aturan uang saku bulanan. Pokoknya, cukup tidak cukup harus diusahakan cukup. Karena aku hobbi jalan kaki, jadi aku sering jalan kaki dari rumah (daerah dekat patung Pancoran) ke Mampang. Jadi, otomatis uang sakunya tidak terpakai. Jadilah bisa ditabung.

2. Ketika SMA menabung di BDN

Setelah aku SMA, aku tutup tabungan di kantor Pos Mampang ini lalu beralih ke Bank BDN yang ada di Jalan MT Haryono. Kenapa pindah nabungnya? Ya itu tadi. Karena, bank jaman dulu itu tidak ada sistem onlinenya. Segalanya serba manual termasuk melakukan transaksi keuangan. Setamat dari SMP aku mendapat SMA 8 Jakarta yang terletak di Bukit Duri. Cukup jauh kan dari Mampang. Jadi, daripada buang-buang ongkos, aku pindah saja menabungnya.

Oh ya, satu lagi ciri khas Bank jaman dulu itu adalah: teller-nya sudah tua-tua dan jutek-jutek.
Duh. Pokoknya nggak bisa deh dibandingin dengan keramahan dan kesegaran teller-teller Bank jaman sekarang.

Jadi, kalau kita datang ke Bank, kita bakalan disambut oleh wajah-wajah yang sudah dewasa: ibu-ibu yang cemberut, bapak-bapak yang kacamatanya bertengger di ujung hidung, atau ibu-ibu gemuk yang pakaiannya klomport. Semuanya sama: SUSAH BANGET MENEBAR SENYUMAN. Mana lagi kita antri pakai nomor antrian. Jadi, mereka meneriakkan nomor antrian sambil matanya tuh beredar dan mengirimkan sinyal 'mana-sih-nomor-yang-gue-panggil-kagak-tahu-ape-gue-udah-capek-bokek-pengen-boker-kantong-tongpes-perut-kelempes'.

Ah. Untunglah hanya 3 tahun aku berurusan dengan Bank ini. Setelah tamat SMA, aku pindah Bank lagi. Kali ini sudah mulai abad modern. Hahaha.

3. Kuliah Menabung di BNI

Aku masuk kuliah tahun 1989. Sudah mulai ada layanan online, tapi kendalanya sering offline jaringanya. Jadi, aku pun menutup tabungan di BDN lalu membuka rekening tabungan di BNI 1946 (namanya waktu itu). Kenapa menabung di BNI? Karena Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan UI untuk sistem pembayaran uang semester perkuliahannya dan berbagai transaksi bank lainnya yang terkait dengan kampus. Jadi sekalian saja aku membuka tabungan di BNI 1946.

Dan tabungan ini bertahan lama. bahkan setelah aku menikah. Hanya saja, ketika aku tinggal karena ikut suami belajar di Australia, aku lupa menutup tabunganku. Jadi, begitu kembali lagi ke Indonesia, tabungannya sudah kosong karena uang tabungan yang ada terpakai untuk uang administrasi.

4. Setelah Berkeluarga: Memilih Menabung di BNI Syariah

Lalu, tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter. Bank-bank, baik yang swasta maupun milik pemerintah mulai banyak yang mengalami kebangkrutan. Jadi, muncullah musim merger. Yaitu, beberapa bank bersatu sehingga menjadi kuat kembali. Lalu, di awal millenium baru, muncullah regulasi pemerintah yang mengeluarkan izin untuk terbentuknya Bank Syariah.

Kebetulan, pulang dari Sydney, aku memang serius untuk melakukan "HIJRAH" agar bisa menjadi Muslimah yang menjalankan kewajiban Islam secara menyeluruh. Termasuk, menabung. Jadi, regulasi pembentukan Bank Syariah itu sesuatu yang amat menggembirakan hatiku.

Dan, aku pun mulai membuka tabungan di Bank Syariah. Awalnya mencoba di beberapa bank syariah yang awal-awal berdiri. Tapi, ada ketidak-puasan sehubungan dengan layanan mereka. Jadi, aku keluar. Hingga akhirnya sekarang merasa amat cocok memiliki tabungan hanya di Bank BNI Syariah saja.

Rajin Bertanya = Menambah Pengetahuan & Memperpanjang Ingatan

Meski pengalaman menabungku sudah amat lama, tapi karena adanya kemajuan teknologi di dunia perbankan, tidak membuatku pintar dan ahli dalam hal informasi Perbankan. Aku punya kelemahan dalam mengingat sesuatu. Dan ini, termasuk ketika sistem Bank mulai memperkenalkan ATM dan kartu debit yang bisa dipakai di ATM.

Wah. Itu perlu tricky tersendiri untuk bisa mengingat PIN ATM-ku. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik bertanya ke bank karena: Lupa Nomor PIN.  Dan embak-embak di bagian Customer Service membantuku dengan sabar.

"Begini saja bu biar ingat. Ibu tulis di daftar kontak HP ibu. Beri kode dimana hanya ibu saja yang tahu bahwa itu kode sedangkan 4 nomor yang belakangnya adalah nomor PIN. Atau dibalik juga bisa penempatan nomornya. Terserah ibu saja. Lalu beri nama tapi sekali lagi, nama samaran saja. Misalnya, ariBiNutI. Nah, yang huruf kapital itu kode bahwa itu BNI. "
Wah. Solutif kan saran dari si embak-embak customer services yang ramah ini?
Dan inilah enaknya jaman sekarang itu. Itu untungnya jika kita rajin bertanya; termasuk bertanya perihal solusi untuk masalah yang kita hadapi. 

Lalu, muncul lagi sistem baru. Yaitu, kemudahan untuk melakukan transaksi dengan menggunakan internet banking dan sms banking.
Dan kembali aku harus rajin bertanya karena kasus lama yang terulang kembali: LUPA PIN.
Begitu sering akun BNI Syariahku di layanan Internet Banking ter-blokir hanya karena aku lupa pin. Lalu, ujug-ujug aku datang ke Bank keesokan harinya.

"Kenapa bu Ade?"
"Lupa Password."

Begitu terus hingga akhirnya akunya malu sendiri untuk datang ke Bank guna membuka blokirannya karena aku lupa password. Jadi aku biarkan saja tabunganku. Sebagai gantinya aku malah kembali ke jaman tradisional: menabung di celengan. Tentu saja ini tidak solutif. Karena, selalu ada keinginan untuk "mencomot selembar dua lembar" dari celengan tersebut. Kapan penuhnya coba? Alhasil, celenganku sama sekali tidak ada isinya.

Banyak Bertanya Memalukan?


Oke. Memang seharusnya kita tidak boleh malu bertanya.
Siapapun, jika malu bertanya akan sesat di jalan.
Tapi, bagaimana jika kondisinya banyak bertanya? Bukankah itu sesuatu yang memalukan?
Dugaan seperti ini yang membuatku malu untuk bertanya ke Bank BNI Syariah.

(tahu nggak, customer services di kantor cabang Bank tuh sampai hafal. Jadi pas dia lihat aku lagi duduk menunggu antrian, begitu giliran nomorku tiba, pasti mereka akan langsung menyapa :
"Bu Ade... lupa lagi ya passwordnya?"... duh. Malu kan?
Itu tuh akibat terlalu sering bertanya.
Wajar kan jika aku merasa malu dan memutuskan untuk berhenti bertanya?")



Tapi, acara tahan-tahanan untuk tidak bertanya ternyata berlaku hanya 2 minggu saja. Memasuki minggu ke 3, suamiku menegurku:

"Makanya Ade. Coba tulis di suatu tempat rahasia. Jadi kamu ingat passwordmu."
"Tapi kan kita nggak boleh pasang tatto  di badan."
"Maksudmu.. .mau tulis dimana?"
"Di tempat rahasia di... "(kedip-kedip penuh arti... lalu dikeplak)

Akhirnya, ditemani suamiku aku kembali ke bank untuk menanyakan passwordku. Suami jadi saksi kali ini. Untuk beberapa kondisi, suami bisa difungsikan sebagai "eksternal memory" pribadiku.
Jadi, sekarang aku ingat deh passworku jika ingin membuka internet banking atau sms banking. yaitu (nih aku kasih tahu ya)
"colek suamiku dan bertanya, mas ingat nggak passwordku apa?"
hahahahaa
hidup ternyata begitu sederhana dan mudah. Eh?

Nggak sih. Yang pasti, sekarang aku semakin menguasai penggunaan berbagai inovasi di dunia perbankan. Semua karena bantuan banyak pihak ketika aku tidak malu untuk bertanya. Kan jika kita malu, orang lain tidak akan pernah tahu apa masalah kita kan? Bener nggak? Jadi mereka juga tidak tahu harus memberi solusi apa? Jika kita menyimpulkan sendiri dan mencari jawaban sendiri, bisa-bisa kita malah tersesat di jalan (yang benar).

#ASKBNI Layanan Baru BNI di Twitter

Karena sekarang sudah jaman media sosial, maka BNI sekarang membuka layanan baru dengan memanfaatkan media sosial Twitter, yaitu #ASKBNI. Jadi, jika punya pertanyaan seputar BNI, bisa ditanyakan lewat twitter. Tujuannya, apalagi jika bukan untuk memberi layanan yang lebih mudah bagi para nasabahnya.


Bahkan, #ASKBNI bisa menghubungkan para nasabah BNI Syariah untuk terhubung dengan BNI Syariah juga (jadi nanti BNI Syariah yang akan membantu para nasabahnya yang kesasar seperti aku... wekekekek).


Cara Menggunakan Fitur #ASKBNI

1. Kita harus follow dulu BNI, lalu kirim DM alias direct message alias japri ke BNI, dengan format
#daftar (spasi) #nama (spasi) #nomor telepon

Misalnya:
#daftar #tulkijem #08123456789

2. Nanti, kita akan memperoleh balasan otomatis seperti ini:


3. Oke. Seterusnya, kita bisa bertanya deh di twitter. Mudah kan? Nggak usah malu lagi. Dan nggak bakalan malu-maluin atau merasakan melakukan hal yang memalukan lagi. Dan yang pasti, nggak bakalan malu bertanya sesat di jalan lagi.
Okeh.

====================

30 komentar:

  1. Aq zaman SMA sampai kuliah pakenya BNI. Cz ortu pakenya BNI dan ibuku awet sampe skrg pake BNI

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku wakti kecil nabungnya di bank yang sekelewatan jalan aja sih... baru pas kuliah nabung di BNI

      Hapus
  2. keren artikelnya.
    kunjungi juga ya
    http://feridi.blog.upi.edu/2015/12/29/malu-bertanya-sesat-di-jalan-mau-bertanya-hanya-di-askbni-yang-menjawab/

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip.. nanti aku mampir insya Allah. makasih dah berkunjung

      Hapus
  3. eh saya nabung di BNI juga lho.. tapi ga pernah pakai fasilitas ini, mau coba ah.. thanks for sharing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cobalah.. enak kok bisa nanya apa aja

      Hapus
  4. wah,kreatif ya...jadi pagar ayu bayaran,jadi penasaran sama mbak ade dulu^^

    BalasHapus
  5. Hebat, Mbak, sudah bisa nabung dari kecil. Saya udah tua gini tabungan masih tiarap, sedih. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang dipaksain soalnya nabungnya

      Hapus
  6. Jadi ingat dulu pernah nabung di Tabanas. Iya yah...dulu tellernya tua2, sekarang keren-keren...haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan... berarti ingatan kita sama. Sekarang katanya ada aturan jikabsudsh 35 tahun ditarik ke meja belakang. Nggak lagi di front office. Teller malah katanya sekarang kurang dari usia 30 tahun

      Hapus
  7. Baru tau kalau dulu bisa nabung di kantor pos, aku kira baru2 ini aja, hehe XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari dulu krn emang dulu kantor bank gak ada di semua tempat pdhal gak bisa online

      Hapus
  8. Komiknya lucu, bikin ketawa. Ada yang di banting, saking keselnya atau kenapa.... ? xixixixxi.....

    BalasHapus
  9. aiih cakep postingannya Mbk, met lomba ya, pengen deh ikutan :) btw, komiknya lucuuu

    BalasHapus
  10. Ya Allah mbak, aku 85 baru lahirrrrr, aku pake BNI juga sejak kuliah sampai buat gajihan sekarang ini, alhamdulillah lancar jaya dan membukakan tabungan BNI Syariah untuk bapak dan Alfi

    BalasHapus
  11. BNI termasuk yg merakyat juga ya :) trus sama keluargaku jg pake.

    BalasHapus
  12. Sama mbak, saya pakai BNI sejak kuliah dan sampai sekarang selalu banyak kemudahan yang diberikan oleh BNI termasuk fitur #AskBNI untuk kita-kita yang aktif di sosmed twitter.

    BalasHapus
  13. Aku gak pakai BNI, gak dapat feel buat ikut lombanya. :(

    BalasHapus
  14. Waktu SD dulu aku juga pernah nabung di kantor pos. Lucu deh jadi pencatatnnya kayak pake sticker semacam perangko, cuma lebih panjang.

    BalasHapus
  15. #askbni pelopor fitur interaktif cocok buat anak muda yang doyan sosmed

    BalasHapus
  16. Aku dulu saat kuliah juga pake BNI mbak Ade... :D
    Oh itu askBNI diakses via twitter toh?

    BalasHapus
  17. Wah ini aplikasi yang sangat cocok untuk mahasiswa seperti saya nih. Kira-kira ada biaya tanbahan atau free ya?

    BalasHapus
  18. wah dengan aplikasi ini bisa makin mudah aja.

    BalasHapus
  19. Wah Baru tau kalau dulu bisa nabung di kantor pos. Saya kira baru mulai tahun ini aja

    BalasHapus
  20. sebaiknya sih memang sebelum bertanya teliti dulu infonya ya mbak, sudah ada belum informasi yg kita butuhkan

    BalasHapus
  21. artikelnya sangat kreatif dan bermanfaat thanks

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...