Entri yang Diunggulkan

10 Merk Matras Yoga yang Wajib Yogis Ketahui

Rabu, 25 April 2018

Ibuku dan Hari Kartini

[Keluarga] Hari Kartini baru saja berlalu ya ngomong-ngomong. Sekarang sudah tanggal 24 April soalnya. Tapi, aku tetap saja sih mau cerita tentang sesuatu seputar Hari Kartini. Ini ceritaku ketika aku masih kecil dulu. Cerita tentang ibuku yang sudah meninggal di tahun 2003 silam.

Apa hubungannya ibuku dan hari kartini? Ada hubungannya. Yaitu april. Iya. Hari Kartini diperingati di saat Kartini lahir tanggal 21 April. Sedangkan ibuku meninggal dunia tanggal 18 April 2003.  Itu hubungan antara ibuku dan hari kartini.

Tapi ada hubungan lain sebenarnya. Yaitu tentang cita-cita ibuku terhadap anak-anak perempuannya.

Ibuku, termasuk perempuan yang amat mendorong agar semua anak-anak perempuanku bersekolah yang benar dan kelak bekerja. Ibu selalu menasehati kami agar memiliki penghasilan sendiri. Terserah mau bekerja di kantor atau dari rumah, yang penting punya penghasilan sendiri.

"Menurut ibu, entenga, kalau bisa janganlah 100% bergantung pada suami. Punyalah sesuatu yang punya entenga dewek. Apalagi sudah cape-cape sekolah masa akhirnya cuma bergantung 100% sama suami."
(entenga itu bahasa dari dusunku, Musi Banyuasin. Artinya kalian).

Bisa jadi. nasehat ibu ini lahir dari pengalaman dia ketika berumah tangga dahulu.

Awalnya, ibuku adalah perempuan rumahan biasa. Menikah dengan suami yang tentara dan tinggal di kompleks tentara. Lalu, tiba-tiba suaminya berhenti dari karir militer (ayahku masuk militer karena ikut wajib militer setelah lulus dari IKIP Bandung. Setelah menduduki pangkat Kapten di Angkatan Darat, ayah memilih opsi ingin berkarir di sipil ketika Pemerintah kala itu, jaman Presiden Suharto, berencana mencanangkan REPELITA ke 2 di tahun 1974. Pemerinta kala itu percaya bahwa mereka yang berasal dari Militer memiliki latar belakang yang lebih stabil, terdidik dan disiplin untuk membantu menjalankan program pembangunan di Indonesia lewat REPELITA). Setelah berhenti dari militer, ayah bekerja di salah satu anak cabang PERTAMINA (kala itu), yaitu di Pelita Air Service (lini angkutan udara dari PERTAMINA, di tahun 1970-an s/d 1990 an).

Kami tidak lagi tinggal di rumah dinas tentara. Tapi tinggal di atas lahan sendiri. Dan ayah, membuka pintu untuk saudara-saudaranya dari Musi Banyuasin yang ingin merantau dan mencoba untuk mencari penghidupan di Jakarta.

Masalahnya, kehidupan keluarga ayahku belum terlalu stabil sebenarnya untuk bisa menjadi rumah singgah para saudara yang merantau di Jakarta. Nah, disinilah ibuku mulai mencoba untuk memasak.

Ibu membuat kue-kue, dan ayah menaruh kue-kue tersebut di kantin kantor PELITA AIR SERVICE . Ibu juga membuat pop corn aneka rasa, membungkusnya di dalam kantong plastik, lalu menitipkannya di kantin sekolah. Ibu juga menerima pesanan aneka macam cake dan kue-kue basah.

Ibuku memang pandai memasak kue. Mungkin karena dulu dia bersekolah di Akademi Perhotelan ya. Dimana dia akrab dengan teman Akademi Perhotelan Bandung yang mengambil jurusan Cheff Hotel. Kata ibu, dari teman-temannya inilah dia belajar memasak aneka macam kue.

Itu sebabnya, meski saudara-saudara dari Palembang banyak sekali yang tinggal bersama di rumah kami, penghasilan ayah cukup-cukup saja. Karena memang double income meski tidak banyak. Ya, cukuplah.

"Ada banyak yang bisa kita lakukan jika kita sebagai perempuan punya penghasilan sendiri.
Satu, kita nggak perlu amat tergantung sama suami. Suami kalau sudah terlalu digantungi banget, galak sengkiya-sengkiya. Kagek die ninggalke entenga. 😑...Dua. Kitek pacak meli baghang yang meski jat tapi ndak buat kesal laki. Kita bisa membeli macam-macam tanpa harus khawatir ngecewain suami yang sudah merasa ngasih uang tapi ternyata barangnya tidak sesuai harapan dia. Atau kita bisa memiliki barang dengan uang kita sendiri, suka-suka kita. Tiga, Kitek pacak sedekah bukan dengan uang rumah tangga entenga.  kita bisa memberi orang lain bantuan kapan saja tanpa harus khawatir telah menggunakan uang rumah tangga."

(okeh. Ibuku dulu memang doyan ngajak kami ngobrol dengan bahasa daerah; campur-campur dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia;  meski kami anak-anaknya tetap menjawab dan menanggapi dengan bahasa Indonesia. Itu sebabnya, bahasa daerah anak-anaknya pasif banget. Kami mengerti yang orang lain bicarakan tapi tidak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama. Tapi membalasnya dengan bahasa Indonesia.

Galak sengkiya-sengkiya artinya: suka mentang-mentang. (Mentang-mentang pintar, jadi merasa sok dibutuhkan. Itu contohnya).
Kagek die ninggalke entenga : nanti dia meninggalkan kalian untuk perempuan lain.
Kitek pacak meli baghang yang meski jat tapi ndak buat kesal laki artinya: kita bisa membeli barang yang meski jelek, tapi suami  tidak berhak untuk kesal.

Jadi, menurut ibuku alasan seorang perempuan harus pandai dan memiliki penghasilan sendiri adalah:

1. Jadi punya kesempatan untuk shopping barang sendiri.
2. Jadi punya kesempatan untuk bersedekah dengan uang sendiri.
3. Jadi punya kesempatan untuk menghargai diri sendiri karena tidak terlalu menadahkan tangan saja pada orang lain.


Disinilah aku melihat kesamaan antara cita-cita yang dimiliki oleh R.A Kartini dan ibuku.

R.A Kartini menginginkan agar perempuan Indonesia bisa maju dan tidak tertinggal di belakang. Beliau juga menginginkan agar perempuan Indonesia punya kesempatan mengecap pendidikan yang setara dengan laki-laki di jamannya.

Bedanya, ibuku fokus pada persamaan hak di bidang penghasilan, sedangkan RA Kartini pada persamaan hak di bidang pendidikan dan kiprah di masyarakat. eh.... berarti beda ya antara ibuku dan Hari Kartini itu? 😁😁😁😁😁. Ya, anggap saja beda tipis deh. Cuma masalah perbedaan cakupan kiprahnya saja. Ibu lebih berpikir praktis, R.A Kartini lebih berpikir ... superb deh.

Tapi, sekarang nih, ketika aku sudah memiliki anak-anak perempuan yang semakin beranjak besar (dalam arti bukan anak-anak lagi). Aku sepertinya mulai menerapkan apa yang ibuku ajarkan padaku dulu pada anak-anak perempuanku (termasuk ke menantuku malah sekarang... wekekekekek).

"Kalian... nanti ikuti kata suami selama suami tidak mengajak untuk mendurhakai Allah dan keluar dari syariat Islam). Tapi, milikilah penghasilan sendiri. Terserah darimana dan dalam bentuk apa. Karena dengan begitu kalian akan mendapat hiburan dalam rumah tangga kalian. Kita perempuan kadang pingin beli sesuatu, pingin jajan sesuatu, pingin me time dengan sesuatu yang baru bisa terwujud kalau ada duit. Nah.... dengan punya penghasilan sendiri, meski kecil, bisa jadi hiburan yang bikin bahagia."

ibuku tercinta






2 komentar:

  1. Setujy kalau perempuan punya uang sendiri bebas shopping keperluan Pribadi ya mbak. Alhamdulillah

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...