badge

Selasa, 13 September 2011

Mencari jejak puisi jenaka

Saya selalu kesulitan untuk menulis puisi. Entahlah. Bagi saya menulis puisi itu sulit. Bayangkan, pada sebuah pemandangan yang amat luas, kita harus mendeskripsikannya dalam sebuah kalimat yang bisa mewakili segala. Lalu, meletakkan napas di dalamnya agar kalimat yang minim itu tidak tampil datar dan tandus.

Ah. Saya tidak pernah bisa menulis puisi. Tapi, tidak bisa bukan berarti mengurangi kenikmatan untuk menyantap puisi yang terhidang. Sesungguhnya, dari puisilah kosakata yang saya miliki terus bertambah. Ada beberapa ekspressi yang mungkin amat biasa tampil dalam ruang cerpen atau novel, ternyata bisa tampil dalam bentuk kata baru yang tidak biasa tapi indah untuk dinikmati.




Lalu, ada sebuah arus genre tersendiri juga dalam menulis cerpen atau novel yang disinipun ternyata saya kesulitan untuk ikut berenang di dalamnya. Arus ini bernama Jenaka.

Wah. Ternyata, terus berkubang dalam keseriusan, membuat saya kehilangan sense of humor dalam menulis. Bagi saya ini parah, karena saya bercita-cita untuk bisa menulis apa saja. Itu sebabnya suatu hari saya menulis sebuah pesan di group The Indonesian Freedom Writers Selected, tentang pertanyaan, adakah sebuah puisi yang jenaka yang pernah ditulis oleh para anggotanya, dimana saya bisa belajar dari situ.

Surprise sekali. Bantuan segera datang. Ada beberapa yang memberi link kemana saya bisa belajar menulis sesuatu yang jenaka tapi tidak nyeleneh dan tetap memperhatikan keindahan berbahasa (ehem. Iya, sekali lagi ini bahasa puisi. Bukan bahasa cerpen atau novel, dimana keindahan bahasa harus terus dijunjung tinggi. Lagipula, saya kurang suka juga membaca sesuatu yang lucu tapi dipaksakan atau menyerempet ke arah pornoaksi. Dan ya, saya banyak menemukan tulisan yang kelucuan yang ditulis di dalamnya, ternyata hanya sekedar mengikuti trend saja, hingga akhirnya malah jadi tidak lucu alias garing... krenyes.. krenyes... Tidak. Pada tulisan-tulisan seperti ini, biasanya saya abaikan dan malah tidak ingin membacanya).

Berikut ini adalah rujukan beberapa puisi jenaka. Selamat menikmati.
------------------

Puisi jenaka a la Imron Tohari

1) Semangkok Gado-gado Bahasa

adalah cerita terune dan dedare*
berkasih kasih di bale-bale
Tidak takut yang namanya gonore*
Sex bebas, membudaya jadi image

Dasar memang jaman brekele*
Petuah tetua dianggap sepele
Etika moral dikata mana ketehe*
Malah triping geleng-geleng seperti lele

Berlagak kaya sok perlente
Lauk tempe dibilang kere
Tak peduli tangis emak babe
Utamakan gengsi jaga prestise

Ini sajak akhiran “E”
Boleh baca asal gak bete’
Bila dirasa penuh satire*
Orang betawi bilang, maafin aje*

( lifespirit 2009 )

aje*/saje (betawi) = saja
terune dan dedare* (sasak) = jejaka dan dara
brekele* = ruwet/kacau (bahasa gaul! )
mana ketehe* (bahasa gaul) = mana ku tahu
gonore* = jenis penyakit kelamin akibat bakteri gonokokus dan mudah menular akibat hubungan seksual )
satire* = gaya bahasa dalam kesusastraan yang mengandung sindiran halus.

2) Nah, Lho ( Puisi Jenaka Berakhiran O )

Cinta ala tarian poco-poco
Kadang liar bak rodeo
Demi puaskan namanya libido
Satu cinta, dibilang kuno

A ha, ingat petuah Joyo Boyo
Nafsu shahwat, orang pintar bisa jadi keseleo
Politisi,Publik figur, bahkan dibuat melongo
Lihat siseksi bibirnya membentuk huruf O

Ai ai, soal kerjaan bisanya membeo
Pening kepala pikiran porno
Berdalih siri,nyatanya kumpul kebo
Para ulama pun hanya bisa bilang lho

Ini sajak bukan torpedo
Sengaja dibuat berakhiran O
Bila tersindir jangan berlagak bego

Tobat nasuha mohonlah Ridho

( 2008 )

3) Jangan Dikira Aku Perempuan Bego ( Puisi Jenaka Berakhiran O )

Kisah mula pertemuan di toko
Kau dekati aku dengan wajah melo
Bertutur lembut ala romeo
Membuatku melayang ribuan kilo

Oh, aku terharu kau beri kado
membuatku melongo berkata lho

Tapi disayang cintamu cinta libido
aku terhenyak saat tahu dirimu gigolo

Ini rasa bagai suara sumbang piano
Jadi jangan kau kira aku bego
Bisa kau permainkan seperti burung beo

Temaram senja berteman radio
Kudengar lagu bengawan solo

Itulah kenanganku di kota Solo
Kala diriku berstatus jomblo

( 2008 )

----------------------
Puisi jenaka a la Nina Karmila (hebatnya, dia seorang dokter spesialis penyakit dalam)


** Pencuri Hati **

by Nina Karmila on Friday, 11 March 2011 at 07:23

Dalam ruang pengadilan
Berlangsung sebuah persidangan
Kau duduk di kursi terdakwa
Aku sebagai saksi korbannya

Tuduhan atasmu adalah mencuri
Kau mencuri sekeping hati
Dan masih juga berkilah diri
Tiada mau kau mengakui

Benarkah telah tercuri hatimu ?
Hakim pun bertanya padaku
Seluruh hatiku tercuri hilang
Kini menganga meninggalkan lubang

Hakim memberikan saran
Agar hatiku kau kembalikan
Aku tak pernah mencuri hati
Mengembalikan pun aku tak sudi
Dia juga telah mencuri hatiku
Diam diam tanpa ku tau, jawabmu

Pak Hakim melongong bengong
Berharap ada yang menolong
Kasus mencuri sudah lazimnya
Saling mencuri hati itu tak biasa

Akhirnya vonis hakim dijatuhkan
Kau dan aku menjalani hukuman
Seumur hidup memadu cinta
Di dalam penjara asmara .....

10 Mar 2011




** Krupukku sayang **



by Nina Karmila on Saturday, 05 March 2011 at 15:41





Krupukku sayang
By: Nina Karmila

Kala hatiku sumuk
Aku mencari kerupuk
Ku gigit sampai remuk
Lampias hati yang amuk

Waktu hatiku senang
Krupuk membuatku riang
Kugigit dengan sayang
Kriuknya seperti berdendang

Saat ku jatuh cinta
Krupuk ku ajak serta
Kugigit dengan mesra
Seolah menggigit si dia

Krupukku sayang
Krupukku malang
Temanku dikala susah dan senang

5 Mar 2011





** Setan Jembalang **



by Nina Karmila on Monday, 07 March 2011 at 09:38





Setan Jembalang
By : Nina Karmila

Kau seperti bayang bayang.
Mengikutiku setiap waktu
Kau tak mampu ku lekang
Menempel hatiku layaknya benalu

Apakah kau setan jembalang
Ataukah sejenis jailangkung
Hatiku serasa terhalang
Terjerat dan terkungkung

Jika kau setan jembalang
Segeralah kau terbang
Ku ingin bebas melayang
Tanpa cinta yang membayang

Jika kau setan jailangkung
Pergilah kau ke neraka
Hatiku tak mau tertelikung
Ku ingin selalu bahagia

7 Mar 2011

---------------------------------------------------------

Puisi Jenaka a la Dini Kaeka Sari

** Burung Gereja **

Satu,
dua,
tiga....enam!
Enam burung gereja hinggap di taman
rumput cepak yang baru kupangkas
membuat mereka bersemangat
lompat!
loncat!
Manggut-manggut!
patuk-patuk!
goyang-goyang pantat
lalu ekornya bergetar
dan,
Chik!
satu burung gereja terbang mematuk pipiku!

(Dini kaeka sari, Banyuwangi, 260810: 12:20)

**Ayo Bangun**

subuh gaduh
pletak pletak air di bumbungan
nyala kran
ting tang piring di cucian
putaran mesin cuci
dan desisan dalam penggorengan
kalian?
masih tidur?

(dini kaeka sari, Gresik 10082010)

-------------------
Puisi Jenaka a la Penjejak Ilham

** Tole Mau Pacaran**

Monitor tole kedap kedip
akibat listrik yang lagi diirit
alamak, ini kan malam minggu
selembar baju lusuh urung kering
mai diseterika, listrik di rumah pas-pasan
tenaganya habis, nafasnya ngos-ngosan
nafasnya menderu, seperti rangkaian gerbong kereta yang tiap waktu ajak joged gubuk reot
aduuh gimana ini, wati sudah menunggu di kuburan
tempat kami langgana untuk pacaran.
sabar ya sayang, mas panggil dulu bulan
untuk di pinjam teriknya, siapa tahu...
baju lusuh mas mau berdamai dan merelakan
tubuhnya diperas hingga kering

(penjejak ilham, 6 ferbruari 2010)

**tole pengen kawin**

kuburan, malam ini pasti becek
kasihan wati, barusan dia sms
sandal jepitnya lengket seperti ular keket
tanah merah di kuburan jadi seperti dodol
lembek kenyel ngeyel bikin jengkel...
cepetan mas.... sms wati, mangkel

sabar ya nduk, sebentar aku tiba
bajuku sedikit lagi kering, bulan tidak ada
dia mengutus angin untu memeras bajuku
tak usah disetrika tak apalah, pacarku ini sederhana dan mencintai dengan hati
wati bilang.... "biarlah mas, biar kumuh asal hatinya bersih."

ahh... aku cinta kamu Watiku, setahun lagi pasti aku kawini kau pujaan hatiku
celenganku yang satu hampir penuh
aku sudah belikan celengan yang baru
setahun pasti sudah terisi penuh...
bekal kita kawin, seperti orang-orang itu

kita tanggap layar tancap saja ya nduk, dan
gerobak bakso dekat pintu kuburan, langgana kita...
tiba-tiba handphone berbunyi, "halloooo....mas, cepetaaaan kakiku kesemutaaaaannn!"

(penjejak ilham, 6 februari 2010)

-----------------------------------

Pengumpul semua tulisan ini dan menulisnya ulang: Ade Anita

Khusus puisi yang ditulis oleh DIni kaeka sari dan Penjejak ilham, dikutip dari buku puisi mereka berdua yang berjudul, "Mengeja Pelangi", yang diterbitkan lewat www.nulisbuku.com.

4 komentar:

  1. Hi! I just want to offer you a huge thumbs up for the excellent info you have got right here on this post.
    I am returning to your site for more soon.

    Feel free to surf to my web site - http://medlandiya.com/

    BalasHapus
  2. each time i used to read smaller content
    that as well clear their motive, and that is also happening with this article which I
    am reading at this time.

    Also visit my web page - chat Chat free

    BalasHapus
  3. What's up, everything is going sound here and ofcourse every one is sharing facts, that's
    truly fine, keep up writing.

    Here is my blog: cam 4

    BalasHapus
  4. Hmm is anyone else having problems with the pictures
    on this blog loading? I'm trying to figure out if its a problem on my end or if it's the blog.
    Any suggestions would be greatly appreciated.

    Look at my site sex free

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...