Langsung ke konten utama

Ketika Rasul Menjadi Unta

copas dari teman karena aku ingin menyimpannya di deret notesku... suka banget, mengharukan.

Ketika Rasul menjadi ‘unta’ (empat dari tujuh rangkaian tulisan memperingati maulid nabi)

Alkisah, suatu hari Rasul berjalan di lorong gang menuju Masjid, lalu berjumpa dengan anak-anak yang tengah bermain. Saat melihat Rasul, anak-anak segera merangkulnya seraya berkata: “كن جملي”

“Ayolah jadi untaku.!” Karena kerap melihat Hasan dan Husain melakukan hal yang sama pada Rasul, mereka pun menginginkanya. Rasul dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka.




Di sudut lain, para sahabat tengah menantikan Rasul untuk memimpin shalat berjamaah di masjid. Bilal pun datang untuk menjemput beliau. Namun Rasul bersabda: “Bagiku, terlambat waktu shalat lebih baik dari pada membuat hati anak-anak bersedih” Rasul lalu meminta Bilal datang ke rumahnya, mengambil makanan untuk anak-anak. Bilal kembali dengan membawa beberapa butir buah kenari, lalu diserahkan pada Rasul.

Kepada anak-anak itu Rasul berkata: " ا تبيعون جملكم بهذه الجوزات ؟" “ Maukah kalian menjual untamu dengan buah-buah kenari ini?” Anak-anak menynggupi tawaran rasul dan melepaskan rangkulannya. Rasul berjalan ke a rah masjid sambil bercanda: “Semoga Allah merahmati saudaraku, Yusuf. Ia dijual dengan harga beberapa dirham sementara aku terjual dengan beberapa kenari”

Kisah ini kubaca dari sebuah artikel. Meski tak mencantumkan sumber aslinya, namun, latar dan bahasa yang digunakan mempengaruhiku untuk mengatakan bahwa ini memang potongan dari kisah hidup sang Nabi yang welas asih itu. Membaca cerita ini, membuat hatiku bergetar hebat: “Ah…Rasul, engkau memang manusia langit. Tapi, perilakumu begitu membumi hingga bisa menjadi tauladan bagi seluruh ummat”

Setidaknya, ada tiga catatan yang bisa kurenungkan dari kisah di atas:

1. Pentingnya bermain dengan Anak

Sangat mengagumkan menurutku, Rasulullah, seorang kepala negara dan rujukan agama dengan setumpuk agenda dan kesibukan, menyempatkan bermain, tidak hanya dengan keluarganya juga anak-anak lain. Jabir bin Abdullah pernah menuturkan: “Rasulullah selalu bermain dengan anak-anak para sahabat juga memangku mereka” (Nihayatul masul fi riwayatir Rasul, juz 1, 340). Hal yang sama juga diakui sahabat Anas bin Malik dalam Shahih Bukhari (8/37): “Nabi Muhammad adalah manusia termulia akhlaknya. Aku memiliki adik yang baru saja disapih. Oleh karena itu, aku menjaganya. Setiap kali Rasul melihat adikku, beliau berkata: “Pasti kau merasa sakit karena disapih” lalu Rasulpun bermain dengannya ”

Yang lebih mengagumkan lagi, Rasul bahkan menunda waktu shalat, sebuah ajang perjumpaan dengan sang ‘kekasih’ demi menyelamatkan hati anak-anak agar tidak terluka dengan bermain bersama mereka. Dalam keseharian, betapa sering kita mengecewakan putra putri kita hanya karena tak ingin diganggu ketika masak, mengetik di depan komputer atau menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya.

Belakangan, dalam teori psikoloi anak, disebutkan bermain adalah hak anak yang sam pentingnya dengan hak pendidikan. Karena lewat permainanlah, sebenarnya seorang anak sedang menangkap berbagai stimulus untuk perkembangannya. Tepat sekali kiranya, Rasul begitu memberikan prioritas untuk bermain bersama anak-anak.

2. Berlaku seperti kanak-kanak di hadapan mereka
Saat kubaca bagian “Ayolah jadi unta untukku” senyumkupun mengembang, teringat suami yang sering menjadi ‘kuda’ untuk putraku. Sebenarnya, saat Rasul berperan menjadi tunggangan bagi anak-anak, seakan ingin berpesan, bermianlah seperti keinginan mereka. Dalam wasailusyiah (juz 15, 230) disebutkan: “Siapa saja yang sedang berada di dekat anak, hendaknya ia berperilaku seperti kanak-kanak”

Anjuran Rasul ini juga selaras dengan teori perkembangan anak yang menganjurkan orang tua dan para pendidik untuk berkomunikasi dengan anak sesuai dengan tingkatan umur dan perkembangan anak. Selain anak akan merasa menemukan teman sejati , juga akan belajar memberikan kepercayaan kepada sang orang tua.

3. Memeberikan alternatif, bukan larangan
Akhir potongan kisah di atas cukup menarik, bagaimana Rasulullah memberi tawaran buah-buah kenari untuk anak-anak sebagai pengganti permainan yang mereka inginkan. Konon, jika orang tua melarang langsung, anak akan belajar pembangkangan, sebaliknya bila menawarkan alternatif anak akan belajar menerima hal berbeda dengan cara yang bijak. Saat diberikan alternatif, anak tidak merasa tertolak, bahkan merasa diperlakukan istimewa.

Wallahu a'lam bisshawab

By Afifah Ahmad

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…