Selasa, 31 Juli 2018

Latihan Menyemai Benih dalam Pot

[Lifestyle] Tinggal di kota besar, ada satu hal yang sepertinya terlewatkan. Yaitu, kehilangan kesempatan untuk mengajarkan pada anak cara bercocok tanam. Dibilang penting ya nggak penting, dibilang nggak penting ya penting sih masalah bercocok tanam ini.

Sebagian orang, memperlakukan cara bercocok tanam ini sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Untuk hobi, untuk mengisi waktu luang, atau untuk iseng-iseng saja. Sebagian lain memperlakukan cara bercocok tanam ini sebagai bagian dari sandaran hidup mereka. Untuk mencari uang, bagian dari pekerjaan agar punya penghasilan. Anak-anakku sepertinya masuk ke kelompok pertama.

Aku termasuk perempuan yang biasa-biasa saja terhadap kegiatan bercocok tanam. Dibilang suka ya biasa-biasa saja, dibilang nggak suka eh ternyata suka juga sih. Suka jika melihat ada yang berwarna hijau di halaman. Sesekali ada warnanya karena berbunga atau berbuah. Sesekali terhirup wangi daun basah yang tertimpa embun atau bulir hujan masuk ke dalam rumah. Sesekali tercium wangi bunga yang merebak ke seluruh rumah ketika angin datang berhembus. Segarnya itu tidak terbeli oleh apapun.

Dan makin terasa nikmat ketika mendengar suara burung bernyanyi di atas dahan pohon yang ditanam di rumah. Terangguk-angguk karena dahannya bukan dahan yang kuat dan besar dan kekar. Tapi hanya dahan yang kecil dan terlihat rapuh tapi ternyata kuat menyanggah tubuh si burung kecil. Sesekali terlihat bunglon yang berjalan mengendap-endap dan merasa yakin bahwa penyamaran mereka tidak terlihat oleh siapapun. Hahaha. Sudah. Pura-pura nggak lihat saja biar si bunglon senang.

Dan yang paling senang itu jika datang seekor capung hingga di atas daun lalu terbang mengitari pohon.
Alhamdulillah.
Konon kabarnya, capung itu bisa menditeksi sumber air. Jadi, jika ada capung di dekat halaman kita, insya Allah sumber air di halaman rumah kita masih tersedia cukup banyak. Nah. Curiga deh kalau sama sekali nggak pernah ada capung yang datang ke rumah kita. Itu berarti pertanda, persediaan air tanah di tempat itu mungkin sudah amat tipis atau bahkan sudah tidak ada.

Nah. Semua hal-hal itu yang membuatku senang dengan keberadaan aneka tanaman di rumahku. Tapi, untuk melakukan kegiatan bercocok tanam, itu tidak serta merta hadir sih.

Aku sering malas jika harus mengenakan pakaian serba panjang dan jilbab lebar lalu duduk atau mondar-mandir bercocok tanam di halaman. Gerah, dan jika sudah terlalu lama merasa gerah, badan jadi gatal.
Jadi solusinya adalah, aku sering memanggil tukang tanaman untuk menanam berbagai macam pohon yang ingin aku pertahankan atau aku tanam di halamanku. Selanjutnya paling aku menyiramnya saja.

(FYI: tulisan ini aku buat tentang ceritaku terhadap tanaman sebelum suamiku memiliki hobi baru: hobi bercocok tanam di rumah yang muncul sejak tahun 2018).

Nah. Itu sebabnya, ketika putraku menikah dan istrinya ternyata selama ini terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam, mulai deh. Istrinya putraku merasa ada yang hilang jika tidak menyentuh tanaman sepertinya. Hehehe.

Istri putraku ini, namanya Dhanti, berasal dari Kisaran, Sumatra Utara. Di Kisaran sana, istri putraku ini bercerita bahwa halaman rumahnya lumayan luas dan kebetulan bapaknya suka bercocok tanam. Itu sebabnya Dhanti terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam.

Itu sebabnya, beberapa bulan setelah menikah, Dhanti mulai memperkenalkan anak-anakku pada kegiatan baru: bercocok tanam di dalam pot.

Latihan Menyemai Benih dalam Pot


Mengapa bercocok tanam di dalam pot? Karena lahan untuk bercocok tanam di atas tanah langsung semakin minim. Halaman rumahku tidak luas. Hanya 2 x 4 meter saja. Itupun sudah ada tanaman besar di atasnya, seperti tanaman salam dan tanaman kemuning. Sisanya diisi tanaman lidah mertua dan daun pandan serta dolar-dolaran. Karena minimnya lahan untuk bercocok tanam, maka alternatifnya adalah bercocok tanam di dalam pot.

Dimulai dengan latihan menyemai benih dalam pot.


Pansy Grow Kit ini, Dhanti beli di Ice hardware.
Sesampai di rumah, langsung deh, Dhanti dan adik-adik iparnya, yaitu anak-anakku, kasak-kusuk excited untuk memulai menyemai benih.

Aku hanya memperhatikan saja dari jauh. Tidak ikut serta kesenangan mereka. Hehehe. Waktu itu, tahun 2017 bulan oktoberan, aku selalu berpikir untuk memberi ruang dan waktu pada menantuku ini agar bisa segera berbaur dengan adik-adik iparnya. Karena kebersamaan itu insya Allah akan menerbitkan rasa kasih dan sayang.

Lalu kegiatan dimulai. Yaitu dengan membongkar isi paket grow kit ini.
Isinya terdiri dari tanah subur yang telah diberi pupuk, dinamakan media tanam. Dan sebuah wadah dari aluminium yang cantik serta beberapa bulir benih siap tanam.

Baiklah. Mari kita mulai.










Nah, setelahmedia tanam disiapkan, tabur deh benihnya di atas pot. Beri air sedikit, lalu jangan lupa, beri tanggal kapan kalian mulai menanamnya. Ada sebuah papan tulis kecil yang siap tancap memang. Bisa sih ditulis apa saja. Seperti pesan, "hati-hati di jalan" atau "Rajin pangkal Pandai". Tapi buat apa? Kan nggak ada hubungannya ya. Jadi, oleh anak-anak ditulis tanggal kapan mereka mulai menanam benih tersebut.

Lalu disemprotkan air secukupnya saja. Jangan sampai terendam air.

Setelah semua beres, pot berisi benih ini ditaruh di atas tempat jemuran oleh anak dan menantuku. Mereka bilang, agar terkena sinar matahari langsung. Tapi, berhubung ada atap fiberglass warna buram di atas tempat jemuran, maka sinar matahari langsung tidak bisa mengenai tanaman ini. Akibatnya, ketika malam hari ternyata turun hujan cukup besar, di siang hari sepulang dari sekolah, Hawna yang masih diliputi rasa gembira ternyata "benih pertama yang coba dia tanam", menengok benihnya dan berteriak kaget

"Yaaaa.... tanamanaku terendam air!!!"

Langsung deh gempar. Dhanti tergopoh-gopoh dan bengong melihat air yang mulai merendam benih yang baru ditanam kemarin.
Lalu, perlahan, Dhanti dan Hawna mulai mengambil air yang merendam pot hati-hati untuk dibuang. Jangan sampai dalam setiap sendok air yang dibuang tersebut terdapat benih yang amat kecil tersebut. Akhirnya, air yang merendam itu pun berhasil diatasi. Masalahnya, media tanam menjadi terlalu basah.

Dhanti langsung berkata,
"Kayaknya, kita harus menjemur tanaman kita ini di bawah matahari langsung deh. Dengan begitu media tanamnya bisa kering secara alami. Kalau di tempat jemuran kan ada atap ya, jadi panasnya tidak langsung. "

Akhirnya, kedua anak ini menuju ke halaman depan rumahku. Mencari posisi terbaik untuk menaruh tanaman dalam pot mereka yang masih berupa benih tersebut. Dan bertemulah dengan ide: menaruhnya di atas dinding pagar depan rumah.

Iya. Pagar depan rumahku memang berupa tembok dengan permukaan rata setinggi 1 meter. Di tengahnya ada lubang tempat angin masuk ke dalam rumah, sekaligus untuk terhubung dengan dunia luar. Karena pagar tidak boleh amat tertutup. Nah. Di atas pucuk pagar tembok tersebutlah pot berisi benih ini diletakkan oleh Dhanti dan Hawna.

"Hari ini terkena matahari, insya Allah airnya hilang. Tanahnya tidak terlalu lembab lagi, nanti benihnya bisa tumbuh deh."

Kalimat yang diucapkan Dhanti ini menerbitkan seulas senyum di wajah Dhanti dan Hawna. Mereka semua punya harapan baru. Aku senang melihat kedua saudara yang baru dipertemukan ini akrab dan saling menguatkan satu sama lain.

Sore harinya, ketika Dhanti pulang kerja, Dhanti ingin memasukkan pot itu agar berada di dalam rumah. Seharian terjemur di bawah matahari rasanya sudah cukup. Jika tidak dimasukkan ke dalam rumah, jika malam hari turun hujan besar, bisa-bisa pot akan terendam air lagi.

Tapi apa yang terjadi?
POTNYA DICURI ORANG!!

Innalillahi wa innailaihi rajiun.
Sudah.
Demikianlah akhir dari kegiatan latihan menyemai benih dalam pot yang dilakukan oleh anak-anakku di rumah.
Bukan happy ending memang. Maaf ya. Kami juga bersedih tidak bisa menulis kisah happy ending. Jakarta memang kejam euy. Masa pot sederhana, dengan tanaman yang belum ketahuan bentuknya seperti apa, masih juga menarik perhatian pencuri?

Yang bisa dilakukan adalah berpikir positif: oh, mungkin si pencuri ingin memberi hadiah pada anak-anaknya berupa pot yang berisi benih tanaman. Mungkin halaman rumah si pencuri lebih mungil dari halaman rumah kami jadi si pencuri tidak bisa memberi latihan bercocok tanam pada anak-anaknya. Mungkin si pencuri tidak punya cukup rezeki untuk membeli pot sederhana pada anak-anaknya.

Semoga keluarga si pencuri dimaafkan oleh Allah SWT.
Semoga tanaman itu sekarang sudah bisa menebar manfaat pada lingkungan tempat benih itu tumbuh.
Aamiin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Entri yang Diunggulkan

Kapan & Dimana Doa Insya Allah Terkabul

Pengikut