Jumat, 26 Oktober 2018

Twitter sebagai Media Penyampai Pesan

[Lifestyle] Kalian tahu, ketika aku masih kecil, belum ada yang namanya media sosial. Internet masih sesuatu yang mahal. Komputer masih besar sekali induknya (baca: CPU). Lalu, tentu saja teknologi berkembang terus hingga berawal dari telegram yang digabung dengan telepon, mulai muncul ide untuk melakukan percakapan jarak jauh langsung yang dihubungkan dengan internet. Yaitu dengan memanfaatkan pengiriman kode-kode huruf-huruf berbentuk kata dan kalimat pada seseorang yang jaraknya jauh sekali.

Dalam perkembangan tersebut, bermunculanlah aneka macam media yang bisa dipakai oleh orang untuk saling berkirim pesan tanpa harus mendengarkan suara atau melihat fisik. Mulai dari pesan pendek lewat handphone, berkembang lewat chatting di room chat khusus, hingga akhirnya muncul twitter dan facebook. Keduanya mengusung penyampaian kalimat pendek yang bisa dikirim dalam satu waktu dan ditujukan untuk orang banyak sekaligus. Dulu, baik facebook maupun twitter memberlakukan batas maksimal jumlah karakter dalam satu kolomnya. Bedanya, facebook lebih banyak karakternya dibanding twitter yang dibatasi hanya 140 karakter saja. 


Lalu teknologi terus berkembang dan facebook semakin berkembang dengan memberikan fitur-fitur yang luar biasa. Awalnya, facebook itu hanya membatasi jumlah karakter di status facebook yang bisa diisi dengan 500 karakter saja. Aku masih mengalami nih lagi asyik nulis eh tiba-tiba mentok. Hahaha.
Dari 500 karakter, lalu berkembang menjadi 5000 karakter. Lalu orang-orang mulai mengisi halaman status facebook dengan aneka macam tulisan selain status kabar hari ini saja. Bisa diisi dengan opini, puisi, cerita pendek, atau iklan penawaran yang panjangnya bisa hingga 5000 karakter. Hmm. Untuk gambaran saja ya. Cerita pendek yang kalian baca di majalah-majalah itu, umumnya terdiri dari  10.000 karakter atau sekitar 5000 kata. 
Dari 5000 karakter, lalu berkembang terus hingga akhirnya sekarang, status facebook itu sudah bisa menampung 60.000 karakter lebih. Tepatnya, 63.206 karakter. 
Jumlah batas mutlak baru ini sebenarnya adalah 63.206 karakter. Jika lebih dari itu, akan muncul pesan yang memberitahukan bahwa Anda melebihi batas karakter, lalu Facebook menyarankan Anda untuk mengganti status update tersebut menjadi Notes,,,,,
Lalu mengapa Facebook memilih 63.206 karakter?
Bob Baldwin, seorang insinyur di Facebook menjelaskan:
"Saya menentukan batas mutlak tersebut berdasarkan sesuatu yang unik dan berhubungan dengan komputer. Facebook … Face Boo K … hex(FACE) – K … 64206 – 1000 = 63206 .”
Sementara Twitter, sepertinya tetap mempertahankan keterbatasan jumlah karakternya meski tidak sesedikit dahulu. Jika dahulu kita hanya bisa menulis sebatas 140 karakter saja (jadi kurang sedikit daripada isi sms handphone yang bisa 160 karakter), sekarang mengalami pertambahan menjadi 280 karakter. 

Penemu Twitter, Jack Dorsey, mengatakan bahwa :


Dalam penelitian yang dilakukan Twitter, banyak orang yang mengalami kesulitan mengekspresikan pernyataan mereka hanya dengan 140 karakter. Sementara karakter terbatas ini tak menjadi masalah bagi pengguna bahasa Jepang, Korea, atau China.Sebelum diterapkan pada semua pengguna, Twitter akan melakukan percobaan ini kepada kelompok kecil untuk penggandaan karakter pada fiturnya ini. Pengujian akan ditunjukan kepada 328 juta pengguna aktif Twitter. 
"Kami ingin setiap orang di seluruh dunia mudah mengekspresikan diri mereka di Twitter, jadi kami melakukan sesuatu yang baru, kami akan mencoba batas yang lebih panjang, 280 karakter," ujar Aliza Rosen, Manajer Produk Twitter, dalam tulisannya di blog Twitter. Sebab mereka karakter huruf mereka bisa memuat lebih banyak emosi dan pernyataan. Alhasil, hanya 0,4 persen cuitan dalam bahasa Jepang yang mencapai 140 karakter. Sementara , ada 9 pesen cuitan dalam bahasa Inggris yang mencapai 140 karakter penuh. 
Dilansir dari Ars Technica, penambahan batasan karakter ini kemungkinan akan menambah keluasaan pengguna dengan bahasa Inggris atau bahasa lain untuk membuat cuitan lebih panjang dengan nyaman. (dikutip dari cnn indonesia dot com, tepatnya link ini https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170927135453-185-244353/cuitan-di-twitter-kini-bisa-280-karakter) 

ini contoh penulisan kalimat sama dalam berbagai bahasa. Jadi, bahasa yang sama, di bahasa jepang bisa sedikit sekali memang butuh karakternyba, tapi di bahasa lain ngepas banget itu jatah 140 karakter; bahkan di bahasa spanyol kurang deh jatah 140 karakter itu. (gambar diambil dari cnn indonesia dot com)


Jadi intinya, twitter ke depannya memang tidak akan menambah banyak keleluasaan jumlah karakter di statusnya karena cir khas twitter memang "KERINGKASAN". 

Pertanyaannya, apakah dengan terbatasnya ruang menulis karakter di twitter membuat twitter tidak efektif untuk menulis pesan?
Ya nggak juga sih. Justru karena sedikit itu pesan yang disampaikan di twitter jadi terbaca utuh dan jarang di skip orang. Dampaknya, twitter tetap dianggap media online yang masih efektif untuk mensosialisasikan sesuatu atau untuk menyampaikan pesan. Karena untaian kata yang ditulis di twitter itu singkat padat dan jelas. Tidak bertele-tele dan langsung to the point.

Nah, suatu hari ini, aku membaca status temanku di facebook yang bertanya twitter itu masih pengaruh nggak sih untuk kehidupan masyarakat internet? Menurut kalian bagaimana? Kalau menurutku sih masih pengaruh.



Lebih lengkapnya, inilah ini status facebook yang aku tulis tahun lalu itu. Tepat 1 tahun lalu, yaitu tanggal 26 Oktober 2017.

temanku bertanya, "emang masih musim ya De mainan Twitter? emang ngaruh buat hidup lo?"
Well. Aku sudah 3 kali alhamdulillah merasakan manfaat ngetwit di twitter. Aku perlakukan twitter sebagai bagian dari wadahku buat melakukan class action: menyuarakan ketidak adilan yang aku alami karena aku nggak tahu mesti ngadu kemana lagi. Alhamdulilah ketiganya langsung diberi tanggapan dan masalah selesai dengan cepat. Ada yang hari itu juga diberikan tindakan hingga aku bisa memperoleh hakku kembali. Ada yang harus difollow up dulu karena melibatkan beberapa orang terkait sesuai dengan apa yang aku adukan.

Pertama kali aku menulis protes di Twitter itu, adalah ketika aku merasa ditipu oleh supir taksi.

Jadi, ceritanya aku memesan taksi lewat aplikasi online. Eh, nggak tahunya si supir taksi tidak menjemputku tapi malah mengambil orang lain tapi mengakui sudah menjemputku.

Wah. Aku jelas tidak terima dong karena merasa sudah lama menunggu karena berharap dijemput (mana hujan pula waktu itu). Jika memang si abang supir tidak mau mengambil pesananku, kenapa tidak dicancel saja olehnya, kenapa malah ngasih harapan padahal harapannya palsu? Aku kan sudah berharap banget waktu itu (okeh ade, ini bukan curhat tapi lagi nulis artikel di blog tentang twitter, ingat).

Langsung deh. Aku skrinshut pesananku, juga skrinsut foto ID si aband supir, juga skrinsut perjalanan dia melanglang buana dengan penumpang yang orang lain itu, bukan aku. Lalu aku mulai menulis di twitter (maaf, tidak akan aku tunjukkan isi protesku itu karena masalah sudah selesai dengan damai).

Aku buat perencanaan banget tuh ketika menulis di twitter itu. Aku menata seluruh kata-kataku, menghitung dengan cermat jumlah karakternya dalam setiap kolom yang akan dikirim dan karena keterbatasan karakter jadi aku membuatnya dalam rangkaian model kuliah twitter alias kul-twit. Jadi, meski ada beberapa isi berita twitter (dimana 1 berita terdiri dari 140 karakter; waktu itu twitter masih memberlakukan 140 karakter), maka antara berita satu dengan berita lain tetap diberikan tema bersambung jadi meskipun ada yang membaca dan langsung membaca di berita ke 3 atau berita ke 8, dia tahu bahwa aku sedang menulis berita yang sebaiknya dibaca berurutan jika ingin tahu lebih jelas.

Hasilnya? Siang aku share kul-twit-ku, sore, aku sudah mendapat tanggapan dari CS dari perusahaan taksi online tersebut lewat DM mereka. Besoknya, aku sudah ditelepon dan berbicara lewat telepon dengan CS yang menampung pengaduanku. Besoknya lagi, aku kembali ditelepon oleh CS pusat perusahaan tersebut, suaraku direkam dalam sebuah pembicaraan berbentuk konference (dilakukan oleh lebih dari 3 orang). Pekan depannya, keluar permintaan maaf resmi dari perusahaan tersebut dan kasus pun berakhir dengan damai.



Kasus lain, ketika aku datang pada sebuah rumah makan yang memiliki sebuah promo beli paket tertentu akan mendapat hadiah promo berupa tumbler. Wah. Aku kan paling suka tuh kalau beli sesuatu eh dapat bonus apa gitu. Hahaha. Jadi, aku pun mengantri, panjang dan lama. Tapi begitu sampai di kasir, meski paket yang dipromosikan aku sudah beli, ketika aku selesai membayar aku menanyakan, mana Tumblernya? Kasir berkata tidak bisa dapat karena paket yang aku pilih itu adalah paket untuk anak-anak.

"Memangnya ada tulisan mbak bahwa paket anak-anak itu tidak boleh dibeli oleh orang dewasa?"
"Tidak ada sih bu."
"Nah, terus? Kenapa karena orang dewasa yang beli maka hadiah tidak diberikan?"

Kasir mulai agak kelagapan hingga muncullah supervisor di belakangnya dan bertanya pada kami kenapa? Karena antrian memang jadi terhenti karena protesku itu. Kasir menjelaskan pada supervisor dan supervisor pun mengambil alih dengan memberikan jawaban,

"Maaf bu. Seharusnya jika memang ingin hadiah tumbler itu, ibu bilang sebelum membayar di kasir. Sekarang sudah di issued jadi sulit untuk diklaim. Maaf ya bu."

Ujar si supervisor ramah. Tapi aku malah jadi dongkol. Aku tidak bisa memaafkan begitu saja. Menurutku tidak ada ketentuan itu tertulis di keterangan mereka tentang hadiah yang akan dibagikan.

Akhirnya, aku pun mengabadikan gambar kuitansi yang sudah aku bayar, isi nampan yang aku terima, juga papan iklan yang memberitahu tentang hadiah langsung dan sekaligus mencatat nama mbak kasir dan mbak supervisor. Lalu, sambil makan aku pun mulai merangkai kalimat protesku di twitter.

Prinsip protes versi aku itu adalah, buat prolog yang manis dan menarik. Setelah itu, mulai giring sedikit demi sedikit tentang bagaimana kita merasa kecewa dan kenapa kecewa. Tulis dalam rangkaian kul-twit lebih dari 10 berita kultwit. Tanpa share gambar apapun tapi menggunakan hashtag tertentu dan memberikan mention ke akun twitter rumah makan tersebut.

1 jam kemudian, tiba-tiba aku di DM oleh CS restoran itu. Rupanya, karena restoran itu merupakan rumah makan anak cabang, maka oleh rumah makan pusat, reputasinnya di internet selalu dijaga dengan baik. Itu sebabnya ketika ada letusan protes yang berpotensi menjatuhkan nama baik rumah makan tersebut maka sesegera mungkin diatasi.

Di DM twitter (DM itu direct message) mereka meminta nomor handphone yang bisa dihubungi untuk mengkonfirmasi cuwitan protesku. Aku pun memberikan nomor handphoneku pada mereka. Beberapa menit kemudian mereka menelepon untuk bertanya lebih lanjut kronologi kejadiannya. Lalu menanyakan bukti, apakah aku punya bukti untuk protesku tersebut. Aku pun mengirim semua bukti yang sudah aku kumpulkan lewat DM twitter pada mereka. Lalu aku belanja dan jalan-jalan. Aku pikir kasus ini selesai. Ternyata, 2 jam kemudian, CS pusat rumah makan tersebut menghubungi aku lagi. Mereka meminta maaf secara resmi. Wah. Aku surprised. Lalu mereka meminta agar aku kembali ke rumah makan lagi untuk menerima permintaan maaf dan tumbler yang memang jadi hakku.

Aku pun kembali ke rumah makan tersebut dan menemui sebuah nama yang diminta untuk ditemui oleh CS pusat. Menunggu sebentar, ternyata yang datang bukan hanya nama yang disebut tapi 3 orang, nama yang disebut (yang ternyata supervisor senior), mbak kasir dan mbak supervisor. Mereka bertiga meminta maaf secara resmi dan memberikan tumblerku. Alhamdulillah masalah selesai dengan damai akhirnya.

Nah, itulah salah satu pengalamanku membuat pengaduan di Twitter. Jadi, jika ditanyakan masih pengaruh nggak sih twitter buat kehidupan elo? Buatku sih alhamdulillah masih pengaruh (banget). Twitter bisa menjadi ajang yang baik untuk menyampaikan protes.

Tips agar protes kita lewat twitter bisa cepat ditanggapi:

1. Tulis sesuatu yang bukan hoax. 

Yap. Apa yang aku sampaikan dalam protes-protesku di twitter itu bukan hoax. Aku punya foto, data, dan alat bukti lainnya. 

Itu sebabnya, hal pertama ketika kita mendapat perlakuan yang tidak adil adalah: abadikan dengan foto; catat nomor atau nama yang bisa dilaporkan. Dan catat hari, tanggal-bulan-tahun-jam-menit-detik kejadian itu terjadi.

Jika kalian merasa diri pelupa, tulis di notes handphone kejadiannya sedetil mungkin. Karena kelak, pasti ada pihak yang akan menanggapi dan akan bertanya kejadian detilnya. Itu pentingnya menulis detil sebuah kejadian. Pakai baju apa, rambutnya model apa, berapa orang yang terlibat, cuacanya gimana, lagi makan apa, dll.

2. Ngetwitnya jangan cuma sekali. 


Karena jika hanya menulis sekali, kemungkinan tidak akan dibaca orang. Dan jangan lupa mention pihak yang ingin kalian colek serta beri hashtag. Usahakan untuk menulis minimal 10 kelompok berita twitter, dan usahakan cepat sharenya. Jangan menulis 1 kolom berita, lalu kolom berita berikutnya ditulis 2 jam kemudian, yang berikutnya 1 jam kemudian. Ya percuma karena bakalan tertimpa cuwitan berita twitter lain.

3. Jaga agar feed twitter kalian tidak melulu berisi sesuatu yang berisi berita provokasi atau hoax. 


Karena, kalo dah terbiasa nge-share sesuatu yang seperti ini, begitu kalian menulis sebuah berita fakta atau mengadukan sebuah kebenaran guna mendapatkan keadilan, orang tidak lagi percaya.
Masih inget kan, kisah dari India tentang seorang anak yang selalu berteriak "ada harimau... ada harimau" dan penduduk desa langsung bersembunyi ketakutan. Lalu, setelah melihat penduduk desa bersembunyi karena ketakutan, si anak tertawa ngakak dan berkata "kasian deh kalian, aku bohongi mau saja.". Hingga suatu hari, si anak berteriak lagi, "ada harimau... ada harimau". Semua orang sudah tidak ada yang percaya lagi padanya. Padahal harimau benaran ada, dan harimau kaget mendengar anak berteriak sehingga langsung menerkam si anak, tanpa sempat ada yang menolongnya.
Itu pentingnya untuk jangan keseringan menyebarkan berita hoax di media sosial. Karena kalau sudah terlanjur menyandang predikat "ah paling juga dia nyebarin berita hoax lagi." maka sulit buat orang lain percaya ketika kalian menyebarkan sebuah berita fakta.

4. Harus siap jika ada yang ingin mengkonfirmasi apa yang kalian sebarkan lewat telepon atau pertemuan. 

Ya. Meski twitter adalah sebuah wadah media sosial dan beredar di dunia maya, tapi pihak2 yang terkait tetap harus waspada bahwa penyebar berita bukan seseorang yang sebenarnya robot atau figur yang tidak pernah ada di muka bumi ini. Pertanggung-jawaban tetap harus bisa menghadirkan sosok nyata di dunia nyata.

5. Terakhir, tulis dengan bahasa yang sopan. 


Karena jika tidak sopan, nanti terkena pasal pencemaran nama baik. hehehe. Dan, meski kalian punya bukti yang detil, bukti detil ini hanya diberikan lewat DM dengan pihak terkait.

Nah. Itulah pengalamanku bersama Twitter.

oh iya, ini twitterku, sudah difollow belum? Follow dong kakak.

29 komentar:

  1. Wah mba Ade kerwn sekali, aku mah tipe yg udah lah males aja mau protes walau aslinya dongkol bgt klo merasa dicurangi.

    BalasHapus
  2. Ngomongin soal hoax, masa ada yang bilamg gak apa-apa hoax karena bisa buat jaga-jaga.

    BalasHapus
  3. Wuah ternyata ada tips nya juga ya protes di twitter itu, salah satunya gunakan bahasa yang sopan. Noted!
    Aku pernah juga sih sekali protes masalah internet via twitter, dan tanggapannya juga cepat.

    BalasHapus
  4. Aku baruuu aja menggunakan Twitter untuk protes layanan salah satu fasilitas internet. Langsung dibalas dan dilakukan perbaikannya. Tapi aku jadi menyimpulkan, kalo aku nggak protes via Twitter, pasti tanggapannya lama.

    Setuju deh ama mba Ade, harus sopan meski protes agar tidak kena pasal pencemaran nama baik. Juga udah menyimpan bukti

    BalasHapus
  5. iyah bener Mbak, Twitter bisa jadi penyampai pesan yang tepat sekarang.
    kemarin saya ngeDM akun bank karena beli token listrik tapi lupa screenshoot, lalu ntah kenapa biasanya terkirim ke email bukti transaksi kita, eehh pas itu malah tidak ada pesan apapun. duuh, padahal itu butuh banget karena buat keperluan claim kantor, jadilah DM dulu sebelum ke bank.. tp karena butuh cepat ya tetap harus ke bank karena belum ada balasan DM tadi.
    eiitss ternyata sorenya dibalas lho DM itu, ditanyakan detail bla bla, tapi karena udah beres jadi kuucapkan terimakasih saja karena udah langsung ke bank tadi :D
    Twitter emang cakep dah, walau saya udah jarang ngetwit sih :D

    anyway thanks tipsnya ya Mbak :)

    BalasHapus
  6. CPUnya gede ya jaman aku SD dulu. Awal2 livetwit agak kerepotan dengan batasa karakter di twitter karena harus dipoting2 beberapa bagian.
    Nah masalah bukti aku suka foto2 juga buat jaga2 ya mbak

    BalasHapus
  7. Binfa termasuk uNg paling jalan buka twitter atau bertwit-ria kecuali share postingan itu juga kl gak lupa.
    Jd hrs kembali lagi nih ke sini menyimak dengan baik. Thank you sharing yg manfaat.

    BalasHapus
  8. Aku hampir selalu ngetweet mba. Nyaman deh gunakan twitter. Biasanya juga kalau ada keluhan ya aku tweet, insyaallah direspon. Penyampaian pesan dengan cara sopan pasti ditanggapin baik ya

    BalasHapus
  9. Saya ngetweet tentang keluhan kalau internet bermasalah aja hahaha. Abis paling cepat responsnya memang via Twitter

    BalasHapus
  10. Mbak Ade mah berani ya orangnya, aku lihat-lihat dulu sih kasusnya dan yes menurutku twitter jauh lebih cepat balasannya dibanding media yg lain. Hanya saja kok masih males ngetwit ya

    BalasHapus
  11. Tos mba Ade.
    Aku juga tidak terima kalau kita dizhalimi, apalagi kalau itu jelas-jelas hak kita.

    Setuju untuk menggunakan kalimat sopan dan tidak provokatif.
    And it works for me as well, too.

    Aku pernah alami juga di sebuah restoran dan langsung menulis di form survei konsumen.

    BalasHapus
  12. Sama kak,,aku protes beberapa kali gegara pulsa salah satu provider ku kesedot terus dan harus sering juga protesnya biar di tanggapi.

    BalasHapus
  13. Saya termasuk yang senang waktu twitter menambah karakter untuk pesan. Tapi saya belum pernah protes sesuatu di twitter sih...nanti kalau ada kejadian, mau nyontek ala protesnya Mbak Ade, deh...hehehe

    BalasHapus
  14. TWitter memang masih jadi emdia yang efektif ya untk menyampaikan keluhan saat keluhan kurang ditanggapi, pengalaman mba Ade bisa jadi pembelajaan, deh bagaimana menggunakan twitter dengna bijak

    BalasHapus
  15. Oh gt y mbk? Ku baru tau klo twitter jd media yg ampuh utk protes hehe.
    Ya, asalkan sopan dan real aja ya mbaak....

    BalasHapus
  16. Bunda ade selalu yang paling teliti
    Ternyata aku pun juga baru merasakan kalau di twitter beberapa akun cepat tanggap soal komplainan Bund. Aku juga suka twitter, meski ga diperpanjang karena prinsipnya keringkasan. Okelah kita terima saja dan tetap menggunakan untuk hal positif

    BalasHapus
  17. Haduuh cuma tumbler aja gak mau ngasih ya sampe diprotes di twitter..Twitter masih efektif untuk trending topic.

    BalasHapus
  18. Aku pernah mengalami hal serupa, Mbak. Tapi, nggak via twitter. Tapi, tulisan di Kompasiana tentang perlakuan teller yang kurang baik. Ngefek juga. Endingnya ya mereka minta maaf, damai. Kemudian pas ke sana lagi, tellernya sudah ramah banget, nggak ketus seperti sebelum aku buat aduan itu.

    BalasHapus
  19. aku sering banget ngomel di twitter hehehe..walaupun sekarang udah jauh lebih santai sih mba. Well, twitter Seruuu untuk woro-woro yaa Mba

    BalasHapus
  20. Wah bermanfaat banget ini, mba. Selama ini saya juga sering merasa tidak puas dengan pelayanan restoran atau brand tertentu. Ternyata bisa diadukan via twitter ya.

    BalasHapus
  21. Kalau untuk aduan dan update berita terbaru, Twitter memang masih juaranya ya Mba Ade. Aku pribadi seneng main di Twitter land karena simpel, nggak penuh dengan gambar atau video seperti di Facebook atau Instagram.

    BalasHapus
  22. Senang banget sekarang Twitter bisa nulis beberapa karakter nggak kayak sebelumnya suka ribet nyusun kata-kata biar pas jumlah karakternya :)

    BalasHapus
  23. Trims tips nya mba.. kadangkala saat ingin mengadukan sesuatu dan TDK ditanggapi itu nyesek sekali.. Jadi kul-twit lebih pas untuk hal seperti ini ya..

    BalasHapus
  24. Mba Ade berani *jempol*, kalo saya kayaknya bakalan diam aja digituin.

    saya jarang main twitter nih, baru ngetweet kalo aja job atau syarat lomba yang mengharuskan link artikelnya juga harus dishare di twitter

    BalasHapus
  25. Aku malah belum pernah kepikiran untuk protes via twitter mba. Kadang suka takut kalau mau memproteskan sesuatu, jangan2 ntar malah balik ke diri kita yang diserang.
    Tapi kalau lihat cara Mba Ade ini, sepertinya bisa diterapkan ya. Harus dengan kalimat yang baik dulu.

    BalasHapus
  26. Aku sering mba...pakai twitter untuk protes.
    Dan alhamdulillah...justru lwbih efisien.

    Ga perlu dateng ke kantor yang bersangkutan buat demo...


    Karena dulu...aku tinggal di daerah Bandung yang susah air.
    Padahal lokasi nya di kota banget.
    Dago.


    Tapi pernah 3 bulan ga ada air.
    ((Ini karena belom kenalan ama twitter))

    Alhamdulillah,
    Setelah kenal...super fast response.


    BalasHapus
  27. Belum pernah protes-protes di sosmed kayaknya hehe aku orangnya nerimo tapi ngedumel dalem hati hihi. Tapi salut mba hati lagi kesel tapi bisa menulis protes dengan bahasa yang halus.

    BalasHapus
  28. Aku pernah juga itu komplain ke G*jek via twitter waktu saldoku menghilang tiba2 karena ada yg nge-hack. Alhamdulillah aku langsung di-DM, terus diproses semuanya. Besoknya, saldoku balik lagi seperti sedia kala.

    BalasHapus
  29. Aku pernah mbak Ade mau komplen hotel tapi waktu itu udah capek banget. Ga sempat foto2 dan bukti. Hiks.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut