Senin, 25 Desember 2017

Sudah Terlalu Lama Sendiri

[Catatan Akhir Tahun] Ini bukan review syair lagu Kunto Aji yang berjudul "Sudah Terlalu Lama Sendiri". Tapi sebuah catatan akhir tahunku karena sebuah peristiwa yang membuatku sedikit merenung. Yaitu tentang pernikahan.

Aku sudah lama  menikah alhamdulillah. Januari besok insya Allah memasuki tahun ke 24. Selama 24 tahun, aku merasakan sendiri nikmat menikah. Jadi, menjadi wajar bagiku ketika melihat seorang teman yang belum juga menikah membantunya untuk menikah dengan membantu menghubunginya dengan calon pasangannya. Harapannya, agar teman segera mengakhiri masa kesendiriannya. Sudah terlalu lama sendiri bisa diakhiri dengan melakukan pernikahan.


Maka, terhubunglah aku dengan teman yang kebetulan juga sedang ingin melakukan hal yang sama; mencarikan pasangan bagi temannya yang belum menikah.

Jaman sekarang, karena usia pendidikan yang semakin panjang (wajib sekolah 12 tahun, tidak membuat orang yang lulus SMA/SMK bisa langsung menjadi tenaga kerja siap pakai. Tapi mereka harus menjalani lagi pendidikan lanjutan, entah itu strata 1 atau akademi atau kursus singkat. Minimal 1 tahun. Setelah itu, barulah masuk ke dunia kerja. Dan sebagai fresh graduate, banyak perusahaan yang menerapkan sistem kontrak yang membuat orang tidak langsung bisa menikah setelah mereka diterima pekerjaan. Lalu menunggu beberapa saat lagi). Ditambah lagi sebuah slogan yang juga berkontribusi untuk membuat orang tidak ingin menyegerakan pernikahan. Slogan-slogan itu adalah:

"Nanti deh, mengumpulkan materi dulu baru setelah itu menikah."
"Nanti deh, bersenang-senang saja dulu menikmati kehidupan sebagai jomblo berpenghasilan, baru setelah itu menikah."
"Nanti deh, menikah itu gampang. Yang sulit persiapannya. Nah, bikin persiapan saja dulu." (tapi persiapannya kebanyakan sepertinya)

Akhirnya terus tertunda lalu tanpa terasa mengalami kondisi nyaman dengan diri sendiri akibat Sudah Terlalu Lama Sendiri

Di tahun 2017 ini, aku pertama kali menyaksikan sebuah pernikahan Sologami di salah satu drama korea yang aku tonton (lupa judulnya). Pernikahan Sologami adalah pernikahan dimana hanya ada 1 (terbaca satu) orang pengantin saja di pelaminan. Tidak ada pasangannya. Tapi semua perhelatan pernikahan lengkap tertata. Ada bunga-bunga, tamu, kedua orang tua, sanak saudara, teman-teman yang hadir sebagai tamu, dan tentu saja sajian hidangan dan gaun pengantin yang dikenakan. Yang tidak ada hanya pasangan pengantinnya saja.

Aneh ya? Tapi inilah Pernikahan Sologami, yaitu Pernikahan dimana si pengantin menikahi dirinya sendiri. Karena budaya kemandirian wanita yang semakin meluas, maka gaya hidup menikah dengan diri sendiri alias sologami ini pun terjadilah.



Aku termasuk yang tidak menyetujui terjadi dan berkembangnya gaya hidup sologami ini di Indonesia. #tolakSologami 

Menikah itu adalah perintah agama manapun karena itulah fitrah manusia yang sesungguhnya. Menikah dengan lawan jenis, lalu berketurunan. Menikahi diri sendiri itu sebuah imajinasi yang bodoh sekali. Apakah jika suatu hari benci dengan diri sendiri karena sebuah penyesalan yang amat dalam lalu akan terjadi perceraian dengan diri sendiri juga? Aneh kan? Imajinasi Sologami adalah imajinasi orang yang egois.

Menikah ya harus dengan orang lain. Karena yang namanya pernikahan adalah janji 2 orang untuk menjadi 1 ikatan dalam sebuah lembaga pernikahan yang sah. Menikah dengan orang lain yang dimaksud disini adalah menikah dengan lawan jenis. Perempuan dengan lelaki, atau lelaki dengan perempuan.

Menikah dengan sesama jenis pun dalam hal ini juga sesuatu yang bertolak belakang dengan fitrah manusia. Dan aku  termasuk orang yang menolak pernikahan sesama jenis untuk terjadi di Indonesia. Meski di luar negeri, beberapa negara di sepanjang tahun 2017 ini mulai melegalkan pernikahan sesama jenis. #tolakPernikahanHomo

Tahun 2017 memang sebuah tahun yang cukup mengerikan untuk urusan yang satu ini akibat sepak terjang kaum homoseksual yang mulai merangsek ke parlemen dan mempengaruhi perubahan Undang-Undang di sebuah negara. Logika mereka yang cacat terus dipaksakan untuk diterima oleh orang normal.

Logika cacat kaum homoseksual itu meliputi :

1. Bahwa hak asasi manusia adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi, bahkan melebihi keberadaan hukum positif.

Ini jelas saja cacat. Terbalik. Atas nama hak asasi manusia mereka menuntut agar diakui oleh negara. Tapi, dalam agama jelas perbedaan gender pria dan wanita itu tidak bisa dipecah lagi menjadi 3. Harus memilih, pria atau wanita. Karena ini menentukan perlakuan yang berbeda bagi mereka.

Jika pria, maka jika ingin melakukan shalat mereka berada di shaf depan. Jika perempuan, letaknya di shaf belakang dan wajib menutupi aurat kecuali wajah dan telapak tangan.
Jika pria, dalam penghitungan warisan, mereka berhak mendapat hak waris sebesar 2 kali hak waris perempuan.

2. Bahwa hak asasi manusia itu menyebabkan mereka berhak untuk mendapatkan hak yang sama dengan manusia normal.
Ini juga cacat. Karena pada akhirnya, untuk mendapatkan hak yang sama dengan manusia normal tersebut, kaum homoseksual melakukan tindakan yang melanggar fitrah sebagai manusia normal. Seperti mengangkat anak agar bisa memiiki keturunan. Atau kadang menyewa rahim atau membeli sperma.
Bagaimana dengan nasab seorang manusia dalam hal ini? Berantakan sekali nasab seorang manusia dnegan pola pikir seperti ini.

Baik pernikahan Sologami maupun pernikahan sesama jenis (homo), keduanya akan merusak nasab dalam keluarga. Silsilah anak kandung menjadi tidak jelas. Dan bisa jadi, suatu hari nanti, karena tidak diketahui nasab seseorang akan terjadi incest. naudzubillah min dzaliik.

Menikahlah, lalu Berbahagialah

Itu sebabnya aku pun berusaha untuk menghubungkan teman-teman yang masih jomblo agar bertemu dan menggiring mereka agar menikah. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang jomblo yang terkesan pilah-pilih dalam mencari pasangan.

"Bagaimana kabarnya? Mengapa tidak jadi lagi?"
"Anu mbak. Aku kurang sreg karena bla bla bla."

Lalu dicoba untuk menghubungkan dengan yang lain lagi.
"Kali ini cocok... tapi entahlah. Ada sebuah rasa tidak nyaman."
"Kenapa tidak nyamannya?'
"Aku kok merasa terganggu ya jika harus menelepon dia, menanyakan kabarnya lalu berbasa basi memulai sebuah percakapan."
"Terganggu bagaimana?"
"Entahlah. Aku sedang menikmati waktuku untuk beristirahat setelah lelah bekerja seharian, tapi teringat bahwa harus membalas SMS dari dia. Akhirnya aku berusaha meluangkan waktu untuk membuka handphone lalu membalas SMS. Tidak selesai sampai disitu. Ketika mata hampir terpejam tiba-tiba masuk SMS balasan. Jadi terpaksa aku mengurungkan niat untuk istirahat dan menyisakan waktu untuk membalas SMS. Lalu besok-besoknya pun demikian. Waktuku tersita untuk mengurus orang lain dan aku mulai merasa tidak nyaman saja."

Reaksi seperti ini sudah pernah aku temui sebelumnya di temanku yang lain. Sehingga aku pun tersadar bahwa temanku ini sedang mengalami kondisi "sudah terlalu lama sendiri".

Jujur, jawaban temanku ini membuatku merenung. Ternyata, jika sudah terlalu lama sendiri, tanpa kita sadari akan tumbuh sikap dasar yang berbeda dalam watak seseorang. Yaitu munculnya sikap sulit untuk berbagi dengan orang lain. Mungkin, bisa jadi dia berhasil ketika bekerja dengan orang lain di pekerjaan dan kesehariannya. Tapi ketika harus dihadapkan harus ikhlas membagi dirinya dengan orang lain, dia keberatan.



Tidak. Aku tidak menyalahkan kondisi sudah terlalu lama sendirinya. Tapi, aku merasa bahwa sebagai teman, sebaiknya kita mengingatkan pada teman kita yang sudah terlalu lama sendiri agar mereka bisa memulai berniat untuk segera mengakhiri masa kesendiriannya sesegera mungkin dengan berniat untuk menikah.

Menikah itu memang berat. 
Menikah itu, sebuah kejadian yang amat manis dan membahagiakan tapi bukan berarti tidak berat ketika menjalankannya.

Bayangkan saja.
Setelah satu bulan penuh bekerja mengumpulkan rezeki, ketika tiba saatnya pulang ke rumah, uang seamplop hasil kita bekerja selama satu bulan itu harus diserahkan pada istri untuk digunakannya. Yang tersisa dari kita hanya jatah yang sedikit. Jika ingin membeli barang impian, harus bekerja lebih giat lagi dan menyisihkan uang sehingga tidak mengurangi uang yang harus diserahkan pada pasangan kita.

Belum lagi setelah badan lelah ternyata di rumah masih berhadapan dengan aneka macam persoalan rumah tangga. Mesin cuci rusak; anak jatuh dari tangga, istri berantem dengan temannya, atap bocor, pintu lemari dimakan rayap, lupa membeli token listrik sehingga sedang asyik nonton televisi tiba-tiba listrik menjerit minta diisi pulsa, dan sebagainya. Apa nggak bikin pusing tuh?

Sudah di kantor mendengar keluh kesah rekan sejawat dan omelan bos, di rumah masih juga mendengar omelan istri atau keluh kesah istri serta pengaduan dari anak.

Demikianlah persoalan hidup yang harus dihadapi dalam sebuah pernikahan. Semuanya membutuhkan rasa ikhlas karena memang tidak mudah harus bertoleransi dengan orang lain, dalam jumlah banyak kepala, yang hidup bersama dalam satu rumah tangga; dan bahkan dalam satu hubungan keluarga besar.

Tapi disinilah letak nilai ibadahnya sebuah pernikahan. Kita dituntut untuk bisa mengasihi dan mengkedepankan perilaku amar ma'ruf nahi munkar (menegakkan kebajikan dan memberantas kemungkaran) secara simultan, terus menerus dan sepanjang waktu, dengan hati ikhlas.

Bagi mereka yang single, mereka bisa memilih mana saja amar ma'ruf nahi munkar yang akan mereka lakukan sesuka hati mereka. Tapi dalam sebuah pernikahan tidak ada pilihan bisa memilih sesuka hati. Jika kemunkaran dalam keluarga tidak diperbaiki maka dampaknya yang rugi kita juga sebagai anggota keluarga tersebut. Jika tidak pernah melakukan sebuah kebajikan tertentu pun demikian. Imbasnya akan kita rasakan terjadi dalam keluarga kita.

Itu sebabnya sebuah pernikahan adalah perbuatan ibadah yang amat panjang. Berlaku seumur hidup dan berlaku setiap saat. Itu sebabnya menikah disebut sebagai separuh agama dalam agama Islam.


Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah atas separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’ : 35)

Maka, menikahlah dengan niatan benar-benar untuk menyempurnakan separuh agamamu.Karena bila agama yang menjadi rujukannya maka sudah pasti dalam memperjuangkan kebersamaan yang ada kau takkan tanggung-tanggung untuk senantiasa bersama menjemput kasih sayang-Nya dengan kesungguhan hati yang mendalam.




Demikianlah catatan akhir tahunku kali ini. Semoga bermanfaat. Dan buat yang masih jomblo mungkin mulailah ber-niat untuk menikah.

Menikah itu harus diniatkan.
Niat, lalu berdoa dan berusaha.
Niatnya harus benar-benar kuat sehingga keraguan yang hadir bisa disingkirkan.
Karena doa dan usaha menjadi percuma jika niatnya masih setengah-setengah. Belum bulat.
Tanpa sebuah niat yang kuat, usaha dan doa tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. 


17 komentar:

  1. Mba Ade sudah 24 tahun ya pernikahannya..semoga langgeng dan berbahagia selalu ya mBA..

    BalasHapus
  2. Bermanfaat banget nih, Teh. Terlebih buatku yang masih sendiri. Memang betul ya, perlu diniatkan, dipersiapkan hingga matang. Dan memang begitu pernikahan merupakan gerbang menuju kebahagiaan..
    Secara tidak langsung seperti wajangan akhir tahun buatku nih..he

    Btw, salam kenal ya, Teh Ade..

    BalasHapus
  3. Subhanallah, indah banget nasihatnya mba Ade, semoga kita semua mendapatkan keberkahan dalam pernikahan kita amin

    BalasHapus
  4. Semoga pernikahan yang kita jalani, sakinah mawaddah wa rahmah ya mba. Saling mendoakan.

    BalasHapus
  5. Wow mbak Ade sudah 24 tahun menikah ya.... Setuju mbak sologami maupun homo itu sebaiknya kita tolak, jangan sampai dijadikan trend. Tindakan mereka terutama homo selain egois juga sebenarnya melanggar hak asasi orang lain (anaknya yang gak jelas nasabnya, tetangganya yang mungkin risih dsb) #tolakLGBT

    BalasHapus
  6. Jodoh rahasia Allah juga sih. Saya punya teman2 yang belum menikah padahal mereka memang ingin menikah cuma belum ketemu jodohnya.. bukan karena merasa nyaman terlalu lama sendiri. Iya ih. LGBT ini serem banget ya mbak. Semoga keluarga kita dijauhkan dari dosa2 seperti itu. Aamiin.

    BalasHapus
  7. Iya setuju. Sendiri itu memang menyenangkan. Bisa bebas melakukan hal apapun yang kita inginkan. Dalam pernikahan kita belajar untuk membagi diri kita dengan orang lain. Diri kita yang sesungguhnya. Karena di luar kita bisa berpura2 tidak menjadi diri sendiri. Tapi dengan suami/istri kita akan secara otomatis menampakkan diri kita yang sesungguhnya. Lebih terefleksikan siapa kita sebenarnya. Dan memang berat, itulah kenapa pernikahan disebut setengah dien. Sulit menyatukan dua kepala. Apalagi laki2 dan perempuan. Semoga berkah dan langgeng terus ya mba..

    BalasHapus
  8. Betul, menikahlah lalu berbahagialah...
    Selamat, sebentar lagi usia pernikahannya menginjak 25 tahun. Semoga tetap barokah dan berbahagia selalu.

    Salam,

    BalasHapus
  9. Seperti salah satu kerabat saya yg merasa bebas dan mandiri karena blm menikah. Eh malah kebablasan keenakan sendiri di usia yg umumnya sdh memiliki anak remaja. Btw semoga selalu langgeng dan bahagia sampai selamanya mbak...

    BalasHapus
  10. Barakallah mbak. Langgeng sampai akhir hayat dan brtemu lg di jannahNya 😊

    BalasHapus
  11. Bagus baget mbak catatan akhir tahun. Benar banget mbak,, menikah tidak hanya sekedar mencari bahagia tapi siap juga dengan persoalan yang ada

    BalasHapus
  12. Aku dulu juga diminta menjodohkan orang eh gagal terus karena gimanapun fisik itu nomor 1. Baru liat foto aja udah nolak.

    BalasHapus
  13. Aneh sm sologami, selain memang enggak sesuai fitrah, knp jg musti dipestain ya, mubazir heuheu...

    BalasHapus
  14. Semoga semua yang ingin menikah disegerakan... apa-apa perkara yang baik emang dianjurkan untuk disegerakan

    BalasHapus
  15. betul mbaaa..menikah itu idealnya membawa berkah dan kebahagiaan..walaupun penuh ups and down!

    BalasHapus
  16. Saya pernah dengar ada psikolog yang bilang *lupa di mana* katanya generasi sekarang masa bermainnya lebih lama. Mungkin karena beratnya tuntutan pendidikan sejak kecil. Jadi ketika sudah bekerja ingin mbersenang-sennag lebih lama. Jadi akhirnya menikah menjadi pilihan yang kesekian.

    BalasHapus
  17. Jodoh rejeki dan maut memang haknya Allah ya, Mba. Semua sudah disiapkan oleh Allah, bagaimana cara kita menjemputnya itulah yang berbeda2. Kalau saya dulu sih, minta semua kriteria cowok idaman ke Allah dari usia remaja. Alhamdulillah Allah kasij. Semua kriteria yang saya suka ada di AF. Alhamduliah.

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut