Kamis, 14 Desember 2017

Resolusiku di Tahun 2018

[Catatan Akhir Tahun] Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun 2017 ini pun aku membuat resolusi. Resolusi itu buatku semacam vitamin untuk menambah semangat dalam berkarya dan melakukan kegiatan. Resolusi juga seumpama batu pijakan berikutnya yang akan aku tuju setelah aku melompat meninggalkan batu pijakan yang sekarang. Mengapa arti resolusi bisa demikian bagiku? Karena aku jadi seperti memiliki sebuah daftar keinginan, apa yang setidaknya ingin aku capai. Bahkan meski hanya berupa mimpi-mimpi sekalipun. Tetap saja mimpi itu aku susun, sehingga aku tahu apa yang akan aku pinta ketika aku bermunajat.

Itu sebabnya nyaris setiap tahun, aku membuat list resolusi yang akan atau ingin aku lakukan di tahun mendatang. Hanya saja, ada resolusi yang aku tulis dengan rapi dalam sebuah catatan yang aku tandai dan ada resolusi yang tidak aku buat catatannya. Itu sebabnya resolusiku di tahun 2018 pun aku susun sebagai catatan akhir tahunku di blog ini.



Tapi, sebelumnya mungkin ada baiknya aku melakukan evaluasi dulu ya. Apa yang terjadi dengan resolusiku di tahun yang lalu dan apa yang terjadi di sepanjang tahun 2017 ini.

Evaluasi Resolusi tahun di catatan akhir 2016 dan Pencapaiannya di sepanjang tahun 2017


Di akhir tahun 2016, aku mencatat resolusiku adalah:

1. Bisa menghasilkan buku, minimal 1 buah buku
2. Bisa fokus mendampingi kedua anakku yang akan mengikuti Ujian Nasional
3. Menurunkan berat badan agar mencapai angka 65 kg
4. Bisa menyelenggarakan pernikahan putraku dengan sukses
5. Renovasi kamar pengantin dalam rangka pernikahan putraku.
6. Menulis danmenghasilkan buku terbit minimal 1 buah buku.


Lalu, apa yang terjadi di sepanjang tahun 2017?

Di bulan Januari, qadarullah aku mendapat kecelakaan. Aku terpeleset ketika sedang membersihkan air yang tergenang di lantai rumahku karena rumah kebanjiran. Lututku terbentur lantai dengan keras dan terluka sedikit. Masalah beratnya adalah, air yang tergenang di lantai rumah itu berasal dari parit di depan rumah. Sudah pasti airnya kotor. Air kotor ini sepertinya masuk lewat luka kecil mungil yang terbentuk di lututku dan akibatnya lukaku ini mengalami infeksi.

Awalnya, infeksi ini tidak langsung ketahuan. Aku hanya merasa sakit saja di lututku dan itu aku anggap biasa karena namanya juga habis jatuh ya. Aku justru konsentrasi pada benjolan dan memar di kening kepalaku. Kepala itu asset terbesar menurutku. Karena di kepala ada otak dan wajah beserta anggota tubuh yang terpenting. Tapi, 3 hari kemudian, lututku tiba-tiba bengkak parah dan aku tidak bisa berjalan. Rasanya sakit luar biasa. Semalaman aku tidak bisa tidur karena meringis kesakitan.

Akhirnya, dibawalah aku ke rumah sakit. Hasilnya? Ternyata lukaku yang kecil mungil imut dan nyaris tidak terlihat lukanya, terkena infeksi. Infeksinya cukup parah karena terlambat ditangani akibat diabaikan. Subhanallah. Aku fokus mengobati kening dan kepalaku, ternyata penyakit masuk dari lutut. Akhirnya, aku pun harus menjalani operasi lutut.

lututku sebesar kepala bengkaknya

Permukaan tempurung lututku  dan daerah kulit sekitarnya yang seluruh kulitnya berwarna kuning karena dipenuhi oleh nanah yang berkumpul di bawah permukaan kulit

Operasi lutut yang aku jalani tidak serta merta membuat lututku langsung sembuh. Karena ternyata operasi yang dilakukan adalah operasi memasang selang kecil di lututku agar nanah-nanah yang berkumpul di kakiku bisa dikeluarkan lewat selang. Jadi, setiap hari datang suster yang akan melakukan pemencetan kulit agar nanah bisa keluar lewat selang. Sakitnya jangan ditanya. Sakit sekali. Dan tidak ada obat pengurang rasa sakit ketika pengeluaran nanah itu dilakukan.

"Ibu, ibu boleh teriak sekuat mungkin, ibu boleh nangis, silahkan saja. Karena memang tidak boleh ada pemakaian obat pengurang rasa sakit untuk tindakan pengeluaran nanah ini."

Jadilah jika sudah pukul 10.00 pagi, teriakan kesakitanku mungkin memenuhi lorong di lantai tempat kamarku berada. Kalau sudah begitu, suster-suster hanya melongok sebentar ke kamarku sambil tersenyum, "Sudah mulai ya sesi teriaknya?" hahaha.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama diopname di rumah sakit, aku akhirnya pulang ke rumah. Senangnya bukan main. Rasanya benar adanya ungkapan yang mengatakan bahwa kalau sakit jangan lama-lama. Karena, ada banyak hal yang aku lewatkan selama aku sakit tersebut. Aku tidak bisa mendampingi anakku yang sedang sibuk-sibuknya menjelang ujian nasional yang akan mereka ikuti.

Di tahun 2017, ada 2 orang anakku yang ikut ujian nasional. Yaitu anak keduaku yang akan ikut ujian nasional untuk lulus SMA dan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Lalu anak ketigaku yang akan ikut ujian nasional untuk lulus SD dan ikut dalam seleksi masuk SMP negeri.

Ujiannya sendiri masih lama sebenarnya, sekitar bulan Mei dan Juni. Tapi, persiapan sebelumnya ada banyak sekali. Dimulai dari acara persiapan untuk ujian, juga persiapan untuk perpisahan sekolah. Dan semua itu butuh pendampingan dari orang tua otomatis. Jadi kebayang kan jika badan sedang sakit gimana galaunya. Mau ikut terlibat tidak mampu karena badan sakit, tidak ikut terlibat kok ya sayang. Karena momen repot ria ini tidak akan terulang kembali sedangkan kenangan yang melekat akan teringat selalu oleh anak kita selamanya.

Hal-hal sepele terlewatkan. Seperti ketika anakku akan melakukan sesi pemotretan untuk keperluan pembuatan buku tahunan. Ada dress code yang sudah disepakati oleh kelasnya. Kebetulan, anakku tidak memiliki warna baju yang sesuai dengan dress code yang diminta. Akhirnya, pergilah anakku dengan ayahnya ke Mall untuk berbelanja pakaian dan jilbab yang sesuai dengan dress code yang dibutuhkan. Pulang-pulang, anakku cemberut karena ternyata dia kurang cocok untuk pergi berbelanja di Mall dengan ayahnya. (kebayang sih, anak gadis pergi ke Mall dengan ayahnya. Si ayah pinginnya datang ke satu toko, lihat, tawar, beli. Sedangkan anak gadis, pinginnya lihat ke satu toko, lalu ke satu toko lain, lalu ke satu toko berikutnya, hingga satu mall dilihat semua, lalu balik ke toko yang di awal, tawar, lalu bandingin harga dengan toko sebelahnya, mikir-mikir, baru beli. Ya nggak klop dong jelas saja gaya berbelanja mereka 😁😁. Jika pergi berbelanja dengan ibu, baru deh kebiasaan mengecek toko sebelah ini baru bisa terlaksana). Ada banyak hal sepele yang membuat anak perempuan tidak terlalu cocok jika harus membahas hal-hal yang berbau perempuan dengan ayah mereka. Mereka lebih cocok dengan ibunya. Tapi jika ibunya sakit gimana?

Akhirnya, aku bertekat bahwa aku tidak boleh manja. Sakit jangan kelamaan. Nanti bisa-bisa apa yang sudah ingin aku capai di resolusi yang sudah aku buat di akhir tahun 2016 tidak tercapai satu pun.

Aku mulai rajin belajar berjalan kembali. Sambil terus membersihkan luka jahitan sisa operasi agar tidak infeksi. Aku menseleksi makanan agar recovery penyembuhannya terjaga dengan baik. Dan tidak lupa minum multi vitamin yang tepat. Yaitu vitamin untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit. Atau vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit. Untuk itu aku memilih multi vitamin Theragran-M.

Sudah memasuki tahun ke 3 nih alhamdulillah aku menggunakan Theragran-M. Tahun 2015 adalah tahun pertama aku mengenal Theragran-M setelah dokter meresepkannya karena menurut dokter Theragran-M ini bagus untuk mempercepat pemulihan pasca sakit (aku diberi resep Theragran-M di tahun 2015 itu pasca operasi angkat tumor payudara). Theragran-M sendiri sudah diresepkan oleh banyak dokter selama lebih dari 40 tahun loh, yaitu sejak tahun 1976. Rasa obatnya manis, jadi tidak eneg dan tidak  terasa sepat di lidah. Bentuknya mungil dan licin, sehingga mudah ditelannya. Dan Theragran-M dikemas dalam amplop kotak yang mudah dibawa kemana saja karena bisa disisipkan di dalam kantong pakaian atau di dalam tas.

sedia Theragran-M di dalam tas ketika sedang dalam masa pemulihan setelah sakit


Kandungan dari Theragran-M sendiri adalah, kombinasi Multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) dan Mineral esensial (seperti Magnesium dan Zinc). Kombinasi inilah yang membuat Theragran-M  terbukti bisa meningkatkan, mengembalikan dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan.


Jadi, yang semula perhitungan dokter aku akan sembuh dalam 2 pekan, ternyata kurang dari 2 pekan aku sudah kembali bisa beraktifitas aktif kembali. Ya, memang nggak bisa terlalu ngoyo juga sih. Tapi setidaknya bisa mulai mendampingi anak-anak dan bersama keluarga lagi secara utuh. Juga bisa kembali menyapa dunia. Bisa bepergian kemana saja. Juga bisa melakukan banyak hal.

Masya Allah, luar biasa nikmat sehat itu. Bisa hidup berbahagia dan dalam kondisi sehat bersama keluarga itu sesuatu yang harus dimiliki dan dicita-citakan oleh semua orang.

sehat itu rezeki yang paling berharga


Perlahan, akhirnya satu demi satu resolusi yang sudah aku buat bisa aku laksanakan setelah aku kembali sehat. Kecuali beberapa hal yang gagal dilaksanakan. Menurunkan berat badan misalnya. hehehe. Tidak mengapa. Resolusi yang gagal dilaksanakan di tahun ini, akan aku tambahkan di tahun depan. Yaitu untuk resolusiku di tahun 2018 nanti.

Itulah evaluasi resolusi di catatan akhir tahun 2016 dan pencapaiannya di tahun 2017. Khusus untuk yang menyelenggarakan pernikahan anakku nih, ketika berjalan menuju ke pelaminan anakku, aku berpesan pada besanku, "Bu, kaki saya sakit. Nanti saya berpegang pada ibu ya jalannya karena saya takut terjatuh.". Itu sebabnya ketika prosesi menuju ke pelaminan kami berjalan bergandengan tangan, aku dan besan perempuanku. Teman-teman dan sanak saudara tersenyum dan berkata, "Wah, alhamdulillah, baru mulai jadi keluarga saja sudah akrab banget sampai bergandengan tangan." sstt, yang terjadi sebenarnya adalah, aku bertopang pada dia lewat gandengan tangan tersebut. Tapi memang besanku ini orangnya baik sekali sih. 



Sekarang, aku ingin membuat resolusi untuk tahun 2018.

Resolusiku di Tahun 2018



Kata orang, cita-cita itu jangan terlalu rendah dan sederhana buatnya. Karena begitu tercapai, nanti kita bingung mau ngapain lagi selanjutnya. Hehehe. Ada benarnya juga sih. Tapi, kalau terlalu tinggi, bukannya nanti malah lelah sendiri jika tidak kunjung bisa diraih?
Nah, aku buat resolusi yang cukup rasional saja deh.

Aku sudah memiliki sebuah agenda acara besar yang akan aku hadapi di tahun 2018. Setidaknya ada 2 agenda besar yang insya Allah akan aku hadapi di tahun 2018 nanti. Keduanya berbiaya tinggi, salah satunya adalah penantian untuk bisa naik haji ke tanah suci Mekkah akhirnya tiba. Aku sudah mendaftar untuk bisa naik haji lewat embarkasi Jakarta sejak tahun 2013. Waiting list selama 5 tahun akibat kuota naik haji yang terbatas. Karena waiting list untuk warga Jakarta yang panjang inilah maka persiapan kesempatan bisa berangkatnya tidak boleh disia-siakan. Itu sebabnya aku membuat resolusi yang bisa mendukung agenda besar tersebut, salah satunya dengan akan disiplin menabung.

Doakan ya agar aku dan suami bisa terus sehat wal afiat hingga kami bisa berangkat haji dan pulang pun dengan kondisi sehat dan selamat juga.
Doa tidak akan afdhol jika tidak ada usaha. Maka, usahaku adalah: menurutkan berat badan. Kasihan juga kedua  kakiku harus menyanggah badan yang berat. Jadi, aku ingin menurunkan berat badanku tapi tetap ingin sehat juga. Langsing dengan cara sehat tepatnya. Cara sehat tersebut, selain makan makanan bergizi dengan porsi yang tepat, juga mulai menerapkan pola hidup sehat lainnya seperti jalan kaki 10.000 langkah sehari, rajin minum multi vitamin agar tubuh tetap kuat dan sehat.

Karena dengan doa, dan tubuh yang sehat serta penuh semangatlah pada akhirnya aku bisa mencapai apa yang menjadi resolusiku nanti. Insya Allah, aamiin.

=================
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.




14 komentar:

  1. Aamiin...semoga semua resolusinya bisa terlaksana ya mba

    Btw, iya ya mba, jadi ibu itu emang musti sehat. Itu makanya kita juga harus usaha untuk sehat

    BalasHapus
  2. Aku kemarin juga menyimak euforia keharuan pas mbak ade mantu lho. Ikut terharu! Salah satu goalnya tahun lalu tercapai. Semoga tahun 2018 impiannya tercapai ya Mbak. Sehat selalu!

    BalasHapus
  3. Duh mba, linu bgt ngebayangin dikeluarin nanahnya...
    Semoga kita semua sehat terus ya...

    BalasHapus
  4. Ya, ampuun, Adeee...itu lutut sampe kayak gitu. Kebayang deh nyerinya dan pastinya suakiiit banget. Bunda ampe merinding liat fotonya. Alhamdulillah, Ade mampu melawan sakit dan menahan setiap keluhan demi kesembuhan. Apalagi begitu pedenya membayangkan akan cepat pulih dengan adanya Theragram-M. Semoga berjodoh dengan Dewan Juri dan memangkan salah satu hadiahnya. Aamiin.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah sudah sehat kembali ya mba. Memang rejeki yang paling berharga adalah kesehatan. Semoga resolusinya di tahun 2018 tercapai ya mba. Aamiin YRA

    BalasHapus
  6. keliatannya luka kecil ya tp mlh jd parah gitu. Btw smg resolusinya tercapai :)

    BalasHapus
  7. Ya ampun mbak, ikutan ngilu aku bacanya. Ga ngebayangin lutut kita dipenuhi nanah dan karena sepele ya, kemasukan air kotor di luka kita. Duhh pelajaran banget nih. Wahh sudah lama juga kenal Theragran dari 2015. Bener banget, sehat itu rejeki. Semoga resolusi 2018 nya tercapai mbak.

    BalasHapus
  8. Ya Allah mba ade, kejedot dikit aja ngilunya minta ampun apalagi itu sampe bengkak segitu :( Alhamdulillah udah sehat kembali ya. bener emang nikmat sehat itu rezeki dan anugerah, so wajib di syukuri ya.

    Semoga resolusi 2018 terwujud ya mba, Aamiin...

    BalasHapus
  9. aamiin, inshaallah tercapai mbak

    BalasHapus
  10. Assalamualaikum Mbak Ade, salam kenal. Kalau dari fotonya ga nyangka anak kedua saja sudah SMA. Semoga harapan tahun depannya terlampaui ya..

    BalasHapus
  11. Bayangin lutut yang bengkak sampe segitu, jari tertusuk duri saja nyut-nyutannya bukan main.
    semoga perjalanan hajinya diberi kelancaran dan kemudahan, menjadi haji yang mabrur...

    BalasHapus
  12. hahaha.. mba ade, kalau suamiku sama dengan kita mba.. dari satu toko ke toko lain, tapi anak lelakiku nggak. anak lelakiku sama dengan suami mba ade.. hahaha.. jadi ya bapak dan anak kalau belanja nggak pernah cocok.

    Btw, resolusi yang rasional lebih gampang digapai ya, mba. Aku rasional juga resolusi tahun 2018 adalah pindah dari tempat sekarang. Mau mencoba tinggal di luar kota atau kalau diijinkan Allah tinggal di luar negeri.

    BalasHapus
  13. Ya Allah, mba. Ngilu aku ngebayangin rasanya waktu dipencetin buat ngeluarin nanahnya. Duuh, betapa menjaga kesehatan memang lebh baik dari mengobati ya.

    BalasHapus
  14. seru dan takjub baca ceritanya, semoga kedepannya sehat selalu ya kak dan semoga resolusinya terwujud!

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut