Minggu, 31 Desember 2017

10 Peristiwa Tak Terlupakan di tahun 2017

[Catatan Akhir Tahun] Kalian di tahun 2017 mengalami sebuah peristiwa yang luar biasa sehingga kalian merasa begitu terkesan tidak? Jika dibuka kembali album foto, maka bola mata tetap saja berbinar gembira melihatnya. Dan ketika dibicarakan, hati berdebur-debur karena sebuah rasa. Kadang membuat haru atau sedih, tapi kadang membuat senyum dan senang. Nah. Sekarang, aku mau menulis tentang peristiwa sepanjang tahun 2017 yang buatku amat luar biasa sehingga kemungkinan tidak akan terlupakan.



10 Peristiwa Tak Terlupakan di Tahun 2017


1. Aku jatuh sakit (Januari).

Iya, ini asli peristiwa yang  tidak terlupakan bagiku.
Jangan pernah menganggap remeh sesuatu. Sebagian cerita sudah aku ceritakan di tulisanku yang ini:

"Resolusiku di tahun 2018"

Yaitu ketika suatu hari di bulan Januari 2017, rumahku kebanjiran akibat saluran pembuangan air yang meluap hingga airnya memenuhi seluruh lantai rumah. Setelah hujan deras selama beberapa waktu akhirnya berhenti, kami sekeluarga kerja bakti membersihkan rumah. Tiap-tiap orang bekerja mengeluarkan sisa air tergenang dari dalam rumah dan mengeringkan lantainya. Termasuk juga aku.

Tiba-tiba, ketika sedang menggiring air di lantai dengan karet pellan, aku melihat cacing yang lumayan panjang sedang menggeliat di atas lantai.

Aahhh.... Cacinggg....

Aku kaget campur jijik. Langsung melompat, lupa bahwa sedang memegang gagang karet pellan dan lantai berubin granit tempatku berdiri sedang digenangi air. Akibatnya, aku pun terpeleset karena lantai yang licin.
Lalu terjatuh telungkup dengan posisi lantai-gagang pellan-aku.
Lalu segera bangkit dan langsung merasa pusing serta kaki sakit. Suamiku langsung menyuruh aku berhenti kerja bakti.

Akhirnya, aku melepas gagang karet pellan dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang basah karena terpeleset tadi. Kepala pusing, kaki sakit tapi aku abaikan. Aku tidak tega melihat semua orang sibuk membersihkan rumah kami yang tergenang sedangkan aku tidak membantu sama sekali.

Jadi, sambil menahan sakit aku mengambil keset kain dan keset cendol yang basah dan bau. Aku memang sudah tidak bisa berjalan karena sakit tapi masih bisa berdiri. Jadilah aku menyikat semua keset yang basah dan bau dengan sabun sambil berdiri. Lalu menjemurnya di semua tempat yang bisa dijadikan tempat jemuran.

Setelah itu aku mencoba untuk berjalan dan di depan cermin aku lihat wajahku. Ada jejak gagang karet pellan yang tercetak melintang mulai dari kening, lurus ke arah alis, mata, pipi di bawah mata hingga ke arah rahang. Hanya saja di bagian kening cetakannya terlihat lebih jelas daripada di tempat lain. Mungkin itu yang membuat kepalaku pusing.

Akhirnya, aku fokus pada sakit di kepalaku dan mengabaikan sakit di kakiku. Aku obati sakit di wajahku dengan trombopop.
Besoknya (hari sabtu), kami sekeluarga masih bisa pergi ke Mall untuk makan siang dan makan malam karena rumah masih berantakan jadi belum bisa dipakai untuk memasak. Begitu juga dengan beosknya lagi (hari ahad). Hingga ketika selesai makan siang di hari Ahad itu, di depan mall Kuningan CIty tiba-tiba aku merasa amat sakit di pergelangan tanganku. Rasanya sakit sekali sehingga aku terhenti berjalan. Aku lihat urat berwarna hijau di pergelangan tanganku terlihat menonjol ke luar dan terlihat jelas dari kulit di bawah pergelangan tanganku. Berdetak dengan cepat dan membentuk gelembung kecil sebesar kuku jari kelingking. Itu yang membuat rasa sakit yang teramat sangat di pergelangan tanganku. Tegang dan seakan setiap saat siap merobek pergelangan tanganku. Sakit sekali.

Akhirnya kami pulang setelah makan malam di luar.
Hari Seninnya, aku masih bisa mengantar anakku pergi ke sekolah. Ketika menjemput anak bungsuku di sekolahnya, ada tukang pijat langganan para ibu di sekolahan. Aku minta dia memijatku karnea seluruh tanganku terasa sakit seperti terkilir. Jika diingat-ingat ini sepertinya karena tangan kananku tertimpa tubuhku sendiri ketika aku terjatuh. Tertimpa tubuhku sendiri lalu tanganku ini menimpa gagang karet pellan.

Sesampai di rumah setelah anakkku pulang sekolah, aku mulai merasa tidak enak pada kakiku. Jadi bukan lagi pada tanganku. Hmm.... lebih tepatnya, sakitnya tidak lagi pada kepalaku, juga tidak lagi pada tanganku. Tapi kini pada kakiku. Rasanya nyut-nyutan.

Akhirnya, hari Selasa, aku pun pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisi kakiku. Oleh dokter, aku diberi salep dan sebuah saran.
"Nanti, setelah diberi salep, tempurungnya di kompres dengan air panas ya. Ambil waslap lalu kompres memar di lututnya."

Aku melakukan saran ini. Tapi 1 jam setelah melakukan pengompresan, lututku terasa makin sakit dan dia mulai membengkak.
Makin lama makin besar bengkaknya.
Dan rasanya sakit luar biasa. Seakan-akan ada ribuan pasukan semut api yang menyerang lututku. lalu merangseng terus menuju ke dalam sela-sela tempurung lututku.
Akhirnya, semalaman aku menahan sakit yang luar biasa.
Tubuhku sampai demam dan suami memberiku obat penurun demam. Tapi sakitnya tetap luar biasa sepanjang malam itu. Sakitnya makin terasa menyiksa ketika terpaksa harus berdiri untuk ke kamar mandi. Subhanallah, sakit yang amat sangat luar biasa.

Akhirnya, besoknya aku diam di tempat tidur tidak bisa bergerak. Sorenya, barulah suamiku membawaku ke Unit Gawat Darurat sepulang dia dari kantor. Dari UGD aku langsung diputuskan untuk rawat inap karena tempurung lututku sudah benar-benar bengkak dan aku tidak dapat lagi berjalan. Rasanya sakit luar biasa.

Malamnya, oleh dokter aku diberi anti biotik karena menurut dokter aku mengalami kondisi sepsis akibat infeksi yang menyerang luka di lututku. Diduga, karena kondisi lututku yang memang pada dasarnya sudah memiliki kondisi pra osteophorosis sebelumnya, sehingga rongga di dalam tempurung lutut sudah tidak lagi rapat. Hal ini membuat kuman bisa segera menyebar dengan cepat dan terjadilah infeksi. Ditambah dengan kesalahan penanganan di awal.

Catatan penting untuk penanganan bengkak akibat terjatuh:Jangan pernah mengompresnya dengan air panas. Karena kompres panas bisa membuat pori-pori kulit terbuka dan otot meregang dan itu bisa membuat kuman atau bakteri yang semula ada di luar masuk ke dalam tubuh kita.
Akhirnya, aku pun terpaksa harus menjalani operasi karena infeksi di lututku sudah menyebar nyaris ke separuh kaki.

kaki kiri dan kaki kanan yang berbeda. Yang sakit bengkak hingga sebesar kepala anak2,s udah tidak bisa diangkat lagi.


setelah diberi antibiotik, dibebat untuk mengurangi rasa sakit dan bisa diberi obat yang menempel di lutut
nanah yang terbentuk sebagai bukti bahwa obat anti biotik mulai bekerja melawan infeksi

"Alhamdulillah nih bu segera ketahuan. Jadi, ini antibiotiknya sudah bekerja dan membentengi agar infeksi tidak menyebar dan bekerja dari dalam untuk menghentikan perkembangan infeksi di dalam kaki. Jika terlambat ditangani mungkin kondisi yang lebih parah bisa terjadi pada kaki ibu."

"Kondisi yang lebih parah itu seperti apa dok?"

"Seperti infeksinya merusak bagian di dalam tulang. Jadi, tubuh kita itu ada bagian kulit yang terdiri dari beberapa lapisan, daging atau otot dan tulang. Nah.... jika infeksi menyebar hingga ke dalam jaringan di bawah kulit, berarti harus diamputasi sesegera mungkin. Karena di bagian dalam itu ada pembuluh darah yang aktif membawa segala sesuatu ke arah organ jantung dan sistem syaraf pusat di tubuh bagian atas. Daripada menyebar ke bagian yang lebih vital lebih baik diamputasi kan?"

Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Aku senang mendengar kabar baik bahwa kakiku sudah bisa ditangani. Aku bersyukur bahwa kakiku segera ditangani dengan benar hingga tidak terjadi hal yang lebih parah.
Dan itu semua terjadi hanya karena terpeleset di dapur.

Fiuh. Benar-benar peristiwa tak terlupakan di tahun 2017 buatku.

2. Anakku meminta kami untuk melamar gadis yang disukainya

Sejak awal, pada anak-anakku aku selalu menekankan agar sebisa mungkin, mereka tidak berpacaran. Karena pacaran itu lebih membuka kesempatan untuk mendekati zina.

Kebayang kan, gimana rasanya menangani hati yang berdebar-debar ketika bertemu orang yang kita sukai dan di sisi lain berusaha keras tetap mengingat larangan macam-macam dalam agama Islam. Itu tidak mudah, jendral. Tidak mudah.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan ketika sudah merasa mampu dan mulai merasakan jatuh cinta? Segeralah menikah.
Ini yang terjadi pada anakku.

Ya. Ini yang terjadi pada anakku ketika dia berusia 19 tahun dan bertanya pada kami sesuatu.

"Ayah, ibu, apa kriteria kalian untuk mencari menantu. Karena, aku ingin menikah muda, tapi aku tidak mau, nanti aku sudah capek-capek mencari dan mendapatkan calon istri nggak tahunya kalian tidak cocok dengan kriteria calonku."

Kejadiannya di tahun 2013 sebenarnya. Tapi obrolan ini berlalu bersama waktu dan terlupa begitu saja setelah kami aku dan suami memberitahu dia kriteria yang kami inginkan (dan maaf ini rahasia ya... hehehe).

Hingga di tahun 2016, anakku meminta kami untuk berkenalan dengan keluarga calon istri yang dia sukai.
Dan di awal tahun 2017, kedua orang tua semakin intensif membicarakan tentang rencana untuk menyatukan kedua belah keluarga. Usia anakku baru 22 tahun ketika itu. Dia berulang tahun ke 21 tahun di tahun 2016, bulan Oktober.

Hingga tiba hari dimana anak lelaki sulungku ini untuk melamar secara resmi gadis yang dia sukai setelah kedua keluarga sepakat untuk setuju mengadakan pernikahan untuk merekatkan dua keluarga.



#ceritakemarinku : Ada 3 pertanyaan yang diberikan pada seorang pemuda ketika datang meminang. Pertama, tentang siapa dia. Kedua tentang apakah dia benar sudah mengenal dan mengetahui gadis yang dipinangnya. Terakhir memastikan apakah benar dia menyukai dan mencintai gadis yang dipinangnya. Untuk ketiga pertanyaan ini, jawaban yang diberikan oleh perempuan cuma satu. Dan di Islam, justru jawabannya bukan dengan kata2 tapi dengan diam. Karena diamnya seorang perempuan dianggap setuju. . Seorang gadis dianggap punya perasaan malu. Dan rasa malu itu salah satu kebaikan justru. Meski begitu, dia boleh mengutarakan penolakan, atau sanggahan. Dan itupun dianggap sebagai satu kebaikan juga. Keterbukaan disajikan sejak awal pertemuan. Dan ini alhamdulillah yang kami lalui pekan kemarin (6 agustus 2017). . "Sejak dia masuk usia remaja, pesanku satu ke anakku. Jangan pacaran kalau bisa. Karena pacaran itu lebih mendekatkan dirimu pada zina, sedikit demi sedikit tanpa terasa. Suka ama orang boleh. Mencoba bermain dengan rasa suka tak apa. Tapi ketika sudah resmi pacaran, perlahan sikap permisif kita terhadap sentuhan dengan lawan jenis akan bertambah. Itu yang membuat kita cepat atau lambat mendekati zina tanpa disadari. Awalnya, anakku terlihat bete jika dinasehati seperti ini. Hingga ketika usianya jelang 20 tahun, dia bertanya. Jika aku tidak boleh pacaran, apakah aku boleh menikah muda? Aku jawab boleh, jika kamu memang sudah mampu menghidupi istri dan anakmu sendiri. Mandiri dulu, lalu silahkah menikah muda. Itu jawabanku. Karena menurutku, ketika kita melarang sesuatu maka kita harus membuka pintu lain untuk solusinya. Jadi, ketika di usia 22 tahun nya dia ingin menikah, maka aku mengizinkannya karena secara ekonomi insya Allah dia sudah mandiri. Akunya sendiri gimana? Aku memilih untuk bahagia melihat anakku bahagia. Alhamdulillah." #ocehanadeanita #mohondoarestu #jelangpernikahananakku #degdegan #mysonwedding #pernikahananakku
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on




Buatku, ini peristiwa tak terlupakan di tahun 2017.
Rasanya seperti mimpi.
Ada juga rasa sedih dan terharu di dalam hatiku.
Aku merasa belum tua banget sebenarnya. hehehe. Jadi kebayang kan rasanya jadi orang tua yang masih merasa muda tapi ucluk-uclik datang melamar ke rumah gadis untuk melamar bagi anaknya. #disituAkuMerasaTuabanget

3. Liburan terakhir berlima sebelum anakku melepas masa lajangnya


Ini lanjutan ceritaku di tahun 2017. Jadi, setelah lelah mempersiapkan segala sesuatu sehubungan dengan rencana pernikahan perdana yang akan kami lakukan di keluarga kecil kami,  ditambah lagi kedua putriku baru selesai mengikuti Ujian Nasional untuk bisa lulus dari sekolahnya. Yang bungsu agar lulus dari Sekolah dasarnya (SD) agr bisa diterima di SMP N dan kakaknya agar lulus dari SMA dan diterima di PTN. kami butuh piknik.

Piknik itu penting bagi keluargaku. Karena bisa ganti pemandangan baru dan suasana baru pula. Setelah piknik biasanya kami bisa mendapat energi baru. Kami sekeluarga selalu menyisihkan waktu untuk bisa liburan setiap tahunnya.
Bekerja keras.
Berusaha keras menyisihkan uang dan mencari waktu senggang yang bisa disepakati oleh semuanya.
Lalu cari waktu untuk bisa berlibur.
Kali ini, bahkan liburan menjadi terasa amat istimewa karena bisa jadi ini adalah liburan terakhir berlima sebelum anakku melepas masa lajangnya.
Setelah anakku menikah nanti, anakku punya istri. Artinya, ada tambahan anggota baru di keluargaku. Jadi, mau tidak mau, ini bisa disebut liburan terakhir berlima sebelum anakku melepas masa lajangnya.

Kami lalu bermusyawarah kemana akan berlibur kali ini. Ada beberapa kandidat tempat. Tapi aku meminta untuk berlibur ke tempat yang belum pernah kami datangi. Dengan begitu benar-benar akan menyegarkan suasana dan hati serta pemandangan.

Kami memilih untuk berlibur ke Melaka, salah satu negara bagian di negeri Malaysia. Dan keputusan ini tepat. Karena ternyata Melaka itu bagus sekali.

Melaka adalah kota pesisir. Sebagian pantainya sudah mengalami reklamasi tapi kemudian dikembangkan hingga menjadi daerah turis dan perdagangan. Sisa-sisa sejarah tempo dulu dipertahankan sehingga terkesan kota lama. Tidak heran jika Melaka diakui sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO.









Obrolan Ibu dan anak tentang Kepiting. (*iya, karena aku alergi daging kepiting jadi aku gak pernah merhatiin kepiting; gak pernah beli; atau sengaja mencarinya. Jadi harap maklum kalau aku sedikit norak di rekaman ini..hehehhe). . Jadi, begitu melihat banyaknya kepiting-kepiting kecil yang aku pikirkan pertama kali adalah, semua anakku melihat ini nggak ya? Hahaha..Karena ini bakalan jadi isi obrolan pulang nanti dan kebayang kalau ada 1 aja anak yang terlewat moment ini. . Jadi, kata anakku, kepiting yang hidup di 2 alam seperti kepiting pohon yang hidup di tepi sungai Melaka ini haram untuk dikonsumsi. Kepiting pohon berbeda dengan kepiting laut yang memang terus menerus tinggal di laut. Paling ke pantai buat setor-muka-cari-perhatian-eh-ketangkep-lalu-dimasak-orang. . Masih katanya anakku lagi nih, yang enak itu daging kepiting yang ditangkap pas bulan purnama sedang muncul. Karena seperti halnya werewolf, kepiting akan ganti kulit ketika bulan sedang purnama. Tapi werewolf jadi makan orang sedangkan kepiting dimakan orang. . Sepertinya bumbu di ceritaku lebih banyak kecampur ama film deh. Hahahaha. #yasudahlah #kepiting #bukanmrcrap #manaspongebob #crap #kepitingpohon #sungaimelaka #malaysia #melaka
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on





Dan sstt... di tengah-tengah kesibukan berlibur, putra sulungku menyempatkan diri untuk melihat-lihat apa yang sekiranya bisa dia beli dalam rangka untuk mengisi nampan untuk seserahan jelang pernikahan nanti. hehehe.


4. Mempersiapkan pernikahan untuk anakku.

Apa peristiwa yang tak terlupakan dari sebuah persiapan menjelang pernikahan? Sebenarnya semua biasa-biasa saja. Kami keluarga kecil yang cukup mandiri.
Setelah bertahun-tahun hidup tanpa bantuan ART (asisten rumah tangga), sudah ditinggal selama-lamanya juga oleh kedua orang tua (baik orang tuaku maupun orang tua suami) serta hidup berpindah-pindah di awal kehidupan berumah tangga karena suamiku mengikuti beberapa pendidikan di luar negeri, tanpa terasa ternyata membentuk keluarga kami menjadi keluarga yang mandiri. Segalanya bisa dikerjakan sendiri tanpa harus menguras air mata, mengeluh pada banyak orang, atau baper jika melihat orang lain berhasil.

Anak lelakiku pun demikian karakter yang membentuknya. Dia tumbuh menjadi pemuda yang cukup mandiri dan sedikit perfeksionis. Jadi, tidak heran jika persiapan pernikahan hanya kami bahas antara aku, suami, anakku, calon menantu, dan kedua calon besan saja. Tidak melibatkan orang banyak, dan tidak melibatkan keluarga besar.

Rupanya hal ini, dalam budaya di keluarga besarku adalah hal yang salah besar. Justru kemandirian itu adalah salah satu bentuk kesombongan. Dan kemandirian itu adalah bentuk tindakan tercela yang tidak sepatutnya dilakukan karena:

"Ya silahkan saja sih jika memang ingin melakukan segalanya sendiri karena merasa mampu dan bisa. Jika kamu memang tidak menganggap kami ini keluarga kamu lagi."

Jujur.
Aku awalnya bingung mengapa kita harus mendelegasikan sesuatu yang sebenarnya bisa kita kerjakan sendiri dengan cepat dan terserah kita kepada orang lain yang kita tidak tahu bagaimana cara kerjanya dan apa yang ada di pikirannya? Yang paling mengenal diri kita kan kita sendiri ya? Kita yang tahu apa yang kita mau dan kita inginkan, jadi kita pasti tahu apa yang akan kita lakukan dengan kemampuan kita.

Tapi rupanya hidup dengan keluarga besar tidaklah demikian.
Selama kalian masih menganggap orang lain sebagai bagian dari keluarga, maka kalian harus mempercayakan dan membagi pekerjaan yang kalian sebenarnya bisa tangani pada orang lain tersebut.

Melibatkan orang lain dalam pekerjaan yang kita kerjakan itu tidak selalu berarti kita butuh pertolongan. Tidak. Tapi lebih karena kita hidup bersosial dan kita masih ingin dianggap bagian dari masyarakat sosial tersebut.
Berbagi sesuatu itu bukan berarti kita kelebihan dan orang lain kekurangan. Tapi lebih karena kita ingin  orang lain juga merasa memiliki sesuatu yang kita miliki dan kita bagi dengannya.
Dan ternyata, kebersamaan itu justru terbangun karena aneka kepentingan yang disatukan dalam sebuah pekerjaan bersama; tidak selalu karena  satu niat dan satu tujuan yang sama.
Jadi, peristiwa tak terlupakan di tahun 2017 sehubungan dengan rencana pernikahan putra sulungku adalah, justru ketika aku harus menghadapi keluarga besarku. Menjelaskan pada mereka rencana akan menikahkan putraku pada mereka, dan menjelaskan pada mereka bahwa beberapa bagian dari rencana pernikahan sudah nyaris rampung aku-suami-anak-anak selesaikan. Jadi keluarga besar tinggal hadir saja.

Maksud hati ingin tidak ingin memberatkan orang lain. Tapi ternyata keluarga besar malah tersinggung karena mereka tidak kebagian pekerjaan apa-apa dalam hal ini.  Bahkan ada yang tersinggung dan mengancam tidak akan hadir di pernikahan putraku jika memang tidak bisa membantu apapun dalam hal ini.

Dengan demikian, aku pun mencatat hal penting jika akan melakukan persiapan pernikahan jika kita masih hidup di tengah masyarakat Indonesia:
"Jangan pernah meng-handle segalanya sendirian. Bagilah dengan keluarga besarmu semua kerepotanmu itu. Libatkan mereka, repotkan mereka, karena itulah arti sebuah keluarga. Kebersamaan adalah membagi segalanya baik suka maupun duka."




5. Pernikahan anakku.

Nah, ini juga peristiwa tak terlupakan di tahun 2017, yaitu pernikahan anakku.
Usianya baru 22 tahun tapi dia sudah cukup dewasa untuk bisa jadi imam dalam keluarganya sendiri.

Pundak kecilmu di lenganku Lekat disana wajah mungil dengan tangisan yang memecah sunyi Sumringah senyum hadir di seluruh wajah yang menanti berita baik Pundakmu ada di pelukanku Ketika tangismu hadir karena pelajaran yang sulit Rasa tak percaya dirimu muncul Dan kami menjaga agar api semangatmu tak pernah padam Pundakmu tegap di bawah toga kebesaran Aku melihat senyummu lagi Kali ini menularkan bahagia dan menumbuhkan haru Pundakmu; hanya di pundakmu, nak Kutitipkan harapan dan asa Untukmu jelang hidup baru Tetaplah adil dan jujur (ade anita) #mysonwedding #pernikahananakku #ocehanadeanita #anaklelakiku #kesayanganku #mohondoarestu . Entah Mengapa, padahal ini peristiwa bahagia tapi aku menangis sesenggukan karena rasa yang entah. Haru, bahagia, sedih karena ikhlas dia bahagia, dan rasa lain yang tidak bisa diceritakan. Ingin rasanya memeluk pundaknya erat-erat. Lalu menciumi pipinya hingga lipstikku menempel di pipinya. Tak peduli make upku luntur karena air mata. Aku memeluknya erat. Mengusap rambut kepalanya dengan rasa sayang yang penuh meluap-luap. Anakku sayang, kini sudah dewasa. Alhamdulillah. Semoga hidupnya selalu bahagia, selalu dalam payung Islam. Aamiin.
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on


Aku membuat puisi khusus untuk disematkan di kartu undangan nikah putraku ini. Tapi puisiku ini ditolak oleh anakku dengan alasan, puisi ini terlalu bersifat pribadi. Padahal anakku ingin adil dalam hal ini, termasuk di undangan pernikahannya. 

"Aku nggak enak kalau memasang puisi ibu di undangan pernikahanku. Puisi itu ditujukan untukku. Padahal, kedua orang tua Dhanti (calonnya kala itu) pasti juga punya rasa sayang pada anaknya dan mungkin ingin menitipkan sesuatu pada anaknya. Tapi, jika sejak awal aku sudah berat sebelah dengan memberi porsi lebih banyak pada ayah dan ibu, ketimbang pada mereka, berarti aku sudah tidak adil."

Itu alasan putraku menolak permintaanku untuk menyelipkan puisiku di kartu undangannya. Sedih sih dengan penolakan itu tapi aku terharu dengan keputusannya. Alhamdulillah, sejak awal dia sudah berusaha untuk berlaku adil.

Dan inilah puisiku tersebut.  Puisi yang aku hadiahkan sebagai hadiah pernikahanku untuk putraku, Ibrahim Nurandita Isbandiputra.


PUNDAK

Pundak kecilmu di lenganku

Lekat disana wajah mungil dengan tangisan yang memecah sunyi

Sumringah senyum hadir di seluruh wajah yang menanti berita baik



Pundakmu ada di pelukanku

Ketika tangismu hadir karena pelajaran yang sulit

Rasa tak percaya dirimu muncul

Dan kami menjaga agar api semangatmu tak pernah padam



Pundakmu tegap di bawah toga kebesaran

Aku melihat senyummu lagi

Kali ini menularkan bahagia dan menumbuhkan haru



Pundakmu; hanya di pundakmu, nak

Kutitipkan harapan dan asa

Untukmu jelang hidup baru

Tetaplah adil dan jujur





6. Punya Menantu


Jujur saja, aku tidak pernah membayangkan bahwa di usiaku yang ke 47 tahun, aku sudah memiliki menantu alias sudah jadi ibu mertua. hehehe.
Ini tulisanku tentang hal itu: Aku sudah jadi ibu mertua.

Alhamdulillah.

7. Anakku diterima di sekolah impiannya

Ini juga sebuah berita baik yang masuk menjadi Peristiwa tak terlupakan di tahun 2017. Yaitu ketika kedua anakku yang tahun ini mengikuti Ujian Nasional agar bisa lulus dari sekolah dan diterima di sekolah negeri memberiku kabar baik bahwa mereka akhirnya diterima di sekolah impiannya masing-masing.


tulisan tentang kilas balik perjuangan masuk FKUI anakku tertulis di sini, bisa dibaca ya:
Kilas balik perjuangan masuk FKUI Swarnasari Nurandita Isbandiputri

Ada cerita spesial tentang perjuangan anakku hingga dia masuk FKUI ini.
Sejak dia lulus SMP dan akan memilih SMA, anakku gagal masuk jurusan IPA karena nilai UN nya yang kurang sedikit untuk masuk jurusan IPA di SMA 8 Jakarta.
Akhirnya, anakku ini pun masuk jurusan IPS di SMA 8 Jakarta.

Masalahnya adalah, suamiku yang guru besar di FISIP UI, melarang beberapa hal untuk dipilih oleh anakku ketika dia kelak lulus SMA kelak. Hmm... iya, kalian tidak salah baca. Memang anakku baru lulus SMP tapi suamiku sudah memberi pengarahan apa yang tidak boleh dipilih jika dia sudah lulus SMA nanti.  Yaitu:
1. Tidak boleh memilih universitas di luar kota Jakarta.
2. Tidak boleh memilih FISIP UI (suamiku yang menjadi guru besar di FISIP tidak ingin nanti anakku kesulitan sendiri dengan posisi ayahnya; teman-teman ayahnya pun juga rikuh dengan keberadaan anakku. Serba salah. Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk tidak boleh memilih FISIP UI sebagai komprominya).
3. Berusahalah agar tidak masuk universitas swasta karena keuangan keluarga tidak memungkinkan untuk menyekolahkan dia bersekolah di Universitas swasta yang biasanya muahual.

Dengan segala peraturan ini, anakku pun bingung apa yang harus dia pilih ketika lulus SMA nanti jika dia meneruskan bersekolah di jurusan IPS di SMA. Akhirnya, aku dan putriku menghadap Kepala Sekolah SMA 8 Jakarta dan menyatakan diri untuk pindah jurusan.

Tentu saja Kepala Sekolah saat itu menentangnya. Hal yang sulit bagi anak IPS untuk pindah jurusan ke IPA dan pindahnya di tengah semester pula. Beberapa fakta diberikan seperti kemungkinan akan kesulitan mengikuti pelajaran karena memang amat berbeda pelajaran yang diberikan di jurusan IPS dan jurusan IPA. Bahkan mata pelajaran matematika yang meski judulnya sama tapi materi pelajarannya pun berbeda antara matematika IPS dan matematika IPA. Belum lagi kenyataan bahwa ada banyak anak yang tidak berhasil mengikuti pelajaran yang jauh berbeda tersebut dan akhirnya malah gagal mengikuti pelajaran dan tidak naik kelas. Lagipula, mereka yang  pindah jurusan dari IPS ke IPA akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan fasilitas menerima undangan untuk masuk PTN karena ada pengurangan nilai akibat konversi nilai dari IPS ke IPA.

Tapi anakku tetap ingin pindah jurusan.
Akhirnya, beberapa syarat diajukan untuk bisa pindah dari Jurusan IPS ke jurusan IPA. Yaitu:
1. Harus menyerahkan fotocopy nilai UN SMP.
2. Harus menyerahkan fotocopy hasil psikotes terbaru.
3. Harus menyerahkan surat bermaterai bahwa kami tidak akan menuntut pihak sekolah jika di kemudian hari ternyata anak kami gagal mengikuti pelajaran akibat pergantian jurusan tersebut.
4. Harus menyerahkan surat bermaterai bahwa kami pindah jurusan dari IPS ke IPA karena keinginan sendiri dan akan bertanggung jawab sepenuhnya di hari mendatang karena pilihan tersebut.

Alhamdulillah akhirnya anakku bisa pindah jurusan dari IPS ke IPA di bulan November.
Masalahnya, bulan Desember akan dilangsungkan ulangan akhir semester.
Hmm.
Akhirnya, jalan keluarnya adalah anakku ikut les privat 2 pekan penuh untuk mengejar ketertinggalan pelajaran IPA. Yaitu untuk belajar materi pelajaran Biologi, Fisika, Kimia, Matematika IPA. Masing-masing dipelajari selama 1 hari full. Jadi seminggu 2 kali datang les.
Hasilnya? Nilai anakku merosot dan dia hanya menduduki peringkat ke 35 dari 37 anak di kelasnya yang baru.

Tapi, anakku tetap bersemangat.
Kelas 2 peringkatnya tidak mengalami peningkatan yang banyak; tetap di peringkat 5 terakhir dari seluruh anak di kelasnya.
Kelas 3, anakku mulai serius belajar. Sticky post ditempel dimana-mana di kamarnya. Ada yang berisi pesan menyemangati diri sendiri, ada juga yang menulis rumus-rumus yang harus dia hafalkan.

Itu sebabnya ketika suatu hari suamiku mengirimi kami berita resmi dari SBMPTN bahwa anakku diterima di FKUI; sudah tidak terkatakan bagaimana bahagianya.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.

Ketika aku bertemu dengan temanku yang menjadi guru di SMA 8, guru ini tidak tahu siapa anakku. Dia  bercerita,

"Eh... ada loh anak didik di SMA 8. Jadi dia masuk IPS tadinya, terus pindah ke IPA, nggak tahunya berhasil masuk Fakultas Kedokteran UI. Wah. Semangatnya itu luar biasa. Dia menulis kisah kilas balik perjuangannya. Langsung saja saya share ke anak-anak didik saya yang lain agar bisa jadi inspirasi."

(aku menahan senyum): "Namanya Swarnasari bukan pak?"
"Iya benar. Kok tahu? Baca juga ya kisahnya di  facebook? Karena memang banyak dishare saya lihat."
"Nggak pak. Itu anak saya."
(lalu aku merasa bahwa dua kepak sayap tumbuh dan mengepak-ngepak di punggungku. Masya Allah senangnya, bahagianya. Alhamdulillah).

8. Kursi hangus

Nah. Ini nih. Hahaha.
Jadi, karena sudah punya menantu maka suatu hari aku pergi berdua saja dengan suamiku. Aku titip pada menantuku dan anak-anak di rumah.

"Ini. Ada perlengkapan membuat makaroni skotel. Buat saja ya. Tapi oven kompor ibu rusak, jadi gunakan saja oven listrik."

Rupanya, menantu dan putriku yang belum pernah menggunakan oven listrik sebelumnya menaruh oven tersebut di atas kursi. Akibatnya, hanguslah kursiku.

ini foto yang aku ambil dari IG story menantuku. Awalnya dia terlihat semangat dan dari kejauhan (lokasi aku pergi bersama suami) aku tersenyum melihat rasa bangga dan semangatnya karena berhasil mengolah makaroni skotel).
Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba di IG story putraku (suaminya menantuku) terlihat foto ini. wkwkwkwk. Aku langsung ngakak membacanya. Lalu aku perlihatkan IG story tersebut ke suamiku dan kami akhirnya mentertawakannya dari kejauhan tempat lokasi kami berada saat itu. 

Dan ini rangkaian IG story putraku berikutnya. hahahaha. Coba deh itu, kenapa memasak makaroni di taman dalam rumah coba? Tapi biarlah. Dengan begitu anak dan menantu mendapat pelajaran berharga kan? hahahaha... (*ayo kembali ke jaman batu. Eh?)


9. Handphone untuk mengusir kucing

Sejak punya menantu, ada sebuah perubahan dalam rumahku. Jadi, menantuku ini adalah seorang yang pennyayang binatang ceritanya. Dan dia suka banget sama yang namanya Kucing. Padahal aku takut sama kucing.

Di rumah, anak-anakku tidak ada yang terpengaruh dengan phobianya aku terhadap kucing. Jadi suami dan anak-anak semua berani dan sayang pada kucing. Jadi jika aku sedang berhadapan dengan kucing di mana saja maka suami dan anak-anak akan membantuku mengatasi rasa takutku ini dengan menghalangi agar kucing tidak datang mendekatiku.

Keadaan berubah sejak punya menantu yang penyayang binatang. Menantuku ini sering memberi makan kucing liar di luar rumah. Akibatnya, ada beberapa ekor kucing yang jadi rajin mampir ke rumah. Padahal sebelumnya kucing tidak berani datang ke rumahku karena sering aku usir dengan tegas.

Mendapati kucing sering main ke rumah, anak-anak mulai memberi nama kucing-kucing tersebut. Lalu ikut memberi makan. Bahkan menyediakan piring khusus untuk memberi makan kucing dan bermain dengan kucing-kucing tersebut di garasi.

Iya, anak, suami, menantu tahu pasti aku masih phobia kucing. Jadilah mereka tidak membiarkan kucing masuk ke dalam rumah. Jadi mereka bermain hanya di luar rumah saja. Jadi aku aman.

Jika aku keluar rumah, aku sudah siap sapu atau sendal untuk diangkat guna memperlihatkan gertak pada kucing di luar rumah agar tidak datang mendekat. Tapi jika anak-anak yang keluar rumah, kucing sudah hafal mereka tidak akan digertak jadi akan datang mendekat.

Hingga suatu pagi.
Rutinitasku berangkat antar anak sekolah adalah pukul 05.45 WIB. Keluar rumah dengan aman, lalu berangkat mengantar anak sekolah. Tapi pagi itu aku bangun kesiangan sehingga baru keluar rumah pukul 06.10 WIB. Begitu buka pintu, ternyata kucing liar (si manis nama yang diberikan oleh anak dan menantu karena wajahnya amat manis menurut mereka) langsung mengeong datang mendekat. Mungkin si manis pikir yang keluar adalah anakku yang kuliah karena anakku yang kuliah berangkat setelah aku berangkat. Si manis salah lihat orang, mana lagi warna jilbabnya sama.

Aku kaget bukan kepalang disambut oleh si manis. Aku usir sambil melotot tapi si manis tidak pergi. Aku pun mengangkat tanganku dan mengusir dia dengan gertakan seakan memperlihatkan "Pergi nggak! Jika tidak aku akan memukulmu dengan benda yang ada di tanganku."

HUS.
HUS.
HUS.
Tanganku sibuk terayun mengusir si manis hingga... prang! Handphone di tanganku meluncur menimpa lantai granit teras rumah dan... langsung retak layar LCD nya.

Waaa.... aku kaget. Mau ambil ada si manis yang sedang mengendus-endus handphone Samsung S 7 Edge-ku itu. Huhuhu. Alhamdulillah anakku segera datang menghalau si manis dan aku bisa memeriksa kondisi Samsung S 7 Edgeku tersayang.

#ceritakemarinku Akhirnya, setelah 2 tahun bersama handphone ini, harus dipensiunkan juga #samsunggalaxy #samsungs7edge . Jadi, ceritanya putriku punya kucing liar yang sering diajak ngobrol saban putriku ini pergi atau pulang dari kuliahnya. Akhirnya, kucing ini pun akrab dengan dia. Lalu menunggu dia dan menghampiri putriku di jam-jam tertentu. . Suatu hari, pagi tepatnya, aku terlambat berangkat antar putri bungsuku. Dan kucing liar ini tidak tahu bahwa aku terlambat. Kucing itu mengira, putriku yang kuliahlah yang akan berangkat. Kata orang, putriku ini memang mirip aku. Beda di postur tubuh tentunya. Aku gemuk dan dia langsing. Tapi kami sama2 pakai kacamata dan jilbab. Jadi, begitu dia mendengar suara pintu dibuka kucing liar itu langsung gembira ria mengeong-ngeong menyambut karena salah mengira orang. Masalahnya, aku takut kucing. Jadi aku langsung panik melihat kucing yang sering jadi teman anakku ngobrol ini datang menghampiri dengan penuh antusias. Aku usir...hush..hush... hush. Tapi lupa, tanganku sedang menggenggam handphone. Lalu handphone itu pun terpental lepas dari tangan. . Prang. Layar LCD nya langsung retak. Huhuhuhu. Sedih banget. Padahal lagi menikmati-nikmatinya kenyamanan pakai kameranya yang enak, bersih, bening. Juga kapasitas memorynya yang gede serta kecepatan loading yang cepat. Terpaksa...good bye. Cedih. #sedih semua aplikasinya masih bekerja sempurna padahal.😭😭cuma layar LCD nya aja yang retak. Gara-gara takut #kucing
A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on


10. Anakku ternyata Alergi Ikan Tertentu


Ini peristiwa tak terlupakan di tahun 2017 yang terakhir.
Di antara ke 3 anakku, aku bersyukur bahwa anak keduaku adalah anak paling sehat di antara saudara-saudaranya yang lain. Dia jarang jatuh sakit karena alerginya tidak sebanyak alergi yang dimiliki oleh kakak atau adiknya. Dia juga tidak mengidap asma atau penyakit pencernaan seperti yang dimiliki oleh kedua orang tuanya dan merupakan kelompok penyakit yang secara genetik akan diturunkan pada anak-anaknya.

Nah. Sepulangnya aku dari rumah sakit di bulan Januari 2017 lalu, aku belum bisa memasak secara full. Memasak secara full itu artinya mulai menyisihkan sayuran atau lauk, membersihkan, memotong, lalu mengolahnya. Kegiatan memasak seperti ini membutuhkan sepasang kaki yang kuat agar bisa berdiri dan berjalan bolak balik dalam mengolah makanan. Nah... aku belum bisa melakukan itu karena baru menjalani operasi lutut.

Jadi, kami pun membeli lauk setengah jadi di supermarket. Karena meski aku sakit, tapi anak-anak tetap harus bawa bekal ke sekolahnya karena mereka bersekolah dari pagi hingga nyaris sore. Jika jajan di luar rumah lebih boros dan belum terjamin kebersihannya.

Kami pun membeli ikan Gindara yang sudah dibumbui dan siap dipanggang. Jadilah aku pagi-pagi memanggang ikan Gindara berbumbu itu di depan kompor. Nyalakan api, taruh panggangan lalu bisa menungguinya matang sambil duduk. Selesai, aku pun menaruhnya di kotak makan anak-anak agar bisa mereka bawa ke sekolah.



Tapi, ternyata pukul sepuluh pagi, anakku menulis pesan di whatsapp memberitahu bahwa dia sepertinya mengalami kondisi alergi. Tiba-tiba dia merasa sesak nafas dan jantungnya terasa berdebar-debar.

Subhanallah. Aku kaget sekali. Kaget karena anakku ini belum pernah mengeluh sakit seperti itu sebelumnya. Aku balas pesannya dengan meminta dia untuk datang ke ruang UKS di SMA-nya dan meminum obat anti alergi sesegera mungkin. Lalu aku pun bersiap untuk datang menjemputnya di sekolahan.

Setelah dijemput, lalu kami segera pergi ke dokter.
Ternyata, baru ketahuan bahwa anakku alergi terhadap olahan ikan yang tidak fresh ketika dikonsumsinya.
Jadi, dia tidak alergi terhadap ikan Gindara. Tapi, karena ikan Gindara itu bermalam di lemari pendingin semalaman sebelum diolah pagi harinya, maka telah berkembang sesuatu yang bisa memicu alergi pada anakku ini. Itu sebabnya ketika istirahat pertama jam sepuluh pagi itu, ketika anakku memakan ikannya dalam rangka brunch, dia langsung menderita alergi.

Sejak kejadian itu aku jadi mengetahui bahwa anak keduaku ini ternyata memiliki alergi juga yang cukup parah. Alhamdulillah, ini hikmahnya. Jadi harus waspada dan mencegah agar alergi tidak kambuh lagi.

-------------

Ya. Itulah 10 Peristiwa tak terlupakan di tahun 2017 yang aku alami  di sepanjang tahun 2017. Tiap-tiap kisah memiliki hikmah tersendiri dan buatku itu amat tak terlupakan.
Bagaimana dengan kalian? Apakah memiliki juga 10 Peristiwa tak terlupakan di tahun 2017 versi kalian sendiri?

7 komentar:

  1. Setiap kejadian memang selalu ada hikmah yg bisa d ambil
    Semoga d tahun berikutnya tetap dengan kejafian kejadian yg baik yg mampu membuat kita menjafi pribadi yg lwbih baik lg

    BalasHapus
  2. Mba Ade masih muda udah jadi ibu mertua �� nggak apa mbaa. Anak bahagia yaaa.. Puisinya bagus^^

    BalasHapus
  3. Waaah banyak peristiwa besar ya mbak. Aku baca sampai tuntas untuk belajar sabar & mengalah kalau mantu kelak, juga belajar semangat sampai akhir spt putrinya.

    BalasHapus
  4. gado-gado bangeeet ya mbaaa...semoga di 2018 makin banyak berkah-Nya. Aku bacu campur senyum, sedih, geli dan khawatir :)

    BalasHapus
  5. Mbak, cerita putrinya yang masuk FKUI itu inspiratif banget. Saya lagi galau melihat prestasi Keke yang cukup menurun setelah masuk sekolah negeri. Ya mungkin dia masih beradaptasi juga karena terbiasa dengan sekolah swasta. Kadang bisa memahami, tapi kadang juga galau meskipun anaknya semangat untuk berusaha. Setelah baca cerita Mbak Ade ini, saya jadi semangat lagi. Terima kasih ya, Mbak :)

    BalasHapus
  6. hihi.. banyak juga ya kejadian yang berkesan di tahun lalu ya mbak, tapi menurutku paling gokili kejadian terbakarnya kursi akibat oven listrik itu lho.. heheh

    BalasHapus
  7. Seru bacanya. Moga-moga tercapai resolusi 2018nya, Mbak Ade. :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut