Langsung ke konten utama

Kangen Pacar

Dulu, ketika baru menikah, ibuku sering senyam-senyum sendiri jika melihat aku dan suamiku duduk-duduk di atas jembatan kecil buatan yang ada di atas kolam kecil berair mancur sederhana di halaman belakang rumahku. Ibu memang memelihara beberapa ikan di kolam kecil itu. Ikan mas dan ikan patin. Semuanya untuk dikonsumsi jika sedang ingin makan ikan. Karena, ayahku senang makan ikan segar olahan. Selain ikan mas dan ikan patin juga ada ikan sapu-sapu. Tapi, ikan sapu-sapu ini tidak untuk dimakan. Dia dimasukkan ke dalam kolam khusus untuk membersihkan lumur dan kotoran yang ada di dalam kolam. Karena, secara instingtif, ikan sapu-sapu memang memakan lumut dan semua yang kecil-kecil yang tidak terpakai yang bisa dimakan.

Ibu bilang, "Ih.... kalian berdua seperti sedang pacaran saja deh."

hehehe. Mungkin, karena setelah semua orang berangkat kerja dan bersekolah, yang di rumah hanya tertinggal aku dan suamiku serta ibu dan ART-nya. Kuliahku mulai senggang kala itu jadi bisa masuk siang. Sedangkan suamiku karena sedang persiapan untuk berangkat kuliah ke LN jadi sudah mulai diberi kelonggaran untuk tidak perlu datang pagi-pagi mengajar di kampusnya. 

Tuh... berhubung belum punya anak, masih pengantin baru, ya sudah... kami jadi sering duduk ngobrol berdua di bawah pohon rambutan di atas jembatan kecil itu. Sebelah kaki menyibak air kolam. kecipak kecipuk. (ish.... bener juga. Kayak orang pacaran versi tahun 70-an ya ternyata).

adegannya kurang lebih seperti ini deh. Duduk di bawah air terjun, saling pandang. Tentu saja lelakinya tidak berpakaian seperti tarzan ya... hehehhe (apa sih?) (foto punya disney yang diambil dari google)


Aku amat menikmati masa-masa berduaan dempetan seperti itu. Asli.
Apalagi jika suamiku baru mandi. Duh.. wanginya tercium menimbulkan desir. Ahai.

Tapiiiiii...
Itu dulu.
Sekarang mah... aduh, susah banget mau berdampingan berdua-duaan gitu. Karena, seperti kata kebanyakan orang; anak perempuan yang normal bakalan dekat dengan ayahnya. 
Nah....
Aku punya dua anak perempuan jadi, jika pergi kemana-mana pasti deh... suamiku dikuasai oleh dua anak perempuanku itu.

Seperti ini nih....




hehehehehehe.
Gimana aku jadi gak kangen (mantan)- pacar yang dulu sering menemani maiinin air di pinggir kolam buatan coba kalau nggak gitu? Nggak papah deh, biar kata penggambarannya jadul sekalipun. 

(#disituakubersyukurpunyaanaklelakiyangsecaranaluribakalandekatdenganibunya
#enaknyapunyaanaklengkapcewekcowoktuhsepertiinimemang)

Komentar

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…