Langsung ke konten utama

2 Hambatan menjadi Orang Tua yang cerdas

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.
Itu adalah pepatah Arab yang sering diperdengarkan untuk mengungkapkan betapa belajar itu penting untuk dilakukan. Karena dengan ilmu, seorang manusia bisa mencapai kemuliaan, dan lewat ilmu pula banyak persoalan bisa diselesaikan. Dan sebagai orang tua, ketika mengasuh-merawat dan mendidik anak-anaknya, maka orang tua haruslah memiliki ilmu yang cukup. 

Bisa jadi, kelebihan para orang tua dibanding anak-anak mereka itu satu: mereka dilahirkan terlebih dahulu dan diberi kesempatan untuk meraub ilmu sebanyak mungkin serta merasakan berbagai macam pengalaman hidup lebih dahulu daripada anak-anak mereka. Kedua bekal inilah yang menjadi pegangan para orang tua ketika Allah memberikan mereka amanah berupa anak-anak yang harus mereka jaga-lindungi-didik-besarkan.

Tapi, meski sudah memiliki ilmu dan pengalaman hidup yang bisa dikatakan lebih daripada anak-anak mereka, ada dua hal yang sering menghambat para orang tua untuk tampil menjadi "ORANG TUA YANG CERDAS". 

Dua hambatan menjadi ORANG TUA YANG CERDAS  itu adalah:

1. Ego yang besar. 
Ego yang besar ini menyebabkan orang tua sering menolak kenyataan bahwa dirinya bersalah, atau setidaknya menyebabkan sebuah kesalahan terjadi. 
Jadi semacam gengsi untuk mengakui bahwa dia lalai. Atau malu untuk mengakui bahwa dia abai. Atau berusaha menutupi kondisi bahwa dia sebenarnya kurang informasi ketika menjalankan sesuatu hingga terjadi kesalahan. Atau malu untuk mengakui bahwa dia kurang paham.

2. Rasa Sayang yang berlebihan.
Hambatan kedua yang menggagalkan seseorang menjadi orang tua yang cerdas adalah rasa sayang yang berlebihan yang dimiliki oleh para orang tua terhadap anaknya, sehingga rasa sayang tersebut bahkan mampu mengenyahkan akal sehat, ilmu, dan logika.

Berikut ini adalah potongan gambar yang menjelaskan kedua hambatan yang aku jelaskan.
(semua gambar ini saya dapatkan dari OMG... Doctors Reveal Their Dumbest Patients Ever)







 
Pembaca sendiri, sebagai orang tua, pernah tidak mengalami hambatan tersebut?

Komentar

  1. taku belum nikah mbak jadi g tau. hehe artikel yang bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. gpp.. kan nanti jadi pengalaman insya Allah

      Hapus
    2. gpp.. kan nanti jadi pengalaman insya Allah

      Hapus
  2. Mdh2an aku gk masuk ke rasa sayang berlebihan nih ya mak...
    Tfs mak ade

    BalasHapus
  3. Seriiing hihihiii.... Jadi ortu itu berarti belajar seumur hidup krn nggak pinter2 :)

    BalasHapus
  4. Masih harus banyak belajar dan masih harus sering intropeksi diri.

    BalasHapus
  5. Kalo saya nyimak dan nyerap ilmu dulu deh mba Ade. Belum bisa implementasi :)

    BalasHapus
  6. Kalo saya nyimak dan nyerap ilmu dulu deh mba Ade. Belum bisa implementasi :)

    BalasHapus
  7. Betul ya, Mbak.. Kalok terlalu sayang, malah jadi posesif :D

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…