Langsung ke konten utama

Hadiah Manis

[Pernikahan] Terkadang, hal-hal kecil itu bisa menerbitkan rasa sayang. Sekaligus mengeratkan tali silaturahim tentu saja.

Suatu hari, seorang temanku curhat padaku. Dia bercerita bahwa suaminya sakit-sakitan. Padahal dulu, suaminya bekerja di sebuah instansi pemerintahan. Sejak suaminya terkena stroke akibat penyakit gula, akhirnya suaminya dipensiun-dinikan oleh kantornya. Jadilah dia sekarang harus banting tulang mencari tambahan agar asap dapur bisa terus ngebul.

Temanku ini, anaknya empat orang. Cowok semua. Yang sulung, sudah duduk di bangku SMA kelas satu.  Yang bungsu masih SD kelas satu. Dengan kata lain, ke empat anaknya masih belum bisa mandiri. Seluruhnya masih bergantung pada dirinya.

Sejak suaminya dirumahkan, maka temanku ini berjualan makanan ke sekolah. Dia menjual makanan beku seperti sambosa, pastel, risol, es lilin susu, atau juice. Apa saja dia dagangin deh. Tapi, pendapatan yang dia peroleh tidak memungkinkan dia untuk bisa membeli sesuatu yang lebih ke arah "menghibur diri sendiri". Itu sebabnya suatu hari dia datang padaku. Ketika itu aku memakai sebuah selop baru (hehehe, asli masih baru. Masih kinclong dan ini baru hari pertama aku memakainya).

"Sendal lo baru De."
"Iya. Baru."
"Cakep ya."
"Iya, enteng lagi dipakenya."
"Enak ya bisa beli sendal. Gue mah boro-boro deh. Kadang, kalo gue punya duit mending buat beliin anak gue. Ini nih, sendal gue, dah lama banget gue pakenya. Untungnya gak rusak-rusak. Ya.. rusak sih tapi masih bisa panggil tukang sol."

Aku..... jadi nggak enak hati.
"Kamu... suka sendal baruku ini?"
"Demen banget. Modelnya cakep."
"Cobalah... muat nggak?"

Lalu, dengan suka cita dia pun mencobanya. Berjalan mondar mandir dengan sendal baruku. Ukurannya pas sekali dengan kakinya. Akhirnya, sampai di rumah. sendal baruku itu aku bungkus rapi. Besoknya aku hadiahkan pada temanku itu. Temanku itu senangnya luar biasa. Subhanallah.... aku yang memberinya jadi ikut terharu.

Di waktu berikutnya, pada kesempatan lain, kami kembali terlibat sebuah pembicaraan. Kebetulan, waktu itu karena terlalu lelah bekerja aku lupa sarapan. Jadilah aku mengudap beberapa cemilan yang dia bawa sebagai dagangannya.

"Ah, elo De. Kok bisa lupa sarapan gitu sih? Nanti sakit loh."
"Keasyikan kerja gue."
"Elo sukanya makanan apa sih De sebenarnya."
"Gue? Banyak. Tapi umumnya semua masakan jajanan tradisional gue suka. Kayak ketan yang ditaburi dengan kelapa yang mirip serundeng tuh...  cuma dah jarang dijual di dekat rumah. Biasanya yang dijual itu yang taburan kelapa parut putih dikasi garam itu. Yang itu aku kurang suka. Eh.. suka tapi lebih suka yang pake serundeng kelapa manis pedas itu sih."

Lalu kami ngobrol kesana kemari. Membahas topik tak penting yang tidak pernah habis dibicarakan. Hingga beberapa hari kemudian, temanku ini tampak sudah menungguku. Kebetulan aku datang menjemput putriku terlambat.

"Adeeee.... gue udah deg-degan takut elo gak datang. Ini... gue mau kasih hadiah buat elo."
"Hah? Hadiah apa?"
"Sesuatu yang menurut Lo udah jarang, tapi buat gue itu gampang banget buatnya. Makanan yang elo pinginin. Nih."

Dia memberiku ketan yang sudah dimasak dan siap dimakan serta serundeng manis pedasnya.
Wahhhh...
subhanallah.
Aku terharu banget dengan pemberiannya. Mana banyak lagi ngasihnya. Aihh.. senang sekali.

Dari hal-hal sederhana ini, ternyata menerbitkan sesuatu yang luar biasa buatku. Dan hadiah manis dari temanku ini, meski sederhana mampu mempermanis hubungan tali silaturahim kami.  Alhamdulillah.

Ini dia ketan serundeng manis pedas yang dia berikan padaku (jika ingin lihat resep cara buatnya, silahkan lihat di http://www.adeanita.com/2015/02/ketan-serundeng-manis-pedas.html)


Komentar

  1. bener banget mbak.
    karena hal-hal yang kecil bisa menjalin dan memper-erat tali silaturahim.

    seperti beberapa waktu yang lalu, gara-gara ngasih kopi segelas dapet hadiah nasi padang :-)

    BalasHapus
  2. setujuuuuu deh mak...perhatiannya seperti iniiii yang memang tak ternilai harganya...asli, masih ngiler ama si ketan hehehe

    BalasHapus
  3. terima kasih infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…