Dasyatnya Surat Al Fatihah (menurut Ust, Bachtiar Nasir)

 [Lifestyle; review buku] Sebagai anggota baru di komunitas Rahma Quran Study, aku dapat tugas untuk membuata sebuah resume kajian yang membahas tentang surat Al Fatihah. Bisa dari nonton di channel Youtube, bisa juga dari membaca buku. Jadi, sudah dua hari ini aku menyimak beberapa video di Youtube yang terkait dengan tugas tersebut.  Tapi, materi tentang surat pertama dalam Al Quran ini, aku sendiri punya kisah tersendirinya sebenarnya. Nah, aku mau nulis prolog ceritaku dulu ya sebelum menulis resumenya.

credit foto dari https://demakbicara.pikiran-rakyat.com/islamia/pr-1394783139/surat-al-fatihah-tulisan-arab-latin-terjemahan-dan-keutamaannya


Prolog:

Sejak kecil, sebagai seorang anak yang lahir di keluarga muslim secara turun-temurun; maka inilah surat dalam Al Quran yang pertama kali aku hafal di luar kepala. Surat Al FATIHAH. 

Pagi buta, mata masih berat mengantuk hingga rasanya masih ingin terlelap, Ketika imam shalat memimpin shalat shubuh, meski tubuh separuh mengantuk tapi ini surat yang bisa dengan fasih aku ikuti ketika itu. Surat- surat lain dalam Al Quran mungkin jika masih mengantuk akan terlupa di beberapa ayat yang mirip. Tapi tidak surat Al Fatihah. Mulus dan lancar terlantun dari bibir.

Masih cerita ketika di masa kecil, aku juga pernah mengalami saat dimana ada rasa takut yang datang. Seperti ketika harus melewati rumah yang punya anjing galak yang diikat di pagar, tapi talinya panjang sehingga setiap kali ada orang yang lewat anjingnya pasti menyalak sambil melompat. Membuat orang yang lewat ikut melompat karena terkejut. Dan tubuh kecilku mengkerut ketakutan. Kaku melewati jalan yang terasa horor dengan bibir komat-kamit membaca surat Al Fatihah berkali-kali. Begitu setiap hari saban pulang sekolah.
Atau seperti ketika mau menantikan waktu pembagian rapot dan pengumuman ujian. Sebelum berangkat ke sekolah, surat Al Fatihah terus-menerus dibaca dalam hati karena rasa takut dan khawatir "Naik kelas nggak ya?"; "Lulus nggak ya?" ; "Menang nggak ya?" dan pengharapan yang terselip sesudahnya. "Semoga naik kelas." atau "Semoga lulus": atau "Semoga menang".

Demikian aku memperlakukan surat pembuka dalam Al Quran ini dalam kehidupanku sehari-hari. Yaitu sebagai salah satu kewajiban yang harus dibaca ketika shalat, dan sebagai penenang dan doa tersendiri ketika hati sedang kacau dan galau.

Hingga akhirnya di tahun 2018, aku alhamdulillah naik haji ke tanah suci. Di hari arafah, ustad yang mengisi ceramah dan doa, menuturkan betapa indahnya surat Al Fatihah dan kandungan di dalamnya. Dan ceramahnya ini benar-benar merasuk ke dalam dadaku saat itu.

Surat Al Fatihah, kata pas Ustad kala itu (lupa nama ustadnya, kalo nggak salah Fachrurozy tapi nggak yakin sih), sebenarnya merupakan sebuah rangkaian doa yang utuh dan menyeluruh.

Diawali dengan kata Basmallah  dan seterusnya yang memuat nama-nama Allah di dalamnya.  Di dalamnya saja, terselip nama-nama Allah. yaitu Allah, Arrahman, Arrahiim, Al Malik. 

Jadi, pada dasarnya, hendaknya kita ketika ingin memulai sesuatu, sepanjang melakukan sesuatu, dan ketika mengakhiri melakukan sesuatu, selalu mengikut sertakan Allah dalam pekerjaan kita. Mulai dengan basmallah. Dengan mengikut sertakan Allah tersebut dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, maka kita akan terhindar insya Allah dari berbagai macam kegalauan di dalam hati. Kemasygulan, ke putus asaan, atau bahkan terhindari dari terlalu gembira atau terlalu senang. Karena pada dasarnya semua yang ada kata terlalu itu, meski itu sesuatu yang baik, sebenarnya tidak baik bagi diri kita.

Mengapa? Karena manusia itu secara alaminya hatinya selalu terbolak-balik. Kadang jika sedang baik, baik banget. Tapi sering juga tergoda untuk jadi tidak baik. Jika sedang senang, mudah tersenyum, terlalu senang malah jadi sombong. Dan ketika sedih, mudah menangis, terlalu sedih jatuhnya jadi lupa bersyukur. Malah sering mereka yang terlalu sedih akhirnya jadi mengingkari nikmat Allah yang pernah dia terima.

Manusia juga rentan terhadap dua buah bahaya, yaitu menyalahkan diri sendiri dan lingkungannya, serta menyalahkan Tuhannya ketika dia sedang bermasalah. Ini yang disebut dengan tidak bersyukur. Padahal, apalah kemampuan manusia itu di tengah dunia yang begitu dasyat. 







Nah.. gara-gara ceramah ketika wukuf di padang arafah inilah aku bisa merasakan betapa dasyatnya surat Al Fatihah.

Masya Allah.
Sejak usia dini (masih kecil), aku sudah dibiasakan untuk akrab dengan surat yang luar biasa tapi ternyata tidak menyadarinya sama sekali. Padahal sesungguhnya, isi kandungan surat Al Fatihah ini penuh dengan kandungan doa munajat kepada Allah SWT. 

Surat Al Fatihah, mengajarkan pada kita adab tentang bermunajat kepada Allah SWT. Dimulai dengan menyebut nama Allah, memujinya semata agar kita sadar bahwa diri kita ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seluruh kasih sayang dan perlindungan Allah SWT kepada diri kita.  Dan Allah sebagai pemilik kerajaan di seluruh dunia dan akherat, memiliki kuasa untuk melakukan apa saja terhadap kita. Sedangkan kita sebagai hambaNya, malah tidak punya kemampuan dan ilmu apapun untuk bisa meniti jalan kehidupan di muka bumi. Di saat banyak sekali cobaan, ujian yang datang silih berganti. Masya Allah, Allah sungguh Maha Pemurah dan Penyayang karena tanpa lelah terus membimbing kita, melindungi kita dan mengembalikan kita ke jalan yang benar. 



 


Dasyatnya Surat Al Fatihah (menurut Ust, Bachtiar Nasir) 

Nah, itu tadi di atas prologku ketika aku untuk pertama kalinya menyadari betapa dasyatnya surat Al Fatihah. 

 Kebetulan, aku menemukan video ceramah yang menyentuh hati yang dibawakan oleh ustad Bactiar Nasir. Judul videonya 'Dasyatnya Surat Al Fatihah". Video lama, karena dishare pada tanggal 23 September 2016 dan sampai sekarang sudah ditonton oleh 1,8 juta penonton. Video ini berasal dari channel AQL Islamic Center. Durasi videonya hanya berkisar 36 menit 18 detik saja.

   

 Ustad Bachtiar Nasir memulai ceramahnya dengan mengatakan bahwa surat Al Fatihah   ini dinamakan pula As Sab'ul matsaany (ุงู„ุณุจุน ุงู„ู…ุซุงู†ูŠ; tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam salat. Dalam shalat, selama 24 jam, seluruh muslim dan muslimah akan membaca surat Al Fatihah ini sebanyak 17 kali minimal. Yaitu ketika menjalankan shalat fardhu. Angka 17 ini akan bertambah jika kita menunaikan shalat sunnah.

Menurut ustad Bachtiar Nasir, bahwa para mufasir mengatakan bahwa di seluruh isi kitab suci di muka bumi ini; dalam arti jika kita ingin mempelajari ilmu kitab suci di masa lalu, yaitu kepada Adam (sebagai bapak biologis asal dari seluruh manusia), kepada Nuh (yang merupakan Rasul pertama setelah terjadinya kemusyrikan yang amat dasyat sehingga Allah memusnakan seluruh manusia dan peradaban saat itu lalu memulai kehidupan yang baru), dan kepada Ibrahim (yang merupakan bapak seluruh manusia kedua karena nabi Ibrahim diturunkan Allah untuk memperbaiki seluruh kebejatan manusia yang terjadi saat itu dan mengembalikan manusia untuk kembali bertauhid hanya kepada Allah SWT). Nabi Ibrahim adalah bapak idiologi manusia.  Kelak seluruh nabi dan rasul berasal dari anak keturunannya. 

Nah sejak jaman Adam hingga nabi Muhammad SAW, seluruh peradaban sudah dirangkum ringkasannya dalam kitab suci; dan seluruh kitab suci yang ada di muka bumi sudah dirangkum ringkasannya dalam kitab Al Quran hingga kita tidak perlu lagi membaca kitab suci agama lain seperti injil, taurat atau zabur. Cukup baca Al Quran saja.

Nah, seluruh ringkasan Al Quran, ada di dalam surat-surat pendek dalam Al Quran ringkasannya. Sedangkan seluruh inti sari dari surat-surat pendek dalam Al Quran tersebut ringkasannya ada dalam surat Al Fatihah. 

Maka luar biasanya isi surat Al Fatihah ini.
Secara ringkas ada 3 bagian dari surat Al Fatihah ini yang terdiri dari 7 ayat ini. 

3 Bagian penting dalam Surat Al Fatihah


1. Bagian pertama berisi pujian kepada Allah subhanahu wata'ala.
2. Bagian kedua berisi tentang penyerahan diri secara total kepada Allah subhanahu wata'ala.
3. Bagian ketika berisi permintaan yang paling hebat yang dimiliki oleh seorang manusia kepada Tuhannya.

Dengan kata lain, dalam surat Al Fatihah terdapat bentuk pelajaran, ekstrak cara memuji Allah itu seperti apa; lalu juga terdapat tuntunan atau cara untuk menyerahkan diri secara total kepada Allah itu seperti apa; dan terakhir pengajaran permintaan kepada Allah itu seperti apa.

Penjelasan.

Pujian kepada Allah itu  terdapat pada 4 ayat pertama dalam surat Al Fatihah. Bagi siapa saja, yang ingin mendapatkan kedekatan Allah yang Maha Terpuji itu maka perhatikan 4 ayat pertama ini. 


(1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ
(2) Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ
(3) Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, ุงู„ุฑَّุญْู…َٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ
(4) Pemilik hari pembalasan. ู…َุงู„ِูƒِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠู†ِ

Jadi, kata "Bi" adalah dengan nama.
Sedangkan "ismi" adalah bentuk tunggal dari bentuknya yang umum, yang merujuk bahwa semua asmaul husna sudah terangkum dalam kalimat pertama ini sudah Allah ringkaskan dalam kata "ismun"  ini. 
 
'Aku memulai dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'
'Aku memulai semua perbuatan baikku dengan menyebut nama-Mu.'

Pertanyaannya, ada berapa nama Allah? Jawabannya tidak terbatas.
Bagaimana dengan nama 99 nama Allah dalam asmaul husna itu? Itu yang wajib kita ketahui. Sekarang, pertanyaannya, apa benar nama Allah hanya 99 saja? Jawabannya tidak.

Sama seperti jumlah malaikat, jumlahnya 25. Tapi apa iya hanya 25?
Jumlah  nabi, ada 700 nabi. Tapi sebenarnya mungkin lebih banyak lagi. 

Apa iya Allah dibatasi sifatnya hanya 25 saja sesuai dengan nama Allah dalam asmaul husna? 
Dasarnya adalah bisa dilihat dari sebuah hadits tentang sebuah doa yang diajarkan oleh Rasulullah yang disaranakan dibacakan  ketika kita sedang dilanda kesedihan. Hadits ini shahih.

Tatkala dilanda perasaan resah, Rasulullah memilih pasrah kepada Allah SWT. Tidak lupa, Rasulullah membaca sebuah doa yang meminta agar Allah menghilangkan perasaan resah tersebut. Doa tersebut tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abdullah bin Mas'ud. Hadits tersebut tercantum dalam Musnad Ahmad dan Shahih Ibni Hibban.

" Allahumma inni 'abduka ibnu 'abdika ibnu amatika naashiyatii biyadika, maadli fiyya hukmuka, 'adlun fiyya qhodlouka, asaluka bikullismi huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au 'allamtahu ahadam min khoqhika, au anzaltahu fii kitaabika, awis taktsarta bihi fii 'ilmil ghoibi ;indakam an taj'alal quraana rabii'a qolbii, wa nuura shodrii, wajalaa huznii, wa dzahaab hammii."

Artinya:

" Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan Alquran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku."
Itu isi doa ini. Begitu dalam.
Dalam doa ini ada 3 komponen besar. 

1. Jika kena musibah apapun, serahkan diri secara total bahwa musibah itu sudah tertulis dalam lauhul mahfuz dan musibah itu adalah hukuman yang paling adil buat kita. Kesadaran yang berhasil dibangun dengan kenyataan ini akan melahirkan rasa ikhlas dalam diri kita.

2. Doa ini ada perantaraan , ada media bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan pertolongan Allah maka mintalah dengan menyebut nama Allah. Nah, dalam doa ini ada nama-nama Allah yang disebut.

"Aku memohon kepada-Mu dengan nama-Mu, nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk menamai diriMu dan yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam Al Quran, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al Quran sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan pelenyap keresahanku."

catatan : sebenarnya ketika mendengar video nya langsung kalian akan lebih jelas sih. Ini karena kekuranganku saja jadi aku tidak bisa menuliskannya dengan baik. 
Untuk memudahkan penjelasannya bahwa nama Allah tidak dibatasi hanya 99 nama saja, aku kutip sumber lain ya, dari koran Republika.

ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: "ู„ู„ู‡ِ ุชِุณْุนَุฉٌ ูˆَุชِุณْุนُูˆู†َ ุงุณู…ًุง ู…ِุฆุฉٌ ุฅِู„ุง ูˆَุงุญَุฏِุฉً ู„ุง ูŠَุญْูَุธُู‡ุง ุฃุญَุฏٌ ุฅู„ุง ุฏَุฎَู„َ ุงู„ุฌَู†َّุฉَ، ูˆู‡ูˆ ูˆَุชْุฑٌ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ูˆَุชْุฑَ

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang 'menghitungnya', maka dia masuk surga."

Imam Nawawi berpendapat, ulama sepakat bahwa jumlah nama Allah SWT tidak terbatas. Hadits tersebut tidak membatasi jumlah nama-nama Allah SWT, dan tidak berarti Allah SWT tidak memiliki nama selain dari 99 nama itu. Dan, siapa yang mengingat nama-nama ini (99 asmaul husna), maka akan masuk surga.

Karena itu, menurut Imam Nawawi, yang dimaksud dari hadits itu ialah mengabarkan bahwa orang yang mengingatnya akan masuk surga. Bukan memberitahukan bahwa Allah SWT hanya memiliki 99 nama.

Abu Sulaiman al Khatthabi mengumpamakan dengan 'Zaid memiliki 1.000 dirham'. Dari sini dapat dikatakan bahwa belum tentu Zaid tidak memiliki dirham di luar dari yang 1.000 itu. Karena, yang penting disiapkan Zaid adalah 1.000 dirham.

Penafsiran al Khatthabi diperkuat dengan sebuah hadits Abdillah bin Mas'ud yang disebutkan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Dalam hadits tersebut, Nabi SAW berdoa:

ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุฅู†ِูŠ ุนَุจْุฏُูƒَ، ุงุจู†ُ ุนَุจْุฏِูƒَ، ุงุจู†ُ ุฃَู…َุชِูƒَ، ู†َุงุตِูŠَุชِูŠ ุจِูŠَุฏِูƒَ، ู…َุงุถٍ ูِูŠَّ ุญُูƒْู…ُูƒَ، ุนَุฏْู„ٌ ูِูŠَّ ู‚َุถَุงุคُูƒَ، ุฃَุณْุฃَู„ُูƒَ ุจِูƒُู„ِّ ุงุณْู…ٍ ู‡ُูˆَ ู„َูƒَ، ุณَู…َّูŠْุชَ ุจِู‡ ู†َูْุณَูƒَ، ุฃَูˆْ ุฃَู†ْุฒَู„ْุชَู‡ُ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِูƒَ ุฃَูˆْ ุนَู„َّู…ْุชَู‡ُ ุฃَุญَุฏًุง ู…ِู†ْ ุฎَู„ْู‚ِูƒَ، ุฃَูˆِ ุงุณْุชَุฃْุซَุฑْุชَ ุจِู‡ِ ูِูŠ ุนِู„ْู…ِ ุงู„ุบَูŠุจِ ุนِู†ْุฏَูƒَ

"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu. (Juga) anak dari hamba-Mu, anak dari ibu (yang juga) hamba-Mu. Dalam kuasa-Mu diriku. Ketetapan-Mu telah ditetapkan padaku, Takdir-Mu lah yang Maha Adil padaku. Aku bermohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang Engkau namai sendiri diri-Mu dengan nama-nama itu, atau yang Engkau turunkan nama itu di dalam kitab suci-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang ciptaan-Mu, atau yang Engkau khususkan nama itu (tersimpan) di dalam ilmu yang tidak terlihat...."

Hal itu menunjukkan, Allah SWT memiliki nama-nama yang tidak Dia turunkan dalam kitab Alquran. Nama itu Dia tutupi untuk makhluk-Nya dan tidak Dia sampaikan kepada mereka. (sumber kutipan: https://www.republika.co.id/berita/qv6eys320/apakah-allah-swt-hanya-punya-nama-99-asmaul-husna.)

Penyerahan diri secara total ada pada ayat ke 5. 
Hakekatnya adalah bentuk penyembahan dan penyerahan diri kepada Allah SWT.
Beruntunglah bagi orang yang bisa menerapkan Iyyakana' budu waiyyakanashta'iin ini dalam kehidupan sehari-harinya. 


(5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. ุฅِูŠَّุงูƒَ ู†َุนْุจُุฏُ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒَ ู†َุณْุชَุนِูŠู†ُ


Barulah setelah itu kita bisa menyampaikan apa yang diminta kepada Allah di ayat 6 dan 7.
Disinilah mengapa para nabi dan Rasul selalu memulai doa mereka dengan menyebut kata Robbana...


(6) Tunjukilah kami jalan yang lurus ุงู‡ْุฏِู†َุง ุงู„ุตِّุฑَุงุทَ ุงู„ْู…ُุณْุชَู‚ِูŠู…َ
(7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. ุตِุฑَุงุทَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃَู†ْุนَู…ْุชَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุบَูŠْุฑِ ุงู„ْู…َุบْุถُูˆุจِ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ุงู„ุถَّุงู„ِّูŠู†َ

Permintaan yang harus dan dibutuhkan oleh manusia itu sebetulnya; ada pada ayat ke 6 dan ke 7. Jika ingin hidup ini selamanya bahagia, sukses dan mulia. Ihdinaashshiraataal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Shiraataal mustaqiim itu dijelaskan dalam ayat ini seperti apa karakternya. Shiraataalladzii na'anamta'alaihiim ghayrul maqduu bialayhim walaad dhdholiin. Aamiin.

Ada nash yang mengatakan bahwa barang siapa yang membaca Aamiin setelah selesai surat ini dibacakan, maka kata aamiin ini dibaca juga bersama dengan malaikat yang juga memohonkan pada Allah SWT. 



2 komentar

  1. Bener banget, dari kecil surat ini yang paling mudah dihapal di luar kepala tidak disangka ternyata begitu dahsyat manfaat membacanya. Namun, dalam berbagai hal pasti surat ini andil sebagai bacaan. Maknanya luar biasa, terima kasih sharingnya!

    BalasHapus