CLBK (Cinta Lama Baru Kembali)

 [Catatan Akhir Tahun] Tahun 2018 silam, aku alhamdulillah berangkat haji ke tanah suci. Dalam kegiatan berhaji ini, aku mengkonsumsi obat untuk menahan agar jadwal menstruasi tidak datang dulu selama kegiatan berhaji ini. Yaitu dengan mengkonsumsi obat dengan nama Premulut. Ini tuh semacam obat yang reaksinya mempengaruhi kerja hormon dalam tubuh kita sehingga jadwal menstruasi yang biasanya rutin dialami oleh setiap perempuan normal, mundur beberapa saat selama pemakaian obat. Alias selama si perempuan itu mengkonsumsi obat Premulut maka dia tidak akan mendapatkan menstruasi. Tapi, ini kasus per kasus ya. Beberapa kasus yang efek obat ini tidak berpengaruh apa-apa. 

Mengapa aku mengkonsumsi obat premulut? Karena, aku tahu kondisi tubuhku. Jika sudah masuk masa menstruasi, maka lama menstruasi itu berlangsung adalah selama 11 hingga 14 hari biasanya. Memang lama sekali. Padahal, seorang perempuan yang mendapat menstruasi ketika sedang berhaji maka hajinya tidak dapat dilaksanakan. Alias, dia tidak dapat menjalankan kewajiban berhaji. Bayangkan, aku sudah menunggu giliran untuk bisa berhaji beberapa tahun lamanya, lalu sampai di tanah suci ternyata tidak dapat menjalankan ibadah haji karena mengalami menstruasi selama 11 hingga 14 hari. Subhanallah sedihnya.

Jadi. ustad pembimbing hajiku menenangkan aku bahwa mengkonsumsi obat premulut termasuk ikhtiar kita untuk bisa menjalankan ibadah haji dengan tenang. Sama seperti kita menerima imunisasi dan imbust vitamin yang diinfuskan ke tubuh sebelum berangkat. Itu semua merupakan ikhtiar kita agar bisa tenang dan sehat selama menjalankan ibadah haji di tanah suci. 

hehe, tanpa lapisan apapun ini wajah selain keringat karena tuntas menjalankan ihram. Alhamdulillah, foto ini dibuat sesaat setelah kami selesai menjalankan shalat Iedul Adha di depan Ka'bah. 

Masalahnya adalah, setelah alhamdulillah aku dan suami berhak diberi gelar "Haji" maka, pemakaian obat premulut pun aku hentikan. Ketika itu, aku masih ada di kota Jeddah, bersiap untuk kembali ke Indonesia kembali. Perutku mulai melilit sakit. Tapi masih bisa aku tahan.

Setiap kali tiba giliran menstruasi, di awal pra menstruasi, perutku memang selalu sakit sejak masih remaja dulu. Waktu SMA dulu, sepertinya aku termasuk anak yang langganan pergi ke ruang UKS di sekolah hanya untuk meringkuk menahan sakit melilit karena akan datang bulan. Ketika kuliah, seorang teman mulai memperkenalkan aku untuk menggunakan obat menahan rasa sakit ketika menstruasi. Aku pun mulai mengkonsumsinya, si pil warna pink (lupa namanya apa, tapi dijual bebas sih). Akhirnya, selama kuliah, aku tidak pernah merasa sakit karena akan menstruasi lagi. Tapi, ketika usiaku 23 tahun, ternyata aku malah mendapat tumor Payudara dan dokter memerintahkan aku untuk tidak boleh mengkonsumsi obat-obatan yang bisa mempengaruhi hormon dan itu termasuk obat penghilang rasa sakit ketika menstruasi. Nah, sejak itu aku tidak pernah lagi mengkonsumsi obat penahan rasa sakit ketika menstruasi. Jadi, setiap bulan ya sudah, dinikmati saja rasa sakitnya. Telan saja telan rasa sakitnya. 

Dan rasa sakit yang sempat 2 bulan selama berhaji tidak pernah aku rasakan, setelah aku menghentikan pemakaian obat premulut tiba-tiba aku rasakan lagi. Kian lama kian dasyat. Dan ketika aku akhirnya alhamdulillah tiba di tanah air kembali, 3 bulan setelah pemakaian obat  premulut. aku benar-benar tidak berdaya. Hanya bisa berguling-guling di atas tempat tidur karena menahan rasa sakit yang luar biasa pada perut di bawah pusarku. Hingga akhirnya, menstruasi pun datang. 

Dan, sepertinya si menstruasi itu kesal karena tertahan keluarnya, jadi ketika akhirnya bisa keluar, darahnya banyak sekali. Hingga aku pun jatuh sakit karena menderita anemia. Dan kondisi ini terjadi nyaris selama beberapa bulan ternyata. 

Lalu, dampaknya apa?

Dampaknya, jadwal ibadahku terganggu. Karena, jadwal menstruasiku jadi banyak lagi plus diiringi dengan rasa sakit. Termasuk, jadwal kegiatan mengajiku di grup OWOJ alumni SMA 8 Jakarta angkatan 1989 dan grup OWOJ alumni SMP 43 Angkatan 1986 Jakarta. (OWOJ + one week one juz)

Aku kesulitan mengejar semua bolong-bolong setoran yang harusnya diselesaikan. Akhirnya dengan berat hati, aku pun menghadap japri ke admin di kedua grup. 

"Sepertinya, aku tidak bisa mengejar setoran dengan rutin. Maaf. Ada kekacauan pada jadwal menstruasiku sehingga aku sulit mengejar semua ketertinggalan setoran-setoran owoj ku." 

Grup OWOJ alumni SMA 8, membesarkan hatiku. Dia mengatakan hal ini:

"Nggak apa-apa Ade. Kamu nggak akan aku keluarin dari grup. Namamu tetap ada di grup, termasuk jatah setoran yang harus disetor. Pokoknya, kapan pun kamu sehat dan sanggup mengikuti kembali kegiatan grup, tinggal kasih tanda centang ✅ di samping setoran namamu."

Sedangkan grup owoj alumni SMP 43, juga membesarkan hatiku.

"Iya, nggak apa-apa, Ade. kalau begitu, aku coret ya namamu dari grup setoran owoj."

Akhirnya, sambil memperbaiki kesehatanku, aku pun berkata pada diriku sendiri.

"Ade, meski nggak masuk grup owoj lagi, kamu harus disiplin mengajinya. Jangan sampai lupa."

Tapi, sepertinya aku termasuk orang yang memerlukan sebuah aturan yang mengikat. Aku termasuk tipe orang yang ketika diberi kebebasan malah tidak karuan arah tujuannya dan bisa benar-benar tersasar dan lupa jalan pulang. 

Selama kurun waktu 2019, dalam rangka memperbaiki kesehatanku, aku malah sering mendapati diriku benar-benar lupa tidak mengaji sama sekali selama satu bulan penuh. Astaghfirullah al adziim.

Barulah di tahun 2020 aku mulai memperbaiki kualitas ibadahku, apalagi kita semua berada dibawah bayang-bayang pandemi Covid 19 yang mencekam. Mencekam dalam arti, kita semua tidak tahu si virus Covid 19 itu bakal datang ke siapa saja, dan siapa yang bisa bertahan dan siapa yang bakal meninggal. Berita kematian berseliweran. Mulai dari berita kematian selebritis hingga saudara dan teman. 

Akhirnya, di awal tahun 2021, aku pun cukup tahu diri bahwa ternyata aku termausk orang yang memerlukan sebuah keterikatan pada sesuatu justru agar tidak lupa dan khilaf.

Jadi, aku pun menghadap ke admin grup OWOJ, baik di grup alumni SMA 8 Jakarta maupun grup alumni SMP 43 Jakarta. 

"Aku insya Allah mau ikutan lagi ya. Boleh ya? Insya Allah kondisinya sudah lebih baik nih aku jadi insya Allah bisa ikutan."

Admin di kedua grup OWOJ ini tentu saja menerimaku dengan suka cita. Dan keterikatan itu pun mulai menertipkan sekaligus memperbaiki kualitas kegiatan mengajiku.

Pernah nih, karena merasa sudah lebih mudah, aku menganggap enteng setoran ini.

"Ah, nanti saja deh mengajinya. Cuma 16 lembar, bisa lah sistem kebut nantinya. Aku mau nonton drama silat China dulu deh, nanggung."

Lalu mulai nonton satu episode. Tapi setelah selesai satu episode, lanjut ke episode berikutnya. Berhenti karena ada kewajiban untuk mencuci pakaian, memasak, jemur baju, menyapu, shalat, makan, tidur.  Begitu ada waktu luang malah ngobrol bersama anak dan suami.

Begitu saja setiap hari. Hingga tiba hari selasa, hari ketika semua anggota akan beranjak ke juz berikutnya, di namaku belum ada tanda centangnya ✅. 

"Ya Allah... ibu lupa mengaji pekan ini."

Lalu buru-buru kejar setoran dan percaya padaku, rasanya tidak enak sekali mengaji karena dorongan terlambat memberikan setoran. Huhuhu.. tidak ada rasa nikmatnya sama sekali. Cuma mendapatkan rasa lelah dan terengah-engah saja.

Menghidupkan CLBK (Cinta Lama Baru Kembali)

Akhirnya, di tahun 2021 ini, aku mulai belajar kembali untuk bisa mencintai Al Quran kembali. Tidak mau lagi mendekati Al Quran hanya karena harus mengisi daftar hadir saja. 

Bagaimana rasanya agar bisa memunculkan rasa nikmat di dalam hati ketika membaca Al Quran? Ini  hasil evaluasiku sebagai catatan akhir tahunku. 

1. Jangan membaca dari Al Quran digital.

Hehehe. Aku punya Al Quran digital di nyaris semua gadgetku. Favoritku adalah aplikasi My Quran keluaran Wali. Versi premium mereka cukup lengkap dan nyaman di baca.

Tapi, ternyata Al Quran digital itu, meski bentuknya praktis dan mudah dibawa ke mana saja, tapi kemudahan itu malah membuat kita lupa dan menganggap sepele keberadaannya. Eh... tapi mungkin ini aku saja ya, kalian tidak.

Saking terlalu banyak kemudahan dan kelengkapan yang didapat oleh AL Quran digital, aku malah cepat sekali mengalami kondisi mudah membuka tapi mudah menutupnya kembali. Aduh, memang parah nih diriku ini.

Nah, dengan Al Quran cetak, berbentuk buku dan lembarnya bisa kita pegang, kita bolak-balik, bukunya bisa kita peluk dan perlakukan dengan hati-hati, semua hal ini malah membuat kita jadi sayang dengan Al Quran yang kita miliki tersebut. Itu kalo aku ya. 

Itu sebabnya aku memutuskan untuk punya Al Quran pribadi, yang tidak sharing dengan orang lain meski itu anak atau suami sendiri. Sehingga kepemilikan pribadi ini perlahan menumbuhkan rasa cinta dan spesial di dalam hatiku.

2. Bergabung di grup OWOJ atau ODOJ.

Mungkin, tanpa ikut grup OWOJ (one week one juz) atau ODOJ (one day one juz), kita bisa melakukannya sendiri. Tapi, yang namanya manusia, sering banyak godaan dari berbagai macam hal yang remeh-remeh dan nggak jelas.

Tiba-tiba datang kesibukan untuk melakukan kegiatan tertentu. Tiba-tiba digoda dengan episode baru drama yang terlihat menarik, tiba-tiba diajak bepergian. Atau, habis saja waktu untuk melakukan hal-hal yang rutin dan selalu hadir di rumah, seperti beberes rumah dan mengurus anak dan suami. Pokoknya berbagai macam godaan yang menbuat kita tidak membuka Al Quran. 



3. Jangan Maklum Jika Kita Lalai

Ini catatanku banget nih dalam rangka menghadirkan rasa cinta lama agar cinta tersebut menjadi baru kembali. Yaitu rasa cinta terhadap Al Quran.

Nyaris semua muslim, yang mengaku beriman pada Allah, pada Malaikat Allah, pada kitab Rasul Allah, pada Kitab Al Quran, pada Qadha dan Qadar, pada Hari Kiamat; ketika masih kecil sudah diperkenalkan oleh orang tua atau guru di sekolah terhadap rukun iman yang 6 ini. Dan nyaris semua mukmin, pernah diajarkan membaca AL Quran, meski hanya satu surat yaitu Al Fathihah. Semua jejak rekam perkenalan kita pada Islam ini, adalah bibit cinta pertama yang ditanam di dalam diri setiap muslim.

Nah, masalahnya bagaimana agar bibit cinta tersebut tetap hadir dan tumbuh subur di dalam hati. Karena kita mengalami banyak sekali pengalaman dan episode dalam hidup yang membuat kita melupakan membuka dan membaca Al Quran.

Jadi, dimulailah dengan kemampuan memaksa diri untuk mau melakukannya.

Lalu berlanjut dengan merasa bersalah jika tidak melakukannya.

Setelah terbiasa, hadirkan rasa rindu di dalam hati jika tidak bertemu.

Benar seperti kata temanku, memang harus dipaksa awalnya barulah kemudian perlahan terbentuk kebiasaan, dan setelah terbiasa dia akan jadi bagian dari diri kita sehingga jika tidak ada akan terasa rindu dan kehilangan.

Ini saranku (sekaligus nasehat buat diriku sendiri) : "Jangan pernah memaklumi jika kita lalai dan melupakan Al Quran."

Nasehat positif seperti : "Sudah, tak mengapa. Kan cuma lupa sementara saja." atau "Semangat ya, nggak papah kok sesekali saja tidak membaca Al Quran. Toh kamu punya kegiatan positif lain yang memang harus diperhatikan."

Duh, jangan mulai menciptakan permakluman demi permakluman seperti itu. Terdengarnya memang seperti ucapan positif penuh kata maaf, tapi sebenarnya itu bisa menjerumuskan. Karena, sekali kita memaklumi dan memaafkan, maka besok-besok kita perlahan akan mulai melebarkan rasa maklum dan meluaskan rasa maaf hingga akhirnya kita benar-benar semakin menjauh dari membaca Al Quran. Lalu, perlahan rasa cinta terhadap AL Quran pun mulai menghilang.

5. Miliki Al Quran cetak yang membuatmu merasa nyaman bersamanya.

Dan ini yang terakhir sepertinya, agar rasa cinta lama pada AL Quran bisa menjadi baru kembali dalam diri kita sebagai seorang muslim.

Miliki Al Quran cetak yang membuatmu merasa nyaman bersamanya. Artinya, sisihkan uang untuk membeli Al Quran cetak yang matamu merasa nyaman melihatnya; dan tanganmu merasa nyaman memegangnya.

Jangan dipaksa untuk terus membaca huruf Al Quran yang sudah mulai buram hanya karena merasa tidak mau membeli Al Quran yang baru. Semakin bertambah usia seseorang, biasanya kondisi mata untuk melihat juga semakin berkurang. Jangan malu mengakui hal ini. 

Mataku sendiri, sejak tahun 2020, dinyatakan oleh dokter mata memiliki katarak stadium 3 (ada 5 level), dan juga ada floatersnya. Itu sebabnya aku mulai kesulitan membaca Al Quran semua ukuran yang aku miliki di rumahku saat ini. Akhirnya, aku sekarang  membaca Al Quran yang diperuntukkan untuk Lansia (lanjut usia). Alhamdulillah AL Quran untuk Lansia ini nyaman sekali buat mataku. Memang sih bentuknya besar, tapi mataku amat nyaman membacanya. Huruf-hurufnya besar-besar sekali, dan tidak rapat sehingga mudah dibaca. Dan ini catatan akhir tahunku, alhamdulillah aku menemukan Al Quran super jumbo di tahun 2021 ini; di mana di dalamnya sudah ada penanda tajwid berwarna, terjemahan Indonesia, tafsirnya.  Ukurannya sebesar bantal kepala buat tidur. hehehe.



Dimana mendapatkannya? Di market place mana saja ada kok, di toko buku juga ada. Kata kuncinya jika mencari di market place online, "al quran jumbo terjemahan tajwid berwarna". Jika mencari di toko buku cari Al Quran yang bentuknya paling besar, dan jangan lupa dibuka di tempat sebelum membeli. Karena ada juga yang ukurannya besar tapi ternyata setelah di buka, di pinggiran halamannya tuh terlalu banyak frame berukirnya jadi akhirnya huruf yang tersemat malah mengecil. Atau ada juga yang besar sih AL Qurannya, tapi huruf-hurufnya tuh bentuknya tebal-tebal dan rapat-rapat. Nah, buat mata yang bermasalah seperti mataku, tentu saja variasi huruf seperti ini jadi sulit untuk dibaca. 

Membaca sesuatu yang mudah dan nyaman dibaca oleh mata kita tuh, bikin kita juga merasa nikmat dan bahagia membacanya.

Kuncinya adalah, bahwa bahagia itu harus diusahakan dengan sebuah usaha. Nah, ini catatan akhir tahunku, tentang usahaku meraih rasa bahagia untuk bisa jatuh cinta kembali pada Al Quran. 


44 komentar

  1. Sip sip sip .. TRIms ya sudah mengingatkan

    BalasHapus
  2. Bermanfaat banget ini informasinya, baru tahu kalau tidak boleh baca alquran digital padahal udah nyaman banget.

    BalasHapus
  3. Eh anu bukan tidak boleh. Tapi, kalo aku, ini pendapatku dari pengalamanku, baca al quran digital itu bikin kitanya malah ga betah baca berlama-lama... krn mata cepat lelah. Akhirnya malah cenderung meninggalkannya sih menurutku.

    BalasHapus
  4. aku malah salfok sama foto mbak Ade dan suami, terlihat bersih dan bahagia banget <3

    BalasHapus
  5. Hahahahaha, ada lagi pelesetan baru CLBK.

    Wi, aku baru tahu soal Premulut ini mba. Sangat membantu perempuan yang sedang berhaji ya. Tentunya untuk menjalankan ibadah dengan maksimal.

    Masya Allah mba, nasihatnya tentang mendahulukan mushaf ketimbang Quran online ini benar banget. Gak heran mama mertua, ibu saya, mau gadget dibeliin secanggih apapun yang namanya quran cetak pasti dia bawa, meski lagi traveling sekalipun.

    BalasHapus
  6. Sama mbak Ade dengan suamiku. Dia juga pakai Al Qur'an besar karena selain ingin membaca tanpa kacamata baca, juga dia kan jadi imam tarawih di rumah, biar ga baca itu itu aja, dia sambil buka Al Qur'an besar. Alhamdulillah membantu banget untuk menguatkan hafalan juga.

    BalasHapus
  7. SAya juga lebih nyaman pakai alquran yang besar, jadi tulisannya lebih jelas. Semoga mbak Ade sekeluarga sehat selalu yah

    BalasHapus
  8. Alquran-nya mantab banget.
    Memang benar harus ada paksaan ya buat mengaji kalau gak bisa lah maklum maklum, dan sellauy excuse gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ukurannya jumbo jadi enak bacanya ya mba, cocok buat orang-orang tua juga, beliin ah buat mamaku

      Hapus
  9. Saya setuju al-qur'an cetak itu juga bisa jadi penyejuk di dalam rumah. Apalagi rutin kita tilawah setiap harinya pasti rumah seperti ada cahayanya. Bawaannya anggota keluarga akur terus. Ini yang sudah saya buktikan.

    BalasHapus
  10. Masya Allah. Tulisan ini bagi aku ngena banget mbak T_T Berasa ditampol, eh tepatnya diingatkan lagi untuk lebih banyak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya khususnya dalam hal ibadah, baca Quran. Iya ya kadang kalau udah nonton drama, niatnya 1 episode saja, malah kebablasan sampe 2-3 episode. Salat udah tepat waktu tapi baca Quran waktunya lebih dikit daripada nonton drama. Huhu sedih.

    Aku rasanya perlu punya Quran pribadi yang jumbo gini mbak. Selama ini punya yang kecil, mata udah ga bersahabat lagi. Terima kasih informasinya ya mbak.

    BalasHapus
  11. seru sekali nih!ada Digital juga ya...menarik dan menginspirasi apalagi soal ibadah ya...tulisan yang sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  12. wah Al-Qurannya enak nih dibacanya jumbo dan langsung ada terjemahan di halamannya yaa mba? btw, bener juga sih soal Al-Quran digital karena praktis dan simpel, kita jadi kadang malah menunda-nunda untuk ibadah yaa

    BalasHapus
  13. iya, aku sendiri lebih suka baca al quran yg fisik mbak
    yang jumbo gini
    biar enak bacanya

    BalasHapus
  14. Maaf bu, sedikit bertanya. Obat yang diminum namanya Premulut atau "Premolut N" sih? Kok saya baru dengar ya ada obat namanya Premulut, heheheh

    BalasHapus
  15. Halo mbak Ade, apa kabar? Wah, alhamdulillaah ya mbak sudah naik haji bersama suami tercinta. AKu masih nunggu bertahun2 insya allah sudah daftar sih hehehe. AKu pribadi lebih suka memegang dan membaca Al Qur'an secara riil, ga punya aplikasi di HP malah. Ya walaupun bacanya masih belang-bentong hihihi...berusaha :D

    BalasHapus
  16. Aku dan suami juga menerapkan hal sama, setiap orang di rumah harus punya Al Quran sendiri-sendiri. Dengan terjemahan, tapi punyaku dan suami ukurannya gede kayak punya mba Ade. Anak-anak memilih yang kecil. Mata mereka masih awas sih ya dibnding usiaku, hihii

    BalasHapus
  17. Sama, mba Ade, saya pun lebih nyaman membaca Al Quran menggunakan Al Quran cetak, makanya lebih baik membawa Al Quran ukuran kecil jika bepergian, makasih sharingnya ya

    BalasHapus
  18. Membaca Al Quran memang obat bagi muslim akan kerinduan kalam Illahi, rasa kangen itu selalu ada

    BalasHapus
  19. MasyaAllah pengen punya yang gede juga macam punyamu bun, marem ya bacanya terus tajwidnya juga komplit mau banget

    BalasHapus
  20. Mbak Ad e cantik yg beryambah cantik tanpa poledan. Knp? Karena LBK pastinya. Masib mengharap kafo kado dari anak2 Al-Qur'an yg Jumbo seperti ini. Hhihihii..iya iya #3 *noted underlined n capitalized*.Emang suka KZL kl suka maklumin nomor 3.

    BalasHapus
  21. Mba Ade Terima kasih sudah mengingatkan dan memang ya ada perbedaan sensasi baca alquran digital sama yang cetak. Karena mataku minus jadi lebih nyaman pakai Al-Quran cetak hehe. Btw baca ini jadi makin menggebu banget ke Tanah Suci, semoga Allah mengizinkan aku dan keluarga beribadah umroh atau haji. Aamiin ya Allah.

    BalasHapus
  22. Aku baru ngeh, iya juga ya saat berhaji atau umroh pas pergi di saat dikit lagi mens sebaiknya konsumsi obat hormon seperti premulut ini, sayang soalnya nunggu lama malah lagi haid. Aku baca Al-Qur'an digital ketika dalam perjalanan jauh aja paling di kereta. Selebihnya lebih nyaman baca yang cetak

    BalasHapus
  23. Saya masih lebih afdol membaca Al Quran yang cetak timbang digital mungkin kenyamanan tiap orang berbeda ya mbak

    BalasHapus
  24. Kukira CLBK ke seseorang, ternyata pada AlQuran, masyaallaah terimakasih banyak nasihatnya kak, jujur aku udah sering bolong karena itu tuh pake AlQuran digital gak bisa matanya berlama-lama, tapi kalau pakai kitab berlembar-lembar pun sanggup

    BalasHapus
  25. Al Qur'an cetak maupun online ada plus minusnya masing-masing sih kalau menurut aku. Kalau lagi di rumah aku prefer pilih qur'an cetak karena lebih nyaman bacanya tapi kalau lagi ga ada al qur'an atau lagi di jalan al qur'an online jadi solusi agar bisa berinteraksi terus dengan al qur'an

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah akhirnya bisa meraih cintanya kembali dengan Al-Qur'an, Mbak. Btw, aku baru tahu ternyata ada obat hormon yang bisa menunda haid, ya. Tapi kayanya harus kosultasi dokter dulu nggak sih, Mbak? Takut ada efek sampingnya gitu.

    BalasHapus
  27. Kak Ade...Barakallahu fiik sudah diingatkan.
    Senang sekali diberi tips untuk selalu berdekatan dengan Al-Qur'an. Dan iya, kak Ade..sejak ada Al-Qur'an digital, jadi selalu lupa bahwa mengaji itu mudah di mana saja dan kapan saja. Lebih nyaman menggunakan Al-Qur'an cetak. Jadi aku selalu menaruh di beberapa bagian rumah, agar mudah terlihat dan ada keinginan membaca walau hanya 1 ayat beserta tafakkur mengenai makna ayat tersebut.

    BalasHapus
  28. ngomongin haid, aku dari remaja juga selalu sakit tak tertahankan kalo lagi hari pertama haid. bisa guling2an dikasur sampe nangis2.. huhu.. Ku kira sakitnya ini bakalan ilang kalo sudah menikah (soalnya kata orang2 begitu). eh, ternyata engga dong! tetep aja sakit. terus akhirnya aku minum pereda nyeri, mefinal. pil-nya warna pink juga mba. Apa sama kayak yg mba ade konsumsi ya? hehe..

    btw, boleh juga ikutan grup OWO gitu, jadi ada keterikatan dan bikin konsisten ngajinya ya mbaa..

    BalasHapus
  29. Iya mbak aku masuk grup ngaji ini untuk menjaga kekonsistenan nih, harusnya sih tetap disiplin ya. Paling gak saat ini masih bisa konsisten berkat adanya grup. awalnya dulu masuk owod skr yang half aja :)

    BalasHapus
  30. Terima kasih sudah diingatkan mbak. Gimanapun baca Al Quran cetak lebih nyaman emang mbak daripada versi digital. Menarik program OWOJnya mbak Ade

    BalasHapus
  31. Mba Ade... adeemm banget rasanya pas mampir di artikel ini. Berasa diingatkan tanpa ada kesan menghakimi deh. Iya nih, aku juga bolong-bolong baca Qur'an, kudu mulai disiplin dari diri sendiri ya.

    Yang Al Qur'an kayak punya Mb Ade itu punya, dipakai oleh ibuku. Kalau aku masih pake Al Qur'an cetak biasa karena masih bisa jelas terbaca, tidak terlalu besar seperti yang itu.

    BalasHapus
  32. Kenyamanan pastinya diciptakan sendiri ya agar bisa semakin semangat membaca Al Quran. Saya juga tipe yang lebih suka baca melalui Al Quran langsung sih daripada via apps.

    BalasHapus
  33. MasyaAllah, jazakillah remindernya ini Mbak. Saya juga lebih nyaman membaca Al Quran milik sendiri yang cetak, bisa ditandai juga. Hehe

    BalasHapus
  34. aku lagi belajar merutinkan wy40 bun, tapi beberapa lalu macet ini mau lanjut lagi
    makasih ya bun untuks elalu diingatkan mencintai Al Quran selalu.

    BalasHapus
  35. Senang banget ya mbak ketika kembali menemukan waktu untuk selalu belajar tentang agama. Semoga selalu berkah dalam setiap ilmu yang didapat ya mbak.

    BalasHapus
  36. Terima kasih sudah mengingatkan mba.

    BalasHapus
  37. Masya Allah Alhamdulillah baca ini dari atas sampai bawah no skip aku baca pelan pelan.... Menikmati proses Ade, dari kesakitan perut akibat haid juga dan saat berhaji, saat berjuang membaca OWOJ.

    Ibadah memang harus diperjuangkan. Baru terasa nikmatnya beribadah itu setelah banyak sekali peristiwa yang terjadi. Makin mempererat ukhuwah juga ya Ade...

    BalasHapus
  38. Aku kira CLBK ke suami wkwkw, ternyata Masyaallah ke Al Quran, jadi pengen mba punya yang gede begini. Doakan ya aku dan suami suatu saat kelak bisa ke Mekah bersama

    BalasHapus
  39. Kalo aku masih merasa sangat nyaman dengan yang namanya Quran digital, Mba Ade. Apalagi sejak ayah berpulang November lalu, kegiatan membaca al-Quran jadi rutinitas, dan menjadi kenikmatan tersendiri bagiku dan keluargaku. Cinta memang membantu terbentuknya konsistensi. :)

    Balik lagi ke jenisnya, kenapa digital, mungkin karena aku anaknya senang yang digital, hehe. Jadi bener spt kata Mba Ade, setiap orang pasti punya kesukaan yang berbeda, ya?

    Thanks for the tips, Mba.

    BalasHapus
  40. Emang lebih enak klo baca kitab suci versi printed ya mbak. Lebih khusyuk gitu.

    BalasHapus
  41. Masya Allah, adem sekali membaca cerita Mbk Ade, jadi tahu nih obat itu bagus juga ya buat ikhtiar tidak menganggu saat ibadah haji. Sehat2 Mbk Ade agar semangat baca Al Qur'annya. Masya Allah ikut termotivasi.

    BalasHapus
  42. Kalau untuk mengaji, aku sendiri memilih mengaji dengan Al Quran cetak, lebih nyaman. Aku ngaji sendiri, sebisaku, gak masuk2 grup hehehe

    BalasHapus