Bahagia itu merdeka dan ikhlas

 [Parenting] Ada satu pengalaman baru yang bikin aku berbunga-bunga campur haru di bulan Oktober ini. Yaitu ketika putri bungsuku menunjukkan cerpen yang dia tulis sendiri. Dia menunjukkan padaku tentu saja ada maksudnya. Ini kali pertama dia membuat cerpen dan cerpen buatannya langsung diikut sertakan dalam sebuah lomba cerpen remaja yang diadakan dalam rangka bulan bahasa di Indonesia, bulan Oktober. Jadi, dia minta pendapatku sebagai first reader cerpennya.

Pendapatku apa? Ketika membacanya, terlepas dari beberapa typo yang aku temui dan satu dua lubang cerita, tentu saja cerpennya bagus untuk ukuran seorang pemula. Keceriaan aura remaja, aura usia muda yang tersemat kental dalam keseluruhan cerita, sama sekali tidak membuat cerpen yang dia tulis terasa muram. Meski ceritanya adalah cerita yang masuk kategori "gelap dan muram". Usianya baru 15 tahun tapi dia berani menulis sesuatu yang "dark" buatku itu sesuatu yang luar biasa. Tentang kekerasan yang dialami oleh seorang remaja di lingkungan pertemanannya. Meski temanya muram, tapi ada rasa hangat yang aku rasakan ketika membaca tulisannya. Ini, membuatku jadi memperhatikan putriku seusai membaca cerpennya.



Mungkin, karena aku seorang ibu yang tidak bisa begitu saja cuek pada anaknya yang sedang tumbuh dan mengepakkan sayapnya sendiri. Meski tidak harus diperlihatkan secara terang-terangan, aku khawatir jika ada sesuatu yang tidak terkatakan atau terceritakan yang dialami oleh putriku. Dan sesuatu itu perlahan menjadi  bagian dalam dirinya, mengubah kepribadiannya yang selama ini aku kenal sebagai sosok yang ceria, baik hati, ramah dan bisa dipercaya. Apalagi ketika membaca tema cerpen yang dia tulis yang bernuansa "dark" alias muram dan ada unsur kekerasannya.  Bohong banget deh jika aku tidak khawatir akan sesuatu di balik cerita yang dia tulis yang tidak dia ceritakan padaku. Pengaruh nggak ya apa yang dia tulis ini dengan kepribadian dia yang sedang tumbuh sebagai seorang remaja?

Pekan lalu, kebetulan aku ikut acara bincang tentang kepenulisan dengan pembicara Kang Maman (akun IG @kangmaman1965 dan host Khairul Tan, di acara Instagram Live JNEWS Bareng Kang Maman "Asyiknya Nulis yang Asyik ke-2".  Acaranya diadakan tanggal 8 Oktober 2021 pukul 15.30 himgga selesai sekitar pukul 16.30 lewat dikit WIB. Penyelenggaranya, tentu saja Jnews jnewsonline.com . Untuk diketahui, JNE sekarang memiliki media online yang menjadi portal berita seputar ekspedisi pengiriman dan juga berita seputar UMKM. Tahu sendiri kan, JNE tuh dekat dengan UMKM dan memang mendukung perkembangan UMKM yang tersebar di tengah masyarakat. JNE sebagai perusahaan ekspedisi membantu menghubungkan UMKM dengan masyarakat pembeli lewat berbagai macam platform market place online atau offline.



Kembali ke acara talk show kepenulisan lagi ya. Di acara talkshow yang disiarkan secara live di story instagram ini, temanya kebetulan tentang bagaimana caranya agar bisa berbagi kebahagiaan lewat tulisan. Lengkapnya tuh, tertuang dalam salah satu quotes yang dikatakan oleh Kang Maman.

"Kata-kata akan sekedar menjadi kata-kata, jika tidak diolah dengan cara yang tepat. Prinsip 5 W plus 1 H itu wajib untuk menghasilkan tulisan yang bagus (5W itu what, why, who, when, where. Sedangkan 1 H itu How). Tapi, tulisan asyik itu adalah tulisan yang menerapkan resep mengolah kata dengan pembagian 75% diperoleh dari hasil membaca + 10% diperoleh karena tahu aturan dalam menulis + 15% kita punya rasa bahagia ketika menulisnya." (quotes Kang Maman)

"Menulis dengan mood yang positif maka insya Allah hasil yang kita dapat lebih baik." (quotes Kang Maman)

Putriku, memang seorang yang gemar membaca sejak masih kecil dahulu. Kegembiraan dia, bukan ketika diajak ke lokasi tempat permainan seperti time zone atau amazone. Tapi, kebahagiaan dia adalah ketika diajak berkunjung ke toko buku. Dia bisa betah lama diam di dalam toko buku. Menatap satu demi satu buku-buku yang dipajang, membaca judulnya satu persatu, lalu gambar di cover buku tersebut, lalu membaca blurb di cober belakang buku. Semua buku yang dia suka dikumpulkan. Dan  ketika akhirnya disodorkan pada kami orang tuanya, kami meminta dia untuk memilih satu saja yang bisa dibeli karena keterbatasan anggaran. Dan proses memilih satu dari sekian banyak buku yang dia suka itu, butuh waktu yang lama lagi. Itu sebabnya total waktu ketika berkunjung ke toko buku selalu lama. Tidak pernah bisa sebentar.

Gemar membaca ketika kecil itu, dampaknya akan terlihat ketika anak mulai tumbuh di usia sekolah. Putriku alhamdulillah tidak pernah measa terbebani dengan tugas membaca yang diberikan oleh gurunya. Dia menghadapi tugas tersebut dengan rasa ingin tahu "apa yang akan disampaikan oleh bahan bacaan yang dia hadapi." Itu ketika dia duduk di bangku Sekolah Dasar.

Beranjak SMP, kegemaran membacanya, membawanya untuk mulai menulis apa yang dia ketahui atau dia alami dalam sebuah tulisan di buku diary. Dan inilah awal mula dia mulai suka menulis. Menulis itu, menjadi sesuatu yang menyenangkan buat putriku. Dan bahan bacaannya pun mulai mengalami pergeseran. Dari yang semula gemar dengan novel-novel produksi KKPK, di bangku SMP ini dia mulai membaca aneka macam novel untuk remaja dan untuk umum. Kakak-kakaknya masih menjadi rujuakn utama novel yang masuk kategori "boleh dibaca". 

Jujur saja, aku yang mengaku seorang penulis dan blogger, tapi kemampuan membacaku tidak sederas kemampuan membaca anak-anakku. Apalagi kehadiran komik dan novel online di berbagai macam platform itu luar biasa derasnya. Nah, putriku mulai tertarik untuk membaca novel online. Dan alhamdulillahnya dia masih mematuhi rambu sensor yang diberikan oleh kakak-kakaknya. 

"Dik, jangan baca yang itu ya, itu banyak kissing dan adegan dewasanya."

"Dik, jangan baca yang ini ya, banyak adegan pembunuhan dan begal-nya." 

"Dik, baca ini deh. Ceritanya hangat dan bikin kita senyum bahagia di endingnya."

Demikian hubungan kakak adik antar anak-anakku. Dan ketika akhirnya putri bungsuku duduk di bangku SMA seperti sekarang, dia mulai tertarik untuk menulis cerita selain nulis diary. 

"Bu, bayanginnya deh. Misalnya nih, ibu dikasi kesempatan untuk punya satu kekuatan super. Kekuatan super apa yang ibu inginkan." Lalu kami berkhayal, sambil membincangkan kelebihan dan kekurangan dari kekuatan super yang kami inginkan.

"Dik, tulis aja jadi sebuah cerita. Seru deh kayaknya." Dan akhirnya, dia pun mulai menulis khayalan-khayalan dia. Imajinasinya semakin berkembang dan terjalin ramai. Hingga akhirnya pekan lalu dia memberitahu aku bahwa dia memberanikan diri untuk mengikut-sertakan cerpennya dalam sebuah lomba cerpen remaja. 

"Proses menulis itu memanggil ingatan lama kita, lalu menuliskannya kembali. Artinya, bagaimana menciptakan apa yang pernah kita alami, apa yang pernah kita lalui, adalah sumber inspirasi atau ide yang bisa diabadikan dalam tuliasn. Menulis adalah mengabadikan masa lalu, mengabadikan masa kini dan meramalkan masa depan. Tanpa tulisan maka sebuah perisitiwa akan terlupakan." (quotes Kang Maman)

"Dik, kenapa kamu tertarik untuk menulis dengan tema yang dark seperti itu?"

"Nggak tahu. Aku pingin ajah. Memangnya kenapa? Nggak papah kan?" (hmm, remaja. Jika ditanya, selalu ada jawaban yang bersifat defense). 

"Kamu risetnya gimana tuh?"

"Baca berita, terus aku berkhayal aja. Sebenarnya, apa sih yang dirasakan oleh anak yang seusia aku jika ngalamin peristiwa itu."

Sesungguhnya, aku jadi teringat dengan ceritanya Kang Maman di acara talkshow "Asyiknya nulis yang asyik ke 2." Kang Maman bilang, proses belajar seorang penulis itu seharusnya tidak pernah mengenal kata "berhenti belajar". Pada banyak kondisi, dia harus datang dengan filosofi gelas kosong di kepalanya yang artinya dia siap menampung dan memperkuat keyakinan atau menumbangkan keyakinannya. Proses belajar itu memang memerdekakan pikiran seseorang dan sekaligus mewajibkan orang tersebut untuk ikhlas dalam menerima dan melepas ilmu tertentu agar bisa menerima ilmu yang baru. Dan di atas segalanya, lakukan semuanya dengan rasa bahagia, bukan didasari rasa keterpaksaan.

"Memulai apapun lakukan dengan rasa bahagia. Kosongkan pikiran dan siap menyerap pesan-pesan dari semesta." (quotes Kang Maman)

Masih kata Kang Maman, tips menulis yang dibaginya adalah jangan biarkan segala sesuatu terlalu lama di dalam kepalamu. Segeralah tulis. Karena poin menulis adalah segera menulisnya. Urusan tata bahasa dan sebagainya nanti saja diselesaikan. 

"Menulis adalah voice of the voiceless . Kesempatan menyuarakan apa yang tidak bisa kita suarakan." (quotes Kang Maman) 

"Nggak usah marah dengan perspektif yang berbeda dengan orang lain atau kelompok lain karean perbedaan tersebut bisa jadi tulisan." (quotes Kang Maman)

"Coba ciptakan lorong-lorong dialog dan manfaatkan media sosial untuk mengetahui pendapat banyak orang tentang sesuatu. Karena dari sini kita bisa dapat perspektif yang dalam dari berbagai macam pendapat orang." (quotes Kang Maman)

 "Dik, ibu senang kamu mengikuti jejak ibu menjadi seorang penulis sebagai sambilan pekerjaan utamamu. Menulis itu asyik ya, dik?" Akhirnya, aku mengembalikan cerpen yang sudah selesai aku baca pada putriku ini. Keberanian dia mengikut-sertakan cerpennya di lomba adalah langkah baru. Menulis sebuah cerita adalah sisi cerita ceria lainnya. 

"Yap. Aku senang nulis. Karena aku bisa nyampein apa yang ada di kepalaku puas tanpa jeda." Wajah putriku tampak berseri-seri.

Ah. Sepertinya, aku harus berhenti khawatir akan kisah behind the story yang dia hasilkan. Aku harus percaya pada kemampuan putriku. Melihat keceriaan dia yang tidak berkurang, celotehnya yang dipenuhi dengan aura bahagia, cukup membuatku merasa yakin bahwa saat ini cerita muram yang dia tulis adalah murni khayalan dia. Apalagi endingnya ternyata bikin aku sebagai pembaca fans garis keras cerita yang berakhir happy ending, bisa ikut senyum bahagia ketika ceritanya brakhir.

Dan hei. Sepertinya aku harusnya bangga. Karena sebagai pembaca, aku bisa terlena dan merasa seakan kisah yang dia tulis itu sungguhan. Itu kan berarti dia sudah sukses ya menulis sebauh cerita yang bisa mempengaruhi pemabcanya?

Itu sebabnya ketika orang-orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing di rumah kami yang mungil, diam-diam aku menghampiri putriku yang sedang BDR (belajar dari rumah) kegiatan sekolahnya. Duduk diam serius memperhatikan laptop dengan pakaian seragam SMA nya. Kuketuk dinding lemari kamarnya hingga dia menoleh.

"Hei, please, turn off camera laptopnya deh. Sebentar saja." bisikku padanya. Dia segera mematikan kamera zoom nya. Dan menoleh ke arahku dengan wajah penuh tanda tanya. Tanpa menunggu, aku segera mendaratkan kecupan di pipinya, kiri dan kanan. Belum cukup sampai disitu, lalu mengecup juga keningnya.

"Gapjagi?" ujarnya sambil menatapku dengan senyumnya yang gantung. Gapjagi ini ungkapan emosi bahasa Korea yang artinya "tiba-tiba". 

"Nggak apa-apa. Ibu senang aja karena akhirnya ada juga anak ibu yang jadi penulis. Dan ibu senang, karena tulisanmu hangat, ada sisipan inspirasinya. Jadi, insya Allah bawa manfaat buat yang baca. Pokoknya, kejar apa yang kamu cita-citakan, tapi jangan dilepas bakat menulis yang kamu miliki ya, nak. Okeh. Kamu bisa lanjut ikut zoom BDR nya, nyalain lagi gih kamera zoomnya, biar nggak dimarahi gurumu."

Menjadi penulis itu, memang tidak membuatmu serta merta jadi kaya raya. Ada sih penulis yang jadi kaya raya dengan pekerjaannya sebagai penulis. Tapi, menulis itu, bisa mendatangkan kebahagiaan buat orang. Dan bagi seorang muslim seperti aku, menulis itu adalah kesempatan untuk menyampaikan berita kebaikan, berita positif, berita baik, agar orang lain tahu dan bisa ikut mendapatkan kebaikan dan sisi positif yang sama seperti yang kita miliki dan ingin kita bagi.

Menjadi penulis itu, artinya menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri dan kita diberi kesempatan di saat yang sama, untuk berbagi kebahagiaan tersebut dengan orang lain. Hal-hal lain selain itu, seperti ketenaran, kekayaan, penghasilan, kemampuan untuk memiliki sesuatu, predikat juara, adalah rentetan bonus. 

Kebahagianku sebagai seorang penulis selama ini sederhana saja. Yaitu ketika suatu hari ada orang yang mengirim email untuk mengucapkan rasa terima kasih karena dia sebelumnya selalu ringan saja memakai properti kantor di tempatnya bekerja semau dia dan dalam jumlah yang tak terbatas. Tapi ceritaku di sebuah tulisan yang ditegur suami karena memakai selembar kertas HVS untuk menulis surat bagi seorang teman menarik perhatiannya. Di tulisan itu, aku bercerita, suamiku menegurku.

"De, kertas itu bukan milik kita loh. Itu punya kantor. Aku bawa ke rumah karena ijin mau menyelesaikan pekerjaan kantor."

"Aku minta selembar doang mas."

"Tetap sih, De. Selembar itu jika tidak diperuntukkan untuk keperluan kantor tapi untuk keperluan pribadi berarti sama seperti korupsi. Memakai sesuatu yang bukan haknya untuk kepentingan pribadi atau golongan.  Korupsi itu di Islam, terlarang dan haram hukumnya."

"Tapi ini cuma selembar mas, selembar. Kamu tuh bawa satu rim loh."

"Selembar sekarang, tanpa sadar bisa bikin kita mentoleransi selembar yang lain. Lalu tanpa terasa, toleransinya jadi bertambah dan akhirnya dikit-dikit lama-lama jadi bukit."

Orang yang mengirimiku email menulis, "Mbak, aku jadi tersadar. Betapa banyak barang properti kantor yang aku selewengkan karena mikir, ah cuma sedikit, Ah, cuma selembar. Lalu makin lama makin ringan menyepelekan yang sedikit padahal jika ditotalin sudah jadi banyak banget. Terus menulis ya mbak."

Masya Allah. 

Siapa sangka deh tulisan remeh bak remah-remah rangginang yang aku tulis ternyata digemari dan alhamdulillah menginspirasi orang lain. Nah, kebahagian sederhana seperti ini yang aku rasakan sebagai seorang penulis. Semoga, nanti putriku juga bisa mendapatkan rasa bahagian sebagai seorang penulis.

Bahagia itu, memerdekan dan mendatangkan rasa ikhlas dalam hati. Percayalah. 

23 komentar

  1. Asyik bacanya. Inspiratif jugaaa

    BalasHapus
  2. Mbaa..terima kasih sharingnya, baik quote2 Kang Maman, cerita ananda yg mulai menulis dan juga pengalaman mba sendiri saat menulis. Sangat inspiratif dan menyemangati..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2... tetap sehat dan semangat juga buat dirimu

      Hapus
  3. Wah mbak putrinya ada bakat menulis juga seperti Ibunya tuh, masih muda sudah berani ikut lomba cerpen. Meskipun cerita pendek, sulit lho menciptakan karakter, saya sampai sekarang masih gagal nulis fiksi

    BalasHapus
  4. MasyaAllah selamat ya mba anaknya nulis cerpen dan dikasihkan ke mbak. Rasanya nyes banget pasti. Barakallah mba. Btw rasa bahagia ketika menulis itu juga penting dibanding saat inget aturan baku menulis hehe

    BalasHapus
  5. Keren banget Mba, kayaknya bakat ibunya nurun ke anaknya.
    Menulis itu nggak mudah sebenarnya kalau untuk anak-anak, apalagi nulis fiksi.
    Anak saya bahkan cuman suka nulis, tapi belum bisa mengembangkan sebuah karakter :)

    BalasHapus
  6. Adem bacanya mbak. Keren putrinya. Saya salut dengan seorang anak yang hobi menulis dengan segala imajinasinya. Apalagi disaat pandemi seperti sekarang. Semoga putrinya makin sukses dengan karya-karyanya ya mbak Ade dan bisa menginspirasi para generasi muda lainnya.

    BalasHapus
  7. Aku tuh emang belum punya anak, tapi peduli dengan perkembangan ponakan2. kalau ada yg ganjil pasti deh aku sampaikan ke ibu atau bapaknya. biar mereka sendiri yang selidiki anaknya kenapa begini dan kenapa begitu.

    Keren deh anak mba ade udah bisa nulis cerita. dari tulisan bisa tahu perasaan anak ya. semoga sukses dg karya2nya.

    BalasHapus
  8. Mbak Ade aku kok galfok sama ilustrasi2nya hehe
    Wah anaknya ada yang nurun ibunya suka nulis juga yaa :D
    Memang yaa bagaimanapun ibuk2 tu suka khawatir sama anaknya, gmn enggak wong kita yang membimbing sejak dia gak bisa apa2 sampai segede skrng kita khawatir anak trluka tapi gak mau mendikte sembari mengamati dan mendoakan dr jauh ya mbak
    Idem banget banget kebahagiaan penulis kalau ada yang terbantu sama tulisannya yaa, gk bisa ditakar dengan materi tu hehe

    BalasHapus
  9. kereenn.. udah mulai nulis-nulis cerpen nih anaknya. jadi ingat. aku pun nulis-nulis cerpen sejak smp. dulu punya cita-cita jadi penulis buku. eh, ujung2nya jadi blogger aja. wkwk..
    mudah-mudahan putrinya kelak bisa menjadi penulis sukses ya mbaa.. Amiinn..

    BalasHapus
  10. nah itu dia mba, mendatangkan rasa ikhlas di hati itu loh yang kadang agak sulit yaaa, padahal itu sebenarnya kuncinya bahagia yaa

    BalasHapus
  11. jangan lupa bahagia hari ini ya kak :D

    BalasHapus
  12. Seperti biasa, suka sama tulisan Mbak Ade yang mengalir dan ada pesan-pesan moral yang dibaca, terselip dalam tutur, bukan sesuatu yang didikte. Keren, Mbak. Semoga ananda nanti jadi penulis inspiratif.

    BalasHapus
  13. MasyaAllah, diantara 3 anak ada salah satunya yang mengikuti jejak Mbak ya dalam dunia literasi ini. Bahagia banget pasti ya melihat ini.

    BalasHapus
  14. Mba Ade, senang sekali menjadi pengingat bagiku bahwa memang menulis itu menggali ingatan dan kemudian menulis lagi. Aku bahagia dengan kegiatan menulisku selama ini mba

    BalasHapus
  15. Aku bahagia sama kegiatanku ngeblogku selama ini alhamdulillah, banyak yg bisa direnungi

    BalasHapus
  16. Masya Allah, aku baca kalimat per kalimat. Nggak ada yang nggak bagus. Bahkan dalam tulisan ini pun udah ada unsur 5W+1H. Kemudian aku jadi mikir, kira-kira dari kedua anakku, siapa yang akan suka menulis dan membaca juga?

    BalasHapus
  17. Kak Adeee..
    Pelajaran banget buatku. MashaAllah~
    belajar menghargai hasil dari ananda. Belajar berkomunikasi dengan anak jelang remaja dan belajar berkomunikasi yang santun dengan suami.

    Barakallahu fiik, kak Ade.

    Menulis itu memang bikin bahagia.
    Tapi harus dengan cara yang baik, gitu yaa...kak Ade?

    BalasHapus
  18. alhamdulilah ya mba adik sudah mau menulis dari kegemaran membacanya, setuju dengan tips dari Kang Maman untuk tidak berhenti belajar..
    Mba adalah salah satu blogger favoritku yg pernah kutulis dalam 1 post, senang sekali membaca kisah inspiratif mba. Tulisan status di FB selalu aku renungkan benar apa yang mba Ade blg..lanjut dan smenagat menulis

    BalasHapus
  19. Makasih mba Ade sharing-nya. Senang ya mba, ada penerus mba Ade sebagai penulis. Saya suka dan senang anak2 remaja yang senang menulis. Tapi anak saya belum keliatan nih bakat nulisnya hehe

    BalasHapus
  20. Waaah...Arna udah nulis cerpen ajaa. Keren bangettt. Ketemu sama Ibunya cocok, nih. Sama2 suka menulis cerpen. Klop bangettt.

    Btw, aku terus teringat tentang filosofi gelas kosong, Mbak. Kang Maman selalu menginspirasi.

    BalasHapus
  21. Luar biasa nih Hawna sepertinya mengikuti jejak ibunya. Kok persis sama dengan sulungku ya, dari kecil kalau lihat KKPK sungguh berbinar-binar dan di akhir acara beli-beli buku, harus diskusi dengan ibunya mana yang boleh dibeli dari sekian tumpuk. :))

    BalasHapus