Jumat, 22 Juni 2018

Evaluasi Ramadhan

[Parenting] Untuk anak-anakku yang aku sayangi.

Assalamu'alaikum nak.
Alhamdulillah, kita bisa bersama melalui Ramadhan ya. Semoga, seluruh amal ibadah kita diterima dan diberi ganjaran pahala terbaik oleh Allah SWT.
Sekarang, ibu mau menulis tentang evaluasi Ramadhan nih. Ini sesuatu yang biasa ibu lakukan setiap tutup bulan Ramadhan di tahun-tahun yang lalu. Hanya saja, ibu tidak pernah mengatakan pada orang lain tentang apa yang ibu lakukan ini. Baik lewat perkataan ataupun tulisan. Karena ibu pikir, ini sesuatu yang masuk ranah wilayah privacy; hanya urusan ibu dan Allah SWT.


Tapi, hari ini ibu akan menulisnya. Karena ibu pingin, suatu hari nanti, kamu juga melakukan apa yang ibu pernah terapkan ini pada diri ibu.
Hmm... ya, kita kan tidak pernah tahu sampai di usia berapa usia kita berakhir. Jadi, ibu berharap tulisan ini bisa memberi pengajaran dan inspirasi untuk kalian anak-anakku sayang.

Evaluasi Ramadhan

Jika kalian membaca judul tulisan ini yang berjudul Evaluasi Ramadhan, jangan membayangkan apa yang akan ibu tulis ini sama seperti lembar buku tipis yang dibagikan oleh pihak sekolah dan harus kalian isi di rumah tentang evaluasi Ramadhan.

Kalian tahu kan.... itu loh. Buku tipis yang di dalamnya ada lajur-lajur banyak banget dan harus kalian beri tanda centang setiap kali kalian melalui 1 hari di bulan Ramadhan.

Shalat dhuhur (✓ ) baca quran (✓) shalat ashar (✘ - mens ).

Tidak. Ibu tidak melakukan evaluasi Ramadhan seperti di atas. Eh.... tapi tahun ini ayah, smelakukan pencatatan di kalender tentang absensi Ramadhan anak-anaknya. Biasanya, maksud ibu, tahun-tahun lalu, kitalah yang perempuan-perempuan mencatat di kalender absensi Ramadhan dan memberi laporan ke ayah. Tahun ini, ayah yang berinisiatif mencatat dan menandai kalender seiring dengan absennya kita berpuasa. Dengan begitu, ayah bisa membayar fidyah segera bersama dengan membayar zakat fitrah.

Evaluasi Ramadhan yang ibu lakukan adalah, ibu mencatat kemajuan apa yang ibu dapatkan atau lakukan sepanjang bulan Ramadhan. Dan kemunduran atau kekurangan apa yang ibu alami sepanjang bulan Ramadhan.

Dan yang namanya evaluasi, berarti harus ada perbandingan dan tolok ukurnya ya untuk bisa dikatakan sudah lebih baik atau lebih buruk. Nah. Dalam hal ini, tolok ukur dan perbandingannya adalah diri ibu sendiri. Bukan orang lain.

Ingat ya nak; membandingkan diri kita dengan orang lain itu akan sangat melelahkan. Karena memang sesungguhnya berbeda antara diri kita dengan diri orang lain. Kita tidak tahu apa yang mereka sembunyikan, atau mereka lalui, atau yang mereka lakukan, hingga bisa sampai ke titik kita melihat mereka saat ini.

Itu sebabnya ibu tidak mau membandingkan diri ibu dengan orang lain.
Lagipula, membandingkan diri kita dengan orang lain itu, secara perlahan, tak terasa tapi terus terjadi, akan mengikis rasa syukur dan sabar kita akan apa yang telah Allah berikan pada kita. Nanti, ujungnya kita cuma merasa kesal, gampang baperan, lalu lupa bersyukur atas nikmat dan kemudahan serta rezeki yang sudah kita dapat lebih banyak daripada kesusahan yang kita alami.

Jadi, jika ingin melakukan evaluasi, jadikan diri kita di hari kemarin yang menjadi patokan apakah kita sudah lebih baik atau belum. Bukan diri orang lain.

Ibu sendiri, membandingkannya dengan diri ibu setahun yang lalu.

Ibu, Ramadhan tahun lalu:


- Membaca Al Quran nya bolong-bolong.

- Banyak menonton drama korea untuk mengisi waktu sambil menunggu beduk maghrib.

- Ikut senam pilates di sore hari karena ingin bertubuh indah.

- Banyak membaca novel karena tidak suka menonton acara televisi sinetron.

- Menyempatkan diri untuk jahit baju lebaran (hehehe).

- Menghentikan kebiasaan memberikan sembako kepada tetangga di sekeliling rumah karena sekarang tetangganya banyak yang sudah sejahtera (hehehe, anak-anak tetangga kita sudah mulai  bekerja sekarang dan bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Tahun-tahun sebelumnya kan orang tua mereka saja yang mencari nafkah; jadilah megap-megap menghidupkan asap dapur mereka. Tahun lalu, alhamdulillah anak-anak mereka sudah pada bekerja dan ikut membantu menghidupkan asap dapur. Otomatis keluarga pra sejahtera ini naik tingkat menjadi keluarga sejahtera).

- Masih ngegosipin dan ngomongin orang di grup chat.

- Masih terlibat debat dengan orang lain di ranah media sosial.


Ibu, Ramadhan tahun ini:

- Alhamdulillah sudah bisa menahan jari agar tidak melulu memantau media sosial facebook, twitter, whats app, Instagram. Kecuali yang harus karena tuntutan pekerjaan sebagai blogger dan buzzer.

- Alhamdulillah ibu tidak lagi menghabiskan waktu menunggu beduk dengan menonton acara drama korea. Ini prestasi luar biasa banget buat ibu yang penggemar drama korea dan selalu merasa dahaga pingin nonton drama korea.
 - Bisa rutin mengaji Al Quran setiap hari, meski hanya 1 halaman kadang-kadang. Ini juga prestasi luar biasa.

-  Ibu juga tidak membaca novel romantis atau novel percintaan drama sepanjang bulan Ramadhan. Tapi membaca buku non fiksi islami. Alhamdulillah, prestasi lain ibu nggak ngantuk membacanya.

- Ibu juga berprestasi bisa menjauhi media sosial. Jadi, ibu buka media sosial hanya di malam hari setelah selesai tarawih saja. Itupun pakai sistem penjatahan untuk tiap-tiap media sosial yang ibu buka. Alhamdulillah..... ini juga prestasi luar biasa buat ibu. Sebelumnya, ibu ragu bisa nggak ya melepaskan diri dari ketergantungan pada media sosial.
Tapi ternyata ibu bisa. Alhamdululllah.  Jadi, karena ibu berhasil menjauhi media sosial, ibu jadi kudet terhadap perkembangan dunia perpolitikan, pergosupan, dan kegaduhan warga netizen lainnya. Tapi meski ibu kudet tapi ibu bahagia.


Yang utama itu memang jika kita bisa memilih untuk bahagia dan diberi kemudahan untuk berbahagia.


Ibu bahagia ketika tidak dilanda galau karena kegaduhan warga netizen; ibu bahagia karena tidak tahu gosip, ibu bahagia meski kudet terhadap perkembangan masyarakat di luar sana.

- Tapi, ibu bangun kesiapan sekali di bulan Ramadhan ini. Duh. Ini mengesalak sebebnarnyaa.

- Tahun ini, ibu juga berhasil tidak  menonton sinetron religi "Para Pencari Tuhan". Hehehehe... biasanya, sepanjang lebaran kita mengikuti jalan cerita tersebut.
Tahun ini, ibu lebih senang menutar channel televisi yang berisi kajian atau tausiyah dari para ustad.

- Tahun ini, ibu berhasil mengingat kembali dengan baik Surat Al Adiyat.
Sungguh deh nak, jaman ibu masih kecil dan ikut pengajian, guru ngaji ibu sempat memberi juz amma dengan huruf latin di bawah huruf arabnya dengan maksud agar murid-murid menghafal juz amma tersebut. Jadi, setiap selesai mengaji, semua ramai-ramai membaca juz amma ini. Nah... hingga beberapa surat di jus Amma ini, ibu hafal loh.

Tapi, sepertinya otak ibu mengalami inhibisi yang amat intens. Ditambah karena tidak pernah mengulang bacaan yang sudah pernah dihafal, akhirnya, ibu lupa beberapa surat di juz 30 alias juz amma tersebut.

Itu sebabnya jika ibu sedang jadi imam shalat kalian, anak-anak perempuan ibu, bacaan ibu itu-itu saja variasinya. Karena yang ibu yakin ya memang memang itu-itu saja.
Nah... tahun ini, alhamdulillah ibu berhasil mengingat ingatan 1 surat yang terlepas dari ingatan itu. Dimulai dari surat Al Adiyat dulu.


Tak mengapa terlambat, daripada tidak sama sekali.

- Hal yang membuat ibu senang dan bangga pada kalian anak-anak ibu adalah, kalian sudah lebih baik agamanya ketimbang ibu. Alhamdulillah... wa syukurilllah. Terima kasih ya nak.
Semoga kalian bisa terus lebih baik... lebih baik... lalu istiqomah tiada akhir, istiqomah selama-lamanya.

- Ibu bahagia ketika Ibam menjadi Imam dan mengisi bacaan surat Al Quran dengan variasi surat lain selain surat dari Juz 30. Alhamdulillah, berarti hafalan surat Ibam sudah bertambah lebih banyak.
- Ibu bahagia ketika ibu lupa membaca surat ketika sedang jadi Imam, lalu Arna dan Hawna berusaha untuk membimbing bacaan ibu yang terlupa tersebut hingga ingatan ibu pun sempurna melafalkannya. Alhamdulillah, berarti hafalan Arna dan Hawna lebih baik dari ibu.
- Ibu bahagia ketika Hawna sabar membimbing ibu yang susah payah menghafal surat Al Adiyat ketika kita sedang berusaha untuk muroja-ah di bulan Ramadhan. Tetap bersabar ya nak.... jangan jadi pemarah atau pengeluh meski dorongan hormon masa remaja terus mengganggu dirimu.
Ibu terus berdoa agar Arna dan Hawna dikaruniai karakter muslimah yang lembut, baik hati, serta penyabar dan pandai bersyukur.
- Ibu bahagia ketika Dhanti dengan sabar mau mengerti kondisi kekurangan ibu dalam beberapa hal. Seperti memasak variasi menu masakan yang tidak banyak, tidak rajin membersihkan rumah, tidak bisa diandalkan di segi keuangan, suka shalat tidak tepat waktu, dll.

Terima kasih ya Dhanti karena sudah menjadi menantu yang baik dan manis serta penyabar. Ibu bahagia karena Dhanti terus berusaha menyayangi adik-adiknya Ibam yang kadang bikin kesel dan malas. hehehe.
Jangan lelah untuk terus menyebar inspirasi kebaikan bagi adik-adiknya Ibam ya Dhanti.
- Ibu juga bahagia karena Ibam yang sering iseng dan cuek dan pengantuk berat, bisa terus sabar dan penyayang dan lembut pada istrinya. Iya. Ini Ramadhan pertama buat Ibam yang baru berumah tangga, bisa berpuasa dan berlebaran bersama dengan istri. Teruslah demikian ya nak.... insya Allah kamu akan memjadi suami yang sholeh dan calon ayah yang baik.

- Ibu juga bahagia karena ayah, jauh lebih baik dari segi manapun sepanjang Ramadhan ini. Lebih sabar (meski digodain istri, kadang dibentak, kadang dicuekin, kadang dikasih punggung karena istrinya bete dan lelah, atau ditinggal tidur... hehehe). Makasih banyak ya mas.
Ibu juga bahagia karena ayah, semakin sholeh. Berusaha untuk bisa shalat jamaah di masjid tepat waktu; berusaha untuk tetap sabar dan tidak keras kepala ketika ngotot-ngototan tentang sesuatu hal. Masya Allah mas.... aku suka lihatnya.
Ibu juga bahagia karena ayah, mau berusaha menemani ibu yang berusaha mengejar semua ketertinggalan ibu selama ini : ketertinggalan dalam jumlah hafalan Quran yang parah, ketertinggalan dalam segi fakir ilmu agama, ketertinggalan dalam sisi banyak wacana tapi nol realisasi. Hehehehe.

- Dan terakhir... ibu bersyukur alhamdulillah karena Ramadhan tahun ini, meski kita sekali bangun kesiangan hingga tidak sahur serumah, tapi gas tidak habis di tengah malam, aqua tidak sempat mengalami kekurangan galon dan air karena tukang aqua keburu mudik, atau persediaan bahan makanan yang senantiasa cukup. Oh... kita sekali mengalami beras habis di malam hari. Tapi karena itu terjadi sebelum pukul 21 jadi ayah masih bisa lari ke Gelael buat beli beras. Eh.... tapi itu buat puasa syawal dink. bukan  puasa Ramadhan.


Dah... terima kasih suami dan anak-anakku karna sudah memberikan kesempatan untuk memiliki Ramadhan terbaik tahun ini.
Terima kasih ya Allah atas segala rahmat dan karuniaiMu bagi kami.
Beri kami kesempatan untuk bisa bertemu Ramadhan lagi tahun depan.
aamiin.

5 komentar:

  1. aamiin ..
    Taqabbalallahu minna wa minkum ..
    mohon maaf lahir dan batin

    Lila dan keluarga

    BalasHapus
  2. wa alaikum salam.

    Alhamdulillah semakin membaik ya, Mbak. Mohon maaf lahir dan batin

    BalasHapus
  3. Subhanallah mba, senangnya dikelilingi sama anak anak yang Soleh dan Solehah. Semoga Ramadan besok nambah lagi anggota keluarga nya mba Ade

    BalasHapus
  4. Taqabbalallahu Minna waminkum... Mbk Ade, baca ini kok terharu banget. Semoga menjadi keluarga Samara ya, Mbk.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah mbaa. Aku satu sisi juga pengen juga buat evaluasi ramadan biar tahun depan semakin termotivasi menjadi lebih baik mba Ade :)

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pengikut