Langsung ke konten utama

Fita Cakra: Penulis yang Humble

[Lifestyle] Yang namanya penulis itu, jika bertemu dengan orang lain maka yang akan ditanyakan oleh orang lain itu adalah: sudah menulis buku apa?

Sehingga, rasanya "berdosa" sekali deh jika seseorang mengaku sebagai seorang penulis tapi ternyata dia tidak pernah menghasilkan buku sama sekali. Padahal, penulis itu kan belum tentu menulis buku. Ada penulis cerpen di majalah atau tabloid, penulis cerita bersambung di majalah atau koran, penulis artikel motivasi di media cetak.
Kebetulan, aku dikelilingi oleh teman-teman penulis.

Ada teman yang rasanya sudah langganan menulis cerita anak di majalah Bobo. Begitu banyak cerpen anak yang dimuat di majalah Bobo sehingga dia pun diindentikkan sebagai penulis bacaan anak. Tapi, jika ditanya "Sudah menulis buku apa?" untuk mengukuhkan posisi dia sebagai penulis, mungkin dia tidak bisa menjawabnya. Karena fokus menulisnya adalah menulis cerita pendek untuk anak-anak. Dan sasarannya tentu saja majalah yang diperuntukkan untuk anak-anak. Jadi, dia belum punya buku dimana ada nama dia tertera di sampul depannya.

Ada lagi teman yang fokus menulis cerita fiksinya di media sosial saja. Jika kita cermati, saat ini memang penggiat literasi tidak hanya membidik produk cetak saja dalam memamerkan karya para penulis. Tapi juga mulai banyak media online internet untuk memamerkan hasil karya literasi para penulis. Prose salah satunya. Ini adalah ajang unjuk hasil karya yang bisa diakses dengan mendownload aplikasi tersebut (sementara hanya tersedia di IOS). Atau e-book. Sekarang ada banyak sekali hasil karya e-book.

Itu sebabnya, ada penulis yang tidak mengeluarkan buku tapi tetap produktif menulis dengan menghasilkan karya-karya yang bukan berbentuk buku. Ada juga penulis yang produktif menulis dan karya tulisannya bisa dibaca di media online. Dan terakhir tentu saja penulis yang sudah menghasilkan buku.

EH... Lalu ada nggak sih penulis yang menghasikan tulisan di semua media?
Jawabannya ada, dan aku mengenal salah satunya. Dia bernama: FITA CHAKRA.

Fita Chakra: Penulis yang Humble




Fita ini, kebetulan masih anggota dari group tempat aku biasa chat, ngegosip, berebutan lipstik dari kuis, dan berbagi cerita yang kadang mutu kadang nggak mutu. Yaitu group bernama Embak Ceria.

Kemarin, kebetulan kami mengadakan kopdar di Hotel Amaris.



Waktu perkenalan dengan manajer Hotel Amaris Pancoran, baru deh terlihat nyata bahwa Fita inilah yang merupakan Penulis sesungguhnya.

Bagaimana tidak? Dia sudah menulis lebih dari 30 buah buku.
Catat: 30 buah buku.

Mulai dari buku untuk anak, remaja hingga dewasa.
Juga buku non fiksi atau fiksi.
Juga menulis cerpen untuk media cetak.
Dan... menulis juga sebagai seorang blogger. Ini dia tidak terlalu rajin saja ikut event-event menulis yang diikuti oleh para blogger. Karena, jika dia rajin ikut berbagai event lomba blogging biasanya dia menang euy. Karena tulisannya memang selalu enak dibaca dan bikin ketagihan. Itu sebabnya panitia penjurian biasanya jatuh cinta dengan tulisannya.
(*syukurlah... mari kita berharap agar dia tidak rajin ikut lomba blogging. Biar mengurangi saingan euy).

Bukan cuma sampai di situ saja dedikasi seorang Fita Chakra dalam dunia literasi. Dia bukan hanya menulis dan tulisannya merambah berbagai lini tulisan. Tapi, dia juga saat ini mengajar di sebuah sekolah dan pelajaran yang dipegangnya adalah ekstra kurikuler Menulis.

Tidak heran kan jika anak-anaknya pun akhirnya mengikuti jejak ibunya: menjadi penulis juga.

Sudah. Begitu saja sepak terjangnya dalam dunia literasi?
Jangan salah.
Dia juga berdagang buku.
Jadi, bukan hanya menghasilkan tulisan, lalu menyebarkannya. Fita Chakra ini juga memasarkan aneka buku.

Ini sebagian buku yang aku beli dari dia (dan sstt... harganya miring, semiring jalanan yang dipakai oleh atraksi motor gila di pasar malam).


Tuh.
Sabreg-abreg sudah keterlibatan Fita Chakra di dunia literasi. Tapi kok ya dia masih tetap humble.
Itu... hebat apa hebat coba?


Komentar

  1. Waaaw 30 bukuuuu? 😱😱😍

    BalasHapus
  2. nice informasinya kawan.. kunjungi kami balik donk
    info obat ginjal bocor dari ace maxs

    http://obatginjalbocor.apotekgumilar.com
    http://obatginjalbocorterampuh.blogspot.com
    http://goo.gl/CvwbRS

    BalasHapus
  3. bukunya emang udah banyak ya... penulis yg produktif :)

    BalasHapus
  4. nice informasinya kawan.. kunjungi kami balik donk
    info obat ginjal bocor dari ace maxs

    http://obatginjalbocor.apotekgumilar.com
    http://obatginjalbocorterampuh.blogspot.com
    http://goo.gl/CvwbRS

    BalasHapus
  5. saya br tau kalau mak fita jualan buku jg... intipin ah...

    BalasHapus
  6. waww keren ya mb fitaa ini
    sedikit bicara, banyak bekerja
    go go mb fitaa

    BalasHapus
  7. Hahaha... berharap aku nggak ikut lomba ngeblog toh rupanya. :D Makasih banyak, Mbak Ade. Jadi terharu aku hiks.

    BalasHapus
  8. Memang banyak sudah buku karyanya ya mba adeee

    BalasHapus
  9. Ayolaaah mbak Ade kamu pasti bisa. Dulu saya mengenal mba Ade karena penulis buku juga. Hihiihi

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…