Langsung ke konten utama

Jangan Lupa Arisan!

[Keluarga] "Bu Ade... arisan yuk."
"Eh... memangnya sore ini ya?"
"Iya Bu Ade. Di belakang ya rumah yang ketempatan. Jangan lupa."
"Oo.. oke... nanti saya nyusul."

Begitu terus kejadiannya jika tiba saat untuk arisan RT di tempatku. Tetanggaku datang menjemput sambil senyum-senyum manis. Aku sering tidak ingat bahwa tiap bulan itu, ada tanggal 8-nya. Dan tanggal 8 itu adalah saat untuk arisan RT. Hari demi hari berlalu, tiba-tiba sudah tanggal 8. Dan karena aku tidak memperhatikan tanggal di kalender (mungkin karena efek di rumah saja) jadilah aku sering lupa tanggal arisan RT.

Suatu hari, aku bertekad untuk tidak lupa dengan tanggal.
Aku lingkari angka 8 di kalender. Sebagai reminder agar tidak terlupa. Ibu-ibu di tempatku ikut arisan RT sering senyam-senyum manis jika aku datang terlambat karena baru mereka jemput. Jadi, aku tidak mau hal itu terulang lagi.

Hingga....
"Loh... Nak. Kok kamu sudah dapat saja sih?" Aku bertanya pada putriku yang remaja. Kata "dapat" disini merujuk pada jadwal menstruasi. Biasanya, jadwal rutin kedatangan giliran menstruasi aku dan putriku tidak jauh. Biasanya, aku dulu yang "dapat" baru kemudian dia. Tapi, kali ini tiba-tiba dia minta dibelikan pembalut.

Keluargaku termasuk keluarga yang selalu mengalami siklus panjang dan tidak tetap memang. Kakakku bisa mengalami rentang panjang sekali dan kadang pendek sekali. Begitu juga dengan adik-adikku. Jadi, kami sekeluarga besar memang bukan keluarga dengan pola menstruasi yang teratur setiap tanggal sekian pasti dapat. Itu sebabnya sulit untuk dideteksi "hamil atau tidak" atau "subur atau tidak" dengan cara menghitung kalender menstruasi.

Meski demikian, ada sebuah pola kedatangan yang kerap menjadi kebiasaan tersendiri. Seperti jika kakakku sudah datang bulan, maka selang beberapa hari adikku juga akan datang bulan. Dan demikian juga dengan keluarga kecilku. Biasanya, aku dulu yang datang bulan baru kemudian putriku.

Tapi, kali ini , kenapa terbalik?
Aku segera lari ke kalender. Lalu mulai melingkari tanggal terakhir aku dapat datang  bulan di bulan yang lalu. Hehehe... kadang, terlambat datang bulan bagi seorang wanita yang sudah bersuami itu berarti satu hal: hamil lagi.
Wah.
Jadilah aku mulai melingkari angka-angka guna menghitung sudah terlambat berapa lama. Kalender ku menjadi berwarna-warni.

Hingga ketika aku menatap kalender yang sudah penuh dengan lingkaran tiap-tiap angkanya aku baru ingat satu hal: HARI INI ARISAN RT.

Wah.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Nyaris terlambat. Arisan RT dilakukan setiap pukul 16.45.
Segera aku bersiap-siap. Mandi, lalu ganti baju dan menyiapkan uang arisannya. Setelah memesan pada anak-anakku agar mereka jangan nakal dan jaga diri baik-baik di rumah, aku pun pergi seorang diri ke rumah yang ketempatan arisan.

Di belakang rumahku rumahnya memang berderet-deret. Mungil-mungil dan saling menempel memanjang. Jadi, tidak perlu ragu di rumah siapa kali ini yang dapat arisan. Pasti salah satu di antara rumah-rumah itu.

Aku segera bergegas.
Tiba di deret rumah itu... kok sepi.
Apa jangan-jangan arisannya dipindah ya?
Tapi, tidak ada salahnya bertanya.

"Assalamu'alaikum. Bu.... bu..."


Loh? Kok sepi. Celingak-celinguk.
Bahkan rumah yang ketempatan arisan pun terlihat kosong. Kontrakan dengan 1 buah kamar itu pintunya terbuka dan aku bisa melongok hingga ke dalam dapur paling belakang. Tidak terlihat satu orang pun di sana.
Tiba-tiba ada yang memanggilku.

"Bu Ade... Oiiii... kita-kita lagi nenangga di sini nih."
Tampak segerombolan ibu-ibu.
"Eh... sudah selesai arisannya apa gimana sih?"
"Arisan apa ? Ini baru tanggal berapa?"
"Tanggal...."

Hold on.
Wait the minute.
Jangan-jangan aku salah merhatiin tanggal. Kalenderku kan sekarang sudah warna warni.

"Masih dua hari lagi buuuuuu... Ya ela si ibu Ade lupa lagiii....biasanya terlambat sekarang malah kecepatan... hahahaha."

#Jadi-pingin-ngunyah-kalender-duh-tengsin-ih


Komentar

  1. Mbak Ade ini kayak mamah saya :D, yang selalu lupa tanggal arisan RT di rumah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwhehehe... udah mulai tua berarti

      Hapus
  2. kalo kami arisannya setiap tanggal 5 Mbak Ade :)

    BalasHapus
  3. wakakakaaaaa...
    ini mbak kalenderkuuuuu.. selamat mengunyah bwahahahaaaa ..

    BalasHapus
  4. hihi, saya juga kebiasaanya sekarang naggalin waktu di kalender fisik dan smartphone :)

    BalasHapus
  5. Sama Mbak...arisan saya sering lupa. Bukan sering kayaknya. Malah tiap saat lupa. Jadi malu. Sering diingetin lewat WA. Kalau saya seringnya karena sabtu minggu ngabur melulu jarang di rumah.

    BalasHapus
  6. Aduuh lucu bangetvmbk ngikik deh

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…