Langsung ke konten utama

Flat Shoes? Kenapa Tidak?

[Lifestyle] Sebagai penggemar drama korea, kadang aku bingung melihat ketangguhan para wanita yang ada di drama tersebut. Nyaris sepanjang hari mereka menggunakan sepatu dengan hak sepatu yang amat tinggi alias high heels. Padahal, kontur daerah yang ada di drama korea tersebut bukan main medannya. Banyak tangga-tangga yang tinggi, jalanannya kadang menurun kadang menanjak.
Kadang, si aktris disuruh berlari hingga beberapa meter dengan sepatu high heelsnya. Lagi sedih berlari dengan high heels. Sedang senang, berlari dengan sepatu high heels. Apapun kondisi jalanannya, kadang ada saljunya, kadang berpasir, tetap ber-high heels.


Jika sudah begitu, aku kadang mikir, sebenarnya cape nggak sih kaki dengan high heels setinggi itu?
high heels di drama korea gentleman dignity. credit  foto: www.dianewantstowrite.com


ini adegan ketika jang dong gun mengenakan high heels di kaki kim ha neul di drama korea gentleman dignity. credit foto: www.dianewantstowrite.com


Mungkin, karena aku kurang suka memakai sepatu hak tinggi ya makanya aku selalu berpikir seperti itu.
Sebelum menikah, aku tidak punya sepatu dengan hak yang tinggi. Paling tinggi sepatuku hanya 5 cm. Kenapa? ehhehehe... alasannya sederhana sih. Aku kurang suka jalan berdampingan dengan cowok yang lebih pendek dari aku. Padahal tinggiku lumayan sih untuk di jaman itu (era tahun 80 an dan 90 an). Jadi, agar teman cowokku tidak pernah melampaui tinggi badanku, aku memilih untuk mengenakan sepatu hak maksimal 5 cm saja (tinggiku 165 cm).

Itu sebabnya, ketika kakiku terbiasa memakai sepatu yang tidak terlalu tinggi. Setelah menikah dan hamil serta punya anak, maka aku lebih senang memakai hak rendah (3 cm) atau wedges. Sering juga sepatu sport.

Tapi, setelah berusia lebih dari 40 tahun seperti sekarang, maka sepatu high heels itu sesuatu yang: terlarang untuk dikenakan olehku. hahahaha.... sakit di lutut dan tumit euy.

Terus? Pake sepatu flat dong sekarang? Tapi kan kesannya jadi kayak main-main?
Ya nggak juga sih.
Sepatu flat itu enak loh. Karena dia nyaman di kaki, tidak cepat membuat lelah, dan tidak menyakitkan syarat-syarat di lutut dan tumit.

Malah, bagi orang hamil, sepatu flat itu penting karena tidak merusak peredaran darah yang tertumpu di kaki. Jadi bisa mengurangi resiko terkena kaki bengkak dan menstabilka peredaran darah di seluruh tubuh.

Kebetulan, ada loh sepatu flat yang cantik. Yaitu sepatu produksi dalam negeri keluaran The Warna. Aku menulis ulasan tentang sepatu koleksi The warna ini dalam tulisan berjudul: Sepatu Keluaran The Warna Collection di blogku yang lain, blog Cari Angin. Kalian bisa membaca di sana ulasanku tentang sepatu flat shoes keluaran The Warna Collection.

Seperti ini nih sepatunya:




Artinya, itu sebuah pembiasaan saja ya seorang wanita itu ingin mengenakan  sepatu high heels atau flat shoes itu. Bagian dari gaya hidup atau lifestylenya.

Kalau aku sih, tetap lebih menyukai sebuah sepatu yang bukan high heels. 

Komentar

  1. Mbaaa..cantik banget sepatunya. jadi pengin pesen juga nih di The Warna ;)

    BalasHapus
  2. SAya juga punya flat shoes the warna ini, emang enak dipakai dan modelnya keren mbak.

    BalasHapus
  3. ah sama dong, aku juga gak suka pakai yg haknya tinggi. Susah makenya juga takut jatuh, haha. Lagian kalau flat shoes juga lebih nyaman dipake

    BalasHapus
  4. jgn salah mbak... cewek2 kantoran itu sering aku liat nguber2 bus dgn high heels loh!

    BalasHapus
  5. Aku juga sukanya pake sepatu ceplek, *emak2 tomboy*, males pake sepatu klotak-klotek, bikin tumit sakit

    BalasHapus
  6. enak dipakai dan modelnya keren thanks artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah... Makasih Bunda telah melangkah bersama The Warna Indonesia, semoga ini menjadi berkah bagi kita semua dan Allah senantiasa membalas kebaikan bunda selama ini... Aamiin.. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…