Langsung ke konten utama

Putu Bambu

Kue Putu Bambu sepertinya menjadi salah satu cemilan pavorit keluargaku dalam dua bulan terakhir ini. Mengapa? Karena, musim hujan, malas kemana-mana. Tapi sore-sore mau nyemil sesuatu. Dan salah satu tukang keliling yang lewat depan rumah adalah penjual Kue Putu Bambu.

Bunyi denging yang melengking yang diperdengarkannya memang selalu terdengar saban lewat waktu ashar. Sekali dua, masih bisa ditahan. Tapi setiap hari mendengar denging tersebut, ditambah sisa hujan yang membuat jalanan basah dan rasa malas keluar rumah tumbuh subur, maka bunyi denging penjual Kue Putu Bambu adalah bunyi yang terdengar begitu menggoda.

Aku sempat membuat video tentang proses pembuatan kue Putu Bambu tersebut.




Kalian suka Kue Putu Bambukah? Kue ini enaknya dimakan hangat-hangat. Saat ini (maret 2015), harganya 10 buah itu Rp12.500.  Cukup mahal ya, karena dulu harganya di bawah sepuluh ribu rupiah. Karena nikmat dimakan hangat, jika membelinya jangan beli banyak-banyak. Karena jika ditaruh di kulkas akibat tidak habis, dia akan mengeras. Sedangkan jika dihangatkan lagi dengan kukusan, hasilnya malah jadi kelembekan. Cruncy-nya hilang.
Oh ya... ini rasanya berbeda dengan kue Putu Ayu meski sama-sama warna hijau, mengandung tepung beras, dan gula merah, serta ada kelapa parutnya, tetap saja rasanya berbeda banget. Menurutku sih lebih enak yang ini.



Tapi.. kebetulan aku dapat resep cara membuatnya nih.. siapa tahu di tempat kalian tidak ada Kue Putu Bambu dan kalian ingin membuatnya sendiri di rumah (resep ini aku kutip dari blog ini nih)

Bahan-bahan

Bahan:
800 gr tepung beras
600 ml air
6 lembar daun pandan
1 sdt garam
250 gr gula merah, sisir terlebih dahulu
Bahan Taburan:
300 gram kelapa setengah tua tanpa kulit, parut
1 sdt garam
*Campur dan kukus hingga matang

Cara membuat
Campur air dengan garam dan daun pandan. Rebus sampai mendidih, angkat, biarkan agar menjadi hangat.
Siapkan tepung beras pada sebuah wadah, kemudian masukan air pandan tersebut sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan tangan hingga merata
Saring adonan sedikit demi sedikit menggunakan saringan kasar hingga adonan menjadi halus.
Masukkan adonan kedalam cetakan bambu. Alasi potongan bambu dengan potongan daun pisang atau daun pandan.
Lubangi bagian tengah adonan kemudian masukkan gula jawa secukupnya. Kemudian tutupi sisanya dengan adonan tepung beras hingga cukup penuh, ratakan
Siapkan panci pengukus, kemudian letakan cetakan yang sudah berisi adonan putu dengan posisi berdiri. Usahakan tepat berada di atas lubang kukusan
Kukus sekitar 10 menit, angkat dan keluarkan kue dari cetakan. Sajikan di atas piring mendatar
Taburi kue Putu yang sudah matang dengan parutan kelapa ditambah sedikit gula pasir

Komentar

  1. putu? salah satu makanan favorit saya :D

    BalasHapus
  2. Klo yang jualan putu ga perlu teriak" ato mukul sesuatu buat narik pengunjung,.
    Cukup lewat ajj pengunjung dah pada tau dari suara khas'a :D

    BalasHapus
  3. keren bangat infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Jujur aja ga gt suka mba. Aku ga doyan kelapa memang. Makanya semua makanan yang ada kelapa, dijamin ga akan jd favoritku :D

    BalasHapus
  5. Sepertinya enak, Mbak.. :D Apalagi kalok kelapanya masih seger.. :D

    BalasHapus
  6. Putu bambu paling enak dimakan pas masih anget :-bd

    BalasHapus
  7. Makanan legendaris yang masih ada zaman sekarang ...

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…