Langsung ke konten utama

Etika Mengambil Gambar Gratis di Internet

Pagi ini, sambil menunggu air matang agar bisa membuat susu untuk putriku yang akan berangkat sekolah; iseng aku membuka facebook. Di bagian notifikasi ada seorang teman yang mentag namaku sambil berkata bahwa foto yang dia lihat di sebuah website mirip sekali denganku.

Aku langsung meluncur ke artikel yang dibaca oleh temanku itu dan terkejut. Ternyata artikel tersebut memajang fotoku.
Terkejut? Pasti.
Kok bisa sebuah website mengambil foto orang tanpa izin? Ini... website islam lagi? Wah.
Tapi aku lantas bingung mau bagaimana lagi? Jadi... sambil resah campur panik, aku pun menshare kembali artikel tersebut di wall facebookku.


. Lalu mentag beberapa orang teman yang aku pikir bisa membantu atau setidaknya teman-teman mereka bisa membantu siapa tahu teman-teman mereka membacanya (catatan: jadi, ketika kita mentag seseorang untuk sesuatu yang kita bagi dengan mereka. Maka sesuatu yang kita  bagi tersebut bukan hanya muncul di wall facebook teman kita saja, tapi juga di halaman telusur facebook teman kita tersebut. Dengan begitu, yang bisa membacanya jadi lebih luas lagi).


Akhirnya, bantuan datang dengan segera.
Dimulai dari mak Efi Fitriyah dan Winda Krisnadefa: yang memberi saran untuk menghubungi admin website tersebut guna melayangkan protes.
(tapi akunya lagi ngantar anak sekolah jadi belum bisa buka notebook)

Lalu, bantuan berikutnya datang dari anne adzkira yang mengaku kenal dengan pemilik website tersebut. Wah.... alhamdulillah Anne langsung menghubungi adminnya.
Ketika aku sedang ada di pasar, handphoneku tang tung tang tung memberitahu ada pesan inbox. Isinya ternyata dari admin website tersebut yang meminta maaf.
Alhamdulillah.. masalah pun selesai. Case closed.

Senangnya luar biasa.
Jadi... siangnya, aku pun membuat status baru yang berisi klarifikasi untuk menjelaskan semuanya (dan ketika siang hari, artikel tersebut sudah dihapus diganti dengan artkel sama tapi edisi terbaru yang terevisi dengan gambar yang baru).

Alhamdulillah. Masalah fotoku yang diambil oleh website islam sudah selesai.
Adminnya secara resmi sudah minta maaf dan mengganti foto di artikel tersebut.

Buat para netizen, meski foto yang dipublikasi di internet (baik lewat Blog atau facebook atau akun media sosial lain), memang google menyimpan foto tersebut tapi tetap saja foto itu ada pemiliknya.
(Coba saja kalian masukkan clue gambar lalu pilih opsi image di google search maka akan bermunculan ratusan ribu atau jutaan gambar. Apakah ini gambar2 free dan bisa diambil begitu saja? Nah... etikanya, tetap harus minta izin pada pemilik awal foto tersebut. Klik opsi :kunjungi sumber asal foto berada. Biasanya selalu ada opsi ini di foto yang tersimpan di google.)
Jika tidak ada waktu untuk meminta izin, masukkan selalu link hidup dan pemberitahuan bahwa foto itu diambil dari sana.
Duluuuuu (ini sekedar cerita.. kisah nyata).
Sekitar tahun 2000an. Ada sebuah buku kumpulan resep yang terbit dan dijual di pasaran. Ternyata, salah satu pemilik foto gambar makanan di buku resep ini baru tahu bahwa fotonyalah yang diambil oleh penerbit tersebut. Maka dia pun protes. Alasan penerbit dan penyusun buku resep tersebut karen foto itu diambil dari google alias internet dan diyakini bahwa semua yang sudah dipublikasikan secara bebas di internet maka bebas juga untuj diambil untuk keperluan lain.

Anggapan ini jelas salah. Karena tujuan awal foto itu dipublikasikan memang untuk kegiatan publik. Tapi ketika sebuah foto digunakan untuk keperluan komersial maka aturannya berubah lagi karen ada hak royalti yang harus dibayar sehubungan dengan pemanfaatannya untuk tujuan komersial.
Sama2 ngotot maka pemilik foto melayangkan keberatannya ke pengadilan. Dan lewat rangkaian sidang akhirnya penerbit dan penulis kalah. Merek punya dua opsi: bayar royalti sesuai dengan permintaan pemilik foto atau menarik seluruh buku yang sudah beredar. Berhubung buku resep itu penjualannya juga biasa saja, jadi kalau bayar royalti malah rugi akhirnya buku itu ditarik dari pasaran.
Nah....
Dari cerita ini, semoga kita semua sadar bahwa yang terlihat gratis itu belum tentu gratis sebenarnya. Karena beda pemanfaatan maka beda perlakuan (*karena alasan ini maka aku sering menggambar sendiri gambar untuk postinganku di Blog. ..meski gambarnya kayak gambar anak TK).
Pelajaran pagi ini: beri selalu watermark untuk foto2 kita yang akan dipublikasikan di blog atau instagram.
Noted!

Ini klarifikasi yang sudah dilakukan oleh redaksi media tersebut dan bukti bahwa artikel sudah diperbaharui.
-------
Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Mbak Ade yang dimuliakan Allah SWT, saya dari perwakilan islampos mengucapkan mhon maaf sebesar-besarnya, kami lalai dalam meminta izin jika fotonya kami pakai di salah satu menggunakan foto Mbak. Kami mendapatkannya dari internet. Foto sdah kami edit (ganti) di postingan tersebut. Sekali lagi mhon maaf jika sesuatu yang bersifat pribadi ini jadi masuk konsumsi publik dan mengganggu. Terima kasih banyak. Jzklah khairan katsira.

https://www.islampos.com/7-cara-tepat-mendidik-anak-1-2-16…/

Jadi... masalah pun selesai.

Ini persiapan yang aku lakuin jika ternyata kasus menjadi alot.. hehehe.. aku dah langsung siap-siap euy... Tapi alhamdulillah kasus lancar dan sudah diselesaikan dengan damai dan baik. Alhamdulillah.







Komentar

  1. setuju maaak...orang suka salah kaprah, kalau semua yang ada di internet itu bebas dimanfaatkan..apalagi kalau urusan foto, jelas-jelas ada pemiliknya...tapi besyukur masalah ini selesai dengan baik..

    BalasHapus
  2. Beruntung segera ditindak lanjuti ya, Mak. Blogger dilawan. Hahaha

    Emm....sebenarnya udah pantes banget jadi model gitu, lho. Hihihi

    BalasHapus
  3. Setuju mak.. Saya juga lagi belajar nih, hanya pake yg memberi ijin pakai. Selebihnya pake foto sendiri atau bikin sendiri gambarnya. Baru mulai sih, semoga yg udah terlanjur nggak bermasalah.. Makasih infonya ya Mak..

    BalasHapus
  4. betul sekali, bagaimanapun minta izin jauh lebih baik :) jadi inget foto2 belum diwatermark hadeeeh

    BalasHapus
  5. Makasih mba Ade sharenya. jadi diingatkan utk berhati2. saya juga suka ambil gambar dr google tp disebutkan sih sumbernya

    BalasHapus
  6. kemarin aku mau baca-baca artikel di web tersebut tapi sayangnya sudah ngga ada dan saya ketinggalan informasi *menyesal tidak sempat baca. tapi ya syukurlah bisa mengantisipasi pencurian foto kedepannya.

    BalasHapus
  7. Saya ambil gambar dari Google ya kalo benar2 terpaksa dan aku sebutin sumbernya :3

    BalasHapus
  8. Hiks, mbak foto2 ku juga sering dicomot sama situs jualan... T_T
    Btw, mbak ade cantik banget ya ^^

    BalasHapus
  9. terima kasih infonya snagat bermanfaat

    BalasHapus
  10. terima kasih infonya sangat membantuh kami

    BalasHapus
  11. bagus sekali sharingnya, ini menjadi warning bagi para pemilik website or blog jangan asal comot sana comot sini,,,

    BalasHapus
  12. Kalau saya si ga berani ambil foto orang apalagi yang dari Facebook atau akun sosmed lain kecuali ada keterangan fotonya bebas digunakan lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…