Langsung ke konten utama

Dua Gunung Kembar

Masih inget gak waktu SD kalau disuruh gambar pemandangan, banyak yang sering menggambar pemandangan berupa dua buah gunung kembar dimana ada matahari terbit di tengah-tengahnya, lalu ada jalanan yang terbentang lurus membelah dua buah pemantang sawah yang terbentang luas di bawah kaki gunung kembar tersebut?

Ketika kecil dahulu, aku sering banget gambar pemandangan seperti ini. Mungkin, karena aku lihat teman-temanku banyak yang menggambar ini lalu aku mencontoh mereka. Atau... bisa juga guru di depan kelas yang pertama kali memperkenalkan gambar tersebut dan seterusnya murid-muridnya mengingatnya sebagai gambar pemandangan yang bisa dipilih jika ingin menggambar pemandangan.

Ini dia gambarnya.


Nah.... baru-baru ini, aku baru tahu bahwa ternyata itu sebenarnya adalah gambar gunung Sindoro dan Sumbing; dua buah gunung kembar yang ada di Jawa Tengah.


tuh... mirip kan gambar gunung sindoro dan sumbing ini





Eh tapi..... waktu sempat tinggal di apartemen beberapa waktu yang lalu; suatu pagi aku juga menemukan pemandangan cantik seperti ini loh.

Ini adalah dua buah gunung yang terlihat dari jendela apartemen yang terletak di wilayah Jakarta Selatan. nama gunung ini adalah Gunung Salak dan Pangrango.

Keduanya juga berdiri bersisian sebelah-sebelahan. Bedanya, karena aku tinggal di daerah perkotaan maka yang ada di bawah kaki gunungnya bukan persawahan yang terpentang. Tapi areal perumahan yang padat.

Lalu, semak-semak yang biasanya menutupi tepat kaki gunung, berganti menjadi deretan apartemen yang berjajar.

Hmm... lain dulu lain sekarang.
Lain di desa lain juga di kota.

Meski demikian.... mereka berdua sama cantiknya.
Bagaimana menurutmu?



Komentar

  1. Hehehe.....aku juga dulu suka gambar gitu,,lucu juga ya,,,lain di desa, lain juga dikota..:)
    Salam kenal ya mbak

    BalasHapus
  2. Yang bikin penasaran itu, siapakah yg pertama kali mencetuskan lukisan gunung kembar trus ada jalan dan sawah hehehehe

    BalasHapus
  3. itu gambar kayaknya dari dulu sampai sekarang gak berubah deh....apa ini tada kurang kreatif ya????

    BalasHapus
  4. terima kasih atas infonya sangat menarik

    BalasHapus
  5. Dulu saya kalo gambar gunung satu aja trua pake awan gitu

    BalasHapus
  6. terima kasih infonya sangat menarik

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…