Langsung ke konten utama

Model Rumah Panggung Untuk Mengatasi Banjir di Perkotaan

[Lifestyle] Masih ngomongin seputar model rumah nih ceritanya dakuh. Setelah sebelumnya aku ngomongin tentang bentuk rumah Limas Palembang yang diabadikan di  duit kertas Rp10.000, maka aku mau cerita bahwa sekarang ada sebuah trend yang memang belum naik daun saat ini, yaitu trend mendirikan model rumah Limas Palembang di perkotaan.


Jadi, jika punya kavling di daerah yang rawan banjir, ada kecenderungan orang untuk melakukan tiga hal:

1. Membuat rumah dengan sebuah tanggul yang cukup tinggi di pintu masuk rumah mereka.
2. Meninggikan lantai rumah mereka jauh lebih tinggi dari jalanan.
3. Mendirikan model rumah panggung.

Nah, yang ketiga ini sudah mulai banyak yang melakukannya. Alhamdulillah.
Aku sempat bertanya-tanya sih pada beberapa teman yang kebetulan punya kavling kosong terus di atasnya mereka bangun model rumah Limas Palembang. Kisaran harganya dimulai dari delapan puluh juta rupiah (Rp80.000.000) ternyata untuk yang hanya berbentuk studio (jadi ruang terbuka plus dapur dan 1 kamar mandi). Temanku sendiri dia membayar dua ratus lima puluh juta  (Rp250.000.000) untuk rumah dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. di atas lahan 150 meter persegi.  Tinggi rumah dimulai setinggi 3 meter dari permukaan tanah.

kedua gambar ini aku ambil dari sini 



Apa keuntungan dari rumah model Panggung?

Karena aku berasal dari Palembang, maka ini pendapatku:

1. Nenek moyang kita sudah merancang rumah ini tentu dengan tujuan untuk mengantisipasi beberapa kondisi yang sering muncul saat itu yaitu: menghindari gangguan binatang buas; dan mengantisipasi ancamana banjir.  

Karena, memang sungai Musi itu cepat sekali meluap di musim hujan. Airnya bisa jauh melampaui bibir sungai. Padahal, masyarakat memang mendirikan rumah di bibir sungai karna mereka memang ingin hidup dekat dengan sungai yang bisa menjadi alat untuk transportasi mereka, tempat untuk melakuukan aktiftas sehari-hari, dan sebagainya.

2. Bagian bawah rumah, bisa dijadikan sumur resapan dan lubang biopori yang amat baik untuk tempat resapan air. 

Dulu, memang tidak dikenal semen, jadi bagian bawah rumah dibiarkan tanah begitu saja. Itu sebabnya air banjir cepat sekali terserapnya. Sayangnya sekarang banyak yang malah disemen tanahnya sehingga air kesulitan mencari jalan masuk ke dalam bumi. Akhirnya terbuang ke laut begitu saja deh setelah lama tergenang alias banjir.


3. Bagian bawah bisa juga dibuat sebagai tempat untuk menyimpan kayu bakar atau garasi mobil
  atau... 

jika ada kenduri bisa jadi ruang serba guna yang lapang. Kan, tidak ada kamar disana jadi seluruh lantai bisa jadi satu ruang pertemuan yang besar.

4. Nah.. yang ke empat ini yang menarik. Rumah Panggung Limas Khas Palembang itu sistem bongkar pasang loh. 

Jadi, kayu-kayunya tidak dipaku mati. Itu sebabnya kakek dulu, tinggal di tepi sungai. Tapi karena dapurnya hanyut terbawa banjir sungai musi, lalu tiba-tiba kakek pindah ke seberang jalanan dan rumahnya lengkap bentuknya gak berubah. Terus, kavling kosong bekas rumah kakekku diisi oleh rumah panggung lain dari anaknya kakekku yang pindah begitu saja seluruh rumahnya lengkap. Wah.. rumit deh kalau diceritakan. Pokoknya kalau mau pindah rumah, nggak mesti cuma ngangkut barang doang gitu, tapi kita juga bisa ngangkut semua fisik rumah kita. Jadi, yang ditinggalin asli cuma tanah kosong pas kita pindahan itu. Ini yang disebut rumah model bongkar pasang.

Menarik ya.
Eh.. ini aku ketemu lagi nih link model rumah Limas Palembang yang dijual (harganya kayaknya lebih murah dari harga rumah temanku deh. Tapi.. mungkin karena beda bahan kali. atau.. beda tahun pembuatan.. hehehehhe.. maklum harga bahan bangunan kan ada kecenderungan selalu naik ya).

aku dapat link rumah LImas yang dijual dengan sistem bongkar pasang nih dari sini

Komentar

  1. rumahku harus dibuat seperti itu ya mbak :)

    BalasHapus
  2. Mba, kalau bagian bawah dipake buat warung jualan empek2 kayaknya asik. Hihihi

    Tpi, pas lagi terang. :D

    BalasHapus
  3. kami sering buat rumah seperti ini.
    dari kayu kelapa ( glugu ) maupun dari kayu jati. cat kayu memakai cat proof aqua jadi tahan air. silahkan kunjungi JATIBAGUS. terima kasih atas artikelnya

    BalasHapus
  4. cantik juga rumahnya ya. bermaterial kayuJati

    BalasHapus
  5. keren mas rumahnya, juga aman dari binatang buas, serasa aman dan nyaman saat istirahat.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…