badge

Jumat, 14 Maret 2014

Dua Bola Mata

Seorang saudaraku, menderita kebutaan sejak lahir.
Dia hafal Al Quran. Beberapa kali terpilih untuk mewakili MTQ bagi Tuna Netra untuk daerahnya.

Ketika masih kecil dahulu, aku sering main ke rumahnya dan tidur-tiduran di kamarnya yang selalu temaram. Tidak pernah ada lampu disana. Sehingga, kita yang bisa melihat harus hati-hati berjalan disana. Tapi, bagi saudaraku, dia hafal seluruh jengkal isi kamarnya dengan amat baik.

"Kenapa sih tidak dipasang lampu saja?"
"Untuk apa? Toh aku tidak bisa melihat. Sama saja bagiku, Ade."

Aku hanya bersungut-sungut. Bagi dia memang sama, tapi tidak bagiku. Bagiku kamarnya itu terlalu temaram dan aku bahkan kesulitan untuk menemukan ujung dipan tempat tidurnya sehingga tulang kering kakiku sering menabrak ujung dipan tempat tidurnya yang keras. Meski demikian, semangat dia untuk belajar dan bergaul tidak pernah ada bedanya denganku. Dia bisa berceloteh tentang apa saja. Juga hafal lagu-lagu banyak sekali. Dan spesialnya adalah:
Dia hafal Al Quran.
Sedangkan aku yang bisa melihat, masih terbata-bata membaca Al Quran-nya.
Itu sebabnya dia mengajar mengaji dan bahkan bisa melakukan bisnis kecil-kecilan yaitu berdagang.

"Oi, De. Aku memang buta, tapi badanku sehat; otakku masih bisa dipakai untuk berpikir. Dan semua yang ada di aku ini dalam kondisi sempurna. Di dunia ini tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang malas. Kau tuh malas."
Aku hanya bisa nyengir mendengar teguran (sindiran tajam) nya.

Di tempat lain, aku juga mengenal seseorang yang juga mengalami kebutaan, tidak dari lahir. Tapi, dia amat berbeda dengan saudaraku itu. Sepenuhnya dia merasa bahwa kebutaannya itu benar-benar sesuatu yang membuatnya tidak bisa melakukan banyak hal. Itu sebabnya dia hanya bisa duduk diam, hingga tiba-tiba dia sudah melakukan profesi sebagai peminta-minta yang duduk mengharapkan sumbangan dari orang-orang yang lewat. Hari-harinya dilalui dengan duduk bersila, punggung tegak, dan mulut terkunci rapat.

"Kasihani saya bu, saya buta. Saya tidak bisa melakukan apa-apa karena kebutaan saya."

Saudara saya yang lain, yang juga mengalami kebutaan setelah dia dewasa, pandai memainkan Akordion. Gloukoma yang dideritanya ketika dia berusia 30 tahun, dan membuat kedua matanya tidak dapat melihat lagi, tidak membuatnya patah semangat. Sedih, itu pasti. Dia menghabiskan waktu satu tahun untuk menangisi nasibnya yang dirasakan malang tersebut. Bagaimana tidak sedih karena ketika dia buta, dia sibuk menangis dan lupa bahwa kehidupan terus berjalan meski dia bersedih. Suaminya tetap harus pergi ke ladang (saudaraku itu tinggal di dusun yang ada di tepi Sungai Musi); anak-anaknya terus tumbuh dengan berbagai macam keperluannya. Sementara kehidupan di dusun tidak terbiasa memiliki pembantu rumah tangga seperti halnya kehidupan di perkotaan. Akhirnya, atas kesepakatan seluruh keluarga, suaminya menikah lagi. Kesedihan saudara saya itu bertambah.

Tapi jangan pernah membayangkan kehidupan poligami yang penuh dengan intrik persaingan seperti halnya gambaran rumah tangga poligami yang digambarkan oleh banyak tulisan dan sinetron. Rumah tangga poligami yang dibangun oleh saudara saya itu aman tentram. Istri muda membantu keluarga suaminya dan sekaligus menghibur istri tua suaminya. Saudara saya yang buta tersebut dilatih untu menjadi mandiri. Bahkan anak pertama dari pasangan suami dan istri muda tersebut, sejak kecil dilatih untuk membantu saudara saya yang buta tersebut. Sehingga, ketika anak pertama tersebut berusia 5 tahun, anak tersebut sudah seperti anak sendiri. Melayani saudara saya yang buta ini, melatihnya, membantunya sekaligus menghiburnya (karena anak-anak memiliki hati malaikat yang mampu menghibur orang lain). Akhirnya, saudara saya tersebut bisa menjadi pribadi yang mengagumkan seperti sekarang. Dia hafal Al Quran dan selalu mengisi waktu luangnya dengan mujarobah (melantunkan hafalan Al Quran). Serta bermain musik. Dia pandai sekali memainkan akordion.

ini pemain akordion dan akordionnya yang sering berkeliling di Eat n Eat Gandaria City, Jakarta Selatan

Lagu-lagu melayu tempo dulu dia hafal di luar kepala. Dia juga akhirnya bisa kembali menjadi ratu di rumahnya sendiri. Dengan ceria dia akan melayani semua tamu yang berkunjung ke rumahnya. Memasak, mengambil sesuatu, berjalan kesana kemari. Lincah. Anak tirinya bahkan dengan ikhlas melayani semua kebutuhan yang tidak bisa dia lakukan karna kebutaannya karena dia memang sudah tidak pernah lagi mengeluhkan kebutaannya dan tidak ingin membuat orang ikut gusar lagi dan susah hati karena kebutaannya. Itu sebabnya banyak orang yang akhirnya sayang padanya.

Waktu berjalan-jalan di Kuala Lumpur, Malaysia, aku sering sekali bertemu dengan rombongan Tuna Netra yang ceria dan bisa terus beraktifitas dalam berbagai profesi. Negara Malaysia memang memberikan fasilitas berlimpah berupa kemudahan bagi orang cacat yang ada di negaranya. Jadi, jangan heran jika di kampus, mall, perkantoran, taman, ada banyak orang cacat yang bisa beraktifitas normal dan berbaur dengan orang lainnya.

Hmm.
Cerita-cerita di atas, tiba-tiba saja jadi muncul di benakku setelah tanpa sengaja aku melihat video di bawah ini. Tonton deh. Sehabis menonton video ini, aku jadi bersyukur. Alhamdulillah aku dilahirkan dalam kondisi sempurna.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kesempurnaan pada kita semua. Aamiin.


l

12 komentar:

  1. Inspiratif banget mba Ade, tengkyu sharingnya... ada saudara saya yg juga diberi kekurangan dari salah satu panca inderanya, meskipun so far masih bs survive .. tp pesimisnya luar biasa, belum lagi sensitifnya.. terlalu mudah tersinggung dan marah... berbagai upaya untuk merangkulnya masih belum berhasil membuatnya bangkit dan bisa menerima keadaan. Masih sering menghujat atas takdir yg diterimanya... dia masih menjadi PR saya... yang bs saya lakukan salah satunya dengan berbagi cerita seperti orang-orang yang mba Ade ceritakan disini. Doa saya selalu semoga dia memperoleh HidayahNya agar bangkir dari keterpurukan... *gak bs menahan air mata

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, ya Allah. Mak Ade terima kasih, tulisanmu inspiratif dan semoga aku istiqomah setelah ini, aamiin.

    BalasHapus
  3. cerita mbak Ade selalu menebar semangat dan inspirasi baru :)

    BalasHapus
  4. Subhanallah. . .
    Senang membaca cerita dari Mak Ade. Seorang hafidz yang penuh dg optimis.

    Semoga saudaranya selalu diberi kemudahan dalam hidup, ya.

    BalasHapus
  5. Hmmm... cerita pendek dan menggugah hati. Membuatku sungguh menjadi sangat bersyukur atas anugerah-Nya. Makasih banyak Mak Ade sudah diingatkan... TFS

    BalasHapus
  6. Subhanalloh, semoga kita yang matanya normal bisa meniru sepupu mbak Ade yang hafal Al Qur'an

    BalasHapus
  7. Subhanallah...hrsnya kita bersyukur ya mbak karena Allah memberikan kesempurnaan pada tubuh kita. dan harusnya pula kita malu pada mereka. Mengapa kita yang dilahirkan sempurna kadang mempunyai nyali yang ciut untuk berbuat sesuatu.
    Cerita mbak Ade sangat inspiratif, semoga tidak ada lagi orang malas karena sesungguhnya hidup ini penuh perjuangan

    BalasHapus
  8. Subhanallaaaah,, harusnya kita lebih malu dari temannya mbak ade, kita yang normal jangankan hafal kadang satu hari mencoba menghafalpun tidak

    BalasHapus
  9. iiih mbak ade, membaca tulisan mbak, liza jadi teringat teman waktu ikut MTQ dulu. beliau sama seperti saudara mbak ade, buta tetapi hafal alquran jadinya sering sekali ikut MTQ.

    BalasHapus
  10. dibalik kekurangan tentu saja punya banyak kelebihan lainnya ya mbak

    BalasHapus
  11. suka ceritanya mbak Ade... sangat menginspirasi

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...