Langsung ke konten utama

Bingung Milih Pemilu 2014 nanti (part 2) : Jangan Golput

Kemarin pas naik taksi aku dengar tanya jawab di radio Am yang disiarkan di taksi tersebut.
"Pak.. gedein dikit dong." (ujarku pada pengemudi taksi. Si supir taksi langsung gedein dan kami pun mendengarkan bersama siaran radio tersebut).

Ada beberapa point yang aku setuju dengan tanya jawab tersebut. Yaitu:

1. JANGAN GOLPUT.

Hmm, aku tuh termasuk orang yang selalu mengatakan pada banyak orang bahwa aku bukan orang partai. Posisiku netral. Itu sebabnya selama beberapa waktu, sesudah dan sebelum Pemilu atau Pilkada, aku selalu menolak untuk mengatakan AKU MILIH APA atau SIAPA.

Makanya beberapa kali ada teman yang memasukkan aku ke dalam group-group yang berafiliasi ke partai tertentu, aku selalu menolak untuk dimasukkan ke sana. Dan itu tegas aku katakan alasanku: yaitu bahwa aku ingin berdiri di luar saja. Tidak ingin masuk ke dalam lingkaran partai tertentu.

Ada beberapa keuntungan posisi netral yang aku jalani tersebut. Yaitu:
a. Aku tidak terikat kewajiban untuk mendukung calon yang diajukan oleh partai tertentu.
b. Karena tidak ada kewajiban untuk mendukung, maka aku juga terbebas dari kewajiban untuk mempublikasikan calon yang diusung oleh partai tertentu agar orang lain bisa ikut mendukungnya.
c. Karena terbebas dari kewajiban untuk mempromosikan calon tersebut, aku punya kesempatan untuk melihat kekurangan dan kelebihan dari tiap-tiap calon yang diusung oleh semua Partai Politik.
d. Karena bisa melihat kekurangan dan kelebihan dari tiap-tiap calon, maka aku tahu bahwa ketika aku menjatuhkan pilihanku di bilik suara nanti, pilihanku itu lahir bukan karena orang lain tapi karena olah pikir dan kesadaranku sendiri.
e. Alasan terakhir di atas itu bikin aku: PUAS DAN LEGA. Jadilah aku bisa melaksanakan LUBER dengan benar. hehehehe.

Nah... Kenapa aku tidak memilih untuk GOLPUT? 
Karena aku tahu, bahwa ketika aku GOLPUT maka itu berarti:

1. Aku menyerahkan begitu saja kepada orang lain untuk menentukan siapa yang akan mewakili suara orang banyak nanti untuk memimpin negeri ini. OH... TIdaaaakkk..

Aku tidak percaya dengan pilihannya si Mawar (cuma nama samaran) yang (maaf) pendidikannya lebih rendah dari aku. Atas dasar apa dia memilih seseorang nanti? Jangan-jangan cuma berdasarkan fisik belaka saja. Aduh.. duh... Nggak deh. 
Aku juga tidak percaya pada pilihannya si Melur (cuma nama samaran) yang (maaf) mata duitan banget jadi dia akan mendukung siapa saja yang berani memberi dia duit yang banyak. Cuih. No Thanks.
Aku juga tidak percaya pada pilihannya si Anggrek (cma nama samaran) yang jika diberi pilihan selalu memilih berdasarkan lubang kancing saja. 

Nah.. karena aku tidak mau orang lain mewakili suaraku, maka aku pun memilh untuk TIDAK GOLPUT.

2. GOLPUT itu membuat kesempatan untuk si curang memanfaatkan suaramu yang tidak terpakai. Jadi, kertas suara itu kan sudah dijatah-jatahin nih berdasarkan jumlah peserta pemilu. Nah, jika ada kertas suara yang kosong, maka bisa saja terjadi kecurangan. Yaitu, si curang berhasil memanfaatkan kertas suara yang tidak terpakai itu untuk diisi dengan nama yang ingin dimenangkan. 

KARENA MENCEGAH KEMUNGKARAN ITU LEBIH DIPRIORITASKAN KETIMBANG MENEGAKKAN KEBAJIKAN, MAKA JANGAN GOLPUT DEH.

3. Kita harus terlibat dalam memilih siapa yang akan memimpin kita. 
Jadi, kita tahu dan sadar siapa yang pantas untuk memimpin kita. Syukur-syukur sih kita tahu sosok orang yang kita pilih tersebut.

Jika kita GOLPUT, memang benar sih kita bisa mengembangkan dalih: "GUE GAK IKUT-IKUTAN LOH. KAN LO YANG MILIH DIA, BUKAN GUE.", tapi kita tidak memberikan output apapun sebenarnya dalam hal ini.
Jadi sama seperti, kita teriak-teriak, "Gue gak suka Mawar... Mawar bau kaki."
Tapi, pas ditanya, " Ya udah, kita gak usah milih Mawar. Terus, elu ada saran gak siapa yang harus dipilih buat gantiin Mawar?"
dan jawaban lo adalah: "GUE GOLPUT AJE."
nah.. berarti jika ternyata si Melati yang menang, padahal Melati bau ketiak, maka elo gak bisa nyalahin teman lo. Karena GOLPUT itu sama artinya dengan TERSERAH ELU, GUE NGIKUT AJE. 

Kalo udah begini, ya sudah, dinikmati deh bareng-bareng suasana bau ketiak yang semerbak. hehehehehe.

Oke. Jadi, kalo golput dilarang terus, kalau pilihan yang ada jelek-jelek gimana? Nah.. mari kita amati lebih dalam lagi. Di antara yang jelek-jelek menurut kamu itu, siapa yang jeleknya paling mendingan? Karena, gak mungkin semua rata jelek semua. Pasti ada yang paling mendingan. Nah... mungkin si yang paling mendingan ini bisa kalian pilih.
Gimana? Setuju?



--------------
AKU BUKAN ORANG PARTAI
AKU NETRAL TAPI AKU TIDAK GOLPUT

Komentar

  1. aku gak goolput kok mbak ade, bener deh :)

    BalasHapus
  2. Setujuuuuuuuuu :D. Say no to golput ;).

    BalasHapus
  3. Saatnya jadi detektif program dan calon yang tepat

    BalasHapus
  4. sejak mendapatkan hak pilih dan lalu masa jadi mahasiswa sampe sekarang saya adalah GOLPUTtragis yang telah mendarah daging...terakhir dalamhati bilang, kalau JOKOWI nyapres(terlepas dari partai nya)..golput akan saya akhiri....gituh masa...?!

    BalasHapus
  5. Yang mendingan, yang masih rada kinclong. Wkwkwkw. Saya berusaha untuk nyontreng, Ibu Cantik. Cari tahu latar belakang para caleg nanti kalau udah mau pilihan. :D

    BalasHapus
  6. pilih pemimpin yg berani
    hihihi

    BalasHapus
  7. Masih belum memutuskan untuk memilih apa dan siapa.
    Maaf mbak, ini mbak Ade yang dulu aktif di myquran ya?

    BalasHapus
  8. Tentu harus nyolos dong, dan cari yang paling mendingan itu tadi :)

    BalasHapus
  9. makasih informasihnya sangat keren!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…