Langsung ke konten utama

Keluarga Pengemis yang Aku temui Di Mikrolet

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan keluarga pengemis. Mereka berebutan naik mikrolet dan di mikrolet juga nyemil dan bercanda-canda. Terlihat seperti keluarga bahagia hanya saja pakaiannya dekil-dekil dan compang camping. 
Aku tidak berpikir mereka keluarga pengemis tadinya. Apalagi anak sulungnya adalah anak perempuan yang mukanya masih imut banget tapi.. kok gendong bayi. Jadi aku langsung mikir, "ah, paling nikah dini."

Pernikahan dini kan emang biasa ya di beberapa kelompok masyarakat kita. Jadi, pas aku sapa, berapa bulan bayinya, si imut ini menjawab bayinya usia 10 bulan dan dia sendiri... baru 15 tahun. Itu anak pertamanya.

Hmm...aku langsung mikir, berarti orang ini pasti dari daerah karena kalo di Jakarta susah buat nikah di usia 15 tahun.

Adik-adiknya ramai berebutan uang. Tapi ibunya galaknya luar biasa. Si ibu juga punya bayi. Tap kembali aku bingung lihat pakaian mereka yang amat buruk sekali. 





Dari obrolan mereka di Mikrolet itu.. eh.. akhirnya aku bikin cerpen deh.. hehehe.. iseng emang. Judulnya Pardi dan Power Ranger. Sepenuhnya terlahir dari kisah nyata yang aku buat di mikrolet ini. 
----------------------
Penulis: ade anita

Komentar

  1. Balasan
    1. makasih ya udah mampir baca cerpennya

      Hapus
  2. Orang kalau nggak bisa ngelanjutin sekolah biasanya emang pilihannya nikah muda ya. Padahal dengan nikah, beban hidupnya kan malah tambah berat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, karena mereka begitu nikah langsung punya anak akibat tidak tahu perencanaan berkeluarga. Allahu'alam

      Hapus
  3. Andaikan saya muda dan miskin, saya pasti lebih memilih sendiri, alias tidak menikah apalagi punya anak... karena berat tanggungan moral dan ekonominya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah...gak berani berandai-andai. semoga dijauhkan deh dari kemiskinan dan kefakiran.

      Hapus
  4. inspirasinya bisa di dapat di mikrolet ya mbak :)

    BalasHapus
  5. bisa jadi anaknya sewaan tuh
    kan pengemis jaman sekarang pake sewa anak segala

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temenku wanita karir believe or not pernah di lampu kerah merasa liat anak temennya digendong ma pengemis. Dia langsung telepon ke temennya itu ngasi tau plus nelepon polisi. Terus pengemis itudiamankan. Ternyata eh ternyata begitu ortunya berangkat kerja pengasuh anaaknya itu nyewain anak asuhnya ke pengemis dengan perjanjian jam 3 harus dibalikin lagi. Gila kan..

      Hapus
  6. inspirasi bisa didapetin dmana2 ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya..segalanya bisa jadi cerita

      Hapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…