Langsung ke konten utama

TIPS AGAR NASKAHMU BISA TERBIT DI DIVA PRESS

TIPS AGAR NASKAHMU BISA TERBIT DI DIVA PRESS
Oleh Edi Akhiles 

Jika anda menulis dengan tujuan supaya bisa diterbitkan oleh penerbit, maka sangat tidak cukup bagi anda sekadar menulis dengan teknik baik, sistematika yang teratur, kajian matang, tidak plagiat, plus sumber refrensi yang kuat. Tidak! Anda masih perlu tahu satu kunci rahasianya lagi: BISA DIJUAL!
Yups, bisa dijual!
Oohhh, berarti DIVA Press nggak idealis dong kalau orientasinya adalah bisa dijual? Berarti DIVA Press kapitalis dong?
Ssssttt…jangan berisik gitu deh. 
You should know one thing before talk to my hand: “Untuk dapat kertas, plate, tinta, lem, plastik, sampai kardus, paket, bensin, gaji karyawan, dan listrik, PAKE DUIT!”
Nah lho, duit beneran, bukan daun, apalagi janji palsu… Duit untuk bayar semua itu darimana? Dari buku yang laku! Buku yang nggak laku ya nggak ngasih duit. Belum lagi kalau ketipu orang to? Wwwkkk…udahlah untuk urusan nipu ini abaikan aja, biar ntar digebuki malaikat tahu rasa deh…(lihat, QS, 9:35, 49:12, 73:42). Biar mantep yang baca tips ini dah…
Aku nggak pernah bisa gol kok, seperti gol indah Messi, Iniesta, dan Xavi, nyoba bilang ke kantor PLN: “Pak, Bu, saya ini orang idealis, bahkan rela mati demi idealisme saya memperjuangkan kebenaran dan membasmi kebatilan di muka bumi ini. Karena saya orang idealis, maka saya tidak perlu bayar listrik pakai uang ya!”
Atau, dengan gaya orator ulang, saya bilang ke semua karyawan saya dalam sebuah meeting yang tanpa makan dan minum: “Tahukah kalian bahwa saya ini orang idealis, jadi gaji kalian tidak perlu saya bayar dengan duit. Hidup idealismeeeee…!!!” Kok sepiii yaaa…? Oooo ternyata pada kabur semua, nggak mau kerja lagi.
Teramat sangat banyak naskah yang masuk ke meja review saya, dalam setiap bulan bisa sampai di atas 200 naskah, yang sebagian besar “terpaksa” saya tolak bukan karena tidak sistematis, tidak detail kajiannya, tidak kebule-bulean atau kearab-araban daftar pustakanya, dll., tetapi lebih karena analisa kami bahwa ini tidak bisa dijual!
“Butul, butul, butul,” kata Pak Cik Pier Mohd yang juga nggak ngerti siapa gerangan bapak Upin dan Ipin itu saat kutanya waktu kunjungan ke kantor saya, seringkali naskah bagus secara materi dan penyajian terpaksa saya tolak karena temanya sangat tidak bisa dijual, tidak laku di pasaran. Vonis ini ada analisanya, risetnya, jam terbangnya, bukan asal bin ngawur atau pun kegenitan dan ugal-ugalan ala si Moko, Andit, Singgih, atau Kangmastono itu, dan biarlah jadi rahasia kami saja ya…hooo..hooo…
Akibatnya, tujuan supaya naskah yang ditulis bisa kami terbitkan, bahkan dibelain dengan riset dan juga air mata saking tertohoknya saat menulis kayak cerita lebay Endik Koeswoyo itu, gagal total. Ya, bukan karena jelek, tapi temanya basi, tidak menarik, dan kalau dipaksakan terbit pasti tidak laku!
Boleh jadi emang, vonis kami bahwa naskah ini tidak laku, karenanya tidak kami ambil, ternyata tidak diamini penerbit lain. Ya sudahlah, itu hanya soal ikhtilaf, perbedaan pendapat, dan we know, ikhtilaful ummati rohmatun!
Yang pasti, bila anda menulis untuk bisa terbit di kami, jangan lupakan satu hal: bisa dijual!
Dan, untuk tahu apa saja gerangan yang bisa dijual sekarang, bulan depan, atau tahun depan, ada dua teknik yang bisa dilakukan setiap penulis: (1) Jalan-jalan dong ke toko buku, liat deh terutama buku-buku yang dipajang di display bestseller, atau cari dong tema-tema yang unik, segar, atau perhatikan deh momen-momen khusus yang sedang bergulir. (2) Tanya deh pada kami langsung bahkan sebelum menulis, atau ajukan dulu deh judul, daftar isi, dan sinopsinya, asal nggak minta fee dulu. Kami siap membantu mengarahkan karya Anda supaya berada di shiratal mustaqim dengan pasar buku terkini. Boleh via email, phone, pesbuk, atau janji ketemuan di bawah pohon ciplukan dan krokot sambil bawa tikar dan rantang, wwkkk.wwkkkk….
Jika diprosentase, hanya 20% naskah masuk yang bisa kami terima. Aduuh, emannya yang 80% lagi, yang sudah ditulis dengan susah payah, terpaksa nggak bisa terbit hanya karena anda tidak memperhatikan apakah naskah anda bila diterbitkan akan laku atau tidak.
Ahhhh…sayangnya, sayangnya. Sampai sekarang, saya belum pernah menemukan secerumuk penerbit pun yang sedari awal menerbitkan buku dengan niat: “Biar rugi!”
Dudet ah..

dicopy dari http://www.divapress-online.com/page/tips_naskah_diva_press.html

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…