badge

Minggu, 18 November 2012

cerpen remaja: Bundaku dan Biola Ayah (*suka banget cerpen remaja yang satu ini, sukaaa banget)


Bundaku dan Biola Ayah

Cerpen: Desinta Nuzulyanur Ahmad
*Peraih anugerah cerpen terbaik IV dalam LMC-SMP 2012 Kemendikbud*


SEJAK ayah wafat dua tahun lalu, hampir semua waktuku di sisi bunda. Ayah orang baik, tak pernah marah. Setiap kali beliau menasehatiku, dituntunnya aku pada cerita-cerita terlebih dulu. Mirip orang yang mendengar dongengan, aku menyimak setiap cerita ayah, sampai akhirnya aku tangkap maksud yang hendak disampaikan beliau. Lalu, beliau memelukku, mencium keningku dengan sayang.

“Kau selalu harum seperti ini. Baumu tak berubah sejak kau bayi hingga sekarang,” begitu kata ayah, sebelum ke kantornya, dua tahun lalu. Aku membalas ciuman ayah pada kedua pipinya. Aku tak menyangka itulah kali terakhir aku melihat senyum ayah.

Tujuh jam kemudian, polisi menelepon bunda, menyampaikan kabar yang seharusnya tak pernah kami dengar. Bunda menjemputku dari sekolah, dan lembut mengabarkan padaku tentang ayah: beliau tertabrak dalam sebuah kecelakaan tunggal, dan wafat dalam perjalanan ke rumah sakit.

Ya, seharusnya kabar seperti itu tak pernah sampai pada kami. Keluarga kami mengurus pemakaman ayah dengan baik. Aku hanya sempat melihat wajah ayah sebelum dikafani, untuk berpamitan terakhir kali, setelah itu semuanya gelap.

Bunda tepat di sisiku saat aku terbangun beberapa jam kemudian. Aku pingsan, sehingga tak sempat menghadiri pemakaman ayah. Tapi senyum di bibir bunda, tak sanggup menghalau gundahku. Aku menangis sejadi-jadinya di pangkuan bunda. Entah kenapa, bunda begitu tabah. Hanya sekali kulihat bunda menitikkan air mata, dan selanjutnya lebih sering menenangkanku dengan senyumnya yang tulus.

Namaku Cinta, aku anak tunggal. Ibu Heny adalah bundaku. Kini aku duduk di kelas VII pada sebuah SMP negeri.

**

KAMI harus bersyukur sebab ayah meninggalkan pada kami harta yang cukup banyak dan usaha yang tak tergolong kecil. Sebuah rumah yang lumayan bagus dan sebuah hotel kelas melati yang beliau miliki sejak 15 tahun silam. Bunda harus meninggalkan lebih banyak urusan rumah, dan meluangkan separuh waktunya mengambil alih bisnis ayah.

Aku tergolong anak yang dididik untuk mandiri. Kehilangan separuh waktu ayah saat beliau masih hidup, tak begitu menggangguku. Tapi kini, menyadari hilangnya pula separuh waktu bunda buatku, sungguh sulit aku terima.

“Bunda, Cinta berangkat dulu, ya...” Kataku sambil mencium tangan bunda.

Bunda menyentuh dua pipiku, hendak mencium keningku, tapi bergegas aku mundur. Bunda melihatku dengan heran. “Cinta, kok gitu...?” Ucap bunda heran.

Bunda masih saja keheranan dengan tingkah anehku ini. Padahal sudah dua tahun, aku kerap menolak keningku di cium dan menolak mendengar cerita pagi dari bunda. Setiap kali aku menolak, setiap kali pula bunda berusaha terus melakukannya. Aku tak pernah mau menjelaskan alasannya pada bunda.

Bunda seharusnya bisa mengerti, bahwa itu sangat menyakitkan.

“Iya. Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa bekalnya dimakan...Cinta kan tak sempat serapan,” saran bunda. Aku mengangguk, tersenyum.

Beliau pun tersenyum melepasku. Setiap pagi, sopir akan mengantarku ke sekolah, dan kembali untuk menjemputku pada siang harinya. Aku pernah menolak saat bunda berniat membelikan buatku mobil, agar aku bisa menyetir sendiri ke sekolah. Menurutku, mobil belum pantas kugunakan ke sekolah. Aku khawatir akan membuatku tinggi hati dan menjauhkanku dari kawan-kawanku. Di antar-jemput oleh sopir, sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

Aku menjalankan semua rutinitasku sebagai gadis remaja. Kujalankan kewajiban utamaku, yakni belajar dan memperdalam kemampuanku dalam beberapa hal. Aku senang bermain biola, karena itupun aku jadinya menyukai piano. Tak pernah aku melewatkan waktu kursus dua alat musik itu. Tanpa sepengetahuan bunda, aku pun menyukai menulis.

Segala hal aku tuliskan dalam sebuah buku yang kerap kubawa kemana-mana. Buku kecil itu bukan diary, tapi hanya buku biasa tempatku menuliskan pengalaman apa saja yang aku temui dalam sehari ini. Banyak buku yang telah kuhabiskan untuk menuliskan banyak hal-hal menarik dan menyentuh hatiku.

Dari semua buku-buku kecil itu, tak pernah terbetik dalam pikiranku untuk menuliskan sesuatu tentang ayah dan bundaku. Aku menolak itu, bukan sekadar karena aku tak ingin. Aku memang terganggu dengan semua kejadian di masa lalu yang terasa begitu cepat, membuatku sukar mengingat hal-hal kecil yang sanggup membuatku emosional.

Apa yang harus kutuliskan tentang bunda? Bukan hal menarik, jika aku menuliskan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga dan orang tua tunggal. Tidak akan menarik jika aku menulis tentang kesanggupan bunda mengambil alih semua bisnis sepeninggal ayah.

Lalu, tentang ayah. Aku bahkan tak begitu ingat apa yang terjadi pada hubungan kami, selain bahwa ayah adalah orang yang baik dan santun. Ayah hampir tak pernah mengajakku ke kantornya, atau mengenalkanku pada berbagai pekerjaannya. Selain itu semua, yang aku ingat dari mereka berdua hanyalah pengalaman-pengalaman indah saat liburan bersama. Kami tertawa, melakukan banyak hal konyol, dan ayah bercerita sesuatu yang lucu di depanku dan bunda, lalu kami tertawa terbahak-bahak.

Masa-masa indah itu tak akan pernah terulang lagi. Jikapun harus terulang, maka aku tak bisa bermimpi, bahwa pengalaman kami dulu akan persis sama sekali. Tidak. Tidak pernah akan sama lagi. Karena itulah aku menolak menuliskan semua pengalaman itu.

Biar saja, biar saja semua kenangan tentang ayah mengendap di kepalaku, membentang seperti buku yang terbuka yang bisa kubaca sewaktu-waktu. Atau, seperti sebuah tempat yang menyimpan kotak-kotak kenangan, dan bisa sesekali kukunjungi jika aku membutuhkannya. Masalahnya: tak ada apapun dalam buku yang terbuka itu, atau dalam kotak-kotak kenangan itu. Hampir kosong sama sekali.

**

“BUNDA tak lupa kan dengan ulang tahunku?” Tanyaku cemas. Bunda sangat sibuk akhir-akhir ini. Beberapa pekerjaan telah menyita waktunya.

“Tidak.” Jawab bunda singkat. Beliau tak menoleh. Di depannya bertumpuk banyak sekali dokumen yang sedang diperiksanya satu per satu. Tangan bunda menari-nari di atas kertas-kertas itu, mencoret yang tak perlu. Kacamatanya nyaris jatuh, hanya tersangkut sedikit di pucuk hidungnya.

Merasa tak diperhatikan, aku beranjak ke sofa di sisi lain kamar bunda yang luas itu, membanting diri di situ. Kesal.

“Ada apa, Cinta?” Kudengar suara menyapaku. Saat menoleh ke arah bunda, kulihat beliau sedang menatapku sambil tersenyum. “Cinta mau sesuatu?” Tanya bunda lebih lanjut.

“Bunda harus ada saat ultahku nanti. Cinta tak mau malu di hadapan teman-teman,” ujarku.

Bunda meletakkan pena dan menutup dokumen di depannya, bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiriku di sofa. “Tentu saja Bunda akan hadir. Bunda tak akan pernah melewatkan hari di mana Bunda dan Ayah merasa sangat...sangat bahagia. Hari di mana kami berdua merasa hidup kami sangat lengkap adalah hari ketika Cinta lahir ke dunia ini.”

Entah kenapa aku justru benci mendengar itu.

“Mengapa semua hal harus dikaitkan dengan Ayah? Kenapa setiap kali Bunda bercerita, selalu saja ada Ayah di sana?” Aku nyaris menjerit saat mengatakan itu.

Wajah bunda seketika memerah. Beliau terdiam mendengar pertanyaanku itu. Hatiku berdesir, takut dan merasa bersalah.

“Cinta...” namaku disebut bunda, sebelum kemudian mata beliau berkaca-kaca.

“Cinta benci setiap kali Bunda mengingatkanku soal Ayah. Kenapa tidak pernah tentang kita berdua saja, sebab memang kini...kini hanya tinggal kita berdua saja, kan?” Aku kian tak terkendali.

Wajah bunda kian pias. Mungkin, bunda tak pernah menyangka aku akan menolak sekeras itu. Mata bunda kini tak sekadar berkaca-kaca lagi, tapi beliau menangis. Sebentuk air kini mengalir dari sudut mata bunda.

Aku seketika berdiri, melempar bantal sofa kembali ke tempatnya, dan setengah menangis, aku berlari keluar dari kamar bunda. Bunda hanya mengangkat tangannya saja, seperti hendak menggapaiku. Tapi aku tidak peduli. Ini sudah sangat menyesakkan dada, dan selanjutnya aku menumpahkan semua kesalku, menutup mukaku dengan bantal dan menangis sejadi-jadinya.

**

PERTENGKARAN lima hari lalu itu masih terbayang di kepalaku. Semua kejadian malam itu masih dapat kuceritakan dengan jelas. Sebenarnya, tak cocok disebut pertengkaran, sebab bunda bahkan tak berkata apa-apa. Hanya aku saja yang bersuara keras dan arogan. Sejak pagi esoknya hingga kini di lima hari berikutnya, tak sedikitpun aku menegur bunda.

Hari ini tiba. Hari ulang tahunku yang ke-13. Setelah ‘berselisih’ dengan bunda, kini aku sama sekali tak bisa berharap bunda akan datang, walaupun pesta ulang tahun kecil-kecilan ini diadakan di hall hotel milik bunda. Beliau tentu sedih dan kecewa setelah mendengar aku bicara seperti itu. Betapa menyesalnya aku membuat bunda sesedih itu.

Para tamu, khususnya kawan-kawanku sudah berdatangan. Setiap kali ada yang berjalan memasukihall, aku selalu berharap bahwa itu adalah bunda. Hingga lima menit waktu tersisa, bunda tak kulihat memasuki ruangan ini. Beliau rupanya tak datang sebagai hukuman buatku yang telah membuat hatinya sedih.

Acara memang dilangsungkan tanpa bunda. Beberapa guruku dan kawan-kawan dekatku juga mempertanyakan ketidak hadiran bunda, dan aku tak bisa menjawab setiap pertanyaan itu. Seorang asisten bunda yang sedari awal diminta oleh beliau mempersiapkan semua kebutuhan untuk acara ini, yang akhirnya menjawab semua pertanyaan itu.

Aku ini anak tunggal bunda dan beliau menghukumku seperti ini. Rasa bersalahku menjadi-jadi. Kemeriahan ini tak ada artinya bagiku lagi. Jika saja aku tak malu meninggalkan semua tamu dan kawan-kawanku, sudah sejak tadi ingin rasanya aku menghindar, berlari keluar dan pulang ke rumah. Tapi, tidak. Aku tidak boleh kian merusak suasana yang sudah tak nyaman ini.

Sebuah tangan menyentuh bahuku dari belakang dengan lembut. Aku berpaling, dan mendapati bunda sedang tersenyum padaku. Entah bagaimana, dan sejak kapan bunda ada di belakangku. Barangkali bunda masuk dari pintu belakang hall.

“Bunda...” Aku menyebut namanya pelan. Beliau hanya tersenyum.

“Anak gadis Bunda sekarang semakin besar. Rasanya baru kemarin Bunda menggendongmu, dan kini lihatlah...kau sudah semakin besar,” tukas bunda menyentuh pipiku. Entah kenapa suasana tiba-tiba hening.

“Bunda sadar, sejak Ayah meninggalkan kita, kasih sayang buatmu tak akan pernah lengkap lagi. Tapi Bunda berusaha, Cinta...Bunda berusaha mengisi separuh bagian yang kosong itu. Bunda hanya berusaha menjaga apa yang sudah ditinggalkan Ayah pada kita, dan selebihnya...” bunda berhenti sejenak. Mata beliau berkaca-kaca, “...selebihnya adalah waktu Bunda hanya buat Cinta,” lanjut bunda.

Tak terasa, air mataku pun jatuh. Aku tercekat, pilu dan gugup.

“Barangkali Cinta merasa semua sayang yang coba Bunda berikan untuk Cinta tak pernah cukup. Memang, Nak...memang tak akan pernah sempurna lagi. Kita sama-sama mengenang Ayah dengan cara kita masing-masing. Bunda sangat menyadarinya. Bunda tak bisa memaksakan pada Cinta cara Bunda merindukan Ayah, sebab Cinta pun punya cara sendiri,” ujar bunda.

Beliau tertunduk, mencoba menahan sedih dan pilu di dadanya.

“Jadi...Bunda sangat mengerti jika Cinta menolak setiap kenangan tentang Ayah yang hanya akan menyakiti kita berdua. Maafkan, Bunda.”

Kali ini, suara bunda kian cekat. Aku bahkan sudah menangis tanpa kusadari. Perasaanku meluap-luap akibat suasana ini. Aku meletakkan dua buah kado dari beliau, dan meraih kedua tangannya, meletakkannya ke bibirku. Aku menciumnya dengan sayang. Mata beliau memejam.

“Tidak, Bunda. Bunda jangan minta maaf. Cinta-lah yang seharusnya minta maaf pada Bunda,” ujarku kemudian. “Selama ini...Cinta sesungguhnya tak menolak Ayah. Bunda dan Ayah adalah segala-galanya bagi Cinta. Cinta hanya...hanya...” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

Bunda segera meraih pipiku. Mata teduh beliau kini menatapku dengan rasa sayang yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, seperti menjalar ke seluruh tulangku, nyaris membuat lututku tak kuat menopang tubuhku lagi. “Cinta...” desis bunda.

“Cinta hanya tak bisa mengingat semuanya, Bunda!” Akhirnya tangisku pecah. Bunda pun menangis sambil tak henti-hentinya membelai seluruh permukaan wajahku.

“Cinta tak bisa...tak bisa mengingat semuanya tentang Ayah. Itulah yang membuat Cinta selalu kesal...saat Bunda begitu mudah bercerita tentang Ayah, sedangkan Cinta...tak bisa mengingat semuanya. Cinta nyaris lupa bagaimana senyum Ayah, caranya tertawa, cerita-ceritanya. Bahkan...Cinta sudah lupa suara Ayah.”

“Oh, anakku...” Bunda memelukku dan menangis.

Seketika keheningan di ruangan itu berubah menjadi keharuan. Isak tangis dari kawan-kawanku dan beberapa ibu guruku, serta-merta makin membuat suasana kian cengeng. Mereka menyaksikan semuanya.

“Karena itulah, Cinta selalu benci karena sulit menggali semua kenangan tentang Ayah, sekeras apapun Cinta mencoba. Cinta sering menolak Bunda mencium kening Cinta, hanya karena Cinta takut...takut tak bisa bertemu Bunda lagi, sama seperti Ayah waktu itu.”

Aku menghapus air mataku. Memandang bunda dengan penuh rasa sayang.

“Cinta tak mau kehilangan Bunda, seperti kehilangan Ayah. Cinta masih berusaha mengingat Ayah. Bunda...tolong Cinta, Bunda.”

Kesedihan kian mencengkeram seisi ruangan ini. Bunda kian mengeratkan pelukannya, seperti tak mau kehilanganku. Lalu, beliau bangkit dan meraih dua kado yang tadi diberikannya padaku.

“Bunda akan berusaha untukmu, Anakku sayang. Bunda tak tahu harus mulai dari mana, tapi kita bisa memulainya dari dua hal ini...” Bunda menyodorkan dua kado itu.

Tanganku gemetar menerimanya. Segera kubuka kado pertama yang ternyata adalah album foto tebal berisi semua foto dan kliping tentang Ayah. Foto-foto berwarna, hitam putih dan guntingan koran menyatu dalam album itu. Aku membuka satu per satu lembarannya sambil bercucuran air mata. Ini pertama kalinya aku melihat sosok Ayah sejak dua tahun silam. Foto-foto Ayah di ruang kerjanya di rumah kami tak bisa membantuku mengenali sosoknya. Dan, hadiah bunda ini adalah hadiah paling berharga.

Bunda membuka sebuah kado tersisa, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Itu biola yang bagus sekali. Aku kursus memainkan biola sejak empat tahun ini, dan tentu saja aku kini menguasainya dengan baik.

“Cinta, ini kado dari Ayah,” kata bunda, pelan.

“Dari Ayah...?” Tanyaku keheranan.

“Ya. Itu dari Ayahmu. Biola itu sedianya akan dihadiahkan buatmu di ulang tahunmu yang ke-10, karena Ayah bangga pada kemampuanmu belajar biola dengan cepat. Namun, musibah itu membuyarkan semua rencana Ayahmu. Bunda menyimpannya selama ini. Bunda terlalu egois, mencoba menjauhmu dari semua kenangan tentang Ayah yang semula Bunda kira akan melukai perasaanmu.”

Aku tertegun mendengar cerita itu, dan takjub melihat kotak biola indah di tanganku.

“Bukalah, Nak. Bukalah dan bacalah pesan Ayahmu di dalamnya. Ayah telah menulis sedikit pesan untukmu. Bunda bahkan tak pernah melihat apa isi pesannya, sebab takut membuat Bunda sedih.”

Aku memandang bunda sekilas, dan perlahan membuka kotak biola itu. Sebuah biola indah berkilat dengan senar yang licin karena lilin, kini terpampang di depanku. Ada sepucuk surat terselip pada bagian penutupnya.

Aku tarik surat itu, membukanya, dan menemukan tulisan Ayah.

“Cintaku sayang...
Biola ini cantik, bukan? Secantik anak Ayah. Jadilah secantik dan sebaik Bundamu. Karena itulah mengapa Ayah sangat menyayangi kalian. Ini biola terbaik yang Ayah dapatkan, agar putri Ayah makin giat dan pandai memainkan biola. Rawatlah baik-baik, olesilah selalu dengan lilin agar awet dan berkilau. Suatu saat, Ayah akan sangat bahagia melihatmu memainkannya dalam resital pertamamu.
Peluk selalu dari Ayah.”

Wajah samar ayah seakan ikut membekas di atas surat yang sedang kubaca. Rinduku pada ayah datang seketika, membuatku seolah sulit bernapas, hendak meledak menjadi jeritan dan tangis.

Air mata sudah membasahi gaunku. “Ayah, aku akan memainkan biola ini untuk Ayah. Inilah resitalku untuk Ayah. Dari sini, Cinta akan membuat Ayah tersenyum di sana,” bisikku.

Kukeluarkan biola cantik itu dari wadahnya, dan mulai berdiri sempurna. Punggung biola kuletakkan di bahu kiriku, ujung daguku menekannya. Tangan kananku pun terangkat, meletakkan bow biola pada permukaan empat senar yang berkilat.

Kupejamkan mata, berusaha mengingat wajah ayah. Kenangan-kenangan tentang ayah, ibu dan aku, berkelebat. Semula samar, kemudian perlahan kian jelas. Mataku memejam, dan dalam hati aku panggil namanya. “Ayah...Cinta rindu Ayah.”

Ayunan tanganku mengantar gesekan bow pada senar biola segera melantunkan suara melodi dalam komposisi lagu “Ayah”.

...Ayah, dengarkanlah. Aku, ingin bertemu. Walau, hanya dalam mimpi. (selesai)

Kendari, Mei 2012


Catatan:
  • Desinta Nuzulyanur Ahmad, adalah siswi kelas VII, SMPN 09 Kendari, Sultra.
  • Cerita pendek ini meraih penghargaan terbaik keempat dalam Lomba Menulis Cerita tingkat Sekolah Menengah Pertama (LMC-SMP) Nasional 2012, yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Penghargaan diserahkan pada malam final di Hotel Grand Prioritas, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, tanggal 9 s.d. 12 Oktober 2012.
  • Dalam proses seleksi sebelumnya, naskah ini berhasil masuk sebagai 15 nominator cerpen terpilih dari 3.855 naskah dari seluruh Indonesia. Setelah melalui presentasi karya di hadapan dewan juri: Taufiq Ismail (ketua), Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, Sunu Wasono, Suminto A. Sayuti, Rayani Sri Widodo, maka dewan juri menganugerahi karya ini sebagai terbaik keempat.


Desinta Nuzulyanur Ahmad

5 komentar:

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...