Langsung ke konten utama

Merencanakan sebuah penulisan cerita, ini tipsnya


LATIHAN: RENCANA PENULISAN CERITA

Dalam tahap perencanaan sebuah cerita, biasanya dibagi menjadi 3 bagian: Awal (perkenalan tokoh), Pertengahan (permasalahan yang dihadapi) dan Akhir (penyelesaian masalah). Sehingga sering disebut dengan 3 acts story, atau kisah tiga babak. Berikut ini adalah contoh dari rencana penulisan sebuah cerita dengan sedikit perubahan, yaitu masuknya satu babak tambahan sehingga cerita memiliki empat babak. Babak tambahan yang diselipkan sebelum babak resolusi digunakan sebagai babak introspeksi dan perencanaan menuju resolusi.


BAGIAN PERTAMA

Perkenalkan tokoh dan setting.

Bagaimana kondisi emosional si tokoh? Apa ia sedang bergairah tentang suatu hal? Apa yang sedang dinantikannya? Apa yang sudah direncanakannya? Apakah dia sedang merasa bosan?

BAGIAN KEDUA

Tokoh menghadapi persoalan.

Bagaimana kondisi emosional si tokoh? Marah? Kesal? Kebingungan? Bagaimana dia menunjukkan kondisi emosional tersebut?

BAGIAN KETIGA (babak yang diselipkan)

Pada bagian ini, lakukan inovasi. Jangan langsung masuk ke dalam resolusi. Paragraf ini merupakan penundaan dari resolusi. Tunjukkan bagaimana si tokoh tidak berada dalam kondisi aktif, ia pasif, tetapi pikirannya disibukkan dengan berbagai macam pemikiran, ide-ide dan kekuatiran.

Di sini, gambarkan si tokoh sibuk berpikir tentang masalah yang sedang dihadapinya, kenapa masalah itu terjadi dan apakah masalah akan dapat diselesaikannya. Gambarkan adegan ini terjadi pada tempat merenung favoritmu: di tempat tidur, taman, pojokan rumah. Gambarkan juga kekontrasan kondisi emosional si tokoh bila dibandingkan dengan kondisi emosionalnya di Bagian Pertama dan Bagian Kedua.

Pada tahap ini, kemungkinan penyelesaian masalah mulai berkembang di dalam pikiran si tokoh. Atau bisa juga bagian ini adalah tahap perencanaan bagaimana sebuah masalah akan diselesaikan. Misalnya, pada film Karate Kid, tahap ini adalah tahap di mana tokoh utama berlatih keras untuk menghadapi pertarungan besar (yang akan menjadi resolusi dari cerita ini).

BAGIAN KEEMPAT

Solusi cerita. Tokoh utama tidak lagi sedang menghadapi permasalahan.

Sebagai sebuah kejutan, bisa saja sebuah masalah baru dimunculkan untuk mempersiapkan pembaca masuk ke dalam serial berikutnya, bila cerita ini hendak dibuat berseri.

Selamat berlatih bagi yang berminat :D
(dicopy paste darai blognya kampung fiksi dengan link: http://gratcianulis.blogspot.com/2012/08/latihan-rencana-penulisan-cerita.html

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…