Langsung ke konten utama

you'll still be the sweetest little baby in town.

“Pianikanya kok nggak pernah dibawa lagi?” Putriku langsung tersenyum pahit mendengar pertanyaanku. Kepalanya terlihat menggeleng. “Sudah nggak perlu lagi.” Aku menatapnya heran. “Mengapa?” Wajah putriku langsung tertunduk lesu. “Kemarin aku dikeluarkan dari kelompok pemain pianika.” Aku menatap wajah putriku serius. “Alasannya?” sebuah senyum kecut hadir di wajah putriku yang sendu. “Dalam seleksi, pelatihnya bertanya padaku, apakah aku bersedia melepas jilbabku jika aku terpilih ikut lomba. Aku bilang aku tidak mau. Lalu, mereka langsung mengeluarkan aku.”


Aku termenung. Bagiku ini masalah serius. Kemampuan bermusik putriku cukup lumayan, tidak masuk akal jika seleksi perlombaan music tidak melihat kemampuan ini tapi malah melihat jilbabnya. Esoknya, aku menghadap pelatih kelompok. Lima belas menit berargumentasi dan hasilnya sama, jika tidak bisa melepas jilbabnya, maka putriku tidak bisa dimasukkan dalam kelompok yang akan bertanding. “Bapak tahu, sebenarnya tidak penting bisa ikut lomba atau tidak. Karena, jika anak saya tidak bisa mendapatkan sebuah ilmu disini, saya akan mencarikannya guru privat untuk melengkapinya. Tapi, yang membuat saya meradang adalah, secara tidak langsung bapak telah mengajarkan kepada anak saya bahwa untuk meraih kemenangan maka segala macam cara bisa dilakukan, termasuk melanggar ketentuan syariah. Barang siapa yang tidak mau melakukannya, maka dia akan dibuang dan tidak akan dipakai. NIlai ini yang telah tanpa sengaja bapak tanamkan dalam persepsi putri saya. Padahal ini adalah sebuah institusi pendidikan yang seharusnya mengajarkan nilai-nilai yang positif kepada anak didiknya.“ Pelatih di hadapanku tersenyum kaku, “Maaf bu, tapi memang begitulah kenyataannya di masyarakat kita. Cobalah untuk lentur sedikit, tidak terlalu kaku.”

Arrrgghh….

Lalu dua minggu berikutnya putriku pulang dengan wajah tersenyum. “Ibu, guru pelatih music seniorku memilihku untuk ikut kelompok yang akan bertanding.” Oh ya? Aku tidak percaya. Esoknya aku datang ke institusi pendidikan tersebut dan mendengar langsung dari banyak orang bahwa guru pelatih music senior yang dikontrak khusus untuk melatih telah merekrut putriku. “Kemampuan anakmu di atas kemampuan anak-anak yang lain. Jadi, beberapa anak justru dikeluarkan dan anakmu dimasukkan.” Aku tersenyum. Alhamdulillah. Ini baru adil. Lalu alunan nada-nada dari organ dan pianika kembali terdengar riang di rumahku.

Tapi, satu minggu yang lalu, putriku kembali datang mengadu. “Ibu, aku dikeluarkan lagi dari kelompok yang akan bertanding.” Dibanding ketika pertama kali aku mendengar berita ini dahulu, kali ini hatiku tidak berdegup. Mungkin mulai terbiasa, atau mulai tidak peduli? Tapi ada genangan air mata yang tertahan mengintip disudut kelopak mata putriku tercinta.

“Loh? Kok jadi seperti orang lagi pilek ya? DIkeluarin, dimasukin lagi, dikeluarin lagi… pasti alasannya karena kamu tidak mau melepas jilbabmu kan ketika harus memakai seragam lomba?” Aku melempar sebuah senyuman dan meraih tubuh putriku agar dapat aku peluk erat. Putriku mengangguk sambil tersenyum. Air mata yang ditahannya akhirnya mengalir. Pelan aku hapus air matanya sambil mencium pipinya yang lembut.

“Sudah nak, biarkan saja. Mereka yang rugi tidak memilih kamu. Yang penting kamu tetap seperti ini, istiqamah, sambil terus berprestasi. Nanti juga semua orang akan tahu mana yang emas dan mana yang hanya sepuhan belaka.” Tiba-tiba pundak putriku terguncang. Dia menangis hebat di pelukanku. Mungkin kesal dengan ketidak adilan dunia di sekitarnya. Atau mungkin sekedar melepas lelah menghadapi ketidak pastian sebuah keputusan yang hasilnya ternyata tidak menggembirakan. Aku tidak mau memikirkannya. Pelan aku dendangkan sebuah lagu di telinganya sambil terus memeluk tubuhnya yang mungil dan mengelus rambutnya yang halus. Membujuknya agar ikhlas, membujuknya agar kembali ceria.

Hush, little baby, don't say a word,
Papa's gonna buy you a mockingbird.
And if that mockingbird don't sing,
Papa's gonna buy you a diamond ring.
And if that diamond ring turn brass,
Papa's gonna buy you a looking glass.
And if that looking glass gets broke,
Papa's gonna buy you a billy goat.
And if that billy goat don't pull,
Papa's gonna buy you a cart and bull.
And if that cart and bull turn over,
Papa's gonna buy you a dog named Rover.
And if that dog named Rover won't bark.
Papa's gonna to buy you and horse and cart.
And if that horse and cart fall down,
Well you'll still be the sweetest little baby in town.

Awal Juni 2009, untuk Arna tersayang.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…