Langsung ke konten utama

Masak Bersama Anak: Buat Dumpling

[Keluarga] Ada yang suka makanan Chinese Food? Sepertinya keluargaku termasuk yang menyukainya. Eh... ralat. Lebih tepatnya, karena aku tidak pandai memasak makanan Indonesia tapi bisanya masak beberapa makanan Chinese Food, jadilah keluarga terbiasa dihidangkan makanan olahan a la Chinese Food.

Chinese food itu umumnya tidak ribet sih. Itu yang utama. Alasan kedua, karena untuk mengolahnya tidak memerlukan banyak peralatan memasak yang harus kotor jadi cucian piring kotornya tidak banyak. Hehehe. Kemarin, aku dan putriku membuat dumpling loh.

Masak Bersama Anak: Buat Dumpling


Anakku sedang menjalani ujian tahun ini karena dia duduk di kelas 6 SD. Setelah belajar terus dan terus, aku tahu dia mulai merasa lelah. Jadi, agar dia tidak lelah dan bosan, aku mengajaknya untuk turun ke dapur membuat cemilan.

Anak memang seharusnya tidak harus dipaksakan untuk terus-menerus belajar di depan buku-bukunya. Itu kalau gaya aku mengajar anak-anak sih. Karena menurutku mereka masih anak-anak yang alaminya adalah tidak terlalu tegang dan ingin bersantai, tertawa, mencoba sesuatu yang baru, dan mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang ceria.

Kebetulan, putriku ini punya rasa tertarik pada kegiatan dapur. Dia sering terlihat semringah jika aku colek untuk membantuku mengolah makanan di dapur. Dan antusias mengikuti step by step memasak. Itu sebabnya, ketika aku lirik dia mulai terlihat lelah dengan buku-buku yang dipelajarinya, aku mencoleknya untuk bereksperimen membuat dumpling.

Dumpling adalah salah satu varian dari dim sum. Dimsum ini di bahasa Kanton (China - Kanton) berarti makanan kecil. Dan memang bentuknya kecil-kecil sih. Sekali lep, hap, masuk mulut. Bentuknya mirip pastel, tapi dia kulitnya tipis. Isinya daging cincang atau udang cincang plus tambahan bumbu lain.

ini dumpling versi kukus, dikudap dengan kecap asin yang diberi taburan cabe bubuk

Nah. Sekarang cara membuatnya.

Resep Dumpling

bahan yang dibutuhkan:


  • untuk kulit: tepung maizena, tepung terigu, tepung sagu, minyak goreng 1 sendok makan, garam sejumput.
  • Untuk isi: bawang merah, bawang putih, cabe (karena keluargaku tidak bisa makan pedas jadi cabenya aku ganti cabe hijau yang tidak pedas), lobak, ayam cincang, garam, merica. 
  • Untuk saus: kecap asin, cabe bubuk.

Cara membuatnya:

1. Untuk kulitnya dulu ya. Campur sepertiga gelas ketiga tepung. Beri minyak goreng 1 sendok makan, uleni dengan menambah air sedikit demi sedikit. Jangan langsung banyak airnya, karena kita tidak mau mendapatkan adonan yang lembek. Uleni hingga adonan tidak menempel di tangan dan terlihat kenyal. Sisihkan dulu (biarkan selama 15-20 menit).


2. Sekarang kita buat isinya.
Iris bawang merah, bawang putih, cabe. Sisihkan.


Potong lobak hingga menyerupai dadu 1 x 1 cm. Sisihkan.

Siapkan dagaing ayam cincang.


3. Campur semua bahan jadi satu dalam satu wadah yang cukup besar agar mudah mengaduknya. Lalu beri garam, lada, gula, kaldu ayam bubuk, Aduk rata, sudah siap deh.


4. Ambil adonan kulit dumpling, bentuk bulat seperti bakso kecil, pipihkan di tangan (atau bisa juga digulung agar tipis tapi jangan terlalu tipis agar tidak mudah sobek ketika diisi nanti). Jika sudah, taruh isi dumpling di dalam kulit dumpling ini, tutup. Dan pilin tepiannya seperti membuat pastel.



Jika kalian malas membuat kulit dumpling bisa juga sih beli kulit jadi. Seperti ini nih kulit dumpling yang sudah jadi:


5. Jika sudah selesai, taruh di atas kukusan. Jangan terlalu rapat ya karena nanti mereka akan menempel satu sama lain. Jadi susun dan beri jarak antara dumpling satu dengan dumpling lain di atas kukusan itu.


Kukus hingga warnanya menyerupai warna bening. Itu berarti dumpling sudah matang. Jika kalian lebih menyukai dumpling goreng bisa juga digoreng. Goreng hingga dumpling berwarna kuning kecoklatan.

Dumpling, enak juga dimakan bersama mie loh.



Tapi dkudap dengan mencocol ke saus kecap asin plus cabe bubuk juga enak. Atau, jika mau pedas bisa juda dicocol ke saus cabe yang sudah dicairkan dengan air panas dikit.

selamat mencoba. Jangan lupa ajak anak perempuan membuat ini, mudah dan tidak banyak cucian piringnya. Hehehe.

Komentar

  1. Mau ah mencoba mba. Tapi pas bentuk dumplingnya itu susah apa nggak, mba ? Kliatan mudah tapi aku kuatir nggak tertutup rapat
    Makasih resepnya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. otomatis ketutup rapat kok kalo ditempelin berdua. kalo gak bisa milin, lekuk lekuk aja juga gpp.. anak2 bisanya gimana senyamannya mereka aja

      Hapus
  2. huaa mak...ngiler pengen bikin.
    etapi aku termasuk yg males bikin kulit, beli jadi aja hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah pilih ya rebus kulit pangsitnya jangan yg buat digoreng. yg buat goreng lebih tebal kulitnya

      Hapus
  3. Sekilas kayak dimsum ya Mbak. Wah kelihatan mudah, pengen nyoba. Tp si kecil kayaknya untuk bumbu isiannya skip cabe hijau nya.
    Kayak kulit pangsit ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ..emang ini salah satu personal keluarga dimsum

      Hapus
  4. wah baru tahu nih saya kalau ada makanan ini...

    BalasHapus
  5. wah asyik masak bareng dan berasa hasilnya kayak di restoran chinese food
    tapi aku suka endingnya : gak banyak cucian piring

    BalasHapus
  6. Aku baru tau apa itu dumpling mbaaak. Kayak pempek gitu ya, eh tapi bukan ding. Kapan2 mah nyobain resepnya

    BalasHapus
  7. baru tau makanan dumpling ini jd pengen cobain makasi resepnya mna

    BalasHapus
  8. Aku simpenkan ya resep kulitnya, kayaknya klo isiannya bisa macam2 ya.

    BalasHapus
  9. dumpling ya, baru dengar ini

    BalasHapus
  10. pengen nyoba tp males ribet

    BalasHapus
  11. Mbak, ini sama seperti pangsit rebus ya?

    Duuuh jadi pengen coba buat :)

    BalasHapus
  12. Aku penasaran sama dumpling

    BalasHapus
  13. Aku penasaran sama dumpling atau Mandu (kalo di Korea) gara2 Daehan,Minguk,Manse. Mereka sukaaaa banget makan Mandu dan keknya enak banget melihat mereka makan. Pernah bikin sendiri tapi kayaknya kulitnya terlalu tebal jdi gagal deh. Thanks ya resepnya. Nnti aku coba lagi deh.

    BalasHapus
  14. Sepertinya ini gampang, catet dulu ah resepnya biar nanti neng Marwah bantuin saya bikin dumpling hehe, makasih mbak Ade resepnya

    BalasHapus
  15. Wah,kayaknya enak banget, aku belum pernah masak ginian mbak, sesekali pengen nyoba ah.

    BalasHapus
  16. wahhh kelihatannya enak dan cara buatnya juga gampang yaa Mba Ade, jadi pengen buat saat adik saya pulang nanti :)

    BalasHapus
  17. Ini bisa deh aku bikin bareng si bungsu yang suka bantuin di dapur. Gampang kayaknya ya

    BalasHapus
  18. serunya memasak bareng anak. Besok-besok mo coba resepnya juga ah

    BalasHapus
  19. enaaak mbaaa! Lobak bikin garing dan krenyes krenyeees yaaa. AKu suka beli kulit jadi biar praktis hehehe

    BalasHapus
  20. Mbak Ade pinter masak nich, Apalagi ngajak anak-anak. Aku jadi tahu dari mana asal kata dimsum,

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pos populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…