badge

Jumat, 29 Juli 2016

Hotel Murah di Bandung

[Lifestyle] Bandung itu sepertinya tetap menjadi destinasi tempat wisata favorit banyak orang. Khususnya yang berada di sekitar Bandung, seperti dari Jakarta, Bogor, Lampung. Bahkan, saudaraku dari Palembang saja sering menghabiskan long weekend alias libur akhir pekan keluarga dengan pergi ke Bandung. Jakarta dilewati begitu saja.

Perjalanan liburanku yang paling berkesan ke Bandung itu, adalah waktu aku menghabiskan waktu berdua saja di Bandung dalam rangka ikut ujian masuk Perguruan tinggi di Bandung. Itu adalah perjalanan berdua ibu yang tak terlupakan karena full dengan hal-hal konyol. Aku tulis di artikel ini nih siapa tahu mau membacanya: Hanging Out with my Mother in Bandung.

Sebelumnya, yaitu ketika aku masih lebih muda lagi  (hehehe), aku juga pernah diajak keluargaku pergi mengunjungi Gua Jepang yang terletak di Taman Hutan Raya.

Dulu, ketika masih lebih muda pergi ke Taman Hutan Raya ini, penataannya masih belum seindah sekarang. Dulu, jalan titian untuk naik ke daratan tertinggi di Taman Hutan Raya ini, masih berupa jalan setapak yang tanahnya dipadatkan lalu dilapisi dengan batu-batu ceper. Terkadang, ada yang berlumut batunya jadi licin. Karena ibuku punya postur tubuh agak gemuk, jadi oleh ayah diberi tongkat dari ranting kayu yang jatuh dari pohon dan bentuknya cukup tebal dan kuat untuk dijadikan tongkat. Sehingga meski jalanan menanjak, sedikit curam dan sedikit licin, kami bisa tetap berjalan sambil tertawa-tawa gembira.

Hawa sejuk kota Bandung tempo dulu, membuat perjalanan menuju ke Gua Jepang tidak terasa melelahkan. Apalagi pepohonan Pinus dan berbagai pohon perdu lain tumbuh subur di dalam Taman Hutan Raya yang terletak di Dago Pakar ini.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani).

Sekarang, jalan setapak dari tanah yang dikeraskan itu sudah diberi paving block. Dengan begitu, tidak ada lagi adegan terpeleset karena batu yang berlumut. Selain itu, tangga-tangga menuju ke puncaknya juga sudah diberi pegangan yang aman bagi para pejalan kaki segala usia. Dulu, tangganya sederhana sekali.

Bukan cuma itu, penataan pepohonan di dalam Taman Hutan Raya inipun lebih enak dilihat. Sehingga benar-benar instagramable banget. Bagus buat bikin foto-foto narsis dan dipajang di akun instagram.

Gua Jepangnya sendiri, jadi nggak terlalu terlihat kotor, kumuh dan bau seperti dulu. Lebih nyaman deh.

Oh ya. Dulu, ibuku selalu membawa bekal dari rumah untuk makan siang di tengah Taman Hutan Raya. Jadi, biasanya di tengah siang, kami berhenti dan gelar tikar. Lalu mulai membuka nasi bungkus yang sudah ada lauk pauknya dan mulai makan siang. Nyaman saja makan di atas tikar di tengah Taman Hutan Raya. Apalagi udaranya juga sejuk. Mungkin karena dulu belum ada tempat makan di dalam Taman Hutan Raya ini. Biar bagaimanapun, ini kan bukan taman biasa ya. Tapi Taman Konservasi beberapa jenis tanaman dan hewan yang dilindungi juga sih. Juga tempat sejarah (gua jepang) yang harus dilestarikan keberadaannya. Mungkin itu sebabnya pemerintah tidak membolehkan berdiri tenda-tenda tempat menjual makanan secara bebas. Karena hal ini pasti akan merusak konsenvasi itu sendiri. Seperti halnya yang sering terjadi pada tempat-tempat lain dimana warung makan liar berdiri tak terkendali.

Untuk masuk ke dalam Taman Hutan Raya ini sendiri, kita dikenakan tiket masuk sebesar Rp10.000/orang. Ini berguna untuk perawatan kebersihan Taman Hutan Raya ini sendiri sih. 

Nah. Di dalam Taman Hutan Raya ini ada sebuah tempat minum kopi atau teh yang nyaman sekali. Namanya Amor Coffee.

Nyamannya, karena letaknya di dalam Taman Hutan Raya dan harganya tidak terlalu mahal serta menyajikan makanan yang hangat.

Iya, benar. Cafe ini tidak menjual yang namanya minuman bersoda atau cemilan dibungkus gitu. Semua yang dijual itu disajikan hangat dan harus dioleh dulu. Jadi, kita harus menunggu sejenak sebelum bisa mengkonsumsinya. Tapi terbayar sih waktu menunggu ini. Karena penyajiannya cukup memuaskan. Bisa pilih mau minum kopi, atau teh. Mau ditambahkan susu atau tidak kopi dan tehnya. Juga ada penganan lain seperti Pisang Goreng Keju atau Cireng atau Colenak.

Pisang goreng keju, teh tarik dan kopi susu
Pisang gorengnya besar-besar dan manis deh. Taburan keju di atas pisang membuat rasa pisang terasa gurih yang pas di lidah. Kopinya sendiri, disajikan dalam wadah yang cukup unik. Yaitu, air kopi aslinya ada di gelas. Nah, susunya ada di saringan yang ada di atas gelas kopi ini. Dia akan menetes sedikit demi sedikit sehingga kita bisa mengatur sendiri mau seberapa banyak susu yang akan mencampuri air kopi kita. 

Nanti, sambil minum kopi dan teh serta mengudap cemilan hangat, kita bisa menyaksikan matahari tenggelam. Karena, cafe Ammoor memang menghadap ke lembah dimana bayangan matahari tenggelam bisa terlihat sempurna dan indah sekali.

keponakanku, El, yang bergaya dulu di depan kamera sambil menunggu pesanan datang dan matahari tenggelam

Kembali ke cerita tentang ayah dan ibuku. Sebenarnya nih, ayah dan ibuku itu dulu  punya banyak kenangan nyaris di setiap sudut kota Bandung. Ya iyalah punya banyak kenangan. Karena, ibuku ketika berusia 3 tahun memang dibawa oleh orang tuanya untuk bermukim di kota Bandung. Sekolah dan tumbuh besar di Bandung. Lalu bertemu jodoh, juga di Bandung. Yaitu ayahku, yang ketika itu perantau yang mengambil pendidikan di IKIP Bandung. Nah. Kisah pergaulan mereka hingga menikah itu terserak di setiap sudut kota Bandung.

Jadi, jangan heran jika setiap awal bulan di waktu akhir pekan, kami sekeluarga selalu pergi ke Bandung untuk berlibur. Tapi kami jarang menginap di Bandung. Karena sering susah mencari kamar hotel yang pas buat kami sekeluarga (ayah, ibu dan kami berlima bersaudara serta beberapa saudara yang memang tinggal di rumah yang ikut serta berakhir pekan bersama keluargaku).

Aku ingat satu cerita tentang mendapatkan hotel murah tempo dulu di Bandung. Jadi, ceritanya pencarian hotel murah di Bandung itu dilakukan dengan cara pergi ke  hotel satu demi satu dengan mendatangi  meja lobbi lalu bertanya apakah ada kamar kosong atau tidak. Biasanya sih ayah dan ibu yang turun dari mobil. Yang lain menunggu di mobil. Jika sudah penuh, ayah ibu masuk lagi ke dalam mobil. Lalu bergerak mencari hotel yang lain.

Karena sulit mencari hotel murah di Bandung inilah maka kami sekeluarga jarang menginap di Bandung. Lebih seringnya berangkat dari rumah hari minggu pagi setelah shalat shubuh. Nanti pulang ke Jakarta lagi setelah petang. Ayah selalu pulang lewat Puncak dan ingin shalat di masjid At Taawun yang terletak di Puncak Pas. Baru setelah itu makan malam di dekat Puncak sana. Sampai di Jakarta malam mendekati dini hari.

Repot memang jaman dulu.
Sekarang, sudah lebih enak. Sudah ada jalan tol Cipularang sehingga jarak tempuh dari Jakarta menuju Bandung jauh lebih cepat. Cuma 2 jam saja jika lancar. Dan karena Bandung sekarang sudah berkembang pesat menjadi pusat aneka macam lokasi wisata dan wisata kuliner, maka biar puas lebih baik menginap saja di hotel-hotel yang banyak tersebar di sekitar Bandung.

Mencari hotel sekarang sudah tidak sesulit jaman dulu. Sekarang, mencari hotel bisa melalui aplikasi teknologi. Apalagi mencari hotel murah di Bandung. Pakai saja Airyrooms.

Apa itu Airyrooms ?


Airyrooms merupakan Accomodation Network Orchestrator (ANO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Airyrooms berkomitmen untuk memberikan pengalaman menginap terbaik bagi tamu Airy di lebih dari 1000+ kamar Airy yang telah tersebar luas di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Batam, Solo, Padang, Makassar, Medan dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Lebih lengkapnya, sudah tersedia di 33 kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mengapa harus menginap di Airyrooms? Sebaiknya booking hotelnya di AiryRooms karena hotel Airy Rooms itu murah, fasilitasnya oke (memiliki 7 jaminan fasilitas di setiap kamar : AC, TV layar datar, perlengkapan mandi, tempat tidur bersih, shower air hangat, air minum gratis, dan WiFi gratis).

Jaman sekarang gitu loh. Menginap di hotel, bahkan meski itu hotel murah, kan bukan cuma untuk sekedar numpang tidur saja. Tapi kenyamanan dan kelengkapan fasilitas kalau bisa sih terpenuhi.

Ada 4 Langkah Mudah Pesan Kamar AiryRooms


1 Pilih kamar Airy yang kamu inginkan.


Tersedia lebih dari 1000+ kamar Airy yang tersebar luas di 33 kota di Indonesia, cari dan pilih kamar yang kamu inginkan di www.airyrooms.com.

2 Pesan dan bayar.




Kamu dapat memesan kamar yang kamu inginkan langsung di website www.airyrooms.com. Customer care kami siap membantu 24 jam x 7 hari seminggu.


3 Voucher Airy dikirim.Lakukan pembayaran sesuai pesanan.
Voucher Airy akan dikirimkan ke email kamu sesaat setelah pembayaran kamu kami terima.

4 Saatnya check-in.


Datangi lokasi AiryRooms yang telah kamu pesan. Detail lokasi terdapat di voucher Airy yang telah kamu terima. Selesai deh.

Tuh. Mudah banget kan? Airyrooms bisa didownload loh di gadget kalian. Dengan begitu urusan mencari hotel budget berlibur jadi jauh lebih mudah serta praktis.  

Logo Android appLogo iOS app

1 komentar:

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...