badge

Senin, 29 Juli 2013

Hanging Out With My Mother In Bandung

Ibuku adalah seorang yang memiliki sifat periang dan suka tertawa. Segala hal bisa jadi bahan lelucon sehingga dia bisa menghangatkan suasana dan membuat orang lain merasa akrab meski baru saja bertemu dengannya. Termasuk di kalangan teman-temanku.

itu ibuku, yang memakai baju berwarna gold, nyaris semua orang sering merasa kehilangan jika dia tidak hadir di suatu acara karena tidak bisa lagi mendengar semau leluconnya yang spontan. Suara tawa ibuku memang selalu menulari orang lain untuk ikut tertawa dan bergembira



Sampai sekarang, ketika jaman facebook melanda kita semua, dimana aku kembali memiliki kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman lamaku, orang pertama yang mereka tanyakan padaku adalah:

"Eh, De, gimana kabar nyokap lo? Masih lucu gak ya dia?"

Padahal, ibuku sudah meninggal dunia sejak tahun 2003 silam.

Ibu juga seorang yang amat spontanitas. Sekaligus ceplas-ceplos. Ada kalanya dia bersikap amat hati-hati, kadang cenderung amat curiga, tapi lebih sering lagi bersikap polos. Hatinya juga gampang sekali jatuh simpati pada orang lain. Itu sebabnya, banyak sekali kalangan masyarakat bawah yang merasa amat kehilangan ketika mengetahui beliau sudah meninggal dunia.

Ibuku lahir di Kayu Ara, Palembang, Sumatra Selatan. Tapi di usia 3 tahun oleh ayahnya dibawa ke Bandung dan bermukim disana hingga bertemu jodoh, yaitu ayahku, dan mereka lalu pindah ke Jakarta untuk menetap selamanya di Jakarta. Tidak lama setelah mereka memiliki anak, ayahku memberikan tanahnya ke orang tua ibuku dan itu menyebabkan orang tua ibuku lalu ikut pindah ke Jakarta juga. Maka, lengkaplah kami semua tinggal di Jakarta.

Meski sudah berkumpul di Jakarta semua, ibuku tetap sering merindukan suasana kota tempat dia dibesarkan dahulu, Bandung. Tidak heran jika kami lalu saban sebulan sekali menyempatkan diri untuk berlibur ke Bandung. Itu sebabnya ibuku senang sekali ketika mengetahui bahwa setelah lulus SMA, aku membuat pilihan untuk bersekolah "jika tidak di Jakarta, mungkin di Bandung."

"Kamu serius mau ikut ujian masuk perguruan tinggi yang ada di Bandung?" Tanya ibuku dengan bola mata yang berbinar-binar dan kian berbinar-binar ketika melihat anggukan kepalaku.

"Asyikkk... kalau gitu, ibu saja yang akan mengantarmu untuk ikut ujian masuk itu. Setelah itu, ibu akan memperkenalkan semua sisi kota Bandung ke kamu. Kita akan mencari tempat kost, tempat dimana kamu bisa beli makanan yang murah tapi enak, baju yang murah tapi dijamin bagus-bagus, dan semuanya."

Lalu, dimulailah perjalanan menuju ke Bandung, hanya ada aku dan ibuku saja. Tujuan pertama kami, tentu saja rumah saudara di daerah Cikaso yang ingin kami tumpangi dalam rangka aku ikut ujian masuk tersebut. Kami akan menginap di sana selama beberapa hari. Aku dan ibu sampai di rumah saudara kami sore hari. Dengan begitu aku bisa belajar sejenak malamnya karena ujian masuknya sendiri dilaksanakan keesokan paginya.

Rumah saudaraku itu bukan rumah yang besar. Saudaraku itu, aku memanggilnya Nenek Cikaso, hanya tinggal berdua saja dengan anak perempuannya, Tante Nani; jadi dia membagi rumahnya menjadi dua bagian. Sebagian dia kontrakan ke orang lain, sebagian lagi, maksudku bagian yang kecilnya, dia tempati bersama anaknya. Dengan demikian, hanya ada tiga ruangan di dalam rumahnya tersebut. Yaitu ruang keluarga,  kamar tidur dan kamar mandi. Dapur yang sangat mini ada di lorong menuju ke kamar mandi. Di malam hari, kami berempat tidur di kamar yang sama. Nenek Cikaso membentang sebuah kasur tipis di atas karpet sebagai tempat tidur tambahan di kamarnya.

"De, kamu tidur di bawah aja ya. Tante Naninya ikut training jadi nginep di mess sudah tiga hari ini."

Aku tidak keberatan. Dan bersiap-siap untuk tidur. Ibu dan Nenek Cikaso tidur di tempat tidur di atasku. Lampu dipadamkan tapi ibu dan nenek Cikaso terus saja mengobrol. Ibuku memang pada dasarnya senang ngobrol dengan orang lain jadi aku memprediksikan itu akan menjadi sebuah malam yang panjang. Jadi, dengan mengenyahkan rasa terganggu oleh suara mereka yang cukup keras ngobrolnya aku pun memejamkan mataku. Nyaris saja tertidur ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara, "DUT!"
Ups. Mataku langsung mencelang. Siapa yang kentut? Keras banget lagi. Tidak lama, bau yang tidak sedap sudah menyapa hidungku. Bersamaan dengan suara tertawa "two big girls" yang tidur di tempat tidur di atasku.

"Hahaha.. Bi, kamu kentut ya?" (suara ibuku)

"Iya, perutku selalu terasa kembung di malam hari. Maaf ya." (suara Nenek CIkaso; lalu mereka berdua cekikikan berdua.

"Gak papah Bi, maklum kok. Gak usah malu, justru saya malah senang Bibi sudah membuka jalan. Karena saya juga dari tadi nahan-nahan."

Lalu... BROTT!!

Mereka cekakan lagi berdua. Nenek Cikaso kembali kentut keras lagi, dan ibuku mengimbanginya dan itu menjadi malam perkentutan terpanjang dalam hidupku. Bahkan di pagi hari, aku merasa bahwa rambutku jadi tercemar bau tidak sedap. Fiuh.

Untunglah saatnya ujian masuk tiba. Aku dan ibu bergegas naik angkot berwarna merah menuju ke SMA 3, tempat ujian masuk diselenggarakan. Begitu sampai di dalam angkot, ibu melihat sekeliling dan menyadari sesuatu yang baru di dalam angkot tersebut.

"Eh, sekarang ada bel ya ternyata di langit-langit angkotnya. Buat apa ya ini?"

Ibuku, dengan bola mata yang polos dan berbinar layaknya kanak-kanak menatap takjub pada tombol bel berwarna merah yang ada di lampu penerang di langit-langit angkot. Seorang penumpang di sebelahku tersenyum dan menatap kami dengan pandangan menahan senyum.

"Ibu baru ya di Bandung ini?"
"Iya, anak saya mau ikut ujian masuk di SMA 3."
"Oh, pantas. Itu teh tombol buat penumpang kalau mau turun."
"Oh kitu? Saya dulu menghabiskan masa kecil di Bandung, jaman dulu mah enteu aya anu bel kayak gini."

Tidak lama, seorang penumpang yang ingin turun, tanpa berkata apa-apa tiba-tiba memencet tombol merah bel tersebut dan suara bel yang melengking langsung terdengar. "TEEETTT." Ibu spontan terkejut tapi langsung tertawa kegirangan.

"Wahh... asyik ya." Ujar ibu dengan suara penuh kekaguman. Belum habis rasa terkejutnya seorang penumpang lain kembali memencet tombol merah bel dan kembali suara bel yang melengking terdengar lagi. "TEEETT."  Mendapati hal itu, ibuku tiba-tiba saja langsung mengulurkan tangannya dan menutupi bel itu dengan telapak tangannya.

"Sudah, penumpang semuanya. Saya turis nih. Mulai sekarang, biar saya saja yang memencet belnya. Yang mau turun, bilang sama saya biar saya yang pencet belnya. Kayaknya asyik."

WHATTTT???? Aku langsung terbelalak. Sama sekali tidak menyangka ibu akan bersikap amat sangat spontanitas seperti itu.  Aduh.. duh.. duh.

Aku menarik nafas panjang. Berharap dalam perjalanan panjang menunju SMA 3 aku jatuh tertidur akibat kualitas tidur yang ditemani konser kentut semalam suntuk. Jadi, bisa jadi di angkot aku bermimpi dan dalam mimpiku ibuku melakukan hal-hal konyol secara spontan. Tapi begitu aku selesai menarik nafas panjang dan membuka mata, ternyata aku tidak bermimpi. Aku melihat ibuku dengan wajah tersenyum kegirangan menatap semua penumpang dan bertanya,
 "Ceu, masih lama turunnya? Bilang saya ya kalau mau turun."... 
"Kang, kalau mau turun, bilang saya ya, biar saya tolong untuk memencet belnya."

O-M-G Ibuuuuuuuuuuuuuuuu.... aku malu. Jujur aku malu sekali, apalagi seluruh penumpang jadi tersenyum dan menahan tawa melihat kelakuan ibuku. Terlebih lagi, tangan ibuku masih terus terulur menutupi tombol merah karena dia-serius-tidak-ingin-berbagi-tombol-merah-itu-dengan-orang-lain.

Akhirnya, seorang ibu-ibu mencolek ibuku, "Ceu, saya mau turun."

Ibu segera tersenyum dan melepas tombol merah yang dikuasainya sendiri lalu memencetnya hingga terdengar suara "TEEETTT." Setelah suara bel yang cukup keras terdengar, ibu  tertawa kegirangan. Sementara aku bingung sendiri. Mau bangun, nanti semua orang akan tahu bahwa dia ibuku. Mau tidur, ya ampunnn... mana bisa tidurrrr??  Karena selain menguasai tombol merah bel itu, sepanjang jalan ibu berlaku layaknya seorang guide tour padaku.

"Eh, ugh, itu dia jalanan dimana ibu dulu pernah jajan es potong." Lalu dia bercerita tentang kejadian masa kecilnya yang konyol, atau menyedihkan atau memalukan padaku dan semua orang di angkot ikut mendengarnya sambil menahan tawa. Jadi berasa lagi naik angkot spesial angkutan liburan saja. Mungkin sebagian orang ada yang berkata dalam hatinya, "Dasar turis norak!"


Ugh, dan itu adalah perjalanan angkot terlama dan termalu dalam hidupku sepertinya. 
Tapi begitu sampai di Jakarta, gantian aku yang bercerita tentang semua kelakuan ibu pada seluruh anggota keluargaku dan kami ramai-ramai mentertawakan beliau. sekarang, ini menjadi sebuah kenangan yang lucu sepanjang hidupku, bahkan ketika aku ceritakan pada anak-anakku tentang kelakuan almarhumah nenek mereka, mereka malah berkata, "Cool. Seru juga enin." Ishhhh.

ini ibuku dikelilingi oleh cucu-cucunya. Dia sayang sekali pada semua cucunya sehingga bersedia melakukan apa saja dan aku berani memastikan, dia lebih sayang pada cucunya ketimbang anaknya sendiri sepertinya.
Hmmm, aku jadi rindu semua kekonyolan dan spontanitas  beliau.

-------------------
Tulisan ini diikutkan giveaway perdana di blognya mbak Fardelyn Hacky


ini buku yang berisi kumpulan cerita tentang kekonyolan para ibu yang membuat anak-anaknya ingin menghilang saja rasanya. Aku rekomendasikan bagi kalian yang ingin refreshing otak, rileks sekaligus merindukan ibu kalian. Dapatkan di toko buku terdekat ya.

16 komentar:

  1. Ahahahah .... sayang saya tak mungkin bertemu beliau. SUka sama ceritanya. Suka sama karakter ibunya mbak Ade. Kayaknya bakal juara deh tulisan ini. Hmm jadi tahu sifat periang dan spontan mbak Ade dari mana asalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah.. kamu baru membaca saja sudah suka kan dengan karakter ibuku. Teman-temanku juga demikian. Mereka pada suka dengan ibuku.. makanya kalau lagi bikin acara di rumah (ibu hobbi masak jadi dia suka ngundang teman2ku untuk ditraktir makan siang di rumahku) maka ibuku lebih populer daripada aku anaknya

      Hapus
  2. Saya nahan tawa mbak,, tengah malem soalnya.

    BalasHapus
  3. lucu mbak ceritanya ya, bikin geli perut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. kalau sempat bertemu ibuku, pasti sesekali kamu akan dibuatnya tertawa geli karena ibuku pintar melucu

      Hapus
  4. Hahahhaa, ternyata mommy kita sama aja. Sama2 ratu perkentutan. Itu kemarin yang di GA salah satu pengalaman dari hasil entut yang lain . Slm sukses deh,mba. Semoga ibunda akan selalu tersenyum di nirwana sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener... sama ya.. kalo ibuku karena beliau tubuhnya gemuk jadi memang setiap malam merasa kembung jika tidak kentut.. kentut itu solusi cerdas untuk mengatasi perut kembung pada mereka yang punya masalah dengan pencernaan jadi kami sekeluarga tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk. Tapi kebetulan waktu di bandung itu, ada dua orang yang berpacu dalam kentut nah.. itu baru jadi masalah, terutama jika kamu tidur di kasur bawah... hahaha

      Hapus
  5. gak berenti2nya ngakak, baca cerita ttg ibunya mba Ade, hahahhaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibuku memang lucu orangnya.. spontan banget dan selalu ceria. makanya dia ibu pavorit di kalangan teman2ku jaman aku sma dulu

      Hapus
  6. menarik hubungan ibu dan anak ini... *jadi.... ah

    BalasHapus
  7. Senyum senyum sendiri pagi pagi niih..
    Semoga menang GA-nya...
    Ibuku kalem beudh... kayaknya gak ada yang lucu gini

    BalasHapus
  8. Selamat ya mbak Ade...hihi..menang loh

    BalasHapus
  9. hag ...hag..hag... pantesan menang memang lucu begini si Enin teh :D

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...