badge

Jumat, 25 September 2015

Film Yang Aku Sukai:FIlm Balap Mobil

[Pernikahan]: Sejak kecil, aku punya satu kekurangan yang sepertinya akan melekat erat entah sampai kapan. Yaitu, aku tidak bisa membedakan arah kiri dan kanan. Jadi punya disorientasi arah. Mungkin nyaris ke arah disklesia ya. Kekuranganku ini membawaku ketika kecil sulit membaca, menulis dan berhitung.


Tahukan kalian? 

Kegiatan membaca, menulis dan berhitung itu sebenarnya terkait dengan pengenalan arah kiri dan kanan. Bahwa bulatan huruf "d" itu menghadap ke depan sedangkan hurud "b" menghadap ke belakang. Alias ada yang menghadap kiri dan ada yang menghadap kanan. Bukan hanya huruf, begitu juga dengan angka-angka. Jadi, "12" itu jika salah meletakkan arah, akan berubah jadi "21". 


Nah. Kemampuan untuk menandai arah kiri dan kanan ini yang aku tidak miliki. Akibatnya, meski sudah berkali-kali diajarkan (bahkan mungkin guru saking kesalnya sudah pingin jedotin kepala kali ya), tetap saja aku tidak bisa membaca, menulis atau berhitung. Itu sebabnya raportku selalu kebakaran alias merah semua. Hanya ada 3 (dua) mata pelajaran yang ditulis dengan tinta biru: yaitu pelajaran Agama (karena jaman Pak Harto dulu, dimana masih ada sisa trauma akibat G30SPKI di tahun 1965; dan aku lahir di tahun 1970, maka hanya mereka yang tidak mengakui Tuhan saja yang nilai agamanya merah. Alias, sebodoh-bodohnya murid, nilai agama di rapot harus warna biru, ditulis angka 6).

Dua pelajaran lain yang ditulis dengan tinta biru di raportku adalah pelajaran Olahraga dan Kesenian. Kenapa bisa biru? Karena tidak ada kegiatan menulis-membaca-berhitung di pelajaran Olahraga dan Kesenian.
Yippi.

Akhirnya, di kelas 3, setelah sebelumnya orang tuaku dipanggil ke sekolah dan dibujuk untuk memindahkan aku ke sekolah khusus alias SLB karena guru mengeluhkan kebodohanku itu, orang tuaku memasukkan aku ke les khusus. Nah; di tempat les khusus ini aku baru deh menemukan cara mudah untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Lalu mulai deh mengejar semua ketertinggalanku.

Meski sudah berhasil melakukan 3 kegiatan di atas, bukan berarti masalah selesai. Tetap saja ada banyak hal yang tidak bisa aku lakukan, salah satunya adalah mengemudikan mobil.

Dulu, orang tuaku beberapa kali memasukkan aku ke sekolah mengemudi. Sempat dapat SIM loh, meski lewat "kemudahan karena uang". Tapi tetap saja aku tidak bisa mengemudi.

Eh, pernah sih sekali ayah memaksaku untuk mengemudikan kendaraan di jalan tol arah Cikampek yang baru dibuka jadi masih sepi. Waktu itu kami sekeluarga ingin piknik di Waduk Jatiluhur. Sepanjang melalui jalan tol itu aku teganggg... dan....

...super tegang.

Jadi, akhirnya ayah memintaku untuk berhenti di pinggir jalan setelah beberapa saat aku menyetir. Begitu mobil menepi dan berhenti, orang-orang yang jadi penumpang semuanya berhamburan keluar dari mobil cepat-cepat dan... MUNTAH BERJAMAAH.

Wajah-wajah yang pucat itu melambaikan tangan ke arah ayahku dan berkata,..."Udah. Cukup. Nggak usah dia yang nyetir."

hahahahaha... Ya sudah. Itulah terakhir kali aku memegang kemudi mobil. Seterusnya, harus puas menjadi penumpang saja.

Dalam rangka "ngompori agar aku tidak patah semangat" ayah sering membawaku ke Parkir Timur Senayan. Setiap hari minggu pagi di pekan ke sekian tiap bulannya, di sana selalu ada ajang Slalom Test.

Slalom test itu adalah uji ketangkasan mengemudi. Jadi, ada balok-balok yang tersebar di jalan. Nah, dengan kecepatan tinggi, pengemudi ditest bisa tidak melalui balok-balok itu tanpa membuat balok tersebut terjatuh atau tersenggol. Nanti jika sudah sampai di ujung jalan, masih dengan kecepatan tinggi, silahkan berputar dan kembali melalui jalan yang dirintangi dengan balok yang tersebar dan kembali ke titip start. Karena, titik start dan Finish memang ada di satu tempat.

ini contoh slalom test yang diadakan oleh Sampoerna tahun 2010 di Parkir Timur Senayang. Gambar diambil dari sini


Itu acaranya seruuuuuuuuuuuu. Dan ayah kadang bergumam memberiku semangat:
"Tuh De. Kalau kamu bisa menyetir, kamu bisa sejago itu. Kalau nggak, ya cuma jadi penonton saja."

Hahahaha. Dan aku menikmati jadi penonton. Sama sekali tidak muncul keinginan untuk terpacu bisa menyetir (salah motivasi kayaknya ayahku ya?).

Pada akhirnya, aku hanya menjadi seorang penonton. Karena untuk mengemudi mobil, tetap saja aku tidak bisa sampai sekarang (ish, gimana mau nyetir jika membedakan lampu sen kiri dan kanan saja aku bingung? Apalagi rem dan gas. Belum lagi mendengar aba-aba parkir "kiri-kiri... kanan..kanan.")

Ya sudahlah.
Aku memilih untuk menjadi penonton. Dan mulai menikmati adegan balap mobil.
Waktu SMA, sempat nebeng mobil teman dan dia adu kecepatan dengan sesama mobil temannya di Ancol. Aku duduk di bangku penumpang. Herannya, meski tegang tapi aku menikmatinya. Fiuh.

Kata temanku sih:
"Gimana elo nggak anteng? Nah, elo nggak tahu itu mobil harus belok kiri atau belok kanan. Sedangkan kita tahu jadi kita semua ikut panik takut mobil salah ambil arah. Atau telat ambil keputusan kapan harus belok ke suatu arah. Makanya ikut mules."

Wah. Tidak tahu arah kiri dan kanan ternyata ada untungnya juga ya. Alhamdulillah.

Nah. Semua ingatan itu, setelah keinginan untuk bisa mengemudi mobil menghilang, ternyata terwujud dalam kegemaran baru:

...... menonton film tentang balap mobil. 

Eh, waktu masih jaman game-game komputer, aku juga nyoba game balap mobil seperti Need For Speed tapi tebak dong: di game saja aku babak belur tabrakan mulu. hahahaha.

Film Balap mobil pertama yang aku tonton dan langsung membuatku jatuh hati adalah film Initial D. Film tahun 2005 yang merupakan kolaborasi China dan Jepang. Aku pernah menulis reviewnya di sini: Review Film Initial D. Ah. Itu keren banget menurutku, apalagi ketika dengan amat terampilnya Takumi menuruni Gunung Akina yang punya banyak tikungan maut tanpa mengurangi kecepatan.

Lalu muncul Film Fast and Furious yang dibintangi oleh Vin Diesel. Dan... inilah yang membuatku suka berat dengan seri film-film Fast and Furious. Ini salah satu reviewku untuk salah satu seri Fast and Furious 6. Silahkan baca di sini http://catatanadeanita.blogspot.co.id/2014/01/review-film-fast-furious-6.html



Di rumah, aku tahu tidak semua anggota keluarga menyukai film yang aku suka ini.
Sulung: "Aku nggak suka film Fast and Furious."
Tengah: "Malas ah." (dia memang penggemar Korea)
Bungsu: Ya... nggak mungkin aku ngajak anak bungsuku menonton film FF ini. Di kehidupan nyata, arena balap mobil memang akrab dengan gadis-gadis cantik berpakaian mini dan supermini yang berkeliaran sambil megal-megol seakan minta dicolek tapi pas dicolek marah (#terus-ngapain-elo-megal-megol-pake-mini-coba?). Istilah yang kekinian itu cabe-cabean kali ya. Nah, di luar negeri, apalagi balapan liar gitu, pakaian mininya tuh asli cuma bikini dan G-string gitu. Nah, adegan ini yang biasanya selalu ada di film balap mobil liar. Pasti ada adegan cewek-cewek dengan  bikini lagi nari erotik dan ada cowok memakai baju tanpa lengan yang akan menggoda mereka seperti ulat keket menempel di pucuk daun teh yang siap dipetik. Pucuk. Pucuk. Pucuk. (*Eh? Kok malah ngomongin iklan teh kemasan di tv?)

Yap. Itu sebabnya aku menonton seluruh rangkaian filem seri Fast and Furious cukup puas hanya lewat DVD deh.
Sendirian.

Memang sih. Setelah lewat dua tahun, biasanya televisi akan menayangkan film ini di layar televisi (tentu dengan sensor sana sensor sini). Aku tahu itu. Tapi... aku tidak sabar menunggu dua tahun itu, jadi ya... beli DVD-nya saja.

Ini ada video trailer yang berisi 10 moment paling menegangkan dari series film Fast and Furious versi Youtube (kurang lengkap sebenarnya. Tapi, ini buat memberi gambaran saja beberapa adegan yang aku sukai itu seperti apa) :



Nah... tahu nggak?

Semua seri Fast and Furious dari 1 hingga 7 sudah aku tonton semua dan tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Belum ada rasa bosannya. Tiap kali menonton tetap saja ikut tegang. Dan tiap kali kamera diletakkan seakan-akan kita yang mengemudi aku menebak-nebak... ke arah mana ya kira-kira mobil akan melaju?

Tapi di awal tahun 2015 lalu, yaitu ketika  Film Fast And Furious 7 (FF terbaru)ditayangkan di bioskop-boskop, suamiku tanpa diduga mengajakku menonton film ini di bioskop.

Wah. Nggak percaya rasanya. Aku harus pura-pura senyum manis dengan tenang (padahal hati kebat kebit nggak karuan) menatap wajahnya sebentar lalu melanjutkan kegiatanku lagi. Berasumsi suamiku salah bicara. Dia kan tidak suka film itu. Lebih dari itu, masa mau nonton cuma berdua saja? Kan anak-anak sudah tegas mengatakan mereka tidak suka film itu sebelumnya?
hehehehe... nonton berdua?
di bioskop?
nonton Fast and Furious?
Ini pasti mimpiku saja.
Pasti aku terkompori oleh status facebook mereka yang pamer sudah menonton FF di bioskop lalu tanpa sadar aku jadi kepingin juga.
Ah.
Kompor meleduk dasar!

"De... ayo. Mau nonton Fast and Furious di bioskop nggak?" Lalu suara suamiku kembali terdengar.
"Ini beneran atau mau ngeledekin aku aja sih?"
"Serius. Yuk. Besok mau? Pulang kerja aku langsung bawa taksi kamu dah siap gitu di rumah tinggal aku jemput? Gimana?"

bling
bling
Mataku berkedip. Berusaha meyakinkan diri bahwa ini bukan khayalan. Dan wajah suamiku masih tetap menatap di hadapaku setiap kali aku selesai berkedip.

WUAAAAA..... INI BENERAN, JENDERAL!

Nggak kebayang kan senangnya hatiku. Selama di bioskop aku lepas imajinasiku seakan ikut dalam ketegangan seluruh team-nya Vin Diesel. Kakiku tuh ikut mijet-mijet lantai seakan-akan ada pedal Rem dan Gas di sana.

Begitu keluar dari bioskop, suamiku melakukan pengakuan dong:

 "Aku ngelirik kamu terus selama di bioskop. Wajah kamu senanggg sekali menonton film itu. Mata kamu tuh... sampai kerjap-kerjap kegirangan dan kadang tidak berkedip. Keliatan banget kalau kamu lagi senang. Aku jadi ikut senang melihat kamu senang seperti itu. Filmnya sendiri sih menurutku biasa-biasa saja."

(Aih... kecup suamiku deh).
Sebuah Pernikahan itu, memang menghadirkan dua orang di dalamnya. Yaitu suami dan istri. Isi kepala mereka belum tentu sama. Begitu juga dengan hobbi, kecenderungan, sifat atau karakter. Tapi, ada sesuatu yang membuat mereka bertahan di tengah arus perbedaan yang terus mendesak-desak. Yaitu keinginan untuk selalu bisa bersama.
Berdua itu lebih asyik daripada sendiri.
Pada akhirnya, terjadilah penyesuaian yang dasyat. Penyesuaian yang dilakukan agar langkah bisa tetap seiring sejalan. Dan inilah yang menumbuhkan cinta. Dari cinta melahirkan cinta.

Nah. Itu ceritaku tentang film yang aku sukai hingga sekarang.
Kalau kamu, sukanya film apa?
---------------------------------------------------
Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp SecondGiveaway: What Movie are You?






11 komentar:

  1. Bahay juga kalau nontonnya sambil menjahit. Pas tancap gas bisa injek-injek gas mesin jahit, kainnya bisa beda dengan sketsa.

    Sukses untuk GA-nya, ya, Mbak ...

    BalasHapus
  2. aku juga suka film balap mobil, seru ya :) apalagi nontonnya rame-reme

    BalasHapus
  3. ternyata suka film balap mobil ya mbak kalo aku doraemon hehe

    BalasHapus
  4. penasaran sama Give Awaynya jadi pengen coba ikutan juga :D

    BalasHapus
  5. Wo'oo..masih jarang sekali perempuan yg suka dunia balap n umumnya di mayoritasi kaum laki-laki
    Tapi film fast n farious seru sihh,paket lengkap

    BalasHapus
  6. Film Fast and Furious saya juga suka mba, apalagi pas liat mobilnya keren-keren semua

    BalasHapus
  7. Waaa sukanya kok film beginian? Ini kesukaan keluarga, kecuali aku. Udah diputar bolak-balik & aku cuma nunduk ngetik.

    BalasHapus
  8. tiap kali liat film ini, belum tuntas, udah kesirep duluan, bunda...
    kadang2 juga rebutak sama keponakan. aihh...
    *Curhat

    BalasHapus
  9. aku juga penggemar fast furious mbak ade, kalo ada di bioskop langsung ngacir buat nonton, makasih ya atas partisipasinya

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...