Langsung ke konten utama

Liburanku: Think Big?

Ada sebuah nasehat dari seorang teman padaku. Katanya: "Diet itu cuma memerlukan satu hal saja sebenarnya: disiplin. Dimana saja, kapan saja, tetap harus disiplin dengan menu diet yang sedang kita jalani. Maka, kesuksesan diet itu pun akan bekerja dengan baik."

Disiplin.
Cuma satu kata padahal.
Terdengar sederhana ya. Tapi sumpah deh: susaaaaaahh dikerjakannya.
Apalagi ketika musim liburan tiba.
Waduh.

Berbeda dengan porsi makanan ketika kita berlibur ke seluruh wilayah Indonesia. Porsi makanannya kan mini-mini tuh. Jadi sepertinya para pedagang makanan sepakat untuk memberikan sajian dimana porsi sajian tersebut akan membuat pembeli memesan porsi makanan tambahan lagi agar perutnya benar-benar terganjal. Orang-orang Indonesia memang terkenal menyukai aneka kuliner. Tempat-tempat membeli makanan dipenuhi oleh orang yang membeli sajian kuliner tidak mengenal waktu. Di luar waktu makan tempat makan kursi-kursinya dipenuhi oleh orang-orang. Tepat di waktu makan maka tidak jarang ada yang makan berdiri atau terpaksa harus berkeliling beberapa kali sebelum akhirnya bertemu dengan bangku kosong. Herannya, meski sudah kejadian berkali-kali tidak kebagian kursi atau harus antri makanan yang porsinya tidak banyak tapi harganya lumayan mahal, tetap saja tempat makanan diserbu oleh orang-orang. Itu artinya: kita semua, memang bangsa yang doyan jajan.

Tapi, jika dipikir-pikir lagi. Kenapa kita semua doyan jajan ya? Dan jika diamati lebih dalam kebiasaan jajan ini maka yang akan terlihat adalah, makanan yang dibeli itu sebenarnya cuma formalitas saja. Yang dicari oleh orang-orang kita adalah kesempatan untuk berkumpul lalu ngobrol sambil bersantai dan nyemil dikit-dikit.
Nah.
Nah.
Jika sudah begitu cocok ya berarti dengan strategi para pedagang yang menjual porsi makanan dalam jumlah yang sedikit.

Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang senang bersantai  dan berkumpul untuk menghabiskan waktu dengan teman atau saudara sambil nyemil dikit-dikit, maka di luar negeri sana sepertinya budaya "waktu adalah emas" alias waktu itu amat berharga benar-benar dimiliki kesadarannya oleh masyarakatnya. Akibatnya, jika bukan waktu makan resmi (makan siang, malam atau pagi) maka tempat makanan cenderung amat sepi. Yang mampir untuk makan itu mungkin adalah turis, atau anak sekolah yang bolos, atau ibu rumah tangga yang sedang jalan-jalan atau mereka yang belum bekerja atau pekerja lepasan.

Dan karena waktu juga dipandang amat berharga, maka sekalinya waktu makan tiba maka tempat-tempat makan benar-benar diserbu. Orang-orang antri makanan, dan jika tidak kebagian bangku maka mereka mendatangi taman-taman yang terbentang lalu makan di taman.

Karena waktu amat berharga juga, maka porsi makanan yang disajikan pun menjadi besar-besar. BESAR-PADAT-DENGAN TAKARAN MENU YANG SEIMBANG-DAN HARGA YANG PAS.

Jangan pernah berpikir untuk diet ketika sedang jadi turis di negeri orang. Karena, meski kita harus menghabiskan porsi makanan yang besar-besar sekalipun, tapi semua itu dalam sekejap akan berubah jadi energi karnea sebagai turis kita akan memakainya untuk berjalan kaki ke sana kemari, mendaki tangga, menuruni tangga, mengejar bis yang selalu datang tepat waktu (jadi kalau telat dapat bisa-bisa menunggu lagi lama), memburu kereta api yang memiliki pintu stasiun yang banyak sehingga untuk mencapainya kita harus berputar-putar sejenak naik turun tangga.

Seperti ini nih porsi makanannya:

Ini salah satu makan siangku selama berlibur di Sydney. Kentang goreng yang dikudap dengan ikan bakar dan salad sayuran. Ikannya besar sekali, diambil dari ikan utuh yang difillet. Dan kentangnya juga banyak, dan saladnya... waaah. JIka di Indonesia porsi salad seperti ini bukan disajikan sebagai bonus biasanya tapi harus dipesan terpisah karena porsinya yang BIG.

Ini CHIPS alias kentang goreng khas Australia. Porsinya banyak banget, lebih tinggi bahkan dari botol aqua 600 ml. Dan di atas Chips itu adalah Kebab Turki yang balutannya juga lebih besar dari botol aqua 600 ml. 
Di Sydney, dan bagian-bagian kota lain di Australia sekarang sudah lebih enak kurasa dibanding jaman aku tinggal disana dahulu beberapa tahun yang lalu. Sekarang, sudah banyak restoran halalnya. Hanya saja, kebanyakan adalah restoran: Indonesia, Turki, Thailand dan China. Jangan ragu untuk memesan dan jangan sok-sok-an diet deh saranku mah. Karena susah menemukan sembarangan restoran halal disana. Jadi, begitu ketemu makan yang benar tidak  perlu basa basi. Belum tentu 100 meter kemudian kita bakalan ketemu restoran halal lagi.

Komentar

  1. saya juga lagi diet, Mak. Tepatnya FC. Cuma kalau lagi wiken dan liburan emang pantang untuk diet. Rugi hehe

    BalasHapus
  2. Godaan terbesar saya itu kalau diet pas musim libur.. sepertinya tidak ada yang lebih kejam dari itu

    BalasHapus
  3. Pantes sepulang liburan jadi langsing. Porsinya dikurangi gitu. :P #menggoda

    Menikmati makanan wae ya, Bu. Lupakan diet kalau sedang liburan. Biar makannya lahap. :D

    BalasHapus
  4. jadi tipsnya makan aja ya kalau kesana :)

    BalasHapus
  5. justru menurutku porsinya pedagang ato beli di warung tuh kebanyakan banget, bisa dimakan dua hariii :((

    BalasHapus
  6. bener mbak kata di siplin itu terkesan sederhana tapi susah untuk di laksanakan

    BalasHapus
  7. Manggut2 baca tulisan mak Ade. Disipliiin... oh disipliiiinnnn *kemudian nangis lihat timbangan*

    BalasHapus
  8. infonya sangat membantuh, makasih ya!!!

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…