badge

Jumat, 18 Juli 2014

Ayah dan Aku

ini arsip dari status facebookku tanggal 15 Juli 2014

foto diambil dari akun facebook John Tesh



Kalau hal ini ditanyakan padaku, maka jawabanku sudah pasti satu orang: AYAHKU.

Sampai sekarang, aku tetap merindukan beliau meski dia sudah meninggal dunia tahun 2009 lalu.
Waktu piala dunia bertanding, aku pasti akan mendengar celotehnya yang berharap team Belanda kalah (hahaha, maaf ya buat penggemar team Belanda). Sejak dulu ayah tidak pernah mau membela team Belanda bahkan meski mereka hebat di lapangan. Alasannya sederhana: karena Belanda pernah menjajah kita. Xixixi.

Lalu ketika pemilu dan pilpres kemarin, pasti ayah akan mengajakku diskusi tentang perkembangan politik terkini. Aku dan ayah kadang berbeda pandangan tapj kami selalu berdiskusi tanpa menyakiti atau menyerang pihak yang berbeda dengan pilihan kami. Hanya saja, ayah tidak suka jika aku menyatakan keberpihakanku tapi aku tidak tahu alasannya. Harus ada alasan yang bisa dipertanggung jawabkan untuk semua pilihan keberpihakan kita.

Satu jam pasti tidak akan cukup.
Semasa hidupnya, meski sudah dilarang ibu yang takut ayah sakit, ayah tetap setia mengunjungiku setiap pagi. Ketukan tangannya di pintu rumahku sudah menjadi kerutinan.
Datang.. lalu baca koran. Setelah itu kami akan ngobrol membedah isi berita terkini yang dia baca dari koran yang dibacanya.

Rutinitas ini yang membuatku bahkan hingga 2 tahun setelah kematian beliau, tetap menunggu di ruang tamu yang sepi dan koran hari ini di tangan. Berharap ayah datang mengetuk pintu seperti dulu.

PEKAN LALU... aku akhirnya bermimpi bertemu ayahku.
Kami berbincang akrab di atas buritan sebuah kapal laut yang sedang bergerak membelah laut. Hingga tiba di sebuah dermaga, ayah memaksaku untuk turun dan kembali berkumpul dengan suami dan anak2ku.
Aku menolak. Aku ingin pergi bersamanya. Rinduku belum tuntas. Tapi ayah menepis keinginanku.

"Belum saatnya, ade. Belum saatnya."

Lalu dihantarnya aku kembali ke tepi dermaga menyambut suamiku dan anak2 yang menunggu.
Sedih.
Harus berpisah lagi.
Harus kangen lagi.

Lihat foto ini aku jadi ingat hamparan laut yang kami pandangi di atas buritan kapal di mimpi itu. Indah sekali pemandangannya kala itu.
Langit yang biru cerah.
Perairan yang biru kehijauan.
Angin yang berhembus lembut.
Dan ayah yang membiarkan kepalaku bersandar di atas pundaknya.

4 komentar:

  1. Masya Allah Mbak Ade .. mimpi yang indah .. sekaligus membuat bulu-bulu saya meremang.
    Pantas Mbak Ade begitu merindukan beliau ya, masa2 bersama beliau sungguh indah dan tak semua orang tak seberuntung Mbak Ade. Ada orang2 yang tak bisa berdiskusi seperti itu dengan orang tuanya karena orang tuanya tak suka/tak bisa menerima bila anaknya punya pendapat berbeda ....

    BalasHapus
  2. Mak Adee... aku terharu dan merinding baca tulisan mak Ade ini....
    Begitu besar rasa kangen dihati setelah 2 tahun kepergian beliau ya Mak... sampai2 mak Ade masih selalu menantikan beliau dan kemudian memimpikannya.
    Kebersamaan Mak Ade dan beliau dulu memang sangat indah... pantas jika beliau begitu dekat di hati Mak Ade.

    BalasHapus
  3. lagi kangen berat sama ayahnya ya mak

    BalasHapus

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...