badge

Kamis, 18 Februari 2010

Tersasar karena peta cinta yang salah

Cinta. Siapapun yang pernah merasakan jatuh cinta, tentu ingat betapa memabukkannya cinta itu. Pahit jadi manis. Duka jadi suka. Segala yang berwarna hitam berubah menjadi warna-warna indah. Biru muda, merah muda, ungu muda, hijau, kuning, dan seluruh warna cinta yang pernah ada di atas muka bumi ini.

Dulu, seorang dosen psikologiku pernah mengatakan suatu rahasia padaku.
"Mau tahu, apa tanda-tandanya orang jika sedang jatuh cinta pada seseorang?" Aku mengangguk penuh antusias. Lepas dari usia remaja kala itu, rasanya segala sesuatu yang terkait dengan cinta akan terlihat seperti gegap gempita yang selalu menarik hati.
"Mereka yang sedang jatuh cinta pada seseorang, maka jika dia sedang melihat si pelontar panah asmara, matanya terlihat sayu seperti mata orang yang habis menghisap ganja."
"Hah? Masa sih? Memangnya orang yang habis mengisap ganja seperti apa pandangannya?"
"Belum pernah lihat yah?"
"Belum?"
"Yah lihat saja mereka yang sedang saling jatuh cinta." Nah. Sejak itu, kalau ada dua orang yang berjenis kelamin berbeda sedang asyik berdua-duaan, dan kebetulan mereka temanku, biasanya aku mendatanginya dan memperhatikan wajah mereka.

"Ngapain sih nggak ada kerjaan banget?" Temanku merasa terganggu. Dengan wajah dipilon-pilonin, aku akan berkata pada mereka:
"Mau lihat matanya. Kalau matanya nggak sayu, berarti dia nggak benar-benar jatuh cinta ama kamu." Telunjukku berpindah dari tubuh teman yang satu ke tubuh teman yang menjadi pasangannya. Bisa dipastikan temanku akan langsung menjitak kepalaku sambil berteriak: "SOK TAHUUUUUUUUUUU." Hihihi.

Tapi apa benar pesona cinta sedemikian dasyatnya sehingga membuat siapa saja yang terkena panah asmara akan melupakan segala derita? Bisa iya bisa nggak kan? Apa betul cahaya cinta memang begitu menyilaukan sehingga membuat siapa pun yang memandang pancarannya akan menjadi buta?

Hmm.

Ingat nggak cerita klasik yang ditulis oleh William Shakespeare yang berjudul Romeo dan Juliet? Ketika melihat Romeo mati terkena racun, Juliet serta merta merasa bahwa dunianya telah berakhir. Untuk apa melanjutkan hidup di muka bumi ini jika kekasih hati telah pergi mendahului? Serta merta Juliet menusukkan belati hingga terhuncam ke dalam jantungnya. Juliet mati tepat di sisi Romeo. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah. Romeo hanya berpura-pura mati untuk menguji cinta Juliet. Romeo hanya meminum obat yang bisa membuatnya terlihat mati, padahal detak jantungnya saja yang lemah tersamarkan. Romeo tidak benar-benar mati, tapi hanya pingsan untuk beberapa saat. Jadi, betapa terkejutnya Romeo ketika siuman dan melihat Juliet mati dengan pisau terhunus di jantungnya. Serta merta Romeo meminum racun yang ada di tangannya dan akhirnya dia juga mati keracunan dan mati tepat di atas tubuh Juliet.

* menarik napas panjang *
Kalau itu cerita sesungguhnya, tentu keduanya kini sedang merasakan penyesalan mendalam karena sudah pasti akan diazab baik di alam kubur maupun di akherat kelak karena melakukan bunuh diri.

Itu cerita fiksi yang dibuat oleh Shakespeare. Bagaimana dengan kehidupan nyata? Di kehidupan nyata, ternyata ada banyak juga orang bodoh yang melakukan hal-hal seperti di cerita itu. Bunuh diri karena putus cinta. Atau yang lebih parah lagi membunuh dan sekaligus melakukan bunuh diri dengan tujuan agar tetap bisa bersatu selamanya. * a'udzubillahmindzalik *

Berita-berita seperti itulah yang akhir-akhir ini seringkali aku baca di surat-surat kabar. Sepasang muda mudi yang kedapatan mati di dalam rumah kost-kostan. Yang satu bunuh diri sedangkan yang lain terbunuh. Atau sepasang pasangan selingkuh yang sepakat untuk sama-sama bunuh diri dengan cara minum racun serangga segelas berdua. Atau korban RD yang bunuh diri dengan cara gantung diri di kamarnya di daerah P sementara pacarnya DR bunuh diri dengan cara menyayat tangan di kamarnya di daerah Q.

Aih.
Mengapa kisah konyol bahwa jika kehidupan di dunia mengalami banyak hambatan untuk bersatu maka di kehidupan mendatang setelah kematian menjemput keinginan untuk bersatu itu akan terpenuhi? Cinta memang bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Cinta memang gila.

Saya selalu menolak anggapan bahwa cinta suci itu adalah cinta yang sehidup semati. Artinya, ketika hidup mereka bersatu maka setelah kematian datang mengetukpun mereka tetap harus bersama. Karena anggapan seperti inilah maka dahulu di India ada tradisi bahwa jika seorang suami meninggal dunia, maka istri harus ikut dibakar dalam upacara pembakaran mayat suaminya, sehingga sang istri bisa terus mendampingi sang suami hingga mencapai nirwana (surga). Ketika Mahatma Gandhi menjadi pemimpin di India, syukurlah tradisi yang amat sangat menzhalimi wanita ini dihapus.

Lalu mengapa saat ini trend sehidup semati kembali marak di tengah pasangan muda-mudi di negara kita? Ada banyak sebab. Orang tua yang salah mendidik anaknya, kebebasan yang kelewat batas, pendidikan agama yang tidak tertanam dihati dan tercermin di perbuatan, sistem pendidikan yang memang payah, dan banyak lagi. Salah satunya yang lain adalah pengaruh televisi dan media massa.

Yah. Penyebab yang terakhir ini memang tidak dapat dianggap kecil. Saat ini, selain nasehat guru dan orang tua, maka kontribusi besar lain yang mempengaruhi pola pikir pada generasi muda adalah trend yang diajarkan oleh media massa, baik cetak maupun elektronik. Coba lihat cara berpakaian remaja kita, gaya bicara, cara berjalan, cara berdandan bahkan hingga gaya berpacaran.

Saya tidak pernah membiarkan televisi di rumah saya memperlihatkan sinetron remaja tertonton secara utuh di hadapan anak-anak saya. Wah. Ngeri rasanya melihat sinetron-sinetron tersebut. Bayangkan, remaja putri dengan wajah amat beringas dan sangar bisa menumpahkan serbuk berbahaya pada teman yang menjadi saingannya sendiri hanya karena perasaan iri. Atau dengan penuh kekejian memperlakukan orang tuanya dengan amat sangat hina. Yang lebih parah lagi, remaja-remaja putri yang mengenakan pakaian SMP, berdecak penuh nafsu melihat teman lelakinya yang tampan. Atau remaja pria dengan pakaian SMU yang merayu rekan wanitanya untuk melakukan hubungan intim di gardu hansip.

Aih. Sinetron-sinetron ini menggambarkan situasi di Indonesiakah atau dimana sih? Apa benar remaja SMP kita telah memiliki nafsu dan gairah seperti itu? Apakah benar remaja kita sudah sebrutal itu? Apakah benar sekolah di negara kita membolehkan siswanya memakai perlengkapan sekolah yang seseronok itu? Apakah benar sudah sedemikian bobroknya moral remaja-remaja kita?

Inilah racun yang memberi sumbangan terbesar pada pola pikir remaja kita. Terlebih, saat ini memang segala sesuatu yang berbau remaja sedang naik daun. Bukan cuma sinetron yang asyik memburu cerita-cerita remaja, tapi juga tulisan dan bahkan sekarang film dan majalah. Khusus untuk majalah remaja, saya amat menaruh prihatin. Bisa jadi, mereka yang menonton sinetron atau film remaja banyak mencontoh cara berpakaian dan gaya yang sedang trend. Tapi majalah remaja yang tersebar di Indonesia (seperti cosmo girl, kawanku, gadis, seventeen, hai, dll) banyak menuliskan tentang pentingnya mengikuti trend yang berlaku di negara barat sana. Misalnya, bagaimana berstrategi agar ciuman pertama bisa berkesan; bagaimana menaklukkan pria yang diinginkan; bagaimana main petak umpet jika punya pacar selingkuh.... Wow. Where are we?"

-------- Jakarta, 1 Juni 2005
Penulis: Ade Anita. Tulisan ini pernah dimuat di website Http://www.kafemuslimah.com. Mampir ya ke websiteku ini...^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...