Langsung ke konten utama

Menjemput Kesempatan Terakhir

Akhirnya terkumpul juga rezeki yang cukup lumayan diawal bulan yang penuh berkah ini, ramadhan 1430 H. "Temani aku ke lembaga yang resmi menyalurkan shadaqah, infaq, waqaf dan zakat mas." lembut kuajak suamiku.

" Boleh. Mau shadaqah kemana?"

"Mana saja deh. Utamanya sih aku mau waqaf atas nama ayah almarhum. Aku masih memegang sedikit uang ayah ditabunganku, mau aku waqafin saja semuanya atas nama ayah almarhum. Saat ini, dibulan yang suci ini, ayah pasti membutuhkan banyak suplai tambahan pahala dialam kuburnya." Lalu kami meluncur ketempat penyaluran. "

Allah, sampaikan salamku untuk ayah. Please tell him I Love Him and I Miss Him so much."

Waktu kecil ayah pernah senyum-senyum liat aku muncul dari dalam kamar dengan rambut basah karena baru selesai mandi sore. Kemeja ayah bertengger ditubuhku dengan sempurna. Agak longgar karena dahulu tubuhku memang ceking. "Kok, sejak kapan baju ayah jadi punya kamu?" Aku tersenyum. "Sejak ada yang salah masukinnya ke lemari ade. Kan ade dah bilang berkali- kali, apa saja yang masuk ketempat ade dua kali duapuluh empat jam nda diambil-ambil jadi milik ade." Ayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya sudah terserah kamulah. Toh semua yang ayah miliki bakalan jadi milik anak ayah juga. Tapi kalau punya orang lain jangan ya nak. Itu sama saja dengan mencuri namanya."

"Tapi kan emang gitu aturannya?" Aku mengangkat alis mataku sambil tersenyum menggoda ayah.

"Hush! Semuanya kan harus sesuai dengan haknya. Jika memang sudah haknya, dengan berbagai macam cara akan kembali pada yang berhak. Kamu mau kamu yang mengembalikannya sendiri atau harus nunggu Allah yang maksa kamu untuk mengembalikannya?"

"Maksud ayah?" aku beranjak untuk duduk disamping ayah.

"Ya, kalau memang sesuatu itu bukan punya kamu, maka ada seribu satu macam cara Allah untuk mengambilnya dari kamu. Lewat kehilangan, pencurian, kecelakaan. Macam-macam. Pokoknya dipaksa untuk beralih kepemilikan dengan cara yang nggak enak. Daripada gitu mending dikembalikan kan?"

"Ayah nyindir ade ya?" kutabrakkan pundakku kepundak ayah. Ayah hanya nyengir.

"Maaf bu, apakah ada lagi waqaf yang ingin disampaikan?" petugas pencatat waqaf bertanya padaku dengan santun.

"Pingin sih. Tapi masih ragu." aku menunduk mempertimbangkan sesuatu. Ada sedikit rezeki didompetku. Aku ingin mewaqafkannya atas nama ibuku almarhumah. Ibu sudah meninggal enam tahun yang lalu. Tentu saja tidak ada lagi harta peninggalan beliau yang kupegang saat ini. Meski demikian, aku tahu seperti halnya ayah, saat ini almarhumah ibukupun memerlukan kiriman suplai tambahan untuk bekalnya dialam kubur. Kulirik suamiku ragu. "Mas, aku boleh nggak sih mewaqafkan hartaku untuk ibu?"

"Nggak bisa De." kompak, petugas pencatat waqaf didepanku pun memberi penjelasan yang sama. Intinya, waqaf hanya diberikan berasal dari harta langsung yang bersangkutan ketika dia masih hidup atau sisa harta pribadi ketika dia sudah meninggal dunia. Tidak boleh dari harta orang lain. Pendek kata, ketika sudah meninggal dunia maka kesempatan untuk melakukan kewajiban yang diperintahkan maupun yang dianjurkan berhenti sudah. Mendengar penjelasan ini, tiba-tiba hatiku menjadi sedih. Kulemparkan pandanganku ke arah jalanan yang basah oleh sisa hujan yang baru saja berhenti. Menyembunyikan airmata yang terasa ingin meloncat keluar.

Pemandangan didepanku terlihat penuh kesejukan. Genangan air hujan terdapat dimana-mana. Membuat daun kering yang rontok oleh musim panas menjadi rapuh karena terendam. Membuat sampah gelas plastik mengambang tiada daya dipinggir jalanan. Ketika sebuah ban mobil melintas menggilas gelas tersebut, gelas itupun remuk. Menyatu tanpa daya dengan debu, kerikil dan mungkin juga makhluk hidup kecil yang hidup didalam kubanngan diatas tanah yang tergenang.

Duhai alam kubur. Ada apakah saja yang terdapat disana? Pasti ada cacing tanah dan berbagai macam jenis cacing lainnya. Tentu ada koloni semut, rayap, kecoa, tikus tanah dan mungkin kalajengking serta kelabang. Masih merasa sakitkah jasad kita ketika berbagai koloni itu datang menggerogoti? Masih akan terasa sesakkah jika gundukan tanah yang tertahan oleh lima bilah papan akhirnya runtuh dan menimbun seluruh jasad? Tak ada yang bisa menyelamatkan diri dari hukuman dan ganjaran perbuatan zalim atau khilaf ketika masih hidup karena semua tangan, kaki dan segalanya memberi saksi tanpa mau diajak kompromi.

"Hei. Kenapa menangis?" suamiku menyapa lembut ketika melihat air mataku mengalir.

"Ibu mas. Aku pingin kirim sesuatu buat ibu dialam kuburnya tapi dengan apa?"

"Dengan doa De. Doa anak yang sholeh kan salah satu dari tiga hal yang masih bisa dimiliki oleh mereka yang meninggal."

"Iya. Tapi aku merasa belum cukup mas. Alam kubur amat dasyat. Dan lebih dasyat lagi alam akherat kelak. Aku ingin memberi lebih dari sekedar doa." suamiku menarik napas panjang. "Segala sesuatu itu sudah ada perhitungan yang seadil-adilnya dari Allah. Itu sebabnya kita ketika hidup diberi kesempatan untuk mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya. Mereka yang lalai memanfaatkan kesempatan itu tentu akan menerima apa yang dia peroleh sesuai porsinya. Kecuali tiga yang dia bawa dan akan terus mengucur kepadanya meski dia sudah mati. Yaitu doa anak yang sholeh, harta yang dikeluarkan dijalan Allah serta ilmu yang bermanfaat."

Ya Allah. Kasihanilah kedua orangtuaku dialam kuburnya. Berikanlah pada mereka tempat terbaik disisiMu. Kasihanilah mereka dengan melindungi mereka dari siksa kubur dan siksa neraka. Cucurkanlah pada kedua orangtuaku nikmatMu yang tiada pernaah habis. Sayangilah kedua orangtuaku melebihi sayang mereka padaku sejak aku kecil hingga dewasa.

-----------------------lanjut-------------------

Pagi ini tiba-tiba seorang tukang sol sepatu muncul didepan pintu rumahku. Loh kok?

"Mas, kamu mesen tukang sol untuk mampir ya?" suamiku menatapku bingung. Mencoba untuk mengingat-ingat hingga akhirnya menggeleng yakin. "Nggak." lalu meneruskan membaca koran paginya. Aku segera keluar rumah dan menghampiri tukang sol didepan rumahku.

"Neng." Bapak tua tukang sol sepatu itu mengangguk santun. Aku tersenyum kearahnya.

"Ada apa mang."

"Punten neng cuma mau tanya. Bener ya ibu eneng sudah meninggal?"

"Iya pak. Sudah lama, enam tahun yang lalu."

"Oh." Bapak tua tukang sol sepatu didepanku langsung terlihat sedih dan pucat. Perlengkapan sol sepatu yang semula dipanggulnya langsung diletakkannya diatas jalanan. Topi jerami lusuh yang semula dia kenakan langsung diambilnya dan diletakkan didepan dadanya. Sebentar kemudian tangan tuanya gemetar menghapus airmatanya.

"Maaf neng. Bapak baru tahu. Sudah hampir tiga tahun bapak dikampung nggak bisa kemana-mana. Bapak ketabrak motor jadi nggak bisa jalan. Pas lewat rumah ibu, tetangga ibu ngasi tahu bapak kalau ibu sudah meninggal. Sedih banget bapak. Ibu eneng tuh baik sekali. Kalau lihat bapak kecapekan ngider, ibu eneng suka ngasi bapak segelas kopi dan sepiring nasi. Padahal nggak ada sepatu yang mau disol. Bahkan pernah pas bapak cerita anak bapak sakit, ibu eneng langsung ngasi uang untuk berobat. Sedih bapak terlambat tahu kalau beliau sudah meninggal." kembali tangan tua bapak tukang sol itu menghapus airmata yang mengalir di wajah lusuhnya yang muram. Kesedihan yang dia tampilkan itu bukan sebuah sandiwara. Kesedihan yang dipersembahkan dihadapanku saat itu adalah cermin sebuah kejujuran yang polos dan sederhana. Hatiku ikut bergetar.

"Mungkin ini sudah terlambat ya neng. Tapi, yang sabar ya neng. Insya Allah ibu eneng dapat tempat yang terbaik karena orangnya baik sekali, terutama pada orang kecil seperti bapak. Pamit neng. Bapak akan doakan ibu eneng dapat ganjaran pahala untuk semua yang sudah dia kasi ke bapak karena bapak nggak bisa membalasnya didunia ini."

Seperti mimpi, seperginya tukang sol itu hatiku masih terasa tidak menginjak bumi. Ada sebuah rasa yang menggumpal didalam dadaku. Entah apa.

"Kenapa lagi De?"Suamiku bertanya ketika melihatku berjalan seperti melayang. Pasti dia sudah melihat air mata yang baru saja aku hapus dari pipiku. Pelan kuceritakan kejadian yang baru saja aku alami pada suamiku. Suamiku tersenyum. "Kemarin, kamu sibuk mikirin apa bekal yang bisa dikirimkan ke orang tua kamu di alam kuburnya. Padahal ternyata, sebenarnya kita sendirilah yang belum mempersiapkan apa-apa untuk bekal kita dikehidupan setelah mati ya De."

-------------dibuat oleh: Ade Anita, ramadhan 1430 H/agustus 2009

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…