Langsung ke konten utama

Obat Tidur Paling Mujarab

[Pernikahan] Bertemu suami dulu, ada kisahnya tidak kalian? Kalau aku, sepertinya sih banyak. Sebagian sudah pernah aku tulis di blog ini, dan bahkan sudah dibukukan tulisannya.

ini salah satunya: When I Met My Husband

Iya, suamiku ini dulu memang dosenku di FISIP UI. Setelah masa perkenalan yang ajaib dengan suamiku (jika belum tahu kenapa ajaib, baca tulisan When I Met My Husband ya), aku dan suamiku menjalani hubungan tidak langsung sebagai sepasang pria dan wanita dewasa yang saling jatuh cinta. Tapi, kami menjalani hubungan persahabatan terlebih dahulu. Jika ada kesulitan, aku curhat ke dia. Jika tidak ada kendala apa-apa, kami berbagi tawa dan diskusi tentang banyak hal (yang kebetulan banyak berbedanya sebenarnya karena kami punya perbedaan karakter; tapi karena berbeda itu maka diskusinya seru). Lalu, persahabatan ini menjadi kian erat hingga akhirnya, menjadi lekat satu sama lain. Dan mulailah merasa bahwa kami sebenarnya pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Begitu klop hingga jika dipisahkan, malah jadi timpang.
Ish. Gombal banget ya terdengarnya.
Tapi demikianlah persahabatan amat erat yang aku jalani dengan suamiku ketika awal kami membina hubungan dahulu.

Sejak kecil, aku selalu membayangkan enaknya punya kakak laki-laki. Mungkin karena aku hanya punya kakak perempuan ya. Ada sih adik lelaki tapi... sepertinya lebih enak punya kakak lelaki. Jadi bisa dilindungi jika sedang jalan-jalan, ditraktir, dan dibela jika ada yang mengganggu.
Hehehehe. Receh banget memang alasan kenapa aku pingin punya kakak lelaki.


mohon maaf, ini foto sebelum nikah. Aku belum berhijab jadi aku tutup saja ya bagian yang belum berhijabnya. 

Nah, ketika aku akhirnya bertemu dengan suamiku ini (dulu statusnya masih calon), aku senang sekali. Karena gambaran tentang enaknya punya kakak lelaki terpenuhi semua oleh kehadirannya. Jadilah hubunganku dengan calon suami dulu seperti layaknya sahabat. Yang paling suka itu, jika sedang sesi curhat. Hehehe. Dia akan mendengar dengan baik, lalu berusaha keras untuk mencari jalan keluar terbaik dan termudah (karena aku dari dulu memang pemalas, tidak tangguh untuk mencoba yang terlalu berat, dan pinginnya yang mudah saja). Setelah sesi curhat selesai dan kami (maksudnya aku) mendapat jawaban jalan keluar untuk curhatku, aku bisa tidur nyenyak malamnya. Saking nyenyaknya malah kadang bisa bikin aku bangun kesiangan. Lalu ke kampus dalam kondisi tidak mandi. hahahaha.

Setelah menikah, hubungan kedekatan layaknya sahabat ini tidak berubah. Aku dan suami saling memanggil dengan panggilan "elo-gue" hingga lama sekali. Baru berubah karena ditegur sesepuh yang merasa rishi mendengar panggilan sapa "elo-gue" dan mulai belajar untuk menyapa dengan "aku-kamu".

Kedekatan hubungan suami istri yang seperti ini nih, yang bikin setiap malam dulu, selalu ada sesi Pillow Talk alias ngobrol dulu sebelum tidur. Ngebahas apa saja. Setelah puas ngobrol baru tidur.
Begitu saja terus.
Jika pun tidak ada yang diobrolin, kami akan menonton televise sambil duduk bersisian. Hingga nanti aku jatuh tertidur.
Itu sebabnya jika suami sedang tidak ada (entah itu dinas ke luar kota, atau ada pekerjaan hingga larut malam) aku menjadi sulit untuk tertidur.
Berjam-jam hingga larut malam bahkan pernah hingga pagi terus terjaga. Insomnia.
Jika sudah beberapa hari, mulai jatuh sakit.
Alhamdulillah tekonologi komunikasi semakin canggih setiap waktunya. Dulu, aku harus mendengar suara dia dulu di telepon baru bisa tidur jika jarak memisahkan kami. Sekarang, bisa lewat video call. Tapi tetap saja sih, tidak senikmat kehadiran langsung.
Itu sebabnya aku berkata pada suamiku, bahwa dia adalah obat tidur paling mujarab buatku.


A post shared by Ade Anita (@adeanita4) on



Komentar

  1. Akubjuga susah tidur kl suami dinas luar, takut ada maling gk ada yg jagain hrhe

    BalasHapus
  2. Kok sosweet sih mbak... aku jadi ga sabar untuk bisa hidup berdua sama mas calon... doakan lancar ya mbak... :)

    BalasHapus
  3. suami yang baik memang adalah "pendengar" yang baik ya :)

    BalasHapus
  4. Sama Mbak Ade...
    Aku juga gak bisa tidur kalau gak lihat sosoknya di sampingku. Hihi..

    BalasHapus
  5. Foto yang sebelum nikah, mirip banget ya, Mbak. Beneran kayak kakak adik :D

    Saya persis deh kayak Mbak Ade. Suami juga obat tidur saya. Sampe sama suami suka dibecandain kalau dia lagi pergi beberapa hari, baju bekas pakainya gak usah dicuci supaya saya bisa cium. Tapi kan beda ya, Mbak. Tetep aja bikin saya gak bisa tidur. Dan biasanya sakit juga. Kayak sekarang, nih :)

    BalasHapus
  6. Owalah oelajaran berharga untuk kita-kita yang masih bujang ini haha

    BalasHapus
  7. betul mbak, aku kalau suamiku dines ke luar kota suka gak bisa tidur, dulu lagi anak kecil aku malah nyuruh anakku tidur di kamarku. Setelah anakku merantau , gak ada suamiku bingung banget. Bolak balik bangun gak bisa tidur, gak deger dengkuran pelannya itu kayak musik bagiku

    BalasHapus
  8. Sama, aku jugaaa. Kalo ada suami rasanya nyaman banget, tidur bisa nyenyak.

    BalasHapus
  9. trnyata ya ternyataaaaa.... semua istri sama semua ya... pada nggak bisa tidur jika suami tidak ada di sisi

    BalasHapus
  10. Mutar-muter internet koq tiba2 nyampe ke blognya Mbak ini. Adem banget postingan2nya. Gambaran kehidupan yang tenang. Semoga selalu begitu ya Mbak. Salam kenal.

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…