Langsung ke konten utama

Perjodohan

[Keluarga] Jaman aku belum nikah dulu yang namanya perjodohan itu selalu jadi bulan-bulanan untuk sebuah ledekan. Padahal itu sudah bertahun-tahun yang lalu ya. Sebagai gambaran berapa lama kejadian itu terjadi, tahun ini, aku mengadakan Reuni SMP 30 tahun menjadi Alumni.

Tuh. Sudah cukup lama kan kurun waktu yang aku maksud? Tapi ketika jaman itu, perjodohan memang sesuatu yang sepertinya dihindari oleh generasi muda yang ingin tampil berbeda dengan generasi tua. Itu sebabnya kerap muncul sebuah pernyataan, "Emangnya sekarang jamannya Siti Nurbaya?"

credit foto: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Sitti_Nurbaya_confiding_to_her_mother.png&filetimestamp=20120519030925
Eh... Kalian tahu kan cerita Siti Nurbaya?
Itu loh cerita yang ada di novel Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai karangan Marah Rusli. Di cerita ini diceritakan  dimana seorang gadis bernama Siti Nurbaya, yang sedang berkasih-kasihan dengan kekasih pilihan hatinya, Samsu Bahri. TIba-tiba, datang orang ketiga Datuk Maringgih, dia ini awalnya sih karena merasa iri dengan kekayaan orang lain akhirnya berbuat curang dalam perdagangannya. Nah, salah satu korbannya orang tuanya Siti Nurbaya ini. Dimana tanpa persetujuan Siti Nurbaya dan dalam rangka melunasi hutangnya pada si  Datuk Maringgih maka orang tua Siti Nurbaya menjodohkan Siti Nurbaya dengan Datuk Maringgih. Jadilah cinta kasih antara Siti Nurbaya dan Samsu Bahri tidak kesampaian.

Jaman novel ini dibuat, yaitu tahun 1922, budaya Minangkabau dan Sumatra pada umumnya memang masih menerapkan sistem perjodohan pada anak-anak perempuan dalam sebuah keluarga. Eh, tapi sebenarnya sih, di daerah Sumatra sistem perjodohan masih terus terjadi meski jaman sudah modern. Hanya saja, karena aku tinggal di Jakarta, maka sistem perjodohan itu menjadi sesuatu yang terasa asing dan tidak biasa.

Aku pernah ngobrol dengan saudara-saudaraku kenapa di Sumatra sana mereka masih menerapkan sistem perjodohan.

Ini ada beberapa alasan menurut orang-orang yang aku survey a la ade anita Mengapa Mereka mau menjalankan Perjodohan:

1. Karena sistem perjodohan jaman sekarang sudah tidak se"maksa" jaman dulu lagi. Jadi, sistem perjodohan masih sering digunakan.


Berbeda dengan jaman dahulu yang perjodohannya bisa dilakukan tanpa setahu mereka yang akan menjalani pernikahan hasil perjodohan tersebut, sekarang perjodohan sudah melibatkan  mereka yang akan menjalani pernikahannya.

Saudara saya, adalah seorang yang sibuk bekerja di Jakarta. Setelah melewati usia "harus menikah" tapi dia ternyata belum juga menikah, maka orang tuanya meminta izin untuk mencarikannya jodoh.
"Boleh mak, carikan saja."
"Kamu hendak seperti apa?"
"Terserah mamak saja. Tapi kalau bisa putih, rambutnya lurus, dan bisa memasak."
Itu misalnya. Selanjutnya, nanti orang tua yang akan bergerilya mencari jodoh pasangan yang sesuai dengan permintaan anaknya. Nanti dikirimlah foto pada si anak, ditanya pendapatnya setuju tidak dengan yang ada di foto tersebut. Jika setuju, maka mulailah mereka dipertemukan. Tidak usah perkenalan antar keluarga karena antar keluarga sudah otomatis setuju ketika mereka saling tukar menukar foto anak mereka.

Jika salah satu anak tidak setuju ya sudah, usaha mencari jodoh mulai dari awal lagi. Kedua belah pihak sama-sama ikhlas dan tidak ada yang sakit hati atau baperan.

2. Karena sistem perjodohan itu sebenarnya bertujuan agar hubungan silaturahmi antara 2 keluarga yang selama ini menjadi semakin erat karena sekarang sudah terikat dengan sebuah perkawinan.


Nah, ini yang lebih sering terjadi menurutku sih.
Si A, punya paman bukan mahrom. Pamannya ini punya anak B. Tapi, karena kesibukan orang tua A dan B, maka dua keluarga ini jarang sekali bertemu. Malah seperti hilang komunikasi. Akhirnya, sesepuh mereka berinisiatif memberi saran,

"Macam mana jika anak-anak kau, A dan B, dijodohkan saja. Dengan begitu keluarga kalian tidak sama-sama hilang. Anak-anak kau lah perekat keluarga kalian kelak."

Jika A dan B setuju, maka perjodohan pun dimulai. Itu sebabnya sering sekali terjadi, silsilah keluarga yang rumit di Sumatra sana (khususnya di daerahku sih, Sumatra Selatan). Karena bisa jadi, jika dilihat dari garis keturunan ayah misalnya, aku harusnya memanggil Pamanku Kakek. Tapi jika dilihat dari garis  ibu, ternyata paman itu cukup dipanggil Uwak saja.
Rumit deh jelasinnya karena sering terjadi pernikahan antar keluarga yang bukan mahrom tapi tetap saudara.

3. Karena sistem perjodohan itu bisa membuat seorang anak tidak terputus hubungan keluarganya dengan keluarga besarnya.


Nah, ini nasehat yang sering aku dengar ketika aku masih gadis dulu.
"Kau tuh, carilah suami orang Palembang. Dengan begitu kau tidak hilang di tanah Jawa ini. Bisa pulang mudik ke dusun, karena memang punya suami yang berasal dari dusun juga. Setidaknya, carilah orang Palembang. Kalau sekarang, sudahlah kau tinggal di tanah Jawa, menikah dengan orang Jawa, ya sudah. Bisa hilang keluargamu, lupa dengan asal."

Hehehehe, dan ternyata aku menikah dengan orang Jawa. uhuk-uhuk.

4.  Alasan yang ini jarang terjadi, tapi pernah terjadi: agar harta keluarga tidak jatuh ke tangan orang yang bukan keluarga.


Di Islam, ada kelompok yang tidak boleh dinikahi. Ini disebut dengan istilah Mahrom. Mungkin kalian bisa membacanya di tulisanku yang ini: Penting untuk mengajarkan pada Anak apa itu Mahrom dan Muhrim. Nah, di luar kelompok ini meski jatuhnya bukan mahrom tapi mereka masih masuk kategori anggota keluarga juga.

Yang namanya keluarga itu kan, biasanya sih sudah sama-sama tahu rahasia keluarga apa saja, kelemahan dan kelebihan keluarga apa saja, terlebih jika mereka bersama-sama dari sejak kecil. Sudah sepermainan jadi sudah pernah melihat waktu jelek dan waktu cantiknya. Nah, pada keluarga yang kaya raya, kadang mereka jadi khawatir juga bahwa harta kekayaan mereka malah jadi cepat habis tidak karuan jika sampai diwariskan pada orang-orang yang "bukan keluarga" sendiri. Jadilah untuk mengamankan harta kekayaan keluarga ini terjadi perjodohan antar anggota keluarga yang memang masih dibolehkan karena masing-masing tidak termasuk mahrom.

5. Untuk mengabadikan sebuah persahabatan.

Ini alasan lain mengapa sebuah perjodohan dilakukan. Yaitu untuk mengabadikan sebuah persahabatan. Jadi A dan B bersahabat akrab. Susah senang dilalui bersama. Hingga masing-masing akhirnya punya anak yang berbeda jenis kelaminnya. Nah, agar persahabatan ini semakin erat dan kekal, maka anak-anak mereka pun dijodohkan.

6. Karena terkesan dengan kebaikan dan keluhuran budi.

Ini alasan terakhir mengapa sebuah perjodohan dilakukan. Yaitu karena alasan salah satu pihak, entah si anak, atau orang tua anak, terkesan dengan kebaikan dan keluhuran budi seseorang dan sebuah keluarga.

Pernah ada saudara saya, bercerita mengapa dia menikahi istrinya. Katanya, dulu suatu hari dia bertamu ke rumah seseorang dalam rangka berdagang. Di rumah itu, dia melihat seorang gadis yang amat santun perangainya. Ketika kedatangan berikutnya, dia bahkan melihat gadis itu menyelesaikan sebuah pertikaian dengan amat adil dan sabar. Akhirnya, kedatangan ketiga, dia langsung menyampaikan keinginan agar orang tuanya menjodohkan dia dengan gadis itu. Orang tuanya segera mendatangi orang tua si gadis dan meminta gadis itu untuk anaknya. Terjadilah perjodohan.

Lalu bagaimana Perjodohan di jaman sekarang nih, abad milenium baru?

Nah ini dia. Aku pernah iseng-iseng bertanya pada anakku, apakah kelak mereka mau dicarikan jodoh atau mau cari sendiri? Jawaban mereka?
"Cari sendiri ah. Aku kurang percaya dengan selera ibu."
Wahahahahahaha..... perihnya bukan main. 

Tapi aku legowo saja. Iringi dengan doa saja setiap malam agar anak-anak mendapat pasangan jodoh yang bisa terus menjaga mereka agar tetap dalam ke-Islamannya, juga bisa terus berkembang dalam kehidupannya. Aamiin.
Eh tapi ya... suatu hari, aku pernah sih terlibat percakapan dengan putriku nih.

  Hahaha. Waktu itu aku asli terkesan banget dengan seorang teman baru yang baru aku kenal. Perangai orang tuanya, dalam hal ini ibunya, Masya Allah, baik sekali. Berhubung anakku perempuan, aku langsung berpikir bahwa betapa baiknya jika dia bertemu dengan ibu mertua yang sebaik perangai beliau ini. Bisa jadi, mungkin putriku tidak mendapatkan kesulitan ketika menyesuaikan diri di lingkungan keluarga barunya. Apalagi, kebaikan si ibu ini insya Allah menurun juga pada perangai anaknya. Anaknya, Masya Allah, santun, sopan, hormat pada orang tuanya, sayang pada orang tuanya, juga cerdas dan tidak macam-macam deh. Soleh pula.

Tapi anakku sepertinya belum berpikir sejauh itu. hehehehe.. waktu itu putriku baru kelas 2 SMA soalnya. hehehehe.

Jadi, ya sudahlah. Sekolah saja dulu kali ya.

 
 

Komentar

  1. iya... sekarang banyk yg bersedia dijodohin atau dicomblangin...tpi emang niat nikah bkn pacaran

    BalasHapus
  2. Karena sudah mentok mba ga ada pilihan ehhehe...aku berhasil menjodohkan sahabat sampe menikah alhamdulilah bahagia :)

    BalasHapus
  3. Mak Adeee..aku juga baca status yang ituuu.. aduh, seneng deh punya Mama gaul kayak dirimu, hihihi...

    tapi boleh koreksi ngga? itu tentang Siti Nurbaya, dia sendiri yang menyerahkan dirinya. Memak Datuk Maringgih mengincar dia, tapi ayah Siti Nurbaya ngga mau menyerahkan anaknya. Ini karena beberapa bulan lalu saya baca ulang karena mau review untuk lomba, hihihi... Jadi memang kesannya ayah Siti Nurbaya yang menjodohkan ya? Padahal itu kehendak Nurbaya sendiri karena ngga mau lihat ayahnya sengsara. Begitu, hihihi...

    Teman bapak saya pernah bilang, "Kalau jaman dulu, orang tua dulu yang saling kenal, lalu anaknya dijodohkan. Kalau jaman sekarang, anaknya dulu yang kenalan, orang tuanya kemudian saling dikenalkan." hihihi...

    BalasHapus
  4. bu, jodohin aku dengan jodoh yang tepat menurutmu, mungkin laki-laki seperti ayah. Wkwkk, Mbak Ade emang suka banget ngisenegin anak-anak yaaa. Aku enggak begitu paham perjodohan, jarang dijodoh-jodohin, pun pas jaman sekolah ;)

    BalasHapus
  5. Wkwk...pengen juga sih jodohin anakku, mb
    Terutama yang calonnya care ke aku, msa care ke emaknya, ke anknya yg dicinta ga?
    Soalnya byk tuh pasangan yg acuh ke mertua meski cinta mati ke anak kita
    Tapi...jatuh lg ke anak kita ya, mau ga dia kita pilihkan wkwk

    BalasHapus
  6. saya termasuk yang dijodohin juga mak sama sepupu tapi beda kakeknya.. berhubung saya ga pinter nyari n ga nemu nemu juga jodohnya akhirnya orang tua yang bertindak, saya sih ikut aja. ridho nya orang tua bikin berkah :D

    BalasHapus
  7. Aku nggak ngalamin perjodohan sih. Tapi temanku rumah tangganya justru lebih sweet. :D

    BalasHapus
  8. Perjodohan seru juga ya Mbak Ade. Dulu nikah nggak dijodohin cari dewe sih hihihi. Kalo dijodohin dengan bobot bibit bebet mungkin ada benarnya juga petuah orang tua. Biar point2 di atas langgeng

    BalasHapus
  9. wah ...zaman sekarang masih ada yang namanya perjodohan...

    BalasHapus
  10. Disini juga masih banyak Yang dijodohin Mbak, biasanya anak pesantren atau yang kerja di luar negeri. :)

    BalasHapus
  11. Karena sudah mentok mba ga ada pilihan ehhehe...aku berhasil menjodohkan sahabat sampe menikah alhamdulilah bahagia :)

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…