Langsung ke konten utama

Penting Untuk Mengajarkan pada Anak apa itu Mahrom dan Muhrim

Pernah mendengar ucapan di tayangan komedi seperti ini tidak:

"Nggak usah pegang-pegang. Bukan muhrim."

atau:

"Mana bisa kita pergi duaan. Kan, bukan muhrim."

Nah... jika yang dimaksud dari semua ucapan di atas (dan yang sederajat artinya dengan ucapan di atas) adalah orang yang tidak boleh bersentuhan karena hubungan darah antara mereka maka tentu saja ucapan ini salah.

Yang dimaksud dengan Muhrim itu sebenarnya adalah:
Orang yang sedang melakukan ibadah umroh dan mengenakan pakaian Ihram selama perjalanan hajinya sebelum melaksanakan Tahallul.

Seharusnya, jika ingin mengatakan bahwa si lawan jenis itu tidak boleh melihat aurat kita atau tidak boleh bersentuhan atau tidak boleh dinikahi, maka ucapan yang benar adalah Mahram (dibaca mahrom).

Untuk jelasnya ini aku kutip definisi mereka dari blogpost "salah kaprah dalam memahami muhrim dan mahrom":

Mahram adalah suami seorang wanita dan siapa saja yang diharamkan selamanya menikahi wanita tersebut, baik keharaman itu dikarenakan kekerabatan, persusuan dan pernikahan (seperti ayah mertua.pent) Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 24/422, Dar al-Wathon wa dar Ats-Tsuroyya


Muhrim: Muhrim (مُحْرِمُ) adalah isim fa'il dari أحْرَمَ -يُحْرِمُ Maknanya adalah Melakukan Ihram, jadi isim failnya artinya orang yang melakukan ihram untuk haji atau umroh.
Sekarang, pernah tidak terpikirkan batasan anak-anak ketika mereka masih kecil-kecil dan bermain bersama-sama dengan sanak saudara yang lain? Apalagi menjelang keberangkatan mudik nih, dimana insya Allah akan menjadi ajang untuk silaturahim dengan keluarga besar.

Jika hanya main bersama, mungkin tidak mengapa. Tapi, bagaimana jika anak-anak mulai saling gulat cewek dan cowok (karena ketika masih kecil permainan apa saja bisa dimainkan), atau malah mandi bersama di sungai atau di bawah pancuran, atau serta merta ganti pakaian di depan orang (karena pertimbangan "ah, saudara ini. Padahal itu saudara jauh sebenarnya cuma akrab banget jadi kayak saudara dekat). 

Hati-hati loh dalam membebaskan anak dalam bergaul dengan orang lain yang lawan jenis. Batasan Mahrom harus selalu diingat. 

Bagi para orang tua, penting untuk memberitahu anak-anak kalian tentang siapa saja para mahrom mereka. Dengan begitu, anak-anak, khususnya anak-anak perempuan kalian, sejak awal tahu sampai mana batasan yang harus mereka jaga ketika bergaul dengan sanak saudara mereka.







credit foto
Semoga informasi ini berguna.

Komentar

  1. Yang masih susah buat aku itu soal berjabatan tangan, apalagi salim tangan pada orang2 yang dituakan, padahal mereka mahram buat aku.

    BalasHapus
  2. betul mba zaman sekarang anak-anak masih kecil juga suka berjabat tangan dengan lawan jenisnya. sangat penting ini untuk mengajarkan anak tentang apa itu mahrom dan muhrim ,,,, terimakasih infonya mba sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. Berarti selama ini banyak yang salah paham dengan pengucapan muhrim dan mahrom.

    BalasHapus
  4. Nah itu aku sebeeeeel banget sama acara TV sahur yang ada Ivan Gunawannya. Secara tema acaranya agamis, selingannya tutorial hijab tp yg ngasih si Ivan, lha bukan muhrim. Udah gitu bahasanya kasar. Modelnya pula Zaskia Gotik, dipasangi hijab tapi penyenyelan genit. Ancur banget acaranya. Islam nggak gitu woy *maap ngomel

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkk...Mak Lusii :D lucu ngomelnya :D

      Hapus
    2. oalah ada acara itu ya mbak,aku gak pernah nonton. Tapi sih emang seharusnya teta dijaga ya namanya juga acara agamis

      Hapus
  5. Setuju Mak memang harus diperkenalkan sejak dini biar jadi habit, dari kecil sudah bisa membedakan dan membatasi diri, pengalaman ngebiasain jilbab dari bayi...sejak balita sudah ribut nyari jilbab kalau mau keluar :D

    BalasHapus
  6. Salah kaprah ya, banyak yang menyebut "bukan muhrimnya"
    Beragama itu memang harus memakai ilmu agar tak terjadi kesalahan2
    Terima kasih atas pencerahannya
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  7. TFS Mbak. Iya aku rada-rada lupa pelajaran ini. Tentang bedanya mahrom dan muhrim. Jadi teringat kembali perbedaannya.

    BalasHapus
  8. Terima kasih pencerahannya mbak. Saya masih pakai kata muhrim... ternyata salah ya

    BalasHapus
  9. saya pun baru tau ternyata harusnya bukan mahram untuk sebutan yang bukan halalnya, makasih mbak atas ilmunya czo seringnya saya bilang muhrim

    BalasHapus
  10. Kadang orantua kurang memperhatikannya ya, Bu. Saat bisa renang bareng, misalnya.

    BalasHapus
  11. Makasih infonya mak ade.. Bermanfaat bangeet buat aku

    BalasHapus
  12. Lho suami juga Mahrom, tapi..tadi kan definisi mahrom adalah orang yang haram dinikahi selamanya ..bingung neih

    BalasHapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Bener Mak, di zaman kayak sekarang ini, anak-anak mesti tahu apa itu mahrom dan muhrim. Ngeri liat pergaulan anak-anak sekarang :(

    BalasHapus
  16. bner bund setuju banget.,...trimakasih atas infonya sangat bermanfaat....

    BalasHapus
  17. ternyata slama ini, saya jg sering salah membedakan mahram dan muhrim...
    makasih mba... gambarnya saya save ya buat contekan :D

    BalasHapus
  18. Bener banget, emang harus dikenalkan sejak dini, makasih maaak

    BalasHapus
  19. Mgkn krn kebiasaan.. Mksdnya pdhl ke sana.. Tp malah ngucapnya ke sini.. ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

karena banyak sekali spam, jadi untuk sementara aku moderasi ya komennya. Makasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan populer dari blog ini

30 jenis aneka makanan dan minuman khas Betawi

Setiap tanggal 22 Juni, kota tempatku tinggal, yaitu Jakarta merayakan ulang tahunnya. Usianya kota Jakarta sudah cukup tua, sudah ratusan tahun. Nah, ketika kota Jakarta sedang merayakan ulang tahunnya tersebutlah kami warga kota Jakarta bisa dengan mudah menemukan aneka makanan dan minuman yang menjadi khas kota Jakarta dan diakui sebagai bagian dari budaya kota Jakarta, yaitu budaya kuliner.  Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua  dengan tema: Rasa Lokal.
Berbicara tentang rasa lokal maka itu artinya berbicara tentang budaya setempat. Salah satu budaya yang menjadi ciri khas suatu wilayah adalah makanannya. Berikut ini adalah beberapa makanan dan minuman yang menjadi budaya kuliner khas kota Jakarta yang saya suka (hehe, makanan dan minuman khas kota Jakarta itu banyak tapi yang saya sukai itu terbatas jumlahnya. Jadi, yang saya tulis disini hanya yang saya sukai saja).
1. Kerak Telor.

Bulan Madu yang Tak Terlupakan

Jujur saja, di tahun 1994, yaitu tahun ketika aku memutuskan setuju untuk menikah aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kota Solo.
Kota Solo itu seperti apa?
Apakah seperti kota Kendal? hahaha.... ini satu-satunya kota yang berada di wilayah Jawa Tengah yang pernah aku kunjungi dan sependek ingatanku bisa mengingat "bepergian ke wilayah Jawa Tengah".

Dulu, waktu aku masih kecil (pake banget) katanya sih aku pernah diajak jalan-jalan oleh keluarga besarku ke Yogyakarta (ini termasuk wilayah Jawa Tengah kan ya?). Ada foto-foto aku masih kecil dengan  memakai topi super lebar dan tentu saja gayanya centil banget yang sedang beraksi pose-pose di depan Stupa Budha di Candi Borobudur. Tapiiiii... aku sama sekali tidak ingat gimana suasana jalan-jalan kala itu. Jadi, kalau tiba-tiba ada yang ngaku-ngaku bahwa ketika ke Yogyakarta itu antara orang tuaku dan orang tuanya sudah melakukan perjanjian untuk menjodohkan aku dengan dia.. mmm.... pasti aku akan percaya saja. HAHAH…